Ciuman Pertama Hanna

"Hanna, batalkan rencana perjodohan itu!!!"

Hanna menghentikan gerakan tangannya dan menatap Nathan yang juga menatap padanya. Nathan menatapnya begitu dalam dan sulit di artikan. "Kenapa?" Tanya Hanna penuh tanpa mengakhiri kontak matanya.

"Karena aku tidak ingin kau mengorbankan kebahagiaanmu demi orang lain, meskipun orang itu adalah papa!!"

Hanna terdiam. Pandangannya tak lagi terkunci ke dalam sepasang manik mata yang selalu terlihat dingin itu. Kemudian Hanna mengangkat kembali wajahnya dan menatap Nathan seperti tadi.

"Aku juga ingin menolaknya, tapi aku tidak memiliki keberanian. Aku takut akan menyinggung perasaan papa, selama ini dia menyayangiku dengan tulus meskipun aku bukan putri kandungnya sendiri. Aku hanya tidak ingin membuat dia kecewa." Tutur Hanna.

Kali ini giliran Nathan yang terdiam. Dia terus menatap sepasang Hazel cerah itu dengan tatapan yang begitu dalam dan menyiratkan sebuah makna yang tak bisa Hanna jabarkan artinya. Membuat getaran aneh dalam hati Hanna kembali muncul kala menatap mata itu.

Hanna segera mengakhiri kontak matanya. Lalu dia bangkit dari duduknya. "Sebaiknya Kakak istirahat saja, ini sudah malam. Aku pergi dulu." Ucap Hanna dan pergi begitu saja.

Brakk...

Isi kotak P3K di tangan Hanna jatuh dan berhamburan di lantai. Kedua matanya membelalak sempurna.

Sebuah benda lunak dan basah namun terasa asing menyapu permukaan bibirnya yang di susul gerakan-gerakan lembut yang semakin lama berubah menjadi gerakan yang menuntut.

Detak jantung Hanna nyaris saja berhenti, darah dalam nadinya seakan tak mengalir lagi. Otaknya berhenti berpikir, macet. Hingga dia tidak bisa mencerna apa yang dilakukan oleh Nathan saat ini.

Nathan, kakaknya itu.. menciumnya, tepat di bibirnya.

Hanna yang merasa terancam dengan apa yang Nathan lakukan segera mendorong dadanya sekuat mungkin hingga ciuman itu terlepas. Buru-buru Hanna meninggalkan kamar Nathan sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.

Sedangkan Nathan. Hanya menatap kepergian Hanna dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia menyeringai sambil menyeka liur di bibirnya.

"Manis!!!"

-

-

Brakk...

Hanna menutup pintu kamarnya dengan keras. Gadis itu bersandar pada pintu yang tertutup rapat itu sambil menekan dadanya yang berdebar tak karuan. Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, dan Hanna tidak menduga bila Nathan akan menciumnya.

Itu adalah ciuman pertamanya. Dan Hanna tidak tau bagaimana dia bisa menghadapi Nathan besok pagi.

Tokk... Tokk.. Tokk..

Hanna terlonjak kaget karena ketukan pada pintu kamarnya. Gadis itu tidak tau siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini, dia hanya berharap semoga orang itu bukan Nathan.

Pintu terbuka lebar dan terlihat Tuan Nero yang tersenyum pada Hanna. "Daddy, aku pikir siapa." Gerutu Hanna sambil mempoutkan bibirnya.

"Memangnya kau berharap siapa yang datang, hm? Dan kenapa jam segini masih belum tidur. Daddy juga tidak sengaja melihatmu keluar dari kamar kakakmu, apa kalian mengobrol kan sesuatu?" Tanya Hans Nero penasaran.

Hanna menggeleng. "Kakak pulang dalam keadaan babak belur, dan aku hanya membantu dia mengobati lukanya." Jelas Hanna.

"Nathan terluka?" Hanna mengangguk. "Pasti bocah itu terlibat perkelahian lagi dengan geng lain. Dasar brandalan, selalu saja menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya."

Hanna teringat apa yang Nathan katakan tadi. Dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya, tapi Hanna tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Dia terlalu takut, takut jika hal itu sampai menyinggung perasaan sang ayah.

"Kenapa diam, Nak? Apa ada yang ingin kau katakan pada Daddy?" Tanya Tuan Nero melihat kediaman putrinya.

