Angin berhembus siang itu sangat menyejukkan, namun itu tak membuat seorang gadis yang tengah duduk bersandar di bawah pohon kembali melanjutkan tidurnya.
Mata indah itu terbuka secara perlahan, membiarkan sedikit demi sedikit kornea matanya menerima cahaya yang masuk hingga mata itu terbuka sempurna.
Menarik nafas dalam seraya merenggangkan otot dengan kedua tangannya. Setelahnya ia mulai memindai sekelilingnya, ternyata ia masih di tempat ia beristirahat. Ia mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa lapar. Akhirnya ia pun bangkit dan beranjak pergi.
Kaki tak beralas itu membawanya pergi tanpa arah dan tujuan, hanya berbekal insting yang selama 27 tahun hidup menemaninya. Itulah alasan mengapa ia sering di sebut 'hantu hidup' atau terkadang 'peramal sakti' selain julukan 'manekin hidup' yang lebih sering terdengar.
Kini ia hidup di tubuh orang lain pun tak membuatnya berubah dengan jalan hidupnya sendiri. Ia masihlah seorang Ryura Jenna.
Sebenarnya tak pernah terpikirkan olehnya soal instingnya yang selalu benar. Baginya itu hanya kebetulan belaka, meski bila di tilik kembali akan lebih pantas bila menyebutnya takdir dari yang Maha Kuasa.
Sifatnya yang selalu asbun (asal bunyi), sering kali membuat orang jengkel mendengarnya tapi kebanyakan dari mereka yang sudah mengenalnya akan dengan mudah mempercayai nya. Sekalipun asal bunyi tapi mampu mempertanggungjawabkan hal tersebut.
Lagipula ia bukan tipikal gadis yang 'ribet'. Bila orang baik padanya ia akan balas baik. Bila orang jahat padanya, ia akan melihat lebih dulu apa kejahatan yang di tujukan padanya cukup penting untuk di ladeni atau tidak. Bila orang mengusik hidup tenangnya yang bahkan tak sedikitpun melibatkan orang tersebut, maka jangan salahkan ia bila nantinya sama sekali tak berbelas kasih.
Dia juga bukan gadis yang emosional, bahkan bisa di katakan tidak ada. Selama ia hidup, Rayan dan Reychu bahkan tak pernah mendapati ia memiliki emosional yang berarti. Bagaikan air tawar yang tenang, seperti itulah dia.
Tak terasa ia sudah jalan begitu jauh. Bila ia orang biasa maka hal pertama yang ia keluhkan adalah kakinya yang sakit dan terluka akibat perjalanan jauh tanpa alas kaki. Tapi, karena ia bukan sembarang gadis maka kondisi seperti itu tak membuatnya mengubah ekspresi nya menjadi meringis sakit atau bahkan sekadar mengernyitkan keningnya. Ia hanya terus berjalan mengabaikan kakinya yang terluka.
Tak jauh dari tempatnya melangkah sekelompok perampok tampak sedang menyerang sebuah rombongan, itu tampak dari sebuah tandu dan gerobak barang yang mengangkut banyak barang namun tak terlihat lantaran di tutupi anyaman jerami serta beberapa ekor kuda yang sebagiannya ikut tewas menyusul tuannya.
Sementara untuk sebagian para perampok itu ada yang asik mengemasi barang curiannya agar siap di angkut. Tapi sayang, salah seorang dari mereka menangkap pergerakan orang yang tengah berjalan dengan santai nya di jalan yang kini menjadi tempat mereka beraksi.
"Ada orang!" seru pria itu yang mengenakan pakaian serba hitam beserta penutup wajah agar tak di kenali. Ia terlihat baru saja menebas seorang pelayan pria yang kini terkapar tewas di dekat kakinya.
"Dimana?" tanya pria kedua yang berpenampilan sama. Ia sedang berdiri membelakangi pria yang pertama.
"Itu." menunjuk dengan mengacungkan pedangnya. "Sepertinya ia seorang perempuan." singkatnya dengan masih memperhatikan gadis yang berjalan santai itu semakin mendekat.
"Tunggu apa lagi, ketua! Habisi saja dia! Akan buruk kalau sampai ada saksi mata!" seru yang lainnya kepada pria pertama yang ternyata adalah seorang pemimpin para perampok itu.
"Benar, ketua!" seru yang lain serempak.
"Meskipun terlihat seperti gelandangan. Tapi, tetap saja tidak boleh ada saksi mata." saat melihat bagaimana kacaunya penampilan gadis yang tak lain adalah Ryura.
Sedang Ryura yang tak peduli pada sekitarnya yang sebenarnya sudah merasakan kewaspadaan kumpulan pria itu. Namun, ia tak menggubrisnya. Lagipula tak ada untungnya bagi Ryura.
Hingga kini tinggal beberapa langkah lagi menuju tempat kejadian teragis itu. Banyak mayat yang tergeletak mengenaskan tapi wajah datar itu tak berubah juga. Malah dengan santai ia melangkahi mayat-mayat itu untuk melewatinya. Sampai si ketua perampok tadi menghalangi jalannya.
"Mau kemana kau?!" katanya dengan nada mengancam, berpikir gadis di depannya akan takut padanya. Tapi nyatanya ia malah di buat bingung dengan raut wajah Ryura yang datar santai seraya menatapnya biasa seolah sedang tak terjadi apa-apa.
Langkah Ryura terhenti mau tak mau terlebih ketika pria yang memakai penutup wajah itu menodongkan pedangnya dengan angkuh padanya.
"Lewat." jawabnya singkat.
"Apa?!" celetuk sang ketua perampok itu dengan tak percaya saat telinganya mendengar jawaban singkat itu. Beruntunglah ia belum tuli.
"Hei, nona. Yang kau maksud lewat sini?! Tidakkah kau lihat apa yang sedang terjadi disini. Nyalimu besar juga!" sahut perampok yang lain.
"Tapi, dia cantik ketua. Sayang kalau langsung di habisi. Kenapa tidak kita bersenang-senang sebentar dengannya." celetuk yang lainnya dengan otak mesumnya, jangan lupakan seringainya.
Ryura tak bergeming sama sekali. Minat pun tidak. Saat ini yang sangat ia inginkan adalah mencari makan. Maklum ia belum juga makan sejak tadi, mungkin sebelum jiwanya dan jiwa Han Ryura berganti pun tubuh itu belum di beri makan.
"Jangan menggangguku kalau kau tak ingin celaka." katanya yang sebenarnya tak mengandung arti apapun, tapi para perampok itu justru salah mengartikannya. Mereka berpikir kalau Ryura tengah mengancam mereka.
"HAHAHAHA..." sekumpulan pria berpakaian serba hitam dengan penutup wajah itu tertawa dengan kerasnya seolah ada yang lucu dari perkataan Ryura. Lagi-lagi bukan Ryura namanya bila ia beraksi hanya karena di tertawakan, bahkan wajahnya tak juga berubah.
"