Setelah ditawari singgah sementara untuk semalam. Hengki lantas di arahkan menuju kamar tamu yang telah tersedia.
Ruangannya cukup kecil dengan adanya kasur yang cukup unik karena terpasang atap kayu di atasnya, supaya bisa menyanggah tirai kain yang digunakan untuk menutupi bagian sisi kasur. Ini menjadi pengalaman pertama bagi Hengki tidur dengan desain kasur seperti ini.
Dunia ini cukup unik dan terasa sangat nyata.
Sebelum tidur, Hengki melamun sambil memikirkan pengalamannya di dunia yang ia anggap mimpi ini. Ia tampak membayangkan apa yang bakal terjadi dengan orang-orang yang telah ia temui hari ini.
Sial, tadi sore aku malah janji kepada mereka yang ada di dapur, kalau suatu saat nanti aku akan memasak soto untuk mereka juga.
Sambil menyesali janji yang telah diperbuatnya. Hengki berdiri dari kasur untuk mematikan terlebih dahulu lilin yang menyinari ruangan sebelum dirinya terlelap di keheningan malam.
\==============
\==============
"Pagi pak!"
"Iya pagi juga, semangat bertugasnya! akhir-akhir ini keadaan di wilayah ini mulai berbahaya."
"Siap pak!"
Langit pagi telah menyinari ruangan tempat Hengki tidur. Ia terbangun karena mendengar suara berisik dari luar. Terdengar banyak sekali gerombolan orang yang hentakan kakinya mengganggu dirinya yang sedang terlelap.
"Apa sih? Apa mereka bertengkar lagi?"
Dalam kondisi masih setengah sadar. Hengki perlahan membuka mata sambi mengusapnya. Ia pikir suara berisik tadi berasal dari suara orang yang sedang bertengkar, karena biasanya kakek dan nenek Hengki selalu membuatnya terbangun akibat ulah mereka yang selalu ribut.
Setelah terbangun Hengki cukup kebingungan karena dirinya masih berada di alam yang ia anggap mimpi ini.
Apa aku masih mengigau?
Ia pun bertanya-tanya apa dirinya masih belum sadar.
Setelah kesadarannya sudah pulih, Hengki sontak kaget karena ia belum juga kembali ke dunia asalnya.
Tok! Tok! Tok!
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Hari sudah pagi. Apa kamu sudah bangun?"
Suara itu terdengar tidak asing. Orang yang mengetuk pintu itu adalah Roderick.
"Ah.. iya sudah. Silakan masuk saja."
Hengki lalu menjawabnya dan mempersilakannya untuk masuk ke dalam.
Krettt
Roderick lalu masuk ke dalam kamar. Ia tampak mengenakan seragam formalnya. Dirinya benar-benar terlihat penuh dengan wibawa ketika memakai itu.
"Sepertinya kamu baru bangun. Kami akan mengantar kamu sampai keluar gerbang, kamu boleh bersiap-siap terlebih dahulu."
Roderick kemudian menyuruh Hengki untuk bersiap-siap terlebih dahulu, karena ia kira Hengki akan segera pergi.
"Maaf, tapi harusnya aku pergi malam tadi," Hengki lalu menyanggahnya dan berkata harusnya ia pergi tadi malam.
"Oh ya? Kalau begitu apa bedanya dengan pergi sekarang?" Roderick kemudian bertanya jika Hengki harus pergi tadi malam, lalu apa bedanya dengan sekarang.
"Tch... aku tidak bisa menjelaskannya."
Hengki tampak sangat kebingungan dengan situasi yang sedang dirinya alami saat ini. Ia bingung kenapa ia masih juga ada di dunia ini.
Melihatnya seperti itu, Roderick lalu berkata, "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang,4. Ahh... Sial, apa yang sebenarnya terjadi sih!?"
Ia kemudian menggerutu sambil mondar-mandir tidak jelas. Hengki tampaknya benar-benar kebingungan.
Ada apa dengan anak ini?
Roderick pun ikut bingung dengan gelagat Hengki. Ia lalu bertanya, "Memangnya ada di mana tempat asalmu?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Hengki pun berhenti mondar-mandir lalu mendekat ke arah jendela sambil menatap keluar dan berkata, "Aku bukan berasal dari tempat yang seperti ini. Ini benar-benar membuatku bingung. Aku tidak tahu bagaimana caranya kembali ke tempat asalku."
Tidak bisa kembali? kalau begitu...
Sepintas Roderick pun memikirkan sesuatu.
"Jika kamu tidak bisa kembali sekarang, bagaimana jika menetap saja di sini untuk sementara waktu, sampai kamu tahu caranya kembali."
Dari awal Roderick memang cukup tertarik dengan Hengki. Namun, ketertarikan itu sempat sirna karena Hengki bilang akan pergi dari tempat ini.
