Gadis bersurai coklat panjang yang tergerai itu nampak sedang bergumam tak jelas menatap pohon Sakura di depan balkon kamar miliknya .
Rumah yang Ia tinggali selama 23 tahun belakangan, mendadak menjadi ramai karena lusa sebuah pesta akan berlangsung dihalaman rumah keluarga Nero.
Hanna Nero, begitu lah gadis cantik itu dikenal, kepribadiannya yang ceria , senyumnya yang mampu memikat seluruh keluarga Nero dan membuat warna tersendiri untuk setiap penghuni mansion besar itu.
Nafasnya terbuang berat, ia berbalik menghadap kaca yang menampilkan pantulan dirinya di cermin., " Hemm... Cantik" gumamnya dalam hati ,
Narsis? oh bukan gadis itu sadar jika memang dirinya terlahir dengan paras cantik. Namun meskipun begitu Hanna bukan tipe orang yang sombong apalagi angkuh seperti kebanyakan gadis cantik pada umumnya dari keluarga kaya.
Iris Hazel nya tertarik untuk melihat kenop pintu kamarnya yang mulai bergerak , jantungnya berdegup , oh sial dia tak bisa menetralkan detak jantung yang mulai menggila , ingin rasanya ia menertawai dirinya sendiri.
Betapa bodohnya ia berharap yang berada dibalik pintu besar itu adalah seseorang yang sudah beberapa waktu lalu mengisi ruang hatinya. Tapi itu tidak mungkin, karena sang pujaan hati saat ini sedang berada di luar negeri karena urusan mendadak.
Seharusnya ayah mereka yang pergi. Tapi karena mabok udara yang berkepanjangan, itulah kenapa Tuan Nero menyuruh Nathan yang pergi menggantikannya. Sudah satu Minggu sejak kepergiannya, dan Hanna tidak tau kapan pemuda itu akan kembali. Padahal Hanna sudah sangat merindukannya.
Pintu bercat putih susu itu mulai terbuka, menampakan sesosok bersurai keperakan yang sedang berdiri tegap dengan kedua tangan yang menyelip ke dalam kedua saku celaanya.
Tatapan pemuda itu teduh, mengunci Hazel ke dalam Amber yang begitu menusuk sekaligus lembut, dan hanya Hanna yang dapat merasakan tatapan seperti itu dari seorang Nathan Nero
Nathan, ya.. memang hanya dialah yang selama ini membuat Hanna menjadi salah tingkah, pemuda itu yang berhasil membuat detak jantung Hanna tidak stabil ketika di dekatnya, hanya dia yang mampu membuat Hanna buka mulut tentang apa saja yang orang lain tidak akan ketahui, hanya Nathan yang mengetahui segala sesuatu tentang adiknya
"Kakak!!" Hanna berlari dan berhambur ke dalam pelukan pemuda yang sangat dirindukannya itu.
Dengan refleks Nathan pun membalas pelukan Hanna. Bukan hanya Hanna yang sangat merindukan pemuda ini, karena kenyataanya Nathan juga sangat merindukannya.
"Kau jahat, bukankah hanya pergi selama tiga hari saja. Tapi kenapa sampai satu Minggu? Apa karena di sana banyak wanita cantiknya, makanya kau tidak pulang tepat waktu?!"
Nathan mengetuk kening Hanna sedikit keras."Sembarangan!! Jangan asal menuduh, aku tidak pulang tepat waktu karena memiliki alasan." Jelas Nathan.
Kemudian Nathan melepaskan pelukannya, dia menyibak poni menyamping yang menutupi sebagian jidatnya dan menunjukkan sebuah perban yang melekat di pelipis kirinya.
"Omo!! Apa itu luka?! Bagaimana kau bisa sampai terluka seperti ini?! Jangan bilang jika kau pergi ke sana untuk menghadapi musuh yang berbahaya. Dan apakah lukanya parah? Apakah sudah di obati dengan benar?!" Nathan langsung diberondong pertanyaan oleh Hanna.
Pemuda itu mendengus. Dia tidak tau kenapa semakin hari Hanna semakin bawel saja. Dan rasanya Nathan sudah mirip seperti tawanan yang sedang diinterogasi karena sebuah kasus tertentu.
"Kenapa kau semakin bawel saja, hm?! Aku mengalami kecelakaan lalu lintas dan sempat di rawat selama dua hari. Tidak ada hubungannya dengan orang jahat, kau puas?!"
Hanna mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan, aku banyak tanya karena mencemaskan-mu. Kenapa kau tidak peka juga, dasar balok es berjalan!!" Gerutu Hanna. Dia tampak begitu menggemaskan. Membuat Nathan tidak tahan untuk tidak mencium bibirnya.
