Episode 3 - Setelah Sekian Lama

Beberapa menit setelah Hengki memaksa untuk diberikan makan kepada orang-orang yang sedang dalam perjalanan, tampak Bobs sedang mengendalikan kudanya di samping kusir lain sambil menundukan kepala.

Sudah 3 Mil jauhnya semenjak bocah tadi meminta makan..., pikir Bobs.

... Tapi kenapa dia malah ikut jadi penumpang sekarang?! 

Dengan muka yang kesal Bobs menoleh tipis ke arah belakang. Ia menatap ke orang yang sedang duduk di paling pojok kiri, dimana orang itu dengan santainya mengunyah makanan, sosoknya tak lain adalah Hengki.

( Dibawah adalah gambaran dari keretanya, dimana Bobs dan seorang pria lain mengendalikan kuda. Lalu di dalamnya terdapat 5 penumpang yang di antaranya Hengki, Nona Spanner, seorang tante dan wanita paruh baya yang duduk saliing berhadapan, Sementara satunya lagi adalah kakek tua yang duduk di paling depan.)

"Bobs! Kau ini Ksatria. Tidak baik mengekspresikan kemarahanmu ini secara terang-terangan, apalagi kepada anak muda yang sama sekali tidak bersenjata."

Kakek yang tepat berada di belakangnya ternyata memperhatikan gestur tubuh dari Bobs, dia melihat dengan jelas Bobs sedang kesal kepada anak muda yang telah tidak sopan kepadanya.

"Maafkan saya Tuan Roderick. Saya heran mengapa anda membiarkan anak itu duduk dekat dengan Nona Spanner? Meskipun tidak bersenjata, tetapi dia tampak begitu mencurigakan," jawab Bobs.

Dengan sedikit menunduk dan menempelkan telapak tangan kanannya ke dada, Bobs tampak sangat menghormati pria bernama Roderick itu.

"Ahh! Maafkan saya jika pertanyaan saya terkesan kurang ajar. Saya hanya mengkhawatirkan Nona Spanner, Tuan."

Menganggap pertanyaannya terkesan meremehkan keputusan yang diambil Roderick untuk membiarkan Hengki duduk di kursi penumpang. Bobs pun langsung meminta maaf dengan menundukan kepalanya lebih kebawah.

Mendengar perbincangan antara sang Ksatria Bobs dan Kakek Roderick. Hengki menghentikan santapannya setelah menelan apa yang dia kunyah. Sekarang mata antara Bobs dan hengki pun bertemu.

Mau apa bocah ini?

Tatapan mata yang diberikan Hengki tak kunjung selesai. Hal ini membuat Bobs merasa risih dengan gelagatnya.

Tch. Ngomongin apa sih itu orang?

Hengki kemudian membuang mukanya. Ia langsung melahap sisa roti di tangannya dengan sekali suap.

Bajingan...!!

Setelah melihat Hengki yang langsung membuang muka setelah adu tatap dengannya. Membuat Bobs benar-benar kesal karena merasa terhina sekarang. Ia menggerutu dalam hatinya sambil menggigit bibir bagian bawah dengan sangat kencang. Ia ingin meluapkan seluruh emosi yang dari tadi tersimpan, namun tertahan karena kehadiran orang-orang yang ia hormati.

"Apa yang ada di keranjang kamu, Anak Kecil?" tanya Hengki.

Dia melihat ke arah anak kecil di samping tante-tante yang berada di depannya.

"Umm... di dalamnya hanya ada buah-buahan."

Dengan tatapan polos Spanner menjawab apa yang ditanyakan oleh Hengki, sambil memegang keranjangnya lebih erat.

Melihat perbincangan Hengki yang sekarang menanyai keranjang yang di bawa oleh Nona Spanner, membuat tante-tante yang berada di depannya mulai risih kepada Hengki.

"Jadi itu cuci mulut buatku yah?"

Tanpa rasa bersalah Hengki mengatakan jika buah itu ada untuk dirinya.

"Hei Nak, kamu tidak boleh meminta buah ini dari Nona Spanner. Ini adalah buah untuk ibunya yang sedang sakit di Kastil."

Dengan baik-baik. Tante yang ada di depannya mengingatkan Hengki untuk tidak meminta hal lebih.

"Lah! Bukannya buah itu ada untukku?" tanya Hengki.

Dia benar-benar masih saja menyangka ini semua adalah mimpi, dan semua yang terjadi ada karena berasal dari khayalannya.

"Kamu ini tidak bau alkohol tetapi kelakuan seperti orang yang sedang mabuk."

Dengan wajah sedikit kesal, tante ini membalas lagi ucapan Hengki. Ia merasa heran dengan kelakuannya yang seperti orang dalam keadaan mabuk.

"Kalau begitu kasih saja aku satu."

