Bara yang mendengar teriakkan Rina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hari ini dia tidak ditemani Arum yang sedang melakukan operasi Caesar salah seorang pasiennya.
"Berbuat ulah apa lagi anak itu" omelnya sambil masuk ke ruang tengah setelah berenang di halaman belakang.
"Hoshi! Jangan diambil banyak-banyak dong!" teriak Rina ketika melihat remaja itu mengambil Semar mendem banyak di piring kecil.
"Salahnya mau nabrak gue!"
"Mau! Bukan sudah nabrak! Itu punya Opa Ghani sama Oom Bara! Sisain buat yang lain kenapa sih! Hoshi! Gue kutuk mendem lu!" omel Rina kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Hoshi Paramudya Quinn Reeves! Pulang kamu ke New York sana!" usir Bara kesal yang pagi-pagi sudah ada keributan di mansionnya.
"Diiihhh Oom Bara ngusir! Bilangin ke Papa lho" sahut Hoshi cuek sambil memakan sepotong Semar mendem.
"Apaan sih kalian berdua? Ribut melulu kalau ketemu" tegur Arimbi.
"Kamu kok bisa sih punya sodara menyebalkan seperti ini? Buang gih!" sungut Rina sebal.
"Yakin elu mau buang gue? Lihat wajah gue. Kurang ganteng apa coba? Bahkan si Werkudara itu nggak ada apa-apanya! Lagian, Rin, rugi lu kalau buang gue!"
"Kagak rugi gue! Langsung Bancakan kirim ke panti asuhan kalau elu bisa dibuang!" balas Rina dramatis.
"Rugi lah Rin. Soalnya elu bakalan kangen sama mulut cabe gue" cengir Hoshi.
Rina hanya menatap tajam ke Hoshi yang menurutnya saudara Arimbi yang paling menyebalkan di muka bumi.
"Rimbi, kenapa sih harus ada saudaramu yang begini modelnya? Mbok kayak bang Travis atau mas Abi atau mas Rama yang kalem-kalem gitu. Lha ini? Gue cuma bisa baca ayat kursi saban lihat dia!" tunjuk Rina ke Hoshi.
"Eh cewek Arab! Lu kira gue setan?" pendelik Hoshi tidak terima. "Mana ada setan ganteng begini?"
"Iya! Elu emang setan!" Mata bulat Rina yang indah itu tampak semakin membulat.
"Gue bukan setan, Rina Kareem."
"Apaan?"
"Gue rajanya setan!" seringai Hoshi.
"Cocok!" sebuah suara membuat semua orang menoleh. Tampak seorang gadis berdarah timur tengah berdiri disana dan di belakangnya ada seorang gadis berdarah Indonesia.
"Falishaaaaa! Hajar dia!" rengek Rina.
"Kenapa nggak kamu saja yang Hajar?"
"Belum waktunya" sahut Hoshi cuek yang membuat semua orang melongo.
"Astaghfirullah Al Adzim! Fix! Oom Bara akan telpon papa kamu!" Bara merasa tensinya bakal kacau selama si Hoshi di mansion. Sudah cukup Bima yang bikin darting, nggak perlu ditambah si bon cabe!
***
Falisha dan Astuti sahabatnya yang seorang tuna rungu sudah bisa melihat Hoshi bertengkar dengan Rina. Falisha adalah putri dari Davina Arata dan Kareem Hassan ( read Duda Milik Davina ). Falisha fasih berbahasa isyarat dan dia sudah belajar sejak usianya sepuluh tahun.
"Kalian berdua tuh kenapa sih? Ribuuuttt ajah kalau ketemu" omel Falisha sambil memakan lasagna buatan Alexandra.
"Tahu tuh si muka pucat! Seneng banget ngajak gelut!" sungut Rina sambil menggigit chicken nugget. Siang ini para remaja perempuan asyik membuat makanan untuk teman ghibah.
"Nggak cuma Rina ajah, Bima juga tuh diajak gelut sama Hoshi" sambung Arimbi.
Memang Hoshi kenapa sih sukanya usil? Astuti atau biasa dipanggil Tuti itu bertanya menggunakan bahasa isyarat.
"Dia salah gen!" sahut Anarghya yang ikut nimbrung bersama kakak, sepupu dan dua temannya.
Salah gen? Tuti bertanya lagi.
"Iyalah! Opanya Eiji Reeves yang sering bikin Opa Ghani dan Opa Duncan emosi, papanya Levi Reeves yang 11-12 juga. Jadilah turunannya Hoshi" papar Anarghya.