Setelah tahu kalau Hengki tidak bisa kembali dengan alasan yang tidak jelas ke tempatnya berasal. Roderick pun menyarankannya untuk tinggal sementara waktu.
Hengki menjawab tawaran Roderick dengan cukup lama, ia terus fokus menatap ke arah pasukan yang sedang berbaris di luar. Kemudian Hengki berkata, "Baiklah, untuk sementara waktu aku tidak akan ke mana-mana."
Ia lantas menyetujui tawaran Roderick.
\==============
Setelah membersihkan badannya, Hengki keluar dari kamar mandi.
"Bentuk toiletnya sangat lah buruk, terus juga tidak ada air untukku bersih-bersih. Benar-benar bikin tidak betah," gerutu Hengki.
Sambil merapikan pakaian. Ia berjalan keluar kamar dan berkeliling di sekitarnya.
Semua orang yang mengenakan seragam militer tampak sedang sangat sibuk, mereka berlalu lalang ke sana-kemari.
Apa pemberontakannya benar-benar terjadi?
Hengki ingat jika dirinya sempat memprediksi bahwa pemberontakan cepat atau lambat akan terjadi jika krisis belum juga di bereskan.
Kalau benar terjadi, maka penguasa di kerajaan ini cukup payah dalam mengatur wilayahnya. Jadi penasaran, apa rajanya itu bodoh, naif atau apa dia orang yang tirani ya?
Tampaknya Hengki saat ini sedang mengkritik kemampuan dari penguasa kerajaan ini, karena tidak mampu mengatur kerajaannya dengan cukup baik.
"Bukankah kamu yang kemarin masak untuk nyonya Hanna."
Ketika melihat area sekitar. Tiba-tiba muncul seorang pelayan yang menegurnya sampai membuat Hengki terkejut, karena suaranya sangat nyaring. Pelayan itu memiliki rambut hitam pendek dan tubuhnya memiliki tinggi sebahu Hengki. Pelayan itu adalah Ellen, putri Herena.
"Iya." Hengki lalu menjawabnya dengan sangat singkat dan jelas.
"Judes amat, nanti gak bakal ada yang naksir loh."
Ellen lalu menyenggol Hengki dengan dengkulnya. Wanita ini tampaknya memiliki kepribadian yang begitu ceria ketika bertemu orang, sangat jauh berbeda dengan sifat Hengki.
"Aku tidak terlalu peduli juga," jawab Hengki.
"Masa? Bukankah kamu kemarin menggoda Bianca dengan mengajaknya ke kamar nyonya Hanna bareng."
Ellen masih lanjut mengerjai Hengki. Ia sekarang menuduh kalau Hengki telah menggoda Bianca kemarin.
"Bianca? Siapa yang kamu maksud?" Hengki tidak tahu apa yang di maksud orang yang tiba-tiba menegurnya ini.
"Umm... Jangan pura-pura tidak tahu seperti itu. Lagian banyak juga kok yang suka menggodanya, jadi tidak usah malu mengakuinya," ucap Ellen.
Ada apa sih dengan orang ini?
Lama-kelamaan Hengki merasa jengkel dengan ulah Ellen.
Tak ingin melanjutkan perbincangan yang membuatnya kesal, Hengki lalu pergi menjauh dari Ellen. Namun, Ia tampaknya malah terus mengikuti Hengki.
"Katanya nyonya Hanna sangat suka dengan masakan kamu. Kemarin Bianca yang bilang, dia bahkan menceritakannya dengan sangat antusias loh. Kayaknya godaan kamu berhasil. Selamat yah."
Ellen kemudian berkata kalau semalam Bianca bilang makanan yang dibuat Hengki sangat disukai oleh Hanna. Ellen menceritakan ke Hengki sambil mengusilinya.
"Apaan sih, tidak jelas banget. Pergi sana." Hengki tampaknya mulai kesal kepada Ellen.
Ketika melihat wajah Hengki yang mulai kesal, Ellen justru malah menyukainya. Keusilannya memang sudah menjadi sifat Ellen. Ketika melihat orang lain makin kesal justru ia malah makin senang.
"Kalau kamu tidak suka sama Bianca. Sama aku saja, mau gak?" Kali ini Ellen malah menggoda Hengki.
"Tch...! apaan? Jauh-jauh sana."
Tanpa terbawa perasaan sama sekali, Hengki menjawab godaan Ellen sambil mempercepat langkah kakinya.
Mendengar jawaban yang terdengar seperti sebuah penolakan, Ellen sepertinya cukup kecewa namun ia juga malah tambah ingin mengusili Hengki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Luthfy
suka nih ga ngeharem
2022-08-15
3
Ray
Lanjut Up Outhor, sehat selalu dan semangat💪🙏
2022-08-07
3
Oyiib Pw
MC y terlalu kasar Ama cewe sikat aja lah setiap cewe kalo dia sukarela
2022-08-05
4