Episode 5 - Ksatria Sejati

"Buktinya kau tetap kabur dari medan perang itu."

Melihat Bobs sudah hilang kendali. Salah satu musuhnya kemudian maju menyerang Bobs.

HWAAA!! CLANG!!

Meski yang maju satu orang, namun kali ini dia bisa melawan Bobs dengan cukup sengit. Provokasi yang dilakukan musuh tampaknya telah berjalan lancar.

"Sekarang menarilah seperti yang dilakukan Paris 7 tahun lalu."

Orang yang tidak ikut menyerang itu masih saja menyinggung soal kisah Paris, rekan seperjuangan Bobs dulu.

"Diam kau! Jika masih berani menyebut namanya lagi. Akan kubunuh sampai tubuh kau tidak bisa dikenali lagi oleh orang yang kalian cintai!" bentak Bobs sambil emosi.

Mendengar ancaman dari Bobs. Orang yang dari awal memprovokasinya tampak tersenyum, misinya untuk memancing emosi lawan telah berhasil. Sekarang mereka tinggal menunggu Bobs melakukan kesalahan.

"Serang!" Perintah salah satu pembunuh kepada rekan yang lain.

SWING!! HUFF!!

Bobs bertempur dengan sangat membabi buta. Ekspresinya tampak sangat menyeramkan bak monster yang sedang mengamuk. Ia bertarung sambil berteriak dengan amat sangat kencang.

CLANG!!

Ketika Bobs melompat untuk menusuk lawan yang pertahanannya terbuka, tiba-tiba  musuh yang satunya lagi menerjang Bobs dan membuatnya terjungkal sampai ke belakang.

Akan tetapi, meski serangannya kena dengan telak. Bobs masih bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak tergeletak ke tanah. Karena jika Bobs sampai terjatuh melawan musuh yang jumlahnya lebih banyak, itu akan membuat pertahanan milik Bobs terbuka lebar.

Teknik Suku Makhil?....

Bobs tampaknya  tahu teknik apa yang digunakan oleh orang yang menerjangnya tadi. Itu teknik yang berasal dari Suku Makhil. Pikir Bobs.

HWAAH!!

Bobs kembali menyerang. Ia lagi-lagi menyerang sambil melompat. Namun kali ini, ia menyerang ke-2 lawannya sekaligus selagi mereka sedang berdekatan, agar tidak ada lagi serangan kejutan seperti tadi.

HUFF!!

Namun betapa kagetnya Bobs. Lawan yang ia hadapi dengan mudahnya menghindari serangan tombaknya. Mereka ber-2 lompat ke arah berlawanan dengan sangat cantik.

Tch, pikir Bobs sambil berekspresi kesal.

SWING!! SLASH!! SLASH!!

Tanpa berpikir jernih, Bobs bertarung semakin membabi buta sekarang. Namun tetap saja, musuh mampu menghindari semua serangan Bobs.

CLANG!! BRUK!!

Ketika Bobs kehilangan pijakannya. Para pembunuh menyerang Bobs, salah satu dari mereka menahan tombak Bobs dengan belatinya. Lalu yang satunya lagi menendang Bobs ke arah batu besar yang ada di sebelah kanan.

Bobs terluka cukup parah. Bagaimana tidak, yang pertama kali terbentur adalah kepalanya.

Sial..., pikir Bobs dengan kondisi hampir hilang kesadaran.

_______

"Asal kau tahu, masa depanmu jauh lebih cemerlang dibandingku Bobs."

Sepintas Bobs mengenang temannya Paris.

Ia ingat, Paris pernah berkata jika Bobs memiliki masa depan yang lebih baik dibanding dirinya.

_______

TERBELALAK!!

Tiba-tiba mata Bobs kembali terbuka lebar. Rasa pusing akibat benturan kepalanya tak terasa lagi. Ia benar-benar seperti monster.

DARRR!! DARRR!!

Beruntung kesadaran Bobs kembali. Serangan pamungkas yang dilakukan 2 lawannya secara berbarengan itu dapat dihindari Bobs. Serangan mereka kemudian mengenai batu dan menghasilkan bekas yang sangat besar.

