13 tahun kemudian.
-
Seorang gadis cantik terlihat meliukkan tubuhnya di sebuah bandara internasional Incheon. Gadis itu menyeret sebuah koper besar di tangan kirinya. Sesekali pandangannya menyapu kesegala penjuru arah, seperti mencari keberadaan seseorang. Tapi orang yang dia cari tak juga menunjukkan batang hidungnya.
Gadis itu mengeluarkan sebuah benda tipis dari tas hitamnya dan berusaha menghubungi seseorang yang seharusnya datang menjemputnya.
"Kakak, kau dimana? Kenapa aku tidak melihat batang hidungmu?" Ucap gadis itu sambil terus menyapukan pandangannya.
"Dasar bodoh, sedari tadi aku berdiri disisi kirimu tapi kau malah tidak mengenaliku!!"
"Ehh?! Benarkah?" Ucapnya.
Kemudian gadis itu menoleh. Seorang pemuda dalam balutan pakaian serba hitam terlihat melotot padanya. Gadis itu terkekeh, kemudian dia memutuskan sambungan telfonnya dan berlari menghampiri pemuda tersebut.
Tubuh si pemuda terhuyung kebelakang karena pelukan gadis itu yang begitu tiba-tiba. Dan pemuda itu juga membalas pelukan gadis tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah adik angkatnya.
"Aku merindukan, Kakak." Bisik gadis itu yang pastinya adalah Hanna.
Pemuda itu menutup matanya. "Aku juga merindukanmu gadis manja." Kemudian Nathan melonggarkan pelukannya. Dia menatap wajah Hanna dari dengan seksama. Tidak ada yang berubah pada gadis ini, Hanna tetap secantik terakhir kali mereka bertemu.
"Papa dan yang lain sudah menunggu kepulanganmu. Ayo, jangan membuat mereka menunggu." Hanna mengangguk dengan antusias.
Ini adalah kepulangan pertama Hanna sejak dia melanjutkan studinya di London beberapa tahun yang lalu. Usia Hanna saat ini sudah 23 tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, ceria dan mandiri. Berbeda dengan ketika dia masih anak-anak dulu yang seorang pendiam.
Sedangkan sikap Nathan tak berubah sedikit pun. Dia tetap saja dingin dan irit bicara, dan sekalinya bicara kata-kata tajam dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Dan hanya pada keluarganya dia bisa bersikap berbeda, terutama Hanna.
Saat masih anak-anak. Sikap Nathan pada Hanna sangat dingin dan kasar. Tapi sikapnya berubah seiring berjalannya waktu, apalagi Hanna pernah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan dirinya ketika Nathan terjebak di tengah kobaran api.
Dan karena kenekatannya itu, Hanna mengalami luka bakar pada paha punggung sebelah kirinya. Itulah kenapa dia tidak pernah memakai pakaian yang terbuka di bagian punggungnya.
-
"Daddy, I'm home!!!"
Suara cempreng bak kura-kura itu menggema di seluruh penjuru ruangan bernuansa gold tersebut. Hanna meninggalkan Nathan begitu saja dan berlari ke dalam untuk bertemu dengan sang ayah. Hanna sudah sangat-sangat merindukannya.
Dan suara Hanna tentu saja langsung sampai di telinga ayah serta kedua kakaknya. Mereka menuruni tangga kamar masing-masing dan menghampiri Hanna yang sedang merentangkan tangannya.
"Putri Daddy yang cantik, huaaa... Daddy sangat merindukanmu,"
"Aku juga sangat merindukan, Daddy. Tapi kenapa Daddy terlihat semakin tua saja, apa selama ini mereka bertiga tidak merawat Daddy dengan baik?"
Hans Nero mengangguk. "Benar sekali. Nathan terlalu sibuk dengan dunianya, Alex sibuk dengan tumpukan dokumen yang penuh uang dikantornya. Dan si mesum Cris, dia malah sibuk dengan kucing-kucing peliharaannya. Daddy sudah semakin tua, tapi anak-anak Daddy malah tidak ada yang peduli. Huhuhu," Hans Nero mencoba menarik simpatik dari Hanna.
