Dasar Anak Durhaka!!

Akhirnya bisa up lagi setelah seharian kemarin gak update bab baru. Terimakasih buat yang masih setia menunggu. Jangan lupa tinggalkan like komennya ya 🙏🙏

-

-

Dentuman musik yang diputar dengan keras, membuat adam dan hawa yang berada di ruangan itu makin menggila dan meliuk-liukkan tubuh mereka dengan liar.

Gelas-gelas kaca dan botol diangkat tinggi mengiringi tubuh mereka yang sedang mengalun mengikuti musik instrumental dengan beat yang cepat.

Sejauh mata memandang hanya terlihat kerumunan muda-mudi dalam kegelapan yang disertai kerlap-kerlip heboh karena bola disko yang berada tepat di atas dance floor. 

Walaupun dengan pencahayaan remang-remang, tetapi tidak mengurangi kesempatan untuk memandang wanita-wanita dengan pakaian minim dan rambut tergerai yang sedang menari dengan lincah.

Menggeleng-gelengkan kepala, menyibak rambut dengan sekali sentakan, meraba tubuh mereka sendiri, menciptakan gerakan sensual dan menggoyangkan pinggul dengan erotis. Menikmati musik bertempo cepat tersebut dan menarik perhatian lelaki.

Dunia malam. Adalah dunia dimana berkumpulnya para pendosa yang sedang berburu kesenangan dan kenikmatan duniawi.

Diantara banyaknya orang yang ada di sana, terlihat sosok tampan dalam balutan pakaian serampangan ya. Dia duduk bersama tiga pria lainnya, menikmati minuman beralkohol sambil sesekali menghirup rokok yang terselip jari-jari besarnya.

Siapa lagi mereka jika bukan Nathan, Aria, Sammy dan Dio. Sebenarnya Nathan sangat malas untuk datang ketika Aria menghubunginya, tapi kemudian dia tetap memutuskan untuk datang karena ada sesuatu yang harus Nathan selidiki dan cari tahu ditempat ini.

"Sebenarnya apa yang sedang kau cari, Hyung? Aku lihat dari tadi kau terus memperhatikan kesana-kemari, apa kau sedang mencari mangsa untuk teman kencanmu malam ini?!" cecar Sammy penasaran.

"Aku sedang mencari pria bernama, Baron Hwang, tapi sepertinya bajingan tua itu sedang tidak ada di sini." Jawabnya datar.

"Baron Hwang?! Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, namanya terdengar tidak asing sama sekali." Ucap Dio menyahuti.

"Dia adalah tangan kanan Bos dari organisasi Japok, dia memiliki banyak informasi yang aku butuhkan. Dan aku mencarinya untuk menanyakan beberapa hal." Jelas Nathan.

"Japok!! Bukankah Phoenix selama ini selalu bermusuhan dengan Japok, bagaimana mungkin dia bisa memberikan banyak informasi yang kau butuhkan?!" Aria menatap Nathan penuh tanya.

"Jika uang yang berbicara, memangnya apa yang tidak bisa. Dia adalah pria yang gila uang dan barang mewah, hanya memberinya sedikit umpan, maka ikan besar akan langsung tertangkap!!" Ucap Nathan dengan seringai tajam andalannya.

Tiba-tiba kelopak-kelopak mawar berjatuhan dari atas dan menghujani tubuh Nathan. Tak jauh dari ia duduk. Terlihat Sammy dan Dio yang menabur kelopak-kelopak bunga mawar berbagai warna dan potongan-potongan kertas warna-warni.

"Astaga. Apa-apaan kalian ini, dan darimana kalian mendapatkan kelopak-kelopak bunga sebanyak ini?!" Tanya Aria penuh keheranan.

"Hahaha!! Bukankah ini yang selalu terjadi di dalam sebuah drama," jawab Sammy.

"Ck, kalian membuat kotor ruangan ini saja!! Kalian lanjutkan saja, aku pergi dulu. Kalian bisa minum sepuasnya. Malam ini biar aku yang membayarnya," Nathan bangkit dari sofa merah itu dan melenggang pergi.

"Yee...!! Pesta!!!"

-

-

Jam dinding sudah menunjuk angka 23.00 malam. Lagi-lagi Hanna masih terjaga dan enggan untuk menutup matanya. Sejak kecil Hanna memang selalu sulit untuk tidur lebih awal jika tanpa bantuan obat tidur. Terkadang dia bisa terjaga hampir semalaman jika tidak meminum obatnya.

Tapi sekarang Hanna mulai berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu karena tidak mau jika sampai mengalami lebih lama ketergantungan.

Deru suara mobil yang memasuki halaman menyita perhatian Hanna yang sedang menikmati bintang. Seorang pemuda dalam balutan pakaian serampangan nya keluar dari mobil tersebut dan melenggang masuk.