_______

"Ha Ha Ha... Bicara apa kau sobat?. Apa kau meledekku?. Jelas-jelas teknik pedangku tidak pernah bisa mengalahkan teknik tombakmu."

"Yah, untuk hal itu memang benar. Tapi kau memiliki jiwa ksatria yang lebih tinggi dariku, dan itu fakta."

Bobs dan Paris terlihat sedang berbincang berdua. Bobs merasa jika omongan tentang dirinya yang lebih ksatria dibanding Paris itu tidaklah masuk akal.

Akan tetapi Paris tetap menilai jika Bobs lebih ksatria dibanding dirinya.

"Kau selama ini sangat setia kepada keluarga Spanner. Itu adalah dasar penting bagi seorang ksatria. Sedangkan aku, ada kalanya dimana aku berpikir untuk meninggalkan pulau ini lalu mencari kelompok pasukan yang lebih kuat."

Ucap Paris sambil mengungkap kesalahannya yang ia sesali.

"Lalu mengapa kau tidak pergi?" tanya Bobs.

"Yah... Jika aku pergi. Semua wanita disini akan sedih karena yang tersisa hanya pria dengan wajah menakutkan."

Paris menjawabnya dengan wajah sedikit memerah sambil memalingkan kepalanya. Jika dilihat memang wajah yang dimilikinya terlihat cukup tampan. Jauh kalau dibandingkan dengan Bobs yang tertawanya saja sudah seram.

"Sialan...," balas Bobs.

"Jadi..., Bobs. Kalau suatu saat aku meninggalkan kau seorang diri. Tolong jaga keluarga Spanner sebaik mungkin, yah." ucap Paris dengan tatapan serius.

_______

Bobs merasa jika saat ini ia berada di ambang kematian.

CLANG!! SWING!!

Meski kondisinya sedang tidak baik. Akan tetapi serangan demi serangan yang diberikan Bobs, mengenai lawan dengan telak.

"Hiyah!" teriak Bobs sambil melancarkan tombaknya.

SWING!!

"Ackhhh!"

Sial, dalam kondisi setengah sekaratpun dia bisa bertarung seperti itu, pikir orang yang terkena serangan Bobs tadi.

CLEB!!

Tiba-tiba anak panah menancap di lengan kiri Bobs.

Pemanah yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan, ternyata sedang menunggu momen tepat untuk menyerang. Dan ketika Bobs sedang lengah akhirnya ia menembakan anak panahnya tetap ke arah Bobs.

Setelah terkena panah dari lawannya. Bobs berdiri dengan sempoyongan. Ia bahkan tidak bisa berteriak akibat terlalu sakit dan lelah.

Apa ini waktunya aku mati? pikir Bobs dengan putus asa.

Bagaimana dengan keluarga Spanner yang kulayani, aku tidak ingin mati seperti ini. Paris apa aku benar-benar layak disebut ksatria olehmu?

Bobs ingin sekali menangis saat ini. Namun tubuhnya sudah tidak menuruti apa kemauannya bahkan untuk menangis sekalipun.

"Rasakan ini bajingan!!" teriak orang yang tadi terkena serangan Bobs.

BRAKK!!

Bobs ditendang hingga terpental ke batu yang sama. Punggungnya terbentur dengan batu sampai-sampai suara tulang patah terdengar dengan sangat kencang hingga ke dalam kereta kuda.

"Su-suara apa itu Tuan Roderick, apa itu suaranya Bobs."

Dengan nada dan wajah yang sangat ketakutan. Lucia mengkhawatirkan Bobs.

"Kau jangan panik, Lucia. Aku akan memeriksanya keluar."

Roderick kemudian melepaskan pelukannya dari Spanner, ia berniat mengambil pedang lalu keluar membantu Bobs.

Ketika Roderick akan berdiri. Tiba-tiba Spanner memegangi bajunya dengan sangat erat. Roderick terkejut melihat Spanner yang sudah berlinang air mata.

