Dia Akan Baik-Baik Saja!!

Malam itu keheningan malam di kota Seoul pecah dengan suara sirene dan ambulance yang melaju secara beriringan memecah dalam heningnya suasana malam.

Di dalam ambulans itu, seorang gadis tengah terbaring bersimbah darah yang berasal dari luka tembak di perutnya.

Disampingnya. Seorang pemuda setia menemaninya. Pemuda itu terus menggenggam jari-jari lentik si gadis yang terasa dingin, mata yang biasanya terlihat dingin dan tajam kini memancarkan kecemasan dan ketakutan yang begitu besar.

Di belakang ambulans dan mobil polisi yang beriringan. Tampak sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi. Dan mobil itu di tumpangi oleh tiga pria yang merupakan ayah dan kakak dari si gadis yang pastinya adalah Hanna.

"Hanna, aku mohon bertahanlah," lirih Nathan sambil menundukkan kepalanya.

Nathan sungguh takut jika hal buruk sampai menimpa gadis ini. Hanna begitu berarti dalam hidupnya. Dia sungguh menyesali apa yang Hanna lakukan tadi, bagaimana bisa dia menghadang peluru yang seharusnya ditunjukkan padanya.

Dan Nathan tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Hanna. Dan ini ketiga kalinya Hanna mengorbankan diri untuk menyeramkan hidupnya.

Mata Nathan membelalak melihat Hanna yang tiba-tiba saja mengalami kejang. Perawat pun segera mengambil tindakan untuk mengatasi kejang yang Hanna alami. Dan berhasil, gadis itu sudah tidak kejang lagi.

-

-

Nathan terlihat mondar mandir tidak karuan di depan sebuah ruangan bertuliskan Emergency Room yang bagian luarnya dicat merah bata. Sudah hampir dua jam dia menunggu di sana tanpa kepastian.

Wajahnya jelas sekali memancarkan kecemasan. Tangannya berkeringat dan mulutnya terus berkomat kamit merapalkan beberapa baris doa yang dia ketahui.

Nathan benar-benar tidak bisa merasa tenang. Karena sampai detik ini masih belum ada kepastian akan kondisi Hanna di dalam sana.

Gadis itu kehilangan banyak darah, untungnya rumah sakit memiliki stok darah yang sama dengan golongan darah Hanna. Sehingga mereka tidak kebingungan mencari orang yang bersedia mendonorkan darahnya.

"Duduklah, Nak. Dan tenangkan dirimu, yakinlah pada Tuhan jika Hanna baik-baik saja." Kata Tuan Nero mencoba menenangkan Nathan yang tampak gundah.

Nathan menghentikan langkahnya lalu menatap sang ayah dengan tajam. "Papa memintaku untuk tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, Pa. Sementara di dalam sana Hanna sedang berjuang antara hidup dan mati!!" Jawab Nathan, suaranya naik satu oktaf. Dia benar-benar merasa kacau.

"Hanna adalah gadis yang kuat, dia tidak mungkin kalah apalagi menyerah pada takdir. Dan yang perlu kau lakukan sekarang adalah berdoa, bukannya mondar-mandir seperti orang gila!!" Celetuk Cris yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nathan.

"Brengsek!! Sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bicara!!" Geram Nathan. Cris pun langsung menusukkan kepala. Dia merutuki kebodohannya karena sudah asal bicara.

Sebenarnya bukan hanya Nathan yang merasa cemas dan takut. Tapi Tuan Nero, Alex dan Cris juga merasakan ketakutan yang sama. Mereka juga sangat takut jika hal buruk sampai menimpa Hanna.

"Bagaimana keadaannya?" cerca Nathan begitu melihat seorang pria berpakaian serba hijau, seragam operasi, yang baru saja keluar dari dalam ruangan berukuran 4m x 3m itu.

"Dia belum sadar, kami sudah berhasil mengangkat peluru di perutnya, untung saja peluru itu tidak mengenai bagian vitalnya! Dia akan baik-baik saja!," ucap pria itu sambil menepuk bahu Nathan dan berlalu pergi.

Nathan pun merasa sangat lega. Tuan Nero, Alex dan Cris kemudian berdiri dan menghampiri pemuda itu. Tuan Nero menepuk bahu Nathan sambil tersenyum tipis.

"Dia baik-baik saja, Tuhan sangat menyayanginya. Dia tidak akan membiarkan Hanna pergi dari hidup kita." Tuan Nero berkata dengan perasaan lega bercampur bahagia.

"Lalu bagaimana dengan pelakunya?! Apa dia sudah berhasil ditangkap?" Nathan menatap ayah dan kedua kakaknya penasaran.

