Ketika Hengki sedang menyiapkan hidangan untuk Hanna yang sedang sakit di dapur. Dilain tempat tampak Zeno dan Roderick sedang mendiskusikan sesuatu di Aula singgasana.
Aula itu meskipun kecil namun terlihat cukup glamor dengan adanya lukisan ayah Zeno ketika masih muda dengan bingkai yang terbuat dari emas.
"Pagi tadi saya mendapatkan surat dari Wilayah Naxos. Dikabarkan jika Gawen Hospes, Doux Wilayah Stabia telah tewas ketika dalam perjalanan pulang dari Kota Blum. Rombongannya diserang oleh beberapa komplotan pembunuh."
Zeon mengabarkan kepada Roderick bahwa dirinya dikirimi surat yang berisi pemberitahuan atas kematian Gawen, Doux dari Wilayah Stabia.
"Astaga, apa dituliskan juga dari mana pembunuh itu berasal? apa mereka ada hubungannya dengan komplotan yang menyerang kita juga?" tanya Roderick dengan raut wajah yang cemas.
"Sayangnya kita belum tahu siapa para pembunuh ini, tapi sepertinya mereka adalah kelompok dari luar yang sedang berusaha memberontak, karena menyerang keluarga Zeddees yang netral dalam persaingan politik sangatlah aneh. Aku juga sangat bersyukur kalian bisa selamat dari serbuan mereka," ucap Zeno.
__________________
"Apa lagi kalau bukan pemberontakan, pembunuhan tokoh yang memiliki jabatan, perpecahan atau perang saudara. Tapi mau apa pun yang terjadi yang pasti adalah akan banyak korban berjatuhan di kerajaan ini. Jika krisis ini tidak di atasi dengan cepat maka tidak ada istilah kemungkinan terburuk di masa depan karena semua kemungkinan cepat atau lambat akan membuat kerajaan hancur."
Roderick seketika teringat dengan ucapan Hengki ketika ditanya apa yang akan terjadi jika krisis di kerajaan ini tidak segera di bereskan.
__________________
Tampaknya kehancuran kerajaan ini benar-benar akan terjadi cepat atau lambat, pikir Roderick.
Melihat Roderick sedang termenung memikirkan sesuatu, Zeno lantas bertanya, "Apa yang sedang anda pikirkan?"
"Maaf tuan. Anak yang menyelamatkan kami bilang jika pemberontakan besar akan terjadi jika krisis ekonomi tidak di selesaikan dengan cepat," jawab Roderick.
"Maksud anda anak muda yang saat ini sedang masak untuk istriku?" tanya Zeno.
"Iya tuan," jawab Roderick.
Bagaimana anak itu bisa berspekulasi seperti itu? Bukankah rakyat jelata tidak mungkin memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah seperti ini? Atau apakah dia adalah bangsawan dari negara asing? Mungkin saja itu hanya tebakannya saja.
Zeno tampak bingung dari mana Hengki berasal dan mengapa orang asing sepertinya tampak memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah yang dihadapi kerajaan.
....
Pindah ke dapur.
Tampaknya Hengki hampir menyelesaikan hidangan yang sedang ia buat.
Tinggal suwir ayamnya seperti ini, kemudian masukan ke dalam mangkok. Nah akhirnya sudah jadi.
Setelah menyuwir daging ayam. Hidangan yang ia buat pun sudah selesai. Semua orang yang berada di dalam dapur merasa tergoda dengan aroma dari hidangan yang Hengki buat.
"Aromanya benar-benar enak...," bisik pelayan yang mencium hidangan yang dibuat Hengki.
"Kunci penting dalam memasak adalah rasa cinta. Orang kasar sepertinya mana mungkin punya rasa cinta, walaupun aromanya sedap pasti masakannya bakal terasa hambar." ledek Nova.
Nova sepertinya masih kesal dengan perlakuan Hengki kepada dirinya beberapa saat yang lalu. Meski begitu tatapannya tampak masih menyukai Hengki.
Karena Hengki tidak menggunakan batang serai dan lengkuas dalam masakannya, ia tampak sedikit ragu dengan rasanya. Bagi Hengki yang sudah pernah memakan hidangan ini berkali-kali jelas ia merasa ada sesuatu yang kurang.
