Seorang gadis dengan keranjang anyaman yang berisi bahan makanan tampak tengah berjalan menyusuri jalanan menuju kediaman Yu.
Hari yang mulai memasuki sore itu masih saja terlihat ramai oleh orang yang lalu lalang dengan kegiatan mereka masing-masing.
Sepanjang jalan gadis yang tak lain adalah Rayan itu terlihat amat muram dengan wajahnya yang di tekuk. Bibirnya yang mungil semungil tubuhnya tampak berkomat-kamit tak jelas, sepertinya ia tengah menggerutu kesal.
Dengan dengusan jengkel, ia berkata. "Inilah yang namanya hidup segan mati tak mau." sebelah kakinya di hentakkan ke tanah tanpa menghentikan langkahnya.
"Aku tidak pernah bisa membayangkan kalau aku ada di posisinya selama ini aku akan bertahan seperti dia. Sekalipun aku tak punya keluarga alias hidup sendiri dengan segala aral melintang yang mesti aku hadapi tapi aku juga tidak akan mau bila di perlakukan seperti dia. Benar-benar menyedihkan." lanjutnya mengomel panjang.
"Sudah terlahir sebagai anak haram, menderita pula. Lihat aku... Aku lahir tanpa tahu siapa orang tuaku, tapi apa aku mau menderita begitu. Jelas tidak! Enak saja!" matanya menyipit kesal. "Ingin sekali aku racuni mereka." langkahnya terhenti menyadari sesuatu. "E-eh... Tidak...! Aku akan benar-benar meracuni mereka. Ya, akan aku lakukan." mengangguk setelah dirasa idenya cukup brilian. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.
Ia mulai berpikir keras. "Kira-kira racun apa yang akan membuat mereka dapat merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Yu Rayan, yaa..." jarinya mengetuk-ngetuk bibir keranjang yang sejak tadi masih dalam gendongannya.
Gadis itu adalah Yu Rayan a.k.a Rayan Monica.
Sejak ia selesai dari toko bahan makanan milik Ji Hwan Ding yang tadi di jaga oleh anaknya -Ji Hwa Xin- ia memang sudah kesal bukan kepalang, sebenarnya alasannya biasa yaitu uang pemberian kepala pelayan saat di rumah tadi untuk berbelanja adalah uang pas hingga tak ada sisa barang setitik pun untuk bisa ia pergunakan. Benar-benar membuat kesal orang saja, pikir Rayan bila mengingat saat dia menghitung total belanjaannya yang cukup membuatnya jengkel tak percaya.
Pas!!! Bayangkan saja. Hal itu menjadikan ia sangat malas untuk kembali sekarang. Ia bahkan sampai bertanya-tanya, semiskin apa keluarga Yu yang katanya masih berkerabat dekat dengan keluarga perdana menteri kerajaan Huoli ini?! Apa sebegitu melaratnya hingga berujung pelit?!
Rayan tak bisa menahan diri untuk tidak mendengus kesal kesekian kalinya.
Saat sedang asyik-asyiknya mengomel dan mengumpati keluarga pemilik tubuh, tiba-tiba saja langkahnya di buat berhenti. Sesuatu telah memasuki indera penglihatannya dengan sangat jelas. Sedikit ia menyipitkan matanya guna semakin memperjelas apa yang tengah ia lihat. Sampai pada akhirnya seringai di bibirnya terukir tipis.
"Hehehe... Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Memang kalau jodoh takkan kemana..." terus memperhatikan dua orang berlainan jenis yang ia lihat baru saja masuk ke dalam gang sepi selepas dari lingkungan pasar yang ramai. Salah satunya sangat di kenalnya, dikenal pemilik tubuh maksudnya.
