Tweet! Tweet! Tweet! Tweet!
Kicauan burung terdengar merdu dari atas pohon. Membuat setiap orang yang melintasi jalanan itu menjadi lebih tenang. Karena selain kemerduannya yang terdengar, burung yang berkicau juga menjadi tanda bahwa area di sekitar sedang baik-baik saja.
Tak kalah juga suara aliran sungai membuat nuansa menjadi jauh lebih segar dan juga menyejukkan.
Akan tetapi kenyamanan itu tidak dirasakan oleh Hengki.
Mbee! Mbee!
Ktuplak! Ktuplak
Bunyi suara kambing dan juga kereta kuda.
"Jadi, apa kamu menyukai perjalanannya?" tanya Roderick kepada Hengki.
Itu sepertinya adalah sebuah pertanyaan untuk meledek Hengki. Karena bisa ia lihat, Hengki tampak sedang menahan rasa mabuk akibat perjalanan dan juga bau kambing yang ada di sekelilingnya.
"Wuee.... Kenapa kita malah ikut menumpang ke orang yang sedang mengangon kambing sih!?"
Tanya Hengki dengan begitu kesalnya. Bagaimana tidak kesal, sehabis naik kapal laut yang begitu jauh dari siang hingga malam. Sekarang ia malah menaiki kereta kuda dari seseorang yang sedang mengangon kambingnya.
"Mau bagaimana lagi, Uang yang kita bawa berkurang cukup banyak gara-gara membeli sebuah informasi dari wanita yang ada di kapal tadi. Jadi kita harus menghemat uang agar tidak cepat habis," ucap Roderick.
"Masa segitu doang langsung habis!?" tanya Hengki yang belum juga santai.
"Kita harus menghemat...,"
Roderick menekankan lagi kalau mereka itu harus menghemat uangnya.
"Buat apa di hemat-hemat!?"
Hengki masih terus mencerca Roderick dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Buat hal yang sangat mendesak dan penting," jawab Roderick.
"Yah ini kan penting!" marah Hengki.
Di sepanjang perjalanan yang harusnya nyaman sambil menatap keindahan pemandangan di sekitar yang membuat sejuk. Hengki terus menerus menggerutu kepada Roderick.
Ketika hari menunjukkan sudah larut malam. Roderick, Hengki dan juga si pemilik kambing memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mereka mendirikan sebuah tenda kecil yang telah di bawa oleh sang pemilik kambing tak jauh dari jalan setapak.
Krik! Krik! Krik!
Suara hewan malam menghiasi suasana sekitar dari kesunyian gelapnya langit.
Setelah tenda kokoh berdiri. Hengki langsung memasukinya dan bergegas untuk menandai tempatnya beristirahat. Melihat kelakuan sembrono itu, Roderick lalu berkata kepada sang pemilik kambing, "Maaf atas kelakuannya. Sifat dia memang sudah seperti itu dari sananya."
Mendengar hal itu, si pemilik menjawab, "Tidak apa-apa, dari tadi dia memang terlihat sudah tidak nyaman ketika di perjalanan."
\==============
Sementara itu, di dalam tenda Hengki tampak merenungkan sesuatu.
Gila... Sudah lama tidak bepergian jauh seperti ini. Bahkan terakhir kali naik kapal kalau tidak salah waktu masih SD. Untung tiap libur lebaran selalu main ke pantai, jadi tadi tidak terlalu mabuk laut tadi.
Di dunia lamanya, Hengki memang seorang penyendiri, apalagi ditambah dengan masalah keluarga yang telah dialaminya beberapa tahun yang lalu, membuat dirinya semakin menyendiri lagi.
Ditengah-tengah renungannya, Hengki lantas duduk untuk melihat ke arah Roderick yang tengah berbincang. Ia penasaran apa topik yang sedang di obrolkan olehnya.
Jika itu hanyalah basa-basi semata, maka ia akan langsung tidur saja.