Dan ocehan Hanna baru berhenti ketika bibirnya berada dalam pagutan bibir Nathan. Wajah cemberut Luna berubah sumringah. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan dengan senang hati membalas ciuman sang kekasih.
Dari ciuman itu mereka ingin menyampaikan rasa rindu yang terpendam selama satu Minggu ini.
-
-
Malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun Hanna yang ke 24 tahun.
Sebenarnya dia tidak ingin ada pesta besar dengan ribuan tamu undangan, namun sang ayah begitu bersikeras dan sampai mengancam akan mogok makan jika dia tidak setuju ulang tahunya tidak di rayakan.
Malam ini selaku bintang utamanya. Hanna tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun berwarna merah darah6 yang terbuka di bagian bahu dan punggungnya. Gaun itu memiliki belahan tinggi pada kaki kirinya, yang memperlihatkan betapa indah dan jenjangnya kakinya itu.
Wajah cantiknya hanya dipolesi make up tipis dengan sentuhan lipstick berwarna pink kemerahan pada bibir mungil tipisnya. Rambut panjangnya tergerai dengan hiasan bertabur Tiara dan kristal.
Dengan di temani Nathan, gadis itu menuruni tangga dan kedatangannya langsung membuat para tamu undangan terpanah oleh kecantikannya. Bukan hanya sepuluh dua puluh orang saja yang hadir, tapi hampir 1000. Ayahnya gila, benar-benar gila. Begitulah yang Hanna pikirkan.
"Tuan Nero, tidak disangka kau memiliki Putri yang sangat cantik. Kenapa tidak kau tunjukkan sejak awal." Ucap salah seorang rekan bisnis tuan Nero yang juga menghadiri pesta tersebut.
"Hahaha...!! Putriku tidak pernah menyukai keramaian dan dia juga tidak suka di eksposh oleh media. Itulah kenapa keberadaannya jarang di sorot." Ujarnya.
Di saat Tuan Nero sedang sibuk memperkenalkan Hanna pada rekan-rekan bisnisnya. Tiba-tiba ada tamu yang tak di undang juga menghadiri pesta tersebut. Siapa lagi jika bukan Amelia.
Perempuan itu menyapukan pandangannya dan menatap sekelilingnya. Seringai tampak tercetak di bibir merahnya saat menemukan keberadaan orang yang menjadi incarannya, Nathan.
"Malam ini akan ku tuntaskan dendam diantara kita Nathan Nero. Kau berani menolak-ku, maka neraka lah tempat seharusnya kau berada saat ini."
Di tangan Amelia menggenggam sebuah senjata api yang memang telah dia persiapkan untuk menghabisi pemuda itu. Amelia menghampiri Nathan dengan seringai tajam. Tidak ada yang menyadari apa yang saat ini di genggam olehnya. Kecuali Hanna.
Hanna yang terkejut melihat kedatangan perempuan itu tak lantas tinggal diam. "Oh, tidak!!"
Dan mata Hanna membelalak saat melihat Amelia mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan senjata itu pada Nathan yang sedang berbincang dengan teman-temannya yang juga di undang ke pesta tersebut.
"Selamat tinggal Nathan Nero!!" Amelia tersenyum dan mulai menarik pelatuk senjata api di tangannya...
Melihat Nathan dalam bahaya tak lantas membuat Hanna diam begitu saja. Sekuat tenaga dia berlari menghampiri Nathan lalu berdiri tepat di depan pemuda itu. Peluru itu menerjang perut Hanna tanpa suara setelah dilepaskan, Nathan terkejut karena tiba-tiba Hanna jatuh lemas.
Dengan sigap Nathan menahan tubuh Hanna sebelum jatuh menghantam lantai. "Hanna!!" Seru Nathan yang kini bersimpuh di lantai sambil memeluk Hanna. Tangan kanan Nathan bergetar saat melihat cairan merah besar memenuhi tangannya. Matanya membelalak. "I...Ini, Darah!!!"
-
-
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
Terbuka bagian bahu dan punggungnya. bukannya Hana pernah mengalami kebakaran di bagian bahu hingga dia tidak mau memakai gaun yang terbuka bagian bahu.Itu yang saya baca di bab awal.
2022-10-21
0
Areum
Jangn kasih ampun tuh Amelia lempar saja kelautan agar d makan hiu😏😏😏
2022-06-03
0
Asri Widiastuti
Amelia hrs membayar perbuatannya terhadap Hana, yaitu penjara. biiar ibux jg menderita, ajarin anakx yg tdk benar
2022-05-20
1