"Lihatlah, apa yang mereka lakukan di tempat sepi begitu. Ckckck... Ini namanya nonton drama romantis secara langsung. Hihi!" katanya tanpa menghilangkan senyumannya yang terlihat manis namun memiliki maksud di dalamnya. Karena tak ingin melewatkan sesuatu yang seru, Rayan segera mempercepat langkahnya menuju depan gang dengan bersembunyi di balik dinding masuk gang sepi itu seraya mencoba mencuri dengar.
"Mari kita lihat apa yang bisa si imut Rayan Velicia lakukan setelah ini." tuturnya yang ternyata telah mempersiapkan berbagai rencana untuk menjaili sepasang insan di dalam gang itu.
Tak perlu menunggu lama, sebuah percakapan pun terjadi dengan Rayan yang mendengarkannya baik-baik.
"Di sini sudah aman." kata lelaki itu setelah memperhatikan sekitarnya yang dirasa tak ada orang lain selain dia dan gadisnya.
Ya, mereka adalah sepasang kekasih. Tapi, sepertinya Rayan tak semudah itu percaya. Kkkk!
"Aman?! Cih! Ternyata kepekaannya masih kurang. Dia tidak sadar aku ada di sini." gumam Rayan dengan suara yang hanya bisa di dengar sendiri seraya tersenyum mengejek.
"Sayang, aku merindukan mu." ungkap lelaki itu sembari tangannya mengelus lengan atas gadisnya yang menunduk malu sambil tersenyum.
"Aku juga." balasnya dengan suara kecil nan manja membuat lelaki yang adalah kekasihnya menjadi berani mendekat padanya hingga membuat gadisnya tersudut ke dinding gang.
Rayan yang mendengar sedikit gesekan kaki dan benturan ringan dari dinding yang sama dengan yang dia jadikan tempat bersembunyi membuat rasa penasarannya meningkat tinggi. Ada begitu banyak spekulasi melintas di otaknya dan salah satunya tentu yang sering terjadi di dunia modern nya dulu.
"Astaga, apa yang akan mereka lakukan." gumam Rayan menggebu. Matanya sampai terbelalak saking penasarannya. "Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus dapat melihatnya. Tidak rugi juga, menurut ku prianya lumayan walaupun masih tampanan Ji Hwa Xin." lanjutnya lagi yang masih sempat membandingkan ketampanan pria itu dengan kenalannya tadi sembari meletakkan keranjang belanjaannya di sampingnya agar ia lebih leluasa, kemudian ia segera mencari celah untuk mengintip.
Sebenarnya ia tak berpikir untuk mengintip, tapi bila sudah begini. Sayang kalau di lewatkan, begitu pikirnya.
Dan sepertinya, keberuntungan sedang berpihak padanya. Terdapat kumpulan batang kayu panjang di dinding gang itu dengan diletakkan dalam posisi berdiri hingga membuat banyak celah meski kecil. Jadi, dalam arti kata. Sepasang sejoli itu tengah berada di balik kumpulan batang kayu tersebut sehingga membuat mereka tertutupi olehnya. Alhasil, bila sesuatu terjadi tak akan ada yang tahu.
"Bagus. Ini yang namanya keberuntungan." Rayan harus menyipitkan matanya bila ingin melihat jelas apa yang akan sejoli itu lakukan di balik kumpulan batang kayu melalui celah yang ada.
Tak di sangka yang ia lihat mampu membuatnya terbelalak dengan mulut yang ditutup dengan kedua tangannya agar tak sampai mengeluarkan suara saking terkejutnya ia.
"Bolehkah? Aku benar-benar merindukan mu." pinta lelaki itu dengan nada rendah dan beratnya yang terdengar seksi di telinga gadis di depannya hingga membuat ia tersipu saat posisinya sudah cukup dekat dengan tubuh gadisnya, bahkan tanpa cela. Tak lupa ia menyelipkan sejumput rambut panjang gadisnya yang terurai menutupi sebelah matanya dengan jari lentiknya.
