Episode 16 - Janji Sang Terdahulu

Tweet! Tweet! Tweet! Tweet!

Kicauan burung terdengar merdu dari atas pohon. Membuat setiap orang yang melintasi jalanan itu menjadi lebih tenang. Karena selain kemerduannya yang terdengar, burung yang berkicau juga menjadi tanda bahwa area di sekitar sedang baik-baik saja.

Tak kalah juga suara aliran sungai membuat nuansa menjadi jauh lebih segar dan juga menyejukkan.

Akan tetapi kenyamanan itu tidak dirasakan oleh Hengki.

Mbee! Mbee!

Ktuplak! Ktuplak

Bunyi suara kambing dan juga kereta kuda.

"Jadi, apa kamu menyukai perjalanannya?" tanya Roderick kepada Hengki.

Itu sepertinya adalah sebuah pertanyaan untuk meledek Hengki. Karena bisa ia lihat, Hengki tampak sedang menahan rasa mabuk akibat perjalanan dan juga bau kambing yang ada di sekelilingnya.

"Wuee.... Kenapa kita malah ikut menumpang ke orang yang sedang mengangon kambing sih!?"

Tanya Hengki dengan begitu kesalnya. Bagaimana tidak kesal, sehabis naik kapal laut yang begitu jauh dari siang hingga malam. Sekarang ia malah menaiki kereta kuda dari seseorang yang sedang mengangon kambingnya.

"Mau bagaimana lagi, Uang yang kita bawa berkurang cukup banyak gara-gara membeli sebuah informasi dari wanita yang ada di kapal tadi. Jadi kita harus menghemat uang agar tidak cepat habis," ucap Roderick.

"Masa segitu doang langsung habis!?" tanya Hengki yang belum juga santai.

"Kita harus menghemat...,"

Roderick menekankan lagi kalau mereka itu harus menghemat uangnya.

"Buat apa di hemat-hemat!?"

Hengki masih terus mencerca Roderick dengan pertanyaan-pertanyaannya.

"Buat hal yang sangat mendesak dan penting," jawab Roderick.

"Yah ini kan penting!" marah Hengki.

Di sepanjang perjalanan yang harusnya nyaman sambil menatap keindahan pemandangan di sekitar yang membuat sejuk. Hengki terus menerus menggerutu kepada Roderick.

Ketika hari menunjukkan sudah larut malam. Roderick, Hengki dan juga si pemilik kambing memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.

Mereka mendirikan sebuah tenda kecil yang telah di bawa oleh sang pemilik kambing tak jauh dari jalan setapak.

Krik! Krik! Krik!

Suara hewan malam menghiasi suasana sekitar dari kesunyian gelapnya langit.

Setelah tenda kokoh berdiri. Hengki langsung memasukinya dan bergegas untuk menandai tempatnya beristirahat. Melihat kelakuan sembrono itu, Roderick lalu berkata kepada sang pemilik kambing, "Maaf atas kelakuannya. Sifat dia memang sudah seperti itu dari sananya."

Mendengar hal itu, si pemilik menjawab, "Tidak apa-apa, dari tadi dia memang terlihat sudah tidak nyaman ketika di perjalanan."

\==============

Sementara itu, di dalam tenda Hengki tampak merenungkan sesuatu.

Gila... Sudah lama tidak bepergian jauh seperti ini. Bahkan terakhir kali naik kapal kalau tidak salah waktu masih SD. Untung tiap libur lebaran selalu main ke pantai, jadi tadi tidak terlalu mabuk laut tadi.

Di dunia lamanya, Hengki memang seorang penyendiri, apalagi ditambah dengan masalah keluarga yang telah dialaminya beberapa tahun yang lalu, membuat dirinya semakin menyendiri lagi.

Ditengah-tengah renungannya, Hengki lantas duduk untuk melihat ke arah Roderick yang tengah berbincang. Ia penasaran apa topik yang sedang di obrolkan olehnya.

Jika itu hanyalah basa-basi semata, maka ia akan langsung tidur saja.

\==============

"Kalau boleh tahu, apa yang anda lakukan di pelabuhan tadi dengan membawa kambing yang begitu banyaknya?" Tanya Roderick.

"Saya hanya mencoba cara berjualan yang baru, Karena orang yang biasanya membeli kambing saya sepertinya sudah tewas ketika berada Blum beberapa hari yang lalu," terang si pemilik.

