Episode 14 - Sang Mata Elang

Di tengah lautan lepas, mereka akhirnya sudah berada dalam kapal yang sedang menuju Attica.

Kapal yang ditumpangi Hengki memiliki ukuran yang cukup besar dan penumpang yang sangat ramai. Banyak dari mereka di antaranya adalah pedagang dan juga para pelancong dari daerah lain.

Kini Hengki dan juga Roderick berpenampilan begitu glamor bak saudagar kaya yang sedang dalam perjalanan penting. Untuk saat ini penyamarannya bisa dibilang cukup mulus. Akan tetapi, saking mulusnya mereka malah mendapatkan perhatian lebih dari sebagian orang.

Para penumpang wanita, mereka sangat terpesona dengan paras dan setelan mewah yang dikenakan Hengki. Sementara para pedagang lainnya, mereka kagum saat melihat sosok Roderick yang penuh dengan aura kewibawaan yang membuatnya penasaran bisnis apa yang digeluti olehnya.

Di sini Roderick sulit dikenali dari jarak jauh oleh orang lain karena ia memakai topi yang membuat wajahnya tampak samar.

"Maaf tuan-tuan. Apa aku mengganggu kenyamanan kalian?"

Di saat Roderick tengah melihat lautan sambil bersandar. Tiba-tiba ada wanita yang menghampiri dan menyapa.

"Tidak, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"

Roderick kemudian menoleh dan menjawab sapaannya.

Setelah dilihat secara teliti. Wanita yang menghampirinya ini mengenakan busana yang sebenarnya mewah namun penampilannya justru tampak acak-acakan dengan belahan dada yang sepertinya sengaja ia tonjolkan.

"Apa ini pertama kalinya kalian pergi ke Attica?" tanya wanita itu.

"Bisa dibilang begitu, Nona. Ini memang pertama kalinya kami melakukan perjalanan bisnis menuju Wilayah Attica," jawab Roderick.

"Bukankah itu agak aneh tuan. Wilayah Attica sedang dalam kondisi yang tidak baik karena para pemberontak perlahan mendekati wilayah tersebut."

Wanita itu ternyata cukup cerdik. Ia sepertinya mencurigai maksud dari perjalanan Roderick ke Attica.

"Saya juga tahu, Nona. Tapi perjalanan ini sebegitu pentingnya sampai ancaman seperti apa pun tidak dapat menghentikan kami."

Roderick kemudian memberikan sebuah alasan ambigu kepadanya. Tapi intinya Roderick bilang jika ia tidak peduli dengan ancaman apapun.

"Umm... Seperti itu kah... Memangnya bisnis apa yang kalian lakukan?"

Ia tampak masih mencurigai Roderick.

"Kami melakukan jual beli perhiasan dan barang mewah lainnya," jawab Roderick.

Wanita tersebut sebenarnya masih curiga dengan jawaban yang diberikan oleh Roderick. Namun semua jawabannya tidak memiliki celah sedikit pun supaya wanita itu bisa korek lebih dalam.

Sementara itu Hengki justru tidak memperhatikan obrolan yang sedang dilakukan oleh Roderick dan wanita yang menghampiri mereka. Ia malah teralihkan fokusnya ke arah lain.

"Ayah... Aku juga ketika besar ingin menjadi nelayan kayak di pasar tadi."

Tampak seorang bocah laki-laki sedang di gendong oleh ibunya. Ia bilang ke ayahnya kalau sudah besar dirinya ingin menjadi seorang nelayan.

"Jadi nelayan itu cape tahu. Kamu harus bangun dan tidur di kapal selama berhari-hari," jawab ayahnya itu.

"Wah..! Kalau begitu aku tidak bisa ketemu ayah sama mamah dong."

Anak kecil itu lalu kehilangan cita-citanya untuk menjadi nelayan, karena jika menjadi nelayan ia tidak bisa menemui keluarganya.

"Haha... tapi punya kesibukan itu justru bagus. Kamu juga bisa punya teman banyak nanti."

Ayahnya lantas berusaha untuk mengembalikan hasrat anaknya agar besar nanti ia memiliki suatu kesibukan.

"Tidak mau, kalau harus jauh dari ayah dan mamah, aku mending di rumah saja."

Hengki lalu melihat keluarga itu mengakhiri perbincangannya dengan tertawa bersama.

Wanita yang dari tadi mengobrol dengan Roderick lalu menoleh ke arah Hengki. Ia melihat Hengki tampaknya sedang murung, mukanya terlihat begitu muram.

"Kalau begitu apa boleh saya berbalik menanyakan sesuatu kepada nona?"

Roderick lantas melanjutkan perbincangannya, kali ini giliran ia untuk bertanya.

"Dengan senang hati."

Wanita tersebut kembali menatap ke arah Roderick dan mempersilahkannya untuk bertanya.

"Kalau boleh tahu, bisnis seperti apa yang anda kerjakan, nona?" tanya Roderick.

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Roderick, wanita tersebut menutup wajahnya kemudian tertawa kecil.

Ia menjawab, "Apa kamu benar-benar tidak tahu aku. Ternyata aku tidak begitu populer di kalangan pria yah. Haha... maaf aku malah tertawa. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Mia Ross dan bisnis yang kujalani adalah sebuah rumah bordil. Aku cukup terkejut kamu tidak mengenaliku karena biasanya saudagar kaya akan mencari informasi mengenai rumah bordil terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan bisnis."

"Maaf, sepertinya saya sudah tua untuk hiburan semacam itu,"

Mendengar jawabannya, Roderick lantas malu karena ia sepertinya di cap sebagai orang yang tidak tertarik dengan hiburan seperti itu sekarang.

"Tetapi bukankah dia masih muda, apa dia anakmu?"

Mia lalu menunjuk ke arah Hengki dan menanyainya.

"Bukan, dia hanyalah rekan yang menemaniku untuk berbisnis," jawab Roderick.

"Kupikir kalian adalah ayah dan anak, karena kalian berdua sama-sama tampan."

Mia sepertinya sudah tidak lagi mencurigai Roderick, ia sekarang bicara dengan sangat ramah.

"Bagaimana kalau kalian mampir ke rumah bordilku, aku akan simpan yang paling bagus nanti untuk kalian." ucap Mia.

"Maaf tapi kami sangat sibuk untuk saat ini. Mungkin di lain waktu ketika kami kembali ke Attica, kita akan mampir." Roderick lalu menolak tawarannya.

"Umm... sangat disayangkan sekali, kalau begitu bagaimana dengan tawaran lain."

Mia sepertinya sangat ingin sekali melakukan bisnis dengan Roderick. Hal ini sangat wajar karena dengan mereka melakukan sebuah transaksi, Mia otomatis memperluas koneksinya yang akan membuat bisnisnya semakin maju di masa depan.

"Tawaran seperti apa itu?" tanya Roderick.

"Informasi. Seperti yang aku bilang tadi, banyak sekali saudagar kaya ke tempatku dan dengan bodohnya mereka selalu bercerita ke pelayan yang mereka pesan. Bagaimana, apa kamu tertarik?" ucap Mia.

Untung saja aku menolaknya tadi.

Roderick kemudian mensyukuri keputusannya tadi, ia beruntung menolaknya karena kalau tidak, bisa-bisa Mia malah mengorek informasi tentang dirinya.

"Memangnya informasi sepeti apa itu?" tanya Roderick.

Sepertinya kali ini Roderick tertarik dengan tawaran Mia.

"Kamu lihat gerombolan di sana. Mereka adalah anak muda yang akan memberontak Kerajaan Socotre ini."

Mia lalu menunjuk ke arah belakang Roderick. Di sana terlihat sekelompok orang yang baru saja keluar dari badan kapal. Mereka itu adalah kelompok yang perbincangan dikuping oleh Hengki ketika hendak belanja di kota beberapa saat yang lalu.

"Kalau itu aku juga tahu."

Tiba-tiba Hengki membalas perkataan Mia. Hengki sebenarnya sudah curiga jika mereka adalah pemberontak.

Ketika Mia bilang kalau dirinya juga menjual informasi, Hengki ternyata mulai memperhatikan perbincangan yang mereka berdua lakukan.

"Apa betul? Memangnya kamu tahu dari mana?"

Mia tidak terima dengan sanggahan Hengki. Ia menganggap Hengki telah berbohong.

"Dari mananya tidak penting. Yang penting adalah mengenai tawaranmu tadi. Ada informasi yang ingin aku beli."

Ia tidak menjawab pertanyaan Mia. Hengki justru bilang kalau dirinya ingin membeli suatu informasi dari Mia.

"Apa yang sedang kamu bicarakan? Dari mana kamu tahu mereka pemberontak?"

Roderick lalu merasa bingung karena tiba-tiba Hengki ikut ke dalam perbincangan mereka dengan bilang kalau ia tahu kelompok itu adalah pemberontak.

"Akan kujelaskan nanti," jawab Hengki kepada Roderick.

"Kamu cukup menarik juga, aku kira kamu hanyalah anak tampan yang polos. Kalau begitu informasi apa yang kamu inginkan? Semakin rahasia semakin mahal," ucap Mia.

"Kalau begitu harganya akan sangat mahal. Paman, berapa uang yang ada di kantongmu."

Hengki kemudian bilang kalau informasi yang akan ia beli itu sangatlah mahal, ia lalu menanyai Roderick berapa uang yang mereka bawa.

"Apa yang sedang kamu lakukan... Bagaimana kalau kita ketahuan...," bisik Roderick.

"Jawab saja, ini juga demi kalian."

Kalian? 

Ucapan Hengki itu membuat Roderick tercengang, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Hengki. Tapi ia kaget karena yang dilakukannya itu ternyata demi kebaikan dirinya dan juga yang lain.

"16 keping emas drachma. Tapi kami tidak mau menggunakan semua uangnya," jawab Roderick sambil menoleh ke arah Mia.

*( 1 Perunggu Drachma = Rp.18.000, 1 Perak = Rp.720.000, 1 Emas = Rp.28.800.000. )

"En-enam belas keping emas."

Mia kaget mendengar uang yang dibawa oleh Roderick dan Hengki. Wajar kalau ia kaget karena 16 keping emas itu setara dengan 400-an juta jika dalam rupiah. Dengan uang sebanyak itu Mia bahkan bisa merenovasi besar-besaran rumah bordilnya.

"Bagaimana? Apa kamu tertarik? Itu juga kalau kamu tahu informasinya sih," ucap Hengki.

"Sialan! Siapa yang tidak tertarik dengan uang sebanyak itu."

Matanya sangat bersinar setelah mendengar uang banyak.

"Kalau begitu, siapa orang yang menginspirasi mereka untuk memberontak?"

Seketika mata Hengki menatap tajam ke arah Mia. ia ingin tahu siapa yang menghasut orang-orang agar sudi untuk memberontak. Hengki juga sangat curiga jika orang yang menginspirasinya itu adalah salah satu pentolan yang ada di pihak pemberontak.

Terpopuler

Comments

Luthfy

Luthfy

Mantap 👍

2022-08-16

3

Ray

Ray

Hengki makin Ok 👍 Dan apakah dia akan melegenda seperti Roderick Thor🤔? Semangat dan sehat selalu untuk Outhor💪🙏

2022-08-07

3

YOURS

YOURS

aku mampirr hehe, semangat terus thorr🤗

2022-08-05

4

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!