Episode 9 - Soto Ayam

Ketika Hengki sedang menyiapkan hidangan untuk Hanna yang sedang sakit di dapur. Dilain tempat tampak Zeno dan Roderick sedang mendiskusikan sesuatu di Aula singgasana.

Aula itu meskipun kecil namun terlihat cukup glamor dengan adanya lukisan ayah Zeno ketika masih muda dengan bingkai yang terbuat dari emas.

"Pagi tadi saya mendapatkan surat dari Wilayah Naxos. Dikabarkan jika Gawen Hospes, Doux Wilayah Stabia telah tewas ketika dalam perjalanan pulang dari Kota Blum. Rombongannya diserang oleh beberapa komplotan pembunuh."

Zeon mengabarkan kepada Roderick bahwa dirinya dikirimi surat yang berisi pemberitahuan atas kematian Gawen, Doux dari Wilayah Stabia.

"Astaga, apa dituliskan juga dari mana pembunuh itu berasal? apa mereka ada hubungannya dengan komplotan yang menyerang kita juga?" tanya Roderick dengan raut wajah yang cemas.

"Sayangnya kita belum tahu siapa para pembunuh ini, tapi sepertinya mereka adalah kelompok dari luar yang sedang berusaha memberontak, karena menyerang keluarga Zeddees yang netral dalam persaingan politik sangatlah aneh. Aku juga sangat bersyukur kalian bisa selamat dari serbuan mereka," ucap Zeno.

__________________

"Apa lagi kalau bukan pemberontakan, pembunuhan tokoh yang memiliki jabatan, perpecahan atau perang saudara. Tapi mau apa pun yang terjadi yang pasti adalah akan banyak korban berjatuhan di kerajaan ini. Jika krisis ini tidak di atasi dengan cepat maka tidak ada istilah kemungkinan terburuk di masa depan karena semua kemungkinan cepat atau lambat akan membuat kerajaan hancur."

Roderick seketika teringat dengan ucapan Hengki ketika ditanya apa yang akan terjadi jika krisis di kerajaan ini tidak segera di bereskan.

__________________

Tampaknya kehancuran kerajaan ini benar-benar akan terjadi cepat atau lambat, pikir Roderick.

Melihat Roderick sedang termenung memikirkan sesuatu, Zeno lantas bertanya, "Apa yang sedang anda pikirkan?"

"Maaf tuan. Anak yang menyelamatkan kami bilang jika pemberontakan besar akan terjadi jika krisis ekonomi tidak di selesaikan dengan cepat," jawab Roderick.

"Maksud anda anak muda yang saat ini sedang masak untuk istriku?" tanya Zeno.

"Iya tuan," jawab Roderick.

Bagaimana anak itu bisa berspekulasi seperti itu? Bukankah rakyat jelata tidak mungkin memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah seperti ini? Atau apakah dia adalah bangsawan dari negara asing? Mungkin saja itu hanya tebakannya saja.

Zeno tampak bingung dari mana Hengki berasal dan mengapa orang asing sepertinya tampak memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah yang dihadapi kerajaan.

....

Pindah ke dapur.

Tampaknya Hengki hampir menyelesaikan hidangan yang sedang ia buat.

Tinggal suwir ayamnya seperti ini, kemudian masukan ke dalam mangkok. Nah akhirnya sudah jadi.

Setelah menyuwir daging ayam. Hidangan yang ia buat pun sudah selesai. Semua orang yang berada di dalam dapur merasa tergoda dengan aroma dari hidangan yang Hengki buat.

"Aromanya benar-benar enak...," bisik pelayan yang mencium hidangan yang dibuat Hengki.

"Kunci penting dalam memasak adalah rasa cinta. Orang kasar sepertinya mana mungkin punya rasa cinta, walaupun aromanya sedap pasti masakannya bakal terasa hambar." ledek Nova.

Nova sepertinya masih kesal dengan perlakuan Hengki kepada dirinya beberapa saat yang lalu. Meski begitu tatapannya tampak masih menyukai Hengki.

Karena Hengki tidak menggunakan batang serai dan lengkuas dalam masakannya, ia tampak sedikit ragu dengan rasanya. Bagi Hengki yang sudah pernah memakan hidangan ini berkali-kali jelas ia merasa ada sesuatu yang kurang.