Meskipun tau siapa yang datang. Tak ada keinginan Hanna untuk beranjak ataupun meninggalkan tempatnya berdiri saat ini. Dia masih ingin menikmati langit bertabur bintang.

"Hanna, kenapa belum tidur?" Lantas ia pun menoleh setelah mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Sudut bibir Hanna tertarik ke atas. Ia beranjak dan menghampiri Nathan.

"Kakak dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" Hanna mengangkat kepalanya dan menatap Nathan penuh tanya. "Uhh, kau habis minum ya? Mulutmu bau alkohol!!" Hanna memundurkan kepalanya, dia tidak tahan dengan aroma alkohol yang menguat dari mulut Nathan.

"Aku pergi ke bar untuk mencari seseorang. Tapi sayangnya tidak berhasil menemukannya. Kenapa belum tidur?" Tanya Nathan.

"Aku menderita insomnia akut sejak kecil, jadi aku kesulitan untuk tidur saat malam hari," jawabnya.

"Apa kau tidak meminum obatmu?"

Hanna menggeleng. "Aku sudah menghentikan mengkonsumsi obat-obatan itu. Aku tidak ingin semakin ketergantungan pada obat-obatan tersebut." Jelas Hanna.

Nathan membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat."Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu sampai kau tertidur." Ucap Nathan lalu melepaskan pelukannya. Hanna mengangguk.

Nathan dan Hanna berbaring di satu ranjang yang sama. Posisi mereka saling berhadapan. Tenang dan nyaman, itulah yang Hanna rasakan ketika Nathan memeluknya seperti ini. Bahkan dia merasakan semakin lama matanya yang semakin memberat.

Usapan tangan Nathan pada punggungnya membuat mata Hanna semakin memberat. Dan tidak sampai sepuluh menit, Hanna sudah terlelap dalam pelukan Nathan.

Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Dengan perlahan dan tanpa gerakan berarti, Nathan beranjak dari sisi Hanna. Ia tidak ingin jika Hanna sampai terbangun.

Nathan melenggang meninggalkan kamar Hanna dan pergi ke ruang keluarga. Pemuda itu mengeluarkan sebotol wine dari dalam lemari pendingin lalu meletakkan di atas meja.

"Bagaimana hasil penyelidikan-mu. Kau menemukan pria itu, Baron?" Nathan mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Nero yang sedang mendaratkan pantatnya di sofa.

Pemuda yang hanya memakai singlet putih dan celana belel hitam itu pun lantas menggeleng. "Tidak, dia tidak datang ke bar malam ini." Jawabnya sedikit datar.

Lalu pandangan Tuan Nero jatuh pada sesuatu yang menyembul di balik singlet putihnya. "Heh, itu tatto?! Kau membuat tatto lagi?" Pria itu menunjuk dada Nathan yang tampak terjadi tinta hitam.

Nathan tidak memberikan jawaban apa-apa. dia hanya mengangguk. "Kenapa kau sangat berani sekali, Nak?! Dulu saat masih muda Papa juga ingin membuatnya. Papa seperti ngidam ingin memiliki tatto, tapi mau bagaimana lagi. Papa takut pada jarum suntik. Jadi Papa urung membuatnya." Tutur Tuan Nero.

Nathan memicingkan matanya dan menatap sang ayah dengan pandangan tak percaya. "Kau, seorang bos besar Mafia takut pada jarum suntik, menggelikan." Cibir Nathan lalu meneguk sisa wine-nya.

"Jangan meledek Papa, meskipun Papa adalah bos Mafia. Tapi tetap saja jika Papa ini adalah manusia biasa. Papa memiliki kelemahan dan kekurangan. Bos Mafia bukan Tuhan ataupun Dewa yang tidak memiliki kelemahan apalagi ketakutan. Jadi wajar jika Papa~"

"Yeah.." sahut Nathan menyela ucapan sang ayah. "Aku lelah, aku tidur dulu." Nathan meraih jaket kulitnya yang dia letakkan di-samping ia duduk dan pergi begitu saja.

"Yakk!! Kenapa Papa malah ditinggal sendirian?! Nathan Nero, kau anak yang durhaka!!!"

-

-

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Areum

Areum

Bos mafia g takut tertembak eh malah takut dg jarum suntik 🤣🤣🤣

2022-06-03

0

Nova Susanti

Nova Susanti

bos mafia takut jarum suntik🤪
mainan nya pisau pedang sama pistol,tapi sama jarum kecil aja gak berani ya pa hihihi

2022-05-24

2

Acih Suarsih

Acih Suarsih

papa Nero papa yang hangat sama anak anaknya, bos mafia terhebat

2022-05-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!