Hengki berkata sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Aku bilang jangan, ya jangan. Apa kamu tidak punya telinga?!" bentak tante itu, sambil mencengkram tangan Hengki dengan

"Aku padahal mintanya dengan baik-baik. Kenapa kamu malah membuatnya sulit sih?!"

Hengki tidak terima tangannya di pegang dengan sangat kasar seperti ini. Ia lalu membentak balik orang yang berada di depannya.

Mendengar kerusuhan yang terjadi di belakang. Bobs memberi kode ke orang di sebelahnya untuk berhenti sejenak.

Ia lalu turun dari kudanya, dan dengan tergesa-gesa berjalan ke arah belakang kereta.

GRAB!!

BRUKKK!!

Tanpa segan Bobs menarik leher kaos milik Hengki, ia kemudian melemparnya dengan kencang ke luar kereta. Beruntung respon Hengki sangat cepat, ketika sadar kaosnya ditarik oleh orang, dia dengan sigap membalikan badannya ke arah kanan yang membuatnya tidak terjatuh dengan cukup kencang.

"Ugh... apa sih yang kau lakukan?"

Dengan sedikit merasa kesakitan, Hengki lalu bertanya ke Bobs ada masalah apa dengan dirinya.

Dalam kondisi masih duduk sambil membersihkan telapak tangannya akibat terbanting tadi. Bobs menghampiri Hengki, badannya yang cukup besar mampu membuat Hengki tak bisa melihat apa yang ada di balik tubuh Bobs.

"Bobs! Kendalikan emosimu!" bentak Roderick. Ia mengingatkan Bobs agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi.

"Maaf tuanku. Saya akan mengambil pedang supaya anak ini bisa bertarung dengan adil. Kelakuan dia benar-benar sudah di luar batas sekarang." Bobs berbalik badan. Dia lalu jalan ke arah kereta dan membuka peti penyimpanan yang berukuran cukup besar.

Dari dalam peti itu terdapat sebilah pedang bermata dua dan banyak perhiasan serta koin perak dan juga emas.

Roderick mencoba menghampiri Bobs. Dia lantas memegangi pundaknya lalu berkata. "Apa kamu berpikir dia ahli menggunakan pedang."

Dia berusaha untuk mendinginkan Bobs. Roderick menatap ke arah Hengki, kode kepada Bobs bahwa dirinya harus sadar jika perawakan yang dimiliki Hengki mencerminkan seseorang yang bahkan amatir dalam pertempuran.

Sialan! kenapa orang seperti dia bisa membuatku emosi seperti ini?

Setelah melihat kondisi Hengki yang sedang duduk membersihkan sekujur badannya. Bobs tersadar jika mau bagaimanapun anak itu bukanlah lawan yang sepadan dengan Bobs.

"Sudah. Sekarang kita biarkan saja dia disini," ucap Roderick sambil melepaskan tangannya dari pundak Bobs, lalu iapun berjalan kembali ke tempat duduknya.

Hal ini membuat Bobs sedikit merasa tenang.

"Woy anak muda! jika kita bertemu lagi. Aku pastikan bakal memberimu pelajaran agar kamu bisa bersikap lebih sopan."

Bobs pun kembali ke kudanya.

Sekarang Hengki hanya seorang diri di tengah hutan, Kereta yang ditumpanginya perlahan menghilang dari jarak pandangnya.

Dari kejauhan Hengki melihat sepintas terdapat satu pohon yang sepertinya mirip sekali dengan pohon apel.

Hengki kemudian merogoh saku untuk mengambil smartphone miliknya. Dia langsung membuka kamera dan mengarahkannya ke arah pohon tadi.

Ternyata sesuai dengan apa yang dia duga. Setelah Hengki memperbesar kamera dia melihat banyak sekali buah apel yang sudah matang di pohon tersebut.

Sip, walaupun pohonnya agak jauh, tapi buahnya sangat banyak. Ia lantas bergegas ke arah pohon tersebut.

Namun, sesuatu tiba-tiba muncul di layar smartphone miliknya. Hengki keheranan karena dia menangkap 3 sosok bertopeng sedang mengendap-endap ke arah kereta yang tadi ia tumpangi dengan kameranya.

3 Sosok itu terlihat jelas sedang dalam mode siaga. Kedua tangannya memegang sepasang belati yang tampak siap untuk digunakan.

Apa yang sedang mereka lakukan? Pikir Hengki Tantama.

Terpopuler

Comments

Luthfy

Luthfy

widih canggih
emang yaa jaman skrg tuh ga bisa hidup tanpa gadget, pindah dunia aja HP ngikut di saku wkwk

2022-08-13

3

Luthfy

Luthfy

Udah minta makan sekarang numpang dikereta hadeuhhh
klo hengki sadar yang dia alamin itu real pasti malu banget *blush

2022-08-13

4

Ray

Ray

Penasaran dan mulai suka ceritanya👍😘

2022-08-07

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!