\==============
"Kalau boleh tahu, apa yang anda lakukan di pelabuhan tadi dengan membawa kambing yang begitu banyaknya?" Tanya Roderick.
"Saya hanya mencoba cara berjualan yang baru, Karena orang yang biasanya membeli kambing saya sepertinya sudah tewas ketika berada Blum beberapa hari yang lalu," terang si pemilik.
(Blum adalah nama kota yang terletak di Wilayah Stabia.)
"Kalau boleh tahu, memangnya separah apa pemberontakan di Stabia itu?" tanya Roderick.
Ia penasaran dengan kondisi saat pemberontakan terjadi di Stabia beberapa hari yang lalu.
"Saya mendengar dari rekan-rekan saya yang terhindar dari peperangan kalau kondisi di sana sekarang itu sudah seperti neraka. Banyak orang yang seharusnya mereka lindungi malah habis dibantai, mendengar hal itu justru malah membuat saya waswas dengan kelompok bernama Iudicium itu."
Ia bilang kalau dirinya mendengar kabar dari temannya yang selamat atas tragedi penaklukan Stabia, bahwa kondisi di sana saat ini sangat memprihatinkan.
"Saya turut prihatin, karena setiap masalah pasti yang selalu menjadi korban adalah rakyat jelata."
Roderick menundukkan kepala sambil mencubit dahinya. Ia prihatin dengan apa yang telah dialami para korban, karena rata-rata mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi sampai-sampai membuat mereka terbunuh dengan sangat sia-sia.
"Apa anda masih meyakini perjanjian dewa Socotre, tuan?" tanya si pemilik kambing, sambil menunjukkan ekspresi penuh keraguan.
Yang ia maksud dengan perjanjian Dewa Socotre di sini adalah sebuah janji ketika Raja Socotre masih hidup. Ia bersabda bahwa suatu saat 'Mungkin' ada sosok seperti dirinya turun ke dunia ini.
Dan saat ini, alasan ia bertanya kepada Roderick mengenai sabda itu karena para pemberontak yang salah satunya menamai kelompoknya 'Perfectum Iudicium / Penghakiman yang sempurna' mengklaim bahwasanya mereka adalah utusan dari Raja Socotre.
Mendengar pertanyaan yang penuh dengan keraguan itu. Roderick lantas menatap jauh ke arah langit yang ada di atas, ia bilang "Jika dewa itu ada, maka iblis juga pasti ada. Utusan dewa pasti akan membawa kemaslahatan di dunia ini, tapi jika orang yang mengaku-ngaku utusan dewa itu justru malah membuat kita sengsara maka mereka pasti utusan atau jelmaan iblis."
"Tapi bukankah para bangsawan juga telah melakukan kejahatan kepada orang seperti kita ini!"
Si Pemilik kambing itu sontak terbawa emosi. Batinnya saat ini sedang merasa kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa orang seperti dia yang justru selalu menjadi korban utama dalam setiap masalah. Padahal ia merasa tidak pernah melakukan dosa yang sebegitu besarnya kepada orang lain.
Ketika melihatnya terbawa emosi, Roderick hanya diam membisu, ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Maaf, seharusnya saya tidak terbawa emosi seperti ini." ucap sang pemilik kambing kepada Roderick.
\==============
Di dalam tenda, dari tadi Hengki terus memperhatikan diskusi Roderick dan si pemilik kambing. Ia sepertinya tidak mengerti, topik apa yang sedang mereka diskusikan berdua.
Perjanjian? Dewa Socotre? Tch... kukira pak tua itu mau membahas sesuatu yang penting. Lebih baik aku langsung tidur saja deh.
Hengki kemudian kembali ke tempat tidurnya, ia menutup mata sebentar lalu kemudian tertidur lelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Luthfy
hmm jelmaan dewa secotre
apakah hengki?🙇
2022-08-24
3
Luthfy
noted ludicium
2022-08-24
3
Luthfy
double kill mabok laut plus mabuk darat
2022-08-24
2