Brakk...
"KYYAAAA!!!"
"Hanna!!"
Nathan, Tuan Nero, Alex dan Cris segera berlari menuju kamar Hanna setelah mendengar suara keras di susul teriakan gadis itu. Dan setibanya di sana, mereka melihat dua orang pria yang terkapar di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar tampak mengalir dari kepalanya yang terluka.
Nathan pun segera mengambil tindakan cepat. Dia memanggil beberapa penjaga dan meminta mereka untuk membereskan kedua penyusup itu, serta membersihkan lantai kamar Hanna yang penuh noda merah darah.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Nathan memastikan. Hanna menggeleng, meyakinkan pada ayah dan kakak-kakaknya jika dirinya baik-baik saja.
"Nathan, sebaiknya cepat periksa dan telusuri semua tempat dan temukan penyusup-penyusup itu. Papa yakin jika jumlah mereka lebih banyak dari yang kita duga." Perintah Tuan Nero pada putra bungsunya itu.
"Aku mengerti, Pa." Jawab Nathan dan pergi begitu saja.
Lalu Tuan Nero menoleh dan menatap kedua putranya itu. "Kenapa kalian masih di sini? Apa masih perlu perintah dari Papa?!" Keduanya menggeleng dengan kompak. Dengan segera mereka menyusul Nathan sebelum mendapatkan amukan dari sang ayah.
Hanna memeluk lengan ayahnya dan menatap pria itu dengan cemas. "Daddy, apakah ada yang berniat mencelakai keluarga kita? Kenapa dari dulu sampai sekarang musuh Daddy tidak habis-habis?" Heran Hanna.
Hans Nero menggeleng. "Daddy juga tidak tau, padahal Daddy sudah tidak pernah mencari masalah dengan orang. Mungkin saja mereka orang-orang yang merasa iri dan dengki pada keluarga kita. Tapi Hanna tidak perlu cemas. Daddy dan ketiga kakakmu akan selalu melindungi-mu."
"Aku mengerti, Pa."
Sebenarnya Hanna bukanlah gadis lemah yang harus selalu di jaga. Dia juga menguasai bela diri dan memegang sabuk hitam. Tapi sayangnya Hanna tidak bisa sembarangan menunjukkan keahliannya tersebut, dia bisa mendapatkan masalah dari ayah dan ketiga kakaknya.
Karena mereka tidak pernah mengijinkan dirinya mempelajari bela diri, karena menurut mereka itu terlalu beresiko baginya. Tapi menurut Hanna itu sangat penting untuk melindungi dirinya.
-
-
Dorr...
Dorr...
Dorr...
Tubuh orang-orang itu ambruk seketika setelah timah panas yang Nathan lepaskan menembus kepala dan dada mereka. Bukan tanpa alasan kenapa Nathan menghabisi orang-orang itu. Mereka adalah para mata-mata yang dikirim oleh musuhnya untuk memata-matai keluarganya.
Dibandingkan kedua kakaknya. Nathan lebih mewarisi sifat sang ayah. Dia tidak kenal ampun dan terkenal berdarah dingin. Nathan tidak akan segan-segan menghabisi siapa pun yang berani mencari masalah dengannya tanpa terkecuali.
Sejak berkecimpung di dunia gelap Mafia, sedikitnya hampir 400 nyawa telah melayang sia-sia ditangannya. Nathan mulai terjun ke dunia hitam yang membesarkan marga Nero sejak dia berusia 18 tahun.
"Itu adalah imbalan yang setimpal karena berani menyusup ke dalam kediaman Nero!! Urus mayat-mayat itu!!" Perintah Nathan pada beberapa orang yang berdiri dibelakangnya.
"Baik, Tuan Muda!!"
Nathan meninggalkan halaman rumahnya yang sudah berubah menjadi lautan darah diikuti Cris dan Alex yang tampak merinding melihat bagaimana cara adik mereka menghabisi orang-orang tersebut.
Melihat ketiga kakaknya telah kembali. Hanna pun segera menghampiri mereka, matanya berkaca-kaca melihat mereka bertiga terluka dan berdarah.
"Kakak, kalian bertiga terluka." Seru Hanna sambil menatap ketiganya bergantian.
Alex menggeleng. "Tidak perlu menangis, kami baik-baik saja. Hanya luka gores saja. Ayo masuk, ini sudah larut malam. Sebaiknya kau segera istirahat." Pinta sulung Nero itu pada sang adik.