Ia kemudian melihat sekitar lalu tatapan berhenti ketika melihat Nova sedang membicarakan dirinya. Hengki lalu berkata, "Kamu, Sini coba makanan yang telah aku buat."
Hengki menyuruh Nova menghampirinya untuk mencoba masakan yang telah ia buat.
Nova terkejut ketika dirinya panggil, ekspresinya yang tadinya ketus kemudian berubah menjadi gugup. Namun meski begitu Nova mencoba untuk meladeni Hengki, ia kemudian menghampirinya.
"Ma-mau apa kamu memanggilku?" tanya Nova sambil berusaha keras menatap matanya.
Melihat gelagat Nova, Hengki sebetulnya merasa aneh.
Kenapa wanita ini? Apa dia masih mau cari gara-gara? pikir Hengki.
"Kamu coba masakan yang aku buat, kalau rasanya tidak enak boleh dilepeh kok," ucap Hengki.
Ternyata maksud ia memanggil Nova adalah untuk mencoba makanan yang ia buat.
"Memangnya apa yang kamu buat itu?" tanya Nova.
Nova merasa asing dengan masakan yang Hengki buat, meski tampilan dan aromanya menggoda tapi ia belum pernah melihat makanan seperti ini.
"Ini namanya soto ayam, kalau kamu ingin tahu resepnya nanti aku kasih. Sekarang cobain dulu, kalau enak nanti aku buatkan juga buat kalian semua." ucap Hengki.
Mendengar perkataan Hengki, Nova dan yang lainnya terkejut karena Hengki bilang ia akan membuatkan soto ayam yang ia buat untuk pelayan yang lain.
"Apa yang kamu bilang!? Kita tidak boleh makan makanan yang berasal dari bahan-bahan yang ada di kastel ini." ucap Ellen.
Tampaknya para pelayan ini tidak di perkenankan masak makanannya sendiri.
"Halah kaku amat sih. Sudah cepat cobain dulu ini, sebelum sotonya keburu dingin."
Hengki kemudian memasukkan sendok ke dalam mangkuk dan menyuapi Nova.
Nova yang sedikit baper karena disuapi oleh Hengki lantas melahap soto ayam itu dengan sangat gugup sambil memejamkan matanya.
"Ahh... Aku juga mau disuapi olehnya." ucap pelayan yang lain.
Dari dekat pintu juga tampak Ellen yang sedang di sebelah Bianca, wajahnya berubah menjadi merah merona, ia juga sepertinya merasa iri kepada Nova.
Setelah melahapnya kemudian ekspresi Nova seketika berubah.
"Woahhhhhh!! Enak banget!! Bagaimana bisa kamu buat makanan seenak ini?"
Reaksi Nova tampak terkejut dengan soto ayam buatan Hengki. Nova belum pernah makan makanan seenak ini sebelumnya.
"Enakkan? Bagus kalau begitu, aku mau mengantarkannya langsung ke ibunya Minna." ucap Hengki.
Hengki merasa cukup senang karena masakannya di bilang enak, bahkan reaksi yang diberikan Nova ternyata melebihi ekspektasinya.
Ketika berjalan menuju keluar, Hengki sadar jika dirinya tidak tahu di mana ruangan tempat ibunya Minna. Ia pun lalu mengajak seorang pelayan yang sedari tadi diam di dekat pintu keluar.
"Ahh... Aku tidak tahu di mana ibu Minna sekarang. Kamu, tolong temani aku menuju ruangannya, yah."
Hengki kemudian mengajak pelayan yang berambut pirang itu menemaninya. Pelayan itu tidak lain adalah Bianca May.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Ahmadrhynz
Keren alurnya ga terlalu cepat, ini satu chapter berapa kata thor berasa cepat wkwk
2022-08-15
2
Luthfy
janji ga di lepeh yaa
2022-08-15
3
Ray
Semangat Up terus Outhor💪🙏AQ mulai suka nih, seru dan ada lucunya dengan sikap Hengki yg apa adanya🙏😘
2022-08-07
3