Mereka mengangguk. "Saat ini orang itu dan otak dibalik penembakan Hanna sudah ada di kantor polisi." Alex menjawab mewakili ayah dan adiknya.

"Kantor polisi?" Nathan mengulang kalimat Alex. Alex mengangguk. "Kalau begitu segera bebaskan mereka," perintah Nathan dan membuat tiga pria berbeda usia itu terkejut.

"Apa kau bilang?! Bebaskan mereka setelah apa yang telah mereka lakukan pada, Hanna?!" Pekik Cris yang sepertinya sudah salah menafsirkan maksud Nathan.

Nathan berdecak lidah dan menatap sebal kakak keduanya itu. "Dasar bodoh!! Penjara tidak bisa membuat mereka jera. Karena aku sendiri yang akan memberikan hukuman pada mereka berdua!!" Jawab Nathan. Sepasang biner matanya berkilat tajam penuh emosi.

Nathan tidak akan melepaskan orang-orang itu. Mereka harus mendapatkan pembalasan yang setimpal atas apa yang telah dilakukan pada Hanna.

"Pa, aku titip Hanna. Saat dia siuman nanti segera beri tau aku. Ge, kau ikut aku!!" Tunjuk Nathan pada Cris.

"Tapi~!!"

"Tidak ada tapi-tapian, ayo!!" Nathan menyela ucapan Cris sebelum dia menyelesaikannya. Dengan tidak sabaran Nathan menarik lengan Cris. Nathan berencana menjemput pelakunya itu di kantor polisi.

Baik Tuan Nero maupun Alex tidak ada yang bisa menghentikan Nathan. Tidak mau lebih tepatnya, menurut mereka berdua, orang-orang itu memang layak mendapatkan hukuman.

-

-

Amelia dan Ibunya hanya bisa menunduk takut ketika polisi yang menginterogasi mereka menggebrak meja dengan keras dan berteriak melemparkan makiannya. Amelia di tangkap sebelum berhasil melarikan diri, para tamu undangan berhasil mencegahnya ketika dia berusaha melarikan diri.

"JAWAB!! SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN DIAM SEPERTI ORANG BISU!!"

Emosi pria itu benar-benar sudah sampai sampai batasnya. Amelia benar-benar telah menguji kesabarannya. Bagaimana tidak, kedua perempuan itu tidak mau bicara dan hanya diam seperti orang bisu.

"Memangnya apa yang harus kami jawab?! Karena kami memang tidak melakukan apapun!!" Tegas Amelia.

"Lalu bagaimana dengan senjata ini?! Di pistol ini ada sidik jari kalian berdua. Bagaimana, apa kalian masih ingin mengelak lagi?!"

"Tapi senjata itu memang bukan milikku!! Aku tidak sengaja mengambilnya di lantai dan yang menembak adalah orang lain. Dia kabur sebelum tertangkap dan menjatuhkan pistol ini dengan sengaja. Lalu aku memungutnya." Jelas Amelia.

Penyidik itu hanya bisa tertawa. Mereka berdua pikir ia itu bodoh sehingga bisa dibohongi begitu saja, itu adalah trik lama yang dipakai oleh para pelaku untuk membela diri dan membuktikan jika mereka memang tidak bersalah.

Penyidik itu menggeleng. "Aku sudah bosan dengan trik murahan kalian. Trik itu terlalu membosankan. Katakan saja yang sejujurnya maka aku tidak akan mempersulit kalian lagi!!"

BRAK...

Amelia menggebrak meja di depannya dengan keras dan menatap pria itu tajam. "SUDAH AKU BILANG, BUKAN AKU PELAKUNYA!!" Amelia tetap bersikeras dan mengatakan jika dia bukan pelakunya.

Dan penyidik itu semakin emosi dengan kedua perempuan ini. Harus dengan cara apa lagi membuat mereka berdua mengakui perbuatannya? Ditampar sudah, diancam juga sudah, tapi tetap saja tidak ada yang mau mengakuinya.

"Tidak perlu menginterogasi mereka lagi. Masalah ini sudah selesai, korban baik-baik. Aku akan menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan!!" Seru seseorang dari arah belakang. Amelia menoleh, matanya membelalak melihat siapa yang datang.

"KAK NATHAN?!"

-

-

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Areum

Areum

patahin saja tuh tangan Amelia / lempar kelaut 😏

2022-06-03

1

DhilaZiya Ulyl

DhilaZiya Ulyl

lanjut Nathan.... buat mereka mati ogah hidup segan.....kmd mati pelan2....

yuuh kok aq jd sadis😂😂😂😂... demi Hanna gpp ya thor... 🤭🤭🤭

2022-05-21

3

❥➻📴

❥➻📴

siap2 kau disiksa sm nathan ya mel 🙈

2022-05-21

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!