"Tapi setelah aku mengobati kalian." Jawab Hanna. Alex tersenyum lalu mengangguk.
Alex dan Cris pergi ke ruang keluarga dan menunggu Hanna yang sedang mengambil kotak P3K, sedangkan Nathan sudah kembali ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing akibat hantaman benda tumpul, lawan datang tiba-tiba sehingga Nathan tidak sempat untuk menghindar.
-
-
Tokk... Tokk... Tokk...
"Kakak, boleh aku masuk?" Seru Hanna, gadis itu menyembulkan kepalanya di pintu. Nathan mengangguk.
Setelah mendapat ijin dari sang empunya kamar. Hanna kemudian masuk ke dalam kamar kakak bungsunya itu. Di tangannya menenteng sebuah kotak P3K. Hanna menghampiri Nathan yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Darah tampak pada luka di pelipis kanannya.
"Kenapa kau tadi pergi begitu saja, padahal aku masih mau mengobati lukamu." Omel Hanna sambil menyeka darah di wajah Nathan.
"Kepalaku sedikit pusing,"
"Huft, seharusnya kau meminta obat pereda sakit padaku. Begini-begini aku ini lulusan universitas kedokteran terbaik di London, ya meskipun sampai sekarang belum bekerja. Tapi setidaknya aku tau soal medis." Oceh Hanna.
Ya, Hanna adalah lulusan Universitas kedokteran terbaik di London. Sejak kecil dia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter hebat. Tapi sayangnya dia tidak berani bermimpi terlalu tinggi karena ekonomi keluarganya sangat tidak mendukung.
Hans Nero yang mengetahui cita-cita Hanna lantas tidak tinggal diam. Dia meminta Hanna sekolah dengan mengambil jurusan kedokteran, tentu saja Hanna sangat bahagia. Dan tahun ini dia lulus sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya.
Dan sebagai lulusan terbaik, tentu saja Hanna bisa masuk di rumah sakit mana pun yang dia inginkan.
"Kak, kenapa kau mau-maunya di jodohkan dengan perempuan seperti itu?! Melihat wujudnya saja aku sudah tau jika dia bukan perempuan baik-baik. Seharusnya kau protes pada Daddy jika tidak mau di jodohkan dengan manusia seperti itu!!"
"Kenapa jadi kau yang sewot?! Lagipula perjodohan itu hanya karena bisnis, keluarga kita juga bisa untung besar dari perjodohan tersebut!!"
Hanna mendesah berat. "Bisnis sih bisnis. Tapi tetap saja itu tidak bagus untuk masa depanmu. Lagipula pernikahan bukanlah sebuah permainan anak-anak. Menikah itu harus dilandasi cinta dan keterikatan hati. Jika menikah hanya karena bisnis, bagaimana rumah tangga kalian bisa bahagia?!" Ujar Luna sambil mengunci sepasang biner mata milik Nathan.
"Lalu menurutmu baiknya bagaimana?"
"Batalkan saja pertunangan itu. Aku yakin Daddy akan mengerti. Lagipula Daddy bukan anak kecil lagi, dan dia juga pernah muda. Jujur saja, Kak. Aku tidak rela jika kau harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai."
Nathan menatap Hanna dalam. "Kenapa?"
"Karena aku ingin kau bahagia." Jawab Hanna dengan mata berkaca-kaca.
Nathan tersenyum simpul. Lalu dia membawa Hanna ke dalam pelukannya. "Demi dirimu aku pasti akan bahagia, aku tidak akan menyia-nyiakan hidup yang ku miliki untuk hidup bersama dengan orang yang tidak aku cintai." Bisik Nathan sambil menutup matanya.
Hanna membalas pelukan Nathan dan memeluk kakaknya itu dengan erat.
Dan sementara itu...
Tanpa mereka berdua sadari. Ada sepasang mata yang menatap mereka dari depan pintu kamar Nathan yang sedikit terbuka. Orang itu tidak mengatakan apa-apa dan melenggang pergi begitu saja. Namun sebuah senyum misterius tampak jelas di bibirnya. Entah apa yang sebenarnya pria itu pikirkan dan rencanakan.
-
-
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
sepertinya Hans Nero.Daddy nya mereka.
2022-10-20
0
Kenzi Kenzi
itu sapa yak
..🙄🙄
2022-07-21
0
Areum
pasti penyusup yg tau kelemahan keluarga tuan Nero🤔
2022-06-03
0