"Rin, jangan-jangan dia jodoh elu" celetuk Falisha.
Rina melongo dan sejurus kemudian dia mengetuk meja tamu itu tiga kali. "Amit-amit jabang bayi!" teriaknya.
Semua orang disana tertawa.
"Kalau pun Hoshi pria terakhir di muka bumi, gue ga bakalan tertarik!" sambung Rina lagi.
"Yakiiinn?" goda Arimbi.
"Yakin Solihin madarun!" jawab Rina yakin.
"Hati-hati, Rin. Tar jadi bumerang lho" goda Falisha.
"Insyaallah nggak." Rina menatap semua orang disana yang entah kenapa dirinya jadi tidak seyakin tadi.
"Ngomong-ngomong si mulut cabe kemana?" tanya Falisha.
"Tadi diajak bang Travis" jawab Anarghya.
"Diajak kemana?" tanya Falisha lagi.
"Katanya nembak sama ke Dojo nya Takei-sensei" jawab Anarghya lagi.
"Pantes sepi" celetuk Rina.
"Lhaaa dia malah cariin" ledek Anarghya.
"Eh kagak! Gue bersyukur malahan! Acara ghibah nggak ada yang ganggu !" balas Rina.
***
Hoshi menatap langit kota Jakarta waktu malam sembari menyesap hot choconya. Arimbi pun datang menghampiri sepupunya yang duduk di sofa halaman belakang dekat dengan kolam renang.
"Melamun?" tanya Arimbi.
"Nggak, ngitung bintang" sahutnya cuek.
Arimbi menengadah. "Mana bintangnya?"
"Justru karena itu, gue ngitung dari tadi cuma satu doang yang nongol. Gue itung berulang dari tadi."
Arimbi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan absurd Hoshi.
"Jadi ke Harvard kamu?" tanya Arimbi sambil duduk di sebelah Hoshi.
"Jadilah! Harvard Business School. Keren nggak tuh? Aku dah ambil ujian SAT dan nilaiku perfect.
"Aku baru Minggu depan ambil ujian SAT online."
Hoshi menatap sepupu cantiknya. Dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki sepupu-sepupu yang cantik dan good looking semua. Bahkan mas Rama sendiri gantengnya nurun Opa Jeremy.
"Kamu yakin sama si tiang listrik?" tanya Hoshi yang membuat Arimbi tertawa.
"Bimasena, Hoshi. Bukan Werkudara, bukan tiang listrik" kekeh Arimbi.
"Baca Mahabarata lagi deh! Bima itu nama waktu kecil, besarnya Werkudara. Kamu punya koleksinya nggak dibaca sih!"
Arimbi hanya tersenyum manis. Sepupu tampannya itu memang jenius dan hobinya membaca termasuk cerita perwayangan karena almarhum Opa Heri, ayah mertua papanya Levi, selalu mendongengkan wayang sejak Hoshi bayi. Tak heran jika pengetahuan dirinya soal perwayangan sangat kuat meskipun Hoshi tidak fasih berbahasa Jawa, tapi dirinya paham bahasa Jawa.
Arimbi sendiri juga suka menari tradisional terutama tarian Jawa yang sangat kental dengan filosofi nya.
"Hosh, bagaimana menurut kamu soal Bima?"
"Nggak meyakinkan!"
Arimbi terbahak. Sepupunya satu itu memang suka bikin darting.
"Kok nggak meyakinkan?"
"Iyalah! Tadi bang Travis sengaja menyeret Si Werkudara ke Dojo dan arena menembak. Paraaahh!"
Arimbi memicingkan matanya. "Apa yang kalian lakukan?"
"Nggak banyak cuma banting tuh bocah terus bikin dia shock lihat aku perfect menembaknya" ucap Hoshi songong.
"Ya Allah, Hoshi! Bima kan nggak pernah pegang pistol, nggak kayak kita-kita."
"Salahnya nekad pengen sama kamu, ya sekalian saja biar dia lihat di keluarga kita itu kayak apa. Kuat, lanjut. Nggak, lupakan kamu! Gampang kan?" cengir nya durjana.
Arimbi hanya bisa menghela nafas panjang. Repot urusannya kalau sudah keluar resehnya nih bocah!
***
Yuhuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Murti Puji Lestari
iyalah raja setan, wong cabe setan saja kalah pedes sama mulut kamu 😅😅😅
2024-09-19
1
Murti Puji Lestari
tenang rin aku dukung ngutuk muka cewek, mendem si semar mendem 😅
2024-09-19
1
agoes Rezha
bimo
2024-08-10
0