Lalu Hanna menoleh dan menatap ketiga kakaknya itu satu persatu. "Astaga, ada apa dengan kalian bertiga. Kenapa kalian bisa Setega itu pada Daddy, dia semakin tua dan kalian malah tidak memperhatikannya." Alhasil ketiganya mendapatkan Omelan telak dari Hanna.
Alex dan Cris mencoba menjelaskan pada Hanna, sedangkan Nathan memilih untuk pergi karena malas dengan drama ayahnya. Dia mengenal sang ayah dengan sangat baik.
Mungkin dimata orang lain dia adalah orang yang paling ditakuti, tapi ketika di rumah bersama keluarganya, Hans Nero akan berubah menjadi sosok yang lembut dan penyayang. Dan sifatnya itu menurun pada putra bungsunya, yakni Nathan.
-
Tokk... Tokk.. Tokk...
Ketukan pada pintu menyita perhatian Nathan yang sedang mengganti perban pada dadanya yang mengalami cidera. Lukanya kembali terbuka karena pelukan Hanna tadi, gadis itu memeluknya terlalu erat.
Nathan memakai kembali kemejanya sambil berjalan ke arah pintu. Pintu terbuka lebar dan sosok Hanna berdiri di sana sambil menenteng sebuah paper bag, yang kemudian dia berikan pada Nathan.
"Kakak, ini oleh-oleh untukmu. Spesial, jadi Bukalah." Pinta Hanna antusias.
Nathan menetap gadis Itu sekilas lalu kembali pada paper bag di tangannya. Sebuah kotak hitam yang berisi jam tangan mewah Nathan keluarkan dari paper bag tersebut.
"Stt, jangan bilang pada kak Cris dan kak Alex kalau aku memberikan oleh-oleh jam tangan ini untukmu. Karena hadiah untuk mereka sedikit berbeda."
Nathan memicingkan matanya. "Kenapa?"
"Karena kau special. Kau adalah Kakakku yang paling baik, meskipun terkadang sikapmu menyebalkan, tapi percayalah jika kau yang paling aku sayangi diantara kalian bertiga setelah Daddy." Ujar Hanna panjang lebar.
Nathan menarik tengkuk Hanna dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Hanna yang tidak tau apa maksud Nathan hanya tersenyum simpul. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan.
"Kakak, apa kau tau. Kau adalah orang yang paling aku rindukan setelah Daddy selama aku di London. Aku ingin sekali segera menyelesaikan studi ku agar aku bisa segera pulang." Ujar Hanna sambil mengeratkan pelukannya.
"Gadis bodoh. Jika kau merindukanku, seharusnya kau menghubungiku dan memintaku untuk datang mengunjungimu. Tapi kau tidak pernah melakukannya," bisik Nathan sambil mengusap punggung Hanna naik-turun.
Kemudian Hanna mengangkat wajahnya dan menatap Nathan yang juga menatap padanya. Gadis itu tersenyum lebar. "Aku tidak ingin membuat calon kakak ipar salah paham dan cemburu padaku!!"
"Dasar aneh. Seharusnya kau paling tau jika aku tidak pernah memikirkan hal-hal semacam itu. Percintaan terlalu merepotkan,"
Hanna mengangguk. "Betul juga. Kakak, bisakah kau melepaskanku sekarang? Aku tidak bisa bernapas." Rengek Hanna memohon.
Nathan mendengus geli. "Dasar kau ini!!" Dengan gemas dia menjitak kepala Hanna."Pergilah istirahat, kau pasti lelah." Pinta Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Hanna.
"Baiklah. Kakak, aku keluar dulu." Hanna mencium pipi Nathan lalu pergi begitu saja.
Nathan hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah adik angkatnya tersebut. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
Nathan melanjutkan aktifitasnya yang tertunda. Pemuda itu melepas kembali kemejanya, raut kesakitan terlihat jelas pada mimik mukanya ketika dia mengikat simpul pada perbannya.
Lukanya kembali terbuka karena pelukan Hanna tadi. Tadi Nathan tidak bisa mengeluh apalagi mengatakan yang sebenarnya pada gadis itu jika dia memiliki luka yang masih basah ditubuhnya.
-
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
NAZERA ZIAN
ceritanya bagus..keren...
2022-10-20
0
Areum
Nathan knp terluka 🤔
2022-06-03
0
Deviastryveads_
lanjut Thor, semangat berkarya Thor💪🏻
2022-05-10
4