(Blum adalah nama kota yang terletak di Wilayah Stabia.)

"Kalau boleh tahu, memangnya separah apa pemberontakan di Stabia itu?" tanya Roderick.

Ia penasaran dengan kondisi saat pemberontakan terjadi di Stabia beberapa hari yang lalu.

"Saya mendengar dari rekan-rekan saya yang terhindar dari peperangan kalau kondisi di sana sekarang itu sudah seperti neraka. Banyak orang yang seharusnya mereka lindungi malah habis dibantai, mendengar hal itu justru malah membuat saya waswas dengan kelompok bernama Iudicium itu."

Ia bilang kalau dirinya mendengar kabar dari temannya yang selamat atas tragedi penaklukan Stabia, bahwa kondisi di sana saat ini sangat memprihatinkan.

"Saya turut prihatin, karena setiap masalah pasti yang selalu menjadi korban adalah rakyat jelata."

Roderick menundukkan kepala sambil mencubit dahinya. Ia prihatin dengan apa yang telah dialami para korban, karena rata-rata mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi sampai-sampai membuat mereka terbunuh dengan sangat sia-sia.

"Apa anda masih meyakini perjanjian dewa Socotre, tuan?" tanya si pemilik kambing, sambil menunjukkan ekspresi penuh keraguan.

Yang ia maksud dengan perjanjian Dewa Socotre di sini adalah sebuah janji ketika Raja Socotre masih hidup. Ia bersabda bahwa suatu saat 'Mungkin' ada sosok seperti dirinya turun ke dunia ini.

Dan saat ini, alasan ia bertanya kepada Roderick mengenai sabda itu karena para pemberontak yang salah satunya menamai kelompoknya 'Perfectum Iudicium / Penghakiman yang sempurna' mengklaim bahwasanya mereka adalah utusan dari Raja Socotre.

Mendengar pertanyaan yang penuh dengan keraguan itu. Roderick lantas menatap jauh ke arah langit yang ada di atas, ia bilang "Jika dewa itu ada, maka iblis juga pasti ada. Utusan dewa pasti akan membawa kemaslahatan di dunia ini, tapi jika orang yang mengaku-ngaku utusan dewa itu justru malah membuat kita sengsara maka mereka pasti utusan atau jelmaan iblis."

"Tapi bukankah para bangsawan juga telah melakukan kejahatan kepada orang seperti kita ini!"

Si Pemilik kambing itu sontak terbawa emosi. Batinnya saat ini sedang merasa kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa orang seperti dia yang justru selalu menjadi korban utama dalam setiap masalah. Padahal ia merasa tidak pernah melakukan dosa yang sebegitu besarnya kepada orang lain.

Ketika melihatnya terbawa emosi, Roderick hanya diam membisu, ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan.

"Maaf, seharusnya saya tidak terbawa emosi seperti ini." ucap sang pemilik kambing kepada Roderick.

\==============

Di dalam tenda, dari tadi Hengki terus memperhatikan diskusi Roderick dan si pemilik kambing. Ia sepertinya tidak mengerti, topik apa yang sedang mereka diskusikan berdua.

Perjanjian? Dewa Socotre? Tch... kukira pak tua itu mau membahas sesuatu yang penting. Lebih baik aku langsung tidur saja deh.

Hengki kemudian kembali ke tempat tidurnya, ia menutup mata sebentar lalu kemudian tertidur lelap.