Gadis yang sudah terbawa suasana itu terlebih posisinya yang sukses memacu jantungnya lebih cepat hanya mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya yang mana membuat si lelaki tersenyum manis dan langsung menundukkan wajahnya guna meraup bibir ranum milik gadisnya untuk ia cium.
"AAAAAAAAAAAAAA..." seketika itu juga Rayan berteriak sekencang-kencangnya dalam hati. Jiwanya syok teramat sangat. Otaknya kosong mendadak, bukan karena itu adalah pemandangan baru melainkan karena ini adalah era kuno.
Layaknya gunung berapi yang meletus, seperti itulah kondisi Rayan saat ini.
Bagaimana bisa hal semacam itu sudah terjadi?! Bukankah seharusnya orang di masa lalu masihlah lugu selain yang sudah menikah?! Berciuman seperti itu?! Di jaman kuno ini?! Dengan amat panas?! Di tempat terbuka?! Tidakkah gadis itu harusnya ingat kalau pada akhirnya ia akan di jodohkan mengingat latar belakangnya yang seorang bangsawan?! Benar-benar gila!!!
Bertanya soal dari mana ia tahu mengenai latar belakang gadis yang menjadi objek intipannnya, karena gadis itu adalah saudarinya sendiri. Mereka sama-sama bermarga Yu, meski saudarinya itu adalah anak sah dari keluarga Yu. Tidak seperti dirinya yang seorang anak haram.
Matanya yang sudah terbelalak malah semakin terbelalak hingga nyeri pun terasa namun tak membuat Rayan mengedipkan matanya. "Sialan! Mereka... Mereka... Apa yang mereka lakukan..." teriak Rayan tertahan hingga tak terdengar selain suara nafasnya. Rayan bahkan sampai meremas rambutnya sendiri saking tak percayanya.
Rayan kembali di buat syok dan ngeri bersamaan, saat matanya di suguhkan dengan adegan yang lebih dari sebelumnya. Dimana lelaki itu tampak sudah di selimuti kabut gairah, hal itu terlihat dari tangannya yang mulai gerilya kemana-mana pada tubuh saudarinya yang masih terbungkus baju dengan khidmatnya tanpa melepas luma*an bibirnya. Bahkan saudarinya tak kalah terbawa suasana, terlihat dari bagaimana ia meremas rambut kekasihnya dan sesekali mencengkeram tengkuk lehernya hingga memerah.
Di rasa sudah bisa mengendalikan diri, Rayan pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sekarang ia sudah bisa tenang untuk lanjut melihat kegiatan yang di lakukan saudarinya dengan sang kekasih.
Perlu di ingat. Rayan sama seperti kedua sahabatnya. Sama-sama sudah terbiasa melihat hal semacam itu. Hanya saja yang membuat Rayan syok berat adalah dimana hal semacam itu juga di lakukan oleh orang di jaman dulu. Siapapun pasti akan terkejut sekaligus bertanya-tanya, apakah benar sudah sebrutal itu?!
Dia menggelengkan kepalanya seraya berdecak kagum. "Jal*ng dan gig*lo! Sangat cocok!" celetuknya asal.
Sesaat kemudian ia sadar akan sesuatu. "Sial. Sayang sekali tidak ada kamera. Adegan tadi bisa di publis kalau ada benda itu. Sungguh sangat di sayangkan." menghela nafas sedih.
Ia pikir selang beberapa menit dari awal ia menyaksikan tayangan langsung itu akan segera berakhir. Tapi, nyatanya adegan itu terus berlanjut dengan semakin panas.
Mulai dari ci*man beserta saudara-saudaranya dan segala yang bersangkutan. Ia tak bisa bila tak menggelengkan kepalanya lagi dan lagi.
"Astaga, mereka sangat buas." gumamnya berbisik tanpa mengalihkan perhatiannya dari dua sejoli itu. Bahkan tanpa sadar Rayan telah menciptakan berbagai macam ekspresi di wajahnya setiap kali ada adegan yang mampu memancingnya.