Ketika Roderick melihat tangisan Spanner, ia pun kembali memeluknya. Ia sadar jika sekarang dirinya adalah orang terakhir yang akan menjaga Spanner ketika Bobs semisal tumbang. Oleh karena itu Roderick harus tetap berada disisi Spanner.

"Paris padahal sudah menitipkan keluarga Spanner padamu. Apa ya reaksi dia nanti ketika tahu kalau kau malah mati dan gagal melindunginya?" ucap sang pembunuh.

Tampaknya ini adalah kata-kata terakhir dari musuh Bobs. Ia terlihat mengambil tombak milik Bobs dan bersiap-siap untuk memenggal kepalanya.

*Bang*t. Aku tidak boleh mati. Aku harus merebut senjataku. Aku tidak boleh membiarkan nona Spanner mati sia-sia, dia masihlah kecil.

Disaat-saat terakhirnya. Bobs memikirkan nasib Spanner jikalau ia mati sekarang. Ia tidak mampu membayangkan sosok kecil yang manis sepertinya akan mati mengenaskan di usia yang masih sangat muda.

_______

"Kau selama ini sangat setia kepada keluarga Spanner. Itu adalah dasar penting bagi seorang ksatria."

Bobs sekali lagi teringat dengan perkataan paris.

_______

Dengan sangat lesu, Bobs menatap ke bawah. Ia merasa gagal sebagai seorang pendekar. Padahal selama ini ia mendambakan sosok pahlawan yang dapat menyelamatkan semua orang.

Namun sekarang. Jangankan semua orang, menyelamatkan 5 orang saja sudah tidak bisa.

Sementara itu. Dari kejauhan tampak seseorang sedang memegang apel yang telah digigit di tangan kanannya. Sedangkan tangan satunya lagi tampak mengetuk-ngetuk benda berbentuk persegi panjang yang mengeluarkan cahaya.

Ia adalah Hengki. Dirinya sedang menggunakan smartphonenya dan terlihat akan mengklik sebuah video dengan judul 'Trailer Alexander II : The Great' sebuah game yang sering Hengki mainkan.

"Serang!!" "Habisi semua musuh yang ada di depan sana!!"

HMBRR!! KTUPLAK!! KTUPLAK!!

Terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Para pembunuh itu menganggap suara tadi berasal dari pasukan bala bantuan yang tiba untuk menyelamatkan Spanner dan yang lainnya.

Sialan! Kenapa mereka datang secepat ini?

Dengan muka panik, ke-3 pembunuh itu tampak sangat kebingungan.

"Bajingan. Kita padahal hampir membunuh keturunan Spanner!"

Pembunuh itu tampak sangat kesal dan kecewa karena bala bantuan datang dengan sangat cepat.

"Kita mundur! Jangan sampai ada yang tertangkap!" perintah pembunuh itu.

KRAUK!! NYAM NYAM

Hengki dengan tenangnya jalan sambil menggigit apel yang ada di tangannya. Ia melihat orang-orang mencurigakan tadi sudah lari terbirit-birit mendengar suara yang berasal dari smartphone miliknya.

Sedangkan Bobs merasa tidaklah mungkin ada bala bantuan datang dengan begitu cepat.

Siapa yang datang? pikir Bobs.

Ia pun menoleh ke belakang. Tampak ada sosok yang berjalan menghampirinya. Namun yang membuat Bobs heran yang datang hanyalah satu orang. Bukan rombongan seperti yang tadi ia dengar.

"Jika kalian memberiku buah terlebih dahulu, mungkin aku bisa menyelamatkanmu lebih awal." ucap Hengki sambil mengunyah apel.

melihat jika sosok yang menyelamatkan Bobs adalah orang yang telah diusir olehnya. Bobs tampak tersenyum tipis. Lega karena Spanner telah berhasil diselamatkan.

Tak lama kemudian Bobs pun pingsan.

Terpopuler

Comments

Luthfy

Luthfy

dikira bala bantuan datang bejibun pedahal cuma seorang wkwk

2022-08-13

3

Luthfy

Luthfy

penyerang anonimnya bodoh tertipu sama mp3 wkwk

2022-08-13

3

Luthfy

Luthfy

Bobs VS penyerang anonim

2022-08-13

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!