Menahan Amarah!!

"Kak Nathan!!"

Amelia begitu bahagia melihat kedatangan Nathan. Perempuan itu bangkit dari kursinya lalu berlari dan berhambur memeluk pemuda itu. Dia tau jika Nathan tidak mungkin setega itu pada dirinya.

Mati-matian Nathan menahan emosinya agar tidak meledak. Dia mencoba menahan dirinya agar tidak sampai lepas kendali, karena jika tidak maka semua rencananya akan berantakan dan kedua perempuan ini tidak akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Sedangkan Cris yang juga ada di sana hanya diam sambil menimbang-nimbang tentang apa yang Nathan rencanakan sebenarnya. Adiknya itu tidak mengatakan apapun padanya, sepanjang perjalanan menuju kantor polisi. Nathan hanya diam dan tidak bicara sama sekali.

"Nathan, Bibi tau kau tidak akan setega itu pada kami. Dan percayalah jika bukan Amelia pelakunya, lagipula mana mungkin Bibi yang merencanakan penembakan itu. Tolong Carikan keadilan untuk kami berdua." Mohon ibu Amelia.

"Aku mengerti, Bibi. Dan kami berdua datang untuk menjemput kalian pulang. Wanita baik-baik seperti kalian tentu saja tidak pantas berada di tempat ini, bukankah begitu?!"

Amelia mengangguk. "Itu benar. Kak Nathan, terimakasih karena sudah datang untuk Ibu dan Melia. Melia sangat senang sekali karena Kak Nathan masih peduli pada kami," ucap Amelia sambil memeluk Nathan dengan erat.

Jika ini bukan kantor polisi, pasti Nathan sudah mendorong dan mematahkan tangan Amelia karena sudah berani menyentuhnya. Nathan paling benci di sentuh seperti ini.

"Kasus ini anggap saja tidak pernah terjadi. Kalian sudah bisa menutupnya karena aku tidak ingin memperpanjangnya lagi!! Ge, ayo pergi."

Tangan Nathan terkepal kuat. Dia harus bisa menahan diri lebih lama lagi. Meskipun pada kenyataannya dia sangat tidak sabar untuk memberi pelajaran pada ibu dan anak ini. Tapi demi rencananya, dia harus bisa menahan emosinya.

Sedangkan Cris hanya bisa berdoa, memohon pada Tuhan supaya Nathan tidak melakukan sesuatu yang gila dan berbahaya. Karena sebagai seorang kakak, dia sangat mengenal betul bagaimana buruknya watak adiknya satu ini.

-

-

Amelia dan Ibunya terlihat kebingungan saat Nathan menghentikan mobil mewahnya di halaman sebuah bangunan tua yang tampak usang dan lama tak terpakai. Bangunan itu adalah gedung bekas pabrik yang sudah lama tak terpakai.

Nathan menoleh kebelakang, menatap sepasang ibu dan anak yang tampak ketakutan itu. Terlebih lagi ketika melihat sepasang netra itu yang menatapnya dengan tajam dan berbahaya.

"Sebenarnya kita ada dimana?" Tanya Cris, dia sedikit merinding melihat bagaimana seramnya bangunan tersebut.

Nathan menghiraukan pertanyaan sang kakak. Dia kembali menatap Amelia dan Ibunya. "Kenapa kalian diam saja dan tidak turun? Kita sudah sampai," ucap Nathan.

"Tapi, Kak Nathan. Sebenarnya tempat apa ini? Dan untuk apa kita datang kesini? Apa kau ingin melakukan uji nyali disini? Aku sangat takut, aku tidak mau turun. Apalagi aku pernah dengar dari temanku jika disini banyak sekali hantunya." Cerca Amelia.

"Benarkah?! Tapi aku rasa temanmu yang sok tau. Disini tidak ada apa-apa. Aku dan teman-temanku sering nongkrong di tempat ini, dan tidak ada hantunya sama sekali. Aku mau turun, bagaimana dengan kalian? Ikut atau tetap disini?" Tawar Nathan mencoba membujuk mereka. Sebisa mungkin dia membuat mereka tidak curiga padanya.

"Jangan tinggalkan kami, Nak. Kami akan ikut denganmu saja. Bibi juga sangat takut jika disini bersama Amelia saja," jawab Ibu Amelia.

Sebuah kejutan besar telah Nathan persiapkan di dalam sana. Ya, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Amelia menoleh pada Nathan dan menatapnya penuh tanya. Dia membutuhkan penjelasan sekarang.