"Sebenarnya ini mengenai perjodohan itu. Daddy, bisakah aku menolaknya dan membatalkan rencana perjodohan itu?! Aku masih terlalu muda dan belum memikirkan tentang rumah tangga. Aku masih ingin mengejar cita-citaku untuk menjadi seorang dokter yang hebat."

"Aku tau dia baik. Dan apa yang Daddy lakukan demi kebaikanku. Tapi...."

"Inikah kata-kata yang Daddy tunggu!!" Hans Nero menyela ucapan Hanna.

"Maksud Daddy apa?!"

"Hanna, Daddy tau kau tidak mungkin menolak perjodohan itu karena tidak ingin membuat Daddy kecewa. Tapi kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu sendiri dan orang lain yang mungkin secara diam-diam mencintaimu."

"Jika saja kau mengatakan tidak, Daddy juga tidak mungkin memaksamu. Dan masih belum terlambat untuk memutuskan perjodohan itu. Jadi pikirkan baik-baik apa yang Daddy katakan ini. Ini sudah larut malam, sebaiknya kau segera tidur. Good Night, Dear." Tuan Nero mengecup kening Hanna dan pergi begitu saja.

Selepas kepergian Tuan Nero. Hanya keheningan yang ada di ruangan itu. Hanna terdiam memikirkan kembali kata-kata ayahnya tadi. Sepertinya sang ayah bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya.

Sebenarnya Hanna tidak ingin secepatnya menikah, dia masih ingin menikmati masa mudanya lebih lama. Dia tidak ingin terbelenggu dalam sebuah ikatan rumit yang disebut pernikahan.

Mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah dengan membatalkan perjodohan itu. Jikapun harus menikah, tentu dengan pria yang dicintainya. Dan untuk sekarang Hanna tidak ingin memikirkan apapun, dia hanya ingin tidur lebih awal agar besok tidak bangun kesiangan.

-

-

Silau sinar matahari yang membumbung tinggi memaksa Nathan untuk segera bangun dari tidur panjangnya. Dengan mata masih setengah terpejam, pemuda itu bangkit dari berbaringnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.

Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Nathan pun melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Langkah kakinya terhenti saat iris matanya tanpa sengaja menangkap siluet seorang gadis yang baru keluar dari kamarnya.

Pandangan mereka saling beradu selama beberapa detik. Dan Nathan sendirilah yang mengakhiri kontak mata diantara mereka. Kemudian pemuda itu menghampiri si gadis yang pastinya adalah Hanna.

"Hanna, aku ingin minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu semalam. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk bersikap lancang apalagi~"

Hanna menyela ucapan Nathan dengan meletakkan jarinya di bibir kiss able pemuda itu. Hanna menggeleng. "Bisa tidak, jika kita tidak usah membahasnya lagi?! Anggap saja yang terjadi semalam adalah kecelakaan," ucap Hanna sambil menundukkan wajahnya yang memerah.

Nathan tersenyum. Jari-jarinya lalu menepuk kepala Hanna. "Baiklah," Nathan menganggu.

"Oya, Kak. Semalam Papa menemuiku dan menasehati ku panjang lebar. Papa juga bilang jika aku ingin menolak, masih belum terlambat."

"Lalu apa keputusanmu?!" Tanya Nathan sambil mengunci sepasang biner Hazel milik Hanna.

"Aku akan memutuskan perjodohan itu. Aku tidak ingin membuat orang yang mencintaiku secara diam-diam kecewa dan sakit hati,"

Nathan memicingkan matanya. "Orang yang mencintaimu diam-diam?" Hanna mengangguk.

"Papa mengatakan mungkin saja ada seseorang yang mencintaiku secara diam-diam. Mungkin saja Papa mengetahui siapa orang itu, tapi akunya saja yang kurang peka."

"Siapa pun orang itu, yang jelas dia hanya ingin kau bahagia. Ayo kita turun, Papa dan yang lain sudah menunggu kita untuk sarapan." Hanna tersenyum dan mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan menuju meja makan.

-

-

Bersambung.

Terpopuler

Comments

illumy

illumy

Dug-dug ser cuy

2022-09-15

0

Areum

Areum

semoga aja PP Nero setuju klu Nathan yg pantas untuk Hanna 🥰

2022-06-03

0

aqshal

aqshal

yuhhhhhuuuu.....papa nero ternyata tau jg🥰

2022-05-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!