Terpopuler

Comments

Luthfy

Luthfy

hmm jelmaan dewa secotre
apakah hengki?🙇

2022-08-24

3

Luthfy

Luthfy

noted ludicium

2022-08-24

3

Luthfy

Luthfy

double kill mabok laut plus mabuk darat

2022-08-24

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Rutinitas
2 Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3 Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4 Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5 Episode 5 - Ksatria Sejati
6 Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7 Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8 Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9 Episode 9 - Soto Ayam
10 Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11 Episode 11 - Masih Di sini
12 Episode 12 - Surat Permohonan
13 Episode 13 - Keramaian
14 Episode 14 - Sang Mata Elang
15 Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16 Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17 Episode 17 - Kastel Naupaktos
18 Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19 Episode 19 - Persiapan Berlayar
20 Daftar Wilayah
21 Episode 20 - Tak Tahu Diri
22 Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23 Episode 22 - Yang Tersisa
24 Episode 23 - Persiapan
25 Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26 Episode 25 - Thriller
27 Episode 26 - Avis
28 Episode 27 - Gelombang I
29 Episode 28 - Benedict
30 Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31 Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32 Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33 Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34 Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35 Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36 Episode 35 - Hutan Membara
37 Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38 Episode 37 - Darah
39 Episode 38 - Kemenangan Benedict
40 Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41 Episode 40 - Tersanjung
42 Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43 Episode 41 - Berlebihan
44 Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45 Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46 Episode 42 - Mindset
47 Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48 Episode 44 - Elliot Lascaris
49 Episode 44.1 - William Artemis
50 Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51 Episode 45 - New Journey Begins
52 Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53 Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54 Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55 Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56 Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57 Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58 Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59 Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60 Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61 Episode 48.1 - Belum Usai
62 Episode 48.2 - Dilema William
63 Episode 49 - Percikan Awal
64 Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65 Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66 Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67 Episode 50.1 - Beringas
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Episode 1 - Rutinitas
2
Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan
3
Episode 3 - Setelah Sekian Lama
4
Episode 4 - Bobs. Kendalikan Emosimu
5
Episode 5 - Ksatria Sejati
6
Episode 6 - Namaku Hengki Tantama
7
Episode 7 - Prediksi Masa Depan
8
Episode 8 - Tampan Tetapi Kejam
9
Episode 9 - Soto Ayam
10
Episode 10 - Keceriaan Yang Telah Kembali
11
Episode 11 - Masih Di sini
12
Episode 12 - Surat Permohonan
13
Episode 13 - Keramaian
14
Episode 14 - Sang Mata Elang
15
Episode 15 - Penghakiman Yang Tidak Sempurna
16
Episode 16 - Janji Sang Terdahulu
17
Episode 17 - Kastel Naupaktos
18
Episode 18 - Reuni Singkat 2 Legenda
19
Episode 19 - Persiapan Berlayar
20
Daftar Wilayah
21
Episode 20 - Tak Tahu Diri
22
Episode 21 - Mobilisasi Pasukan
23
Episode 22 - Yang Tersisa
24
Episode 23 - Persiapan
25
Episode 24 - 2 Panglima Pemula
26
Episode 25 - Thriller
27
Episode 26 - Avis
28
Episode 27 - Gelombang I
29
Episode 28 - Benedict
30
Episode 29 - Sebelum Memulai Kembali
31
Episode 30 - Kublai Khan + Pengumuman
32
Episode 31 - Antara Pesimis & Optimis
33
Episode 32 - Permulaan Gelombang II
34
Episode 33 - Bidik & Lepaskan
35
Episode 34 - Who Is Really Being Threatened?
36
Episode 35 - Hutan Membara
37
Episode 36 - Nullum Consilium est Perfectum
38
Episode 37 - Darah
39
Episode 38 - Kemenangan Benedict
40
Episode 39 - Awal Kisah Untuk Hengki
41
Episode 40 - Tersanjung
42
Episode 40.1 - Kenangan Buruk
43
Episode 41 - Berlebihan
44
Episode 41.1 - Gambaran Stabia
45
Episode 41.2 - Curahan Hati Ajax
46
Episode 42 - Mindset
47
Episode 43 - Tanda Awal Perubahan
48
Episode 44 - Elliot Lascaris
49
Episode 44.1 - William Artemis
50
Episode 44.2 - Awal Mahakarya
51
Episode 45 - New Journey Begins
52
Episode 45.1 - Kemarahan Ajax
53
Episode 45.2 - Ajax, Pasukannya dan Dendam Rakyat Stabia (1)
54
Episode 46 - Jan, Pasukannya dan Dendam Kapten Alfred (2)
55
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)
56
Episode 46.2 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)
57
Episode 47 - Situasi Terkini Di Tempat Lain
58
Episode 47.1 - Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki
59
Episode 47.2 - Hengki, Kesempatan & Tekad Jan
60
Episode 48 - Kesedihan Dan Kesenangan
61
Episode 48.1 - Belum Usai
62
Episode 48.2 - Dilema William
63
Episode 49 - Percikan Awal
64
Episode 49.1 - Hari Pertama Setelah Tumbangnya German
65
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan
66
Episode 50 - Semuanya Butuh Pertolongan
67
Episode 50.1 - Beringas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!