"Sial!! Melia, kita dijebak!!"

"A..Apa?!" Kaget Amelia. "Kak Nathan, a..apa maksudnya semua ini?!" Amelia meminta penjelasan.

Nathan menyeringai tajam. "Kalian bodoh jika berpikir aku benar-benar melepaskan kalian berdua. Kalian pikir aku tidak tau apa yang telah kalian lakukan padaku dan Hanna?! Dan memang disinilah seharusnya kalian berada, karena hukuman penjara terlalu ringan untuk bajingan kecil seperti kalian!!" Jelas Nathan. Kemudian Nathan memberi kode pada anak buahnya.

Tubuh Amelia dan Ibunya di seret masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat berbagai jenis penyiksaan. Mulai dari penyiksaan ringan sampai yang berat. Tubuh keduanya di ikat pada sebuah tiang besi, tangan dan kakinya diikat dengan rantai.

Amelia terus berteriak begitu pula dengan Ibunya. Jika saja mereka tau akan seperti ini jadinya. Maka mereka akan lebih memilih untuk dipenjara saja.

"AAARRRKKHHH!!! SAKIT!! NATHAN NERO, KAU MEMANG IBLIS!!"

Cris merinding ngeri mendengar suara teriak kesakitan dari dalam sana. Ia tidak berani mengintip hanya untuk melihat hukuman seperti apa yang Nathan berikan pada mereka berdua.

-

-

Nathan dan Cris tiba di rumah sakit tempat Hanna di rawat. Keduanya menghampiri sang ayah dan kakak tertuanya yang saat ini berada di ruang inap adik mereka. Dengan lemas, Nathan mendekati ranjang inap tempat gadisnya terbaring lemah.

Dengan gemetar. Jari-jari besar itu meraih tangan Hanna yang terasa dingin lalu menggenggamnya erat. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Nathan, dia diam 1000 bahasa.

"Pa, bagaimana keadaannya? Bukankah dia baik-baik saja tapi kenapa sampai sekarang Hanna belum bangun juga?" Tanya Cris penasaran.

"Dokter menyatakan jika Hanna mengalami koma. Dokter sendiri tidak tau apa yang menyebabkan Hanna sampai koma, padahal keadaannya sudah baik-baik saja."

"Lalu kapan dia akan membuka kembali matanya?" Tanya Cris lagi.

Tuan Nero menggeleng lemah. "Papa juga tidak tau. Mungkin hari ini, bisa juga besok, lusa, Minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau bahkan akan tertutup selamanya." Jawab Tuan Nero lirih.

Gyuttt...

Tangan Nathan terkepal kuat. Diam bukan berarti dia bisa menerima kenyataan ini. Tidak, Nathan tidak bisa menerima kenyataan jika hidup Hanna berada diantara hidup dan mati. Bukan Hanna, dialah yang seharusnya terbaring di bangsal ini.

Jika saja Hanna tidak bodoh dan menghadang peluru itu. Pasti saat ini dia masih baik-baik saja. Tapi kenapa gadis ini begitu bodoh, bagaimana bisa dia mengabaikan keselamatannya sendiri hanya demi melindungi nyawanya.

"Ma..Maksud, Papa. Kemungkinan Hanna bisa meninggal?!" Kaget Cris tak percaya. Tuan Nero mengangguk lemah.

Nathan mengambil napas panjang dan menghelanya. "Jika memang tidak ada harapan untuk dia tetap hidup selama di rawat di rumah sakit ini. Sebaiknya kita saja bawa Hanna pulang!!" Nathan bangkit dari kursinya lalu menatap tiga pria didepannya.

Ketiganya kemudian saling bertukar pandang dan menatap Nathan penuh tanya. "Apa maksudmu, Nathan?! Membawanya pulang secara paksa sama saja dengan membunuh Hanna dengan cepat!!" Suara Alex naik satu oktaf.

"Tidak!!" Tuan Nero menyela cepat. "Yang Nathan katakan benar, karena hanya rumah kita tempat paling nyaman untuk kembali. Ada harapan besar Hanna akan membuka kembali matanya. Kalian berdua mengerti bukan apa maksud, Papa? Pergilah dan urus kepulangan Hanna."

"Baik, Pa!!"

-

-

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Areum

Areum

semoga saja Hanna selamat 😔

2022-06-03

0

aqshal

aqshal

papa nero ky nya tahu byk ttg penyembuhan hanna ya

2022-05-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!