"Papa ingin, agar Hanna menikah dengan Nathan!!" Ucapnya dan sontak membuat mata Hanna dan Nathan sama-sama membelalak.
"APA?! MENIKAH DENGAN KAK NATHAN?!" Sahut seseorang dari arah pintu.
Semua yang ada di dalam ruangan itu lantas menoleh. Terlihat sosok Amelia yang berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Perempuan itu menggeleng.
"Tidak!! Aku tidak akan membiarkannya. Kak Nathan adalah calon suamiku, dan hanya denganku dia boleh menikah!!" Tegasnya.
"Bukan kau yang berhak memutuskan, tapi Nathan sendiri!!" Sahut Alex menimpali.
"Betul kata Alex, semua keputusan ada di tangan Nathan. Menyetujui permintaan Papa atau menolaknya. Dan kau harus mengambil keputusan sekarang adik!!" Pinta Cris.
Nathan menatap Amelia yang juga menatapnya penuh harap. Lalu pandangan Nathan bergulir pada Hanna yang menatapnya dengan sendu, kemudian terakhir pada sang ayah. Tuan Nero mengangguk, mengisyaratkan supaya Nathan mau mengabulkan permintaannya.
Nathan mengambil napas panjang dan menghelanya. "Aku setuju, Pa. Aku akan menikahi Hanna!!" Jawab Nathan pada keputusannya. Mata Hanna dan Amelia sama-sama membelalak mendengar keputusan Nathan.
Amelia menggeleng. "Tidak bisa!! Aku tidak mengijinkannya. Nathan, kau adalah tunangan-ku. Dan hanya aku yang berhak untuk menjadi istrimu!! Kau tidak boleh menikahi perempuan ini, tidak boleh!!" Teriak Amelia penuh emosi.
Hanna menyeringai. "Terima saja kenyataan jika Kak Nathan lebih memilihku dibandingkan dirimu. Dia itu tidak buta, sehingga bisa membedakan mata mutiara dan mana batu krikil. Dia memilihku, jadi terima saja kenyataan jika kalian memang tidak berjodoh!!" Ujar Hanna dengan seringai yang sama.
Amelia yang tidak terima langsung menghampiri Hanna dan berniat untuk menamparnya. Tapi dihentikan oleh Nathan. Pemuda itu mencengkram pergelangan tangan Amelia dengan erat dan membuat perempuan itu meringis kesakitan.
"Kak Nathan, sakit!!" Jerit Amelia.
"Jangan coba-coba menyentuh Hanna jika kau masih ingin tangan dan tubuhmu menyatu!!" Peringat Nathan dengan tatapan dingin penuh intimidasi.
"Kak Nathan, kau!! Apa kau tidak menyukai Melia lagi?! Bukankah Kak Nathan setuju untuk melanjutkan pertunangan itu lagi, tapi kenapa sekarang Kak Nathan malah berubah pikiran? Apa karena gadis ini?! Bukankah kau dan dia kakak beradik, jadi bagaimana bisa kalian menikah?!"
"Hanna bukan Putri kandungku. Jadi tidak ada undang-undangnya yang melarang mereka untuk menikah!!" Sahut Tuan Nero.
Nathan, Alex dan Hanna terkejut melihat ayah mereka yang tiba-tiba bisa duduk dengan tegap. Padahal beberapa saat lalu dia terlihat lemah dan tak berdaya. "Pa, kau!!" Seru Hanna tak melanjutkan ucapannya.
"Hahaha...!! Papa sudah lebih baik, Sayang. Papa sehat lagi setelah kalian setuju untuk menikah. Dan Papa akan mengelar pesta yang sangat meriah untuk pernikahan kalian berdua." Ujar Tuan Nero berapi-api.
Seharusnya Nathan sudah menyadarinya dari awal jika ternyata ayahnya itu sedang berakting. Dia tidak sakit, tapi pura-pura sakit lebih tepatnya. Tapi Ken juga tidak bisa menyalah ayahnya apalagi melayangkan protesnya. Karena ayahnya telah berjasa besar bagi dirinya dan Hanna.
"Kau!! Nenek lampir, sebaiknya pergi saja. Karena kedatangan-mu di sini tidak diharapkan sama sekali!!" Seru Cris lalu mendorong Amelia keluar dari kamar ayahnya.
Tuan Nero menghampiri Hanna sambil membawa sebuah kotak bludru yang di dalamnya berisi cincin milik mendiang istrinya yang saat ini sudah bahagia di Surga.
"Ini adalah cincin milik mendiang ibu Nathan. Karena kau adalah putrinya juga calon menantu pertama dalam keluarga ini. Maka Papa akan memberikan cincin ini padamu,"
"Papa," seru Hanna dengan mata berkaca-kaca.
"Kau adalah putri Papa, Hanna. Dan selamanya kau akan menjadi putri Papa, jika kau menikah dengan pria dari keluarga lain. Maka Papa akan kehilanganmu, mungkin keputusan yang Papa ambil ini memang salah, tapi memang hanya Nathan yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidupmu. Apalagi Papa melihat ada cinta dimata kalian berdua, hanya saja kalian belum saling peka dan menyadari perasaan masing-masing." Tutur Tuan Nero.
Hanna tak kuasa menahan air matanya. Dia terharu dengan ketulusan hati ayah angkatnya ini. Meskipun dia bukan putri kandungnya, tapi sang ayah begitu menyayanginya. Bahkan dia memikirkan tentang kebahagiaan dalam hidupnya.
"Papa," Hanna menghambur ke pelukan sang ayah dan menangis. Tuan Nero tersenyum, dia mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Hanna. "Terimakasih karena sudah menjadi Ayah yang baik untukku, aku menyayangi Papa."
"Papa juga menyayangimu, Nak."
Semua ikut terharu menyaksikannya. Cris dan Alex bahkan saling berpelukan dan menangis sesegukan. Sedangkan Nathan hanya mengurai senyum tipis. Kemudian Nathan menghampiri Hanna dan ayahnya.
"Pa, berikan cincin itu padaku." Pinta Nathan.
Tuan Nero mengangguk lalu memberikan cincin itu pada Nathan. Nathan meraih tangan Hanna kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya. "Aku berjanji untuk selalu menjaga dan melindungi mu," ucap Nathan. Hanna tersenyum, dia mengangguk samar.
Nathan menangkup kedua pipi Hanna lalu mencium bibirnya. Dan apa yang Nathan lakukan membuat mata Hanna membelalak. Dia terkejut, bagaimana tidak karena Nathan menciumnya di depan ayah dan kedua kakaknya.
Pemuda itu tak hanya sekedar menempel kan bibirnya saja, tapi juga mel*mat dan memagutnya. Alex dan Cris langsung menutup matanya, sedangkan Tuan Nero bersorak kegirangan karena semua berjalan seperti yang dia harapkan.
-
-
"Aaarrrkkhhh... Sial, sial, sial!!!"
Amelia menghancurkan benda-benda yang ada di kamarnya. Dia marah dan tidak terima dengan apa yang Nathan dan kelurganya lakukan padanya. Amelia merasa jika mereka sudah sangat keterlaluan padanya.
"Amelia, apa-apaan kau ini?! Kenapa kau membuat kamarmu seperti kapal pecah?!" Bentak Nyonya Cesar melihat keadaan kamar Amelia yang begitu berantakan.
"Ma, aku tidak bisa terima. Aku tidak terima mereka memperlakukanku seperti sampah!! Apa kekuranganku dan kelebihan perempuan itu?! Kenapa Nathan dan keluarganya lebih memilihnya dibandingkan diriku?!" Teriak Amelia dengan emosi.
Nyonya Cesar memicingkan matanya. "Siapa maksudmu?!" Tanyanya penasaran.
"Putri angkat Paman Nero. Dia membatalkan perjodohan denganku lalu akan menikahi adik angkatnya itu. Ma, lakukan sesuatu, aku benar-benar ingin membalas dendam pada mereka semua terutama gadis itu!!"
Nyonya Cesar mencengkram bahu putrinya, dia menggeleng. "Bukan gadis itu yang harusnya mati, tapi Nathan. Jika kau tidak bisa memilikinya, orang lain juga tidak boleh. Kau... Harus menghabisinya."
Mendengar ucapan Ibunya membuat Amelia menyeringai lebar. Benar apa yang ibunya katakan, bukan Hanna yang seharusnya dia habisi. Tapi Nathan, dia berani menolaknya dan membuat malu keluarganya. Maka orang seperti itu tidak layak untuk di biarkan tetap hidup.
Nathan memang harus mati, dia akan mati dengan mengenaskan ditangannya. Amelia tidak akan pernah membiarkan orang lain bahagia di atas penderitaannya. Tidak akan pernah!!
-
-
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Nadiya Asneyda 🇲🇾
Dasar ibu tidak berguna... bukannya menasihati anak supaya menerima kenyataan dan bikin anak jadi lebih baik...malah nyuruh anaknya habisin nyawa org...bodoh 🙄
2022-12-01
0
Areum
semoga aja Amelia yg mati 😏😏
2022-06-03
0
Kiky Dwi
visualx dong Thor
2022-05-23
1