"Sayang... Hentikan... Nanti... Ada yang lihat." kata saudari Rayan di sela-sela kegiatannya di mana kekasihnya sedang asik menci*mi lehernya.
"Tenanglah, Luo'er... Percayalah padaku." balasnya tanpa menghentikan kegiatannya yang nikmat itu. Di angkat wajahnya untuk melihat wajah memerah kekasihnya yang di panggil Luo'er itu, ia tersenyum mendapati pemandangan yang di akibatkan olehnya sendiri.
Sembari mengusap peluh yang keluar dari pelipis gadisnya ia berujar. "Aku masih sangat merindukanmu. Aku baru pulang dari perjalanan jauh dan langsung mencarimu. Tidakkah kau harusnya senang?" suara yang di keluarkan masihlah serak karena sesungguhnya ia belum benar-benar puas menikmati tubuh kekasihnya.
Saudari Rayan itu tersipu malu di buatnya sampai-sampai wajahnya yang sudah merah semakin merah karena perkataan kekasihnya. Sementara Rayan yang mendengarnya justru memasang wajah datar.
"Cih. Baru begitu saja sudah meleleh. Bagaimana kalau lebih dari itu?! Ckckck. Yu Ming Luo, bod*h!" katanya sembari menyebutkan nama lengkap saudarinya yang adalah bernama Yu Ming Luo.
"Tapi, Fei Rong..." menatap mata kekasihnya yang di panggil Fei Rong itu dengan sayu namun tampak jelas kalau ia pun ingin lebih dari ini. "Tidakkah ini cukup berbahaya. Meskipun kita sudah sering melakukannya di tempat terbuka, tapi tetap saja. Bagaimana kalau ada yang lihat." jelas Ming Lui sukses membuat Rayan kembali syok berbeda dengan Fei Rong yang justru terkekeh mendengar kekasih hatinya berkata begitu.
Rayan tak percaya, Yu Ming Luo yang dalam ingatan Yu Rayan adalah seorang bermuka dua. Dimana dia yang memiliki sifat manis-manis manja namun kejam secara bersamaan dapat melakukan hal yang tidak senonoh itu secara terbuka.
Apakah negara ini kekurangan bangunan? Pikir Rayan.
"Tapi, kulihat kau masih menginginkannya, sayang." goda Fei Rong yang mana membuat Ming Luo langsung memeluknya guna menyembunyikan wajah malunya, Fei Rong kembali tertawa kecil sembari membalas pelukan itu dengan menambahkan elusan di kepala gadisnya.
"Kau ini..." rengek Ming Luo dalam pelukan tersebut.
Telunjuk Fei Rong bergerak guna mengangkat dagu gadisnya yang tingginya hanya sebatas dadanya agar ia dapat melihat betapa memikatnya pemandangan gadis di depannya yang sudah berantakan karena ulahnya. Ia tersenyum lembut pada Ming Luo.
"Dengar, sayang. Aku bisa saja membawamu ke tempat yang lebih nyaman dari ini untuk menikmati kebersamaan kita. Tapi, apa kau siap bila nantinya aku melakukan lebih padamu." tanya Fei Rong dengan nada rendah tanpa maksud berbisik sehingga Rayan yang mengintip dapat mendengarnya.
Rayan yang terhenyak mendengarnya langsung bergumam. "Astaga, mereka... Benar-benar!" katanya tak menyangka.
"Tapi, kau sudah melakukan banyak hal padaku. Tidakkah kau harusnya juga mempertimbangkan itu." Ming Luo memberengut kesal.
"Memang. Tapi, belum sepenuhnya." balas Fei Rong sambil tersenyum melihat gadisnya marah. Di dekatnya bibir itu ke telinga Ming Luo dan berbisik dengan sensual.
"Aku belum memasukimu."