Ia kemudian melihat sekitar lalu tatapan berhenti ketika melihat Nova sedang membicarakan dirinya. Hengki lalu berkata, "Kamu, Sini coba makanan yang telah aku buat."

Hengki menyuruh Nova menghampirinya untuk mencoba masakan yang telah ia buat.

Nova terkejut ketika dirinya panggil, ekspresinya yang tadinya ketus kemudian berubah menjadi gugup. Namun meski begitu Nova mencoba untuk meladeni Hengki, ia kemudian menghampirinya.

"Ma-mau apa kamu memanggilku?" tanya Nova sambil berusaha keras menatap matanya.

Melihat gelagat Nova, Hengki sebetulnya merasa aneh.

Kenapa wanita ini? Apa dia masih mau cari gara-gara? pikir Hengki.

"Kamu coba masakan yang aku buat, kalau rasanya tidak enak boleh dilepeh kok," ucap Hengki.

Ternyata maksud ia memanggil Nova adalah untuk mencoba makanan yang ia buat.

"Memangnya apa yang kamu buat itu?" tanya Nova.

Nova merasa asing dengan masakan yang Hengki buat, meski tampilan dan aromanya menggoda tapi ia belum pernah melihat makanan seperti ini.

"Ini namanya soto ayam, kalau kamu ingin tahu resepnya nanti aku kasih. Sekarang cobain dulu, kalau enak nanti aku buatkan juga buat kalian semua." ucap Hengki.

Mendengar perkataan Hengki, Nova dan yang lainnya terkejut karena Hengki bilang ia akan membuatkan soto ayam yang ia buat untuk pelayan yang lain.

"Apa yang kamu bilang!? Kita tidak boleh makan makanan yang berasal dari bahan-bahan yang ada di kastel ini." ucap Ellen.

Tampaknya para pelayan ini tidak di perkenankan masak makanannya sendiri.

"Halah kaku amat sih. Sudah cepat cobain dulu ini, sebelum sotonya keburu dingin."

Hengki kemudian memasukkan sendok ke dalam mangkuk dan menyuapi Nova.

Nova yang sedikit baper karena disuapi oleh Hengki lantas melahap soto ayam itu dengan sangat gugup sambil memejamkan matanya.

"Ahh... Aku juga mau disuapi olehnya." ucap pelayan yang lain.

Dari dekat pintu juga tampak Ellen yang sedang di sebelah Bianca, wajahnya berubah menjadi merah merona, ia juga sepertinya merasa iri kepada Nova.

Setelah melahapnya kemudian ekspresi Nova seketika berubah.

"Woahhhhhh!! Enak banget!! Bagaimana bisa kamu buat makanan seenak ini?"

Reaksi Nova tampak terkejut dengan soto ayam buatan Hengki. Nova belum pernah makan makanan seenak ini sebelumnya.

"Enakkan? Bagus kalau begitu, aku mau mengantarkannya langsung ke ibunya Minna." ucap Hengki.

Hengki merasa cukup senang karena masakannya di bilang enak, bahkan reaksi yang diberikan Nova ternyata melebihi ekspektasinya.

Ketika berjalan menuju keluar, Hengki sadar jika dirinya tidak tahu di mana ruangan tempat ibunya Minna. Ia pun lalu mengajak seorang pelayan yang sedari tadi diam di dekat pintu keluar.

"Ahh... Aku tidak tahu di mana ibu Minna sekarang. Kamu, tolong temani aku menuju ruangannya, yah."

Hengki kemudian mengajak pelayan yang berambut pirang itu menemaninya. Pelayan itu tidak lain adalah Bianca May.

Terpopuler

Comments

Ahmadrhynz

Ahmadrhynz

Keren alurnya ga terlalu cepat, ini satu chapter berapa kata thor berasa cepat wkwk

2022-08-15

2

Luthfy

Luthfy

janji ga di lepeh yaa

2022-08-15

3

Ray

Ray

Semangat Up terus Outhor💪🙏AQ mulai suka nih, seru dan ada lucunya dengan sikap Hengki yg apa adanya🙏😘

2022-08-07

3

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!