Di tengah lautan lepas, mereka akhirnya sudah berada dalam kapal yang sedang menuju Attica.
Kapal yang ditumpangi Hengki memiliki ukuran yang cukup besar dan penumpang yang sangat ramai. Banyak dari mereka di antaranya adalah pedagang dan juga para pelancong dari daerah lain.
Kini Hengki dan juga Roderick berpenampilan begitu glamor bak saudagar kaya yang sedang dalam perjalanan penting. Untuk saat ini penyamarannya bisa dibilang cukup mulus. Akan tetapi, saking mulusnya mereka malah mendapatkan perhatian lebih dari sebagian orang.
Para penumpang wanita, mereka sangat terpesona dengan paras dan setelan mewah yang dikenakan Hengki. Sementara para pedagang lainnya, mereka kagum saat melihat sosok Roderick yang penuh dengan aura kewibawaan yang membuatnya penasaran bisnis apa yang digeluti olehnya.
Di sini Roderick sulit dikenali dari jarak jauh oleh orang lain karena ia memakai topi yang membuat wajahnya tampak samar.
"Maaf tuan-tuan. Apa aku mengganggu kenyamanan kalian?"
Di saat Roderick tengah melihat lautan sambil bersandar. Tiba-tiba ada wanita yang menghampiri dan menyapa.
"Tidak, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Roderick kemudian menoleh dan menjawab sapaannya.
Setelah dilihat secara teliti. Wanita yang menghampirinya ini mengenakan busana yang sebenarnya mewah namun penampilannya justru tampak acak-acakan dengan belahan dada yang sepertinya sengaja ia tonjolkan.
"Apa ini pertama kalinya kalian pergi ke Attica?" tanya wanita itu.
"Bisa dibilang begitu, Nona. Ini memang pertama kalinya kami melakukan perjalanan bisnis menuju Wilayah Attica," jawab Roderick.
"Bukankah itu agak aneh tuan. Wilayah Attica sedang dalam kondisi yang tidak baik karena para pemberontak perlahan mendekati wilayah tersebut."
Wanita itu ternyata cukup cerdik. Ia sepertinya mencurigai maksud dari perjalanan Roderick ke Attica.
"Saya juga tahu, Nona. Tapi perjalanan ini sebegitu pentingnya sampai ancaman seperti apa pun tidak dapat menghentikan kami."
Roderick kemudian memberikan sebuah alasan ambigu kepadanya. Tapi intinya Roderick bilang jika ia tidak peduli dengan ancaman apapun.
"Umm... Seperti itu kah... Memangnya bisnis apa yang kalian lakukan?"
Ia tampak masih mencurigai Roderick.
"Kami melakukan jual beli perhiasan dan barang mewah lainnya," jawab Roderick.
Wanita tersebut sebenarnya masih curiga dengan jawaban yang diberikan oleh Roderick. Namun semua jawabannya tidak memiliki celah sedikit pun supaya wanita itu bisa korek lebih dalam.
Sementara itu Hengki justru tidak memperhatikan obrolan yang sedang dilakukan oleh Roderick dan wanita yang menghampiri mereka. Ia malah teralihkan fokusnya ke arah lain.
"Ayah... Aku juga ketika besar ingin menjadi nelayan kayak di pasar tadi."
Tampak seorang bocah laki-laki sedang di gendong oleh ibunya. Ia bilang ke ayahnya kalau sudah besar dirinya ingin menjadi seorang nelayan.
"Jadi nelayan itu cape tahu. Kamu harus bangun dan tidur di kapal selama berhari-hari," jawab ayahnya itu.
"Wah..! Kalau begitu aku tidak bisa ketemu ayah sama mamah dong."
Anak kecil itu lalu kehilangan cita-citanya untuk menjadi nelayan, karena jika menjadi nelayan ia tidak bisa menemui keluarganya.
"Haha... tapi punya kesibukan itu justru bagus. Kamu juga bisa punya teman banyak nanti."
Ayahnya lantas berusaha untuk mengembalikan hasrat anaknya agar besar nanti ia memiliki suatu kesibukan.
"Tidak mau, kalau harus jauh dari ayah dan mamah, aku mending di rumah saja."
Hengki lalu melihat keluarga itu mengakhiri perbincangannya dengan tertawa bersama.
Wanita yang dari tadi mengobrol dengan Roderick lalu menoleh ke arah Hengki. Ia melihat Hengki tampaknya sedang murung, mukanya terlihat begitu muram.
"Kalau begitu apa boleh saya berbalik menanyakan sesuatu kepada nona?"
Roderick lantas melanjutkan perbincangannya, kali ini giliran ia untuk bertanya.
"Dengan senang hati."
Wanita tersebut kembali menatap ke arah Roderick dan mempersilahkannya untuk bertanya.
"Kalau boleh tahu, bisnis seperti apa yang anda kerjakan, nona?" tanya Roderick.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Roderick, wanita tersebut menutup wajahnya kemudian tertawa kecil.
Ia menjawab, "Apa kamu benar-benar tidak tahu aku. Ternyata aku tidak begitu populer di kalangan pria yah. Haha... maaf aku malah tertawa. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Mia Ross dan bisnis yang kujalani adalah sebuah rumah bordil. Aku cukup terkejut kamu tidak mengenaliku karena biasanya saudagar kaya akan mencari informasi mengenai rumah bordil terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan bisnis."
"Maaf, sepertinya saya sudah tua untuk hiburan semacam itu,"
Mendengar jawabannya, Roderick lantas malu karena ia sepertinya di cap sebagai orang yang tidak tertarik dengan hiburan seperti itu sekarang.
"Tetapi bukankah dia masih muda, apa dia anakmu?"
Mia lalu menunjuk ke arah Hengki dan menanyainya.
"Bukan, dia hanyalah rekan yang menemaniku untuk berbisnis," jawab Roderick.
"Kupikir kalian adalah ayah dan anak, karena kalian berdua sama-sama tampan."
Mia sepertinya sudah tidak lagi mencurigai Roderick, ia sekarang bicara dengan sangat ramah.
"Bagaimana kalau kalian mampir ke rumah bordilku, aku akan simpan yang paling bagus nanti untuk kalian." ucap Mia.
"Maaf tapi kami sangat sibuk untuk saat ini. Mungkin di lain waktu ketika kami kembali ke Attica, kita akan mampir." Roderick lalu menolak tawarannya.
"Umm... sangat disayangkan sekali, kalau begitu bagaimana dengan tawaran lain."
Mia sepertinya sangat ingin sekali melakukan bisnis dengan Roderick. Hal ini sangat wajar karena dengan mereka melakukan sebuah transaksi, Mia otomatis memperluas koneksinya yang akan membuat bisnisnya semakin maju di masa depan.
"Tawaran seperti apa itu?" tanya Roderick.
"Informasi. Seperti yang aku bilang tadi, banyak sekali saudagar kaya ke tempatku dan dengan bodohnya mereka selalu bercerita ke pelayan yang mereka pesan. Bagaimana, apa kamu tertarik?" ucap Mia.
Untung saja aku menolaknya tadi.
Roderick kemudian mensyukuri keputusannya tadi, ia beruntung menolaknya karena kalau tidak, bisa-bisa Mia malah mengorek informasi tentang dirinya.
"Memangnya informasi sepeti apa itu?" tanya Roderick.
Sepertinya kali ini Roderick tertarik dengan tawaran Mia.
"Kamu lihat gerombolan di sana. Mereka adalah anak muda yang akan memberontak Kerajaan Socotre ini."
Mia lalu menunjuk ke arah belakang Roderick. Di sana terlihat sekelompok orang yang baru saja keluar dari badan kapal. Mereka itu adalah kelompok yang perbincangan dikuping oleh Hengki ketika hendak belanja di kota beberapa saat yang lalu.
"Kalau itu aku juga tahu."
Tiba-tiba Hengki membalas perkataan Mia. Hengki sebenarnya sudah curiga jika mereka adalah pemberontak.
Ketika Mia bilang kalau dirinya juga menjual informasi, Hengki ternyata mulai memperhatikan perbincangan yang mereka berdua lakukan.
"Apa betul? Memangnya kamu tahu dari mana?"
Mia tidak terima dengan sanggahan Hengki. Ia menganggap Hengki telah berbohong.
"Dari mananya tidak penting. Yang penting adalah mengenai tawaranmu tadi. Ada informasi yang ingin aku beli."
Ia tidak menjawab pertanyaan Mia. Hengki justru bilang kalau dirinya ingin membeli suatu informasi dari Mia.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Dari mana kamu tahu mereka pemberontak?"
Roderick lalu merasa bingung karena tiba-tiba Hengki ikut ke dalam perbincangan mereka dengan bilang kalau ia tahu kelompok itu adalah pemberontak.
"Akan kujelaskan nanti," jawab Hengki kepada Roderick.
"Kamu cukup menarik juga, aku kira kamu hanyalah anak tampan yang polos. Kalau begitu informasi apa yang kamu inginkan? Semakin rahasia semakin mahal," ucap Mia.
"Kalau begitu harganya akan sangat mahal. Paman, berapa uang yang ada di kantongmu."
Hengki kemudian bilang kalau informasi yang akan ia beli itu sangatlah mahal, ia lalu menanyai Roderick berapa uang yang mereka bawa.
"Apa yang sedang kamu lakukan... Bagaimana kalau kita ketahuan...," bisik Roderick.
"Jawab saja, ini juga demi kalian."
Kalian?
Ucapan Hengki itu membuat Roderick tercengang, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Hengki. Tapi ia kaget karena yang dilakukannya itu ternyata demi kebaikan dirinya dan juga yang lain.
"16 keping emas drachma. Tapi kami tidak mau menggunakan semua uangnya," jawab Roderick sambil menoleh ke arah Mia.
*( 1 Perunggu Drachma = Rp.18.000, 1 Perak = Rp.720.000, 1 Emas = Rp.28.800.000. )
"En-enam belas keping emas."
Mia kaget mendengar uang yang dibawa oleh Roderick dan Hengki. Wajar kalau ia kaget karena 16 keping emas itu setara dengan 400-an juta jika dalam rupiah. Dengan uang sebanyak itu Mia bahkan bisa merenovasi besar-besaran rumah bordilnya.
"Bagaimana? Apa kamu tertarik? Itu juga kalau kamu tahu informasinya sih," ucap Hengki.
"Sialan! Siapa yang tidak tertarik dengan uang sebanyak itu."
Matanya sangat bersinar setelah mendengar uang banyak.
"Kalau begitu, siapa orang yang menginspirasi mereka untuk memberontak?"
Seketika mata Hengki menatap tajam ke arah Mia. ia ingin tahu siapa yang menghasut orang-orang agar sudi untuk memberontak. Hengki juga sangat curiga jika orang yang menginspirasinya itu adalah salah satu pentolan yang ada di pihak pemberontak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Luthfy
Mantap 👍
2022-08-16
3
Ray
Hengki makin Ok 👍 Dan apakah dia akan melegenda seperti Roderick Thor🤔? Semangat dan sehat selalu untuk Outhor💪🙏
2022-08-07
3
YOURS
aku mampirr hehe, semangat terus thorr🤗
2022-08-05
4