Pernyataan itu sukses membuat Ming Luo semakin tersipu malu dan kembali menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Fei Rong yang gemas karenanya.
Sedang Rayan yang mencuri dengar pernyataan itu nyaris tersedak bila ia tak sadar untuk segera menahannya.
"Sial! Menjijikkan!" umpatnya tertahan.
Rayan benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah jijik mendengar dan menyaksikan setiap perbuatan saudarinya bersama kekasihnya itu. Ia sungguh tak habis pikir. Meskipun Ming Luo masihlah perawan seperti apa yang di tangkap dari kalimat Fei Rong itu. Tapi, tetap saja. Yu Ming Luo sudah melewati batas.
"Jadi, bagaimana?" tanya Fei Rong menunggu kepastian yang sesungguhnya sangat ia nantikan sejak lama untuk bisa ia lakukan bersama kekasih tercintanya itu. "Bila kau siap. Aku tidak akan menunggu lagi. Tapi, kau harus ingat. Ayahmu pasti tidak akan merestui kita. Kau anak pertamanya dari keluarga Yu." tutur Fei Rong mengingatkan tentang status mereka yang ternyata adalah hubungan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.
Mata Rayan terbelalak penuh binar layaknya mendapatkan hadiah lotre. Senang bukan main, saat ia mendapatkan sebuah kebenaran dari rahasianya Yu Ming Luo.
"Wow... Anak manis seperti Ming Luo ternyata pembangkang, ya!" gumamnya.
"Tapi, aku mencintaimu. Lebih dari apapun. Asal kau selalu bersama aku tak peduli apapun." ungkap Ming Luo seraya menatap dalam mata Fei Rong yang menatap sama padanya.
Fei Rong menghela nafas pelan. "Aku senang mendengar kau juga mencintai ku. Jadi..." sengaja dia menjeda dan Ming Luo tahu apa maksudnya.
"Apapun untuk mu!" jawaban pasti dan yakin itu meluncur sempurna dari bibir Ming Luo, yang mana membuat Rayan yang melihatnya dari balik kumpulan batang kayu itu menggelengkan kepalanya miris untuk saudarinya.
"Ck! Dasar murahan!" umpatnya.
Dan kemudian kembalilah adegan panas antar bibir terjadi lagi.
Rayan bersedekap dada seraya memandang licik ke arah dua sejoli yang tengah bermadu kasih di gang sepi. Membayangkannya membuat Rayan geli sendiri.
Sebelah alisnya naik dan seringai terpampang sudah menandakan ia memiliki sebuah rencana untuk mengusik kegiatan mereka.
"Sepertinya aku sudah menemukan kejutan yang cocok untuk kalian." katanya yang di tujukan untuk sejoli itu.
Yu Ming Luo x Han Fei Rong.
Visual Cast untuk Yu Ming Luo.
Visual Cast untuk Han Fei Rong.
################
Hai3...
readers ku sayang...
kali ini aku bikin cerita nya agak panjang ya.. 2000 kata lebih. biar puas. tapi untuk part berikutnya aku gak jamin bakal sebanyak ini karena selanjutnya masih di chapter yang sama aku cuma bakal bikin bagian yang di tunggu-tunggu, termasuk author sendiri. hehe...
maaf ya. kalo cerita di atas ngeganggu banget buat kebersihan otak. tapi mau gimana alurnya gitu. hihi...
author harap selalu dukungannya yaaa...
makasih lhoo...
author seneng karya author akhirnya ada yang suka...
love you all...😘😘😘
see you again!👋👋👋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
c'ayu💃🌺
sdah treak kenceng2 kok ga kedengaran thor
2022-06-20
2
나의 햇살
kalau menjijikan kenapa dilihat
2022-05-06
0
나의 햇살
kalau mereka lugu, gk mungkinlah di rumah bordil banyak pelacur dan banyak pria br3ng$3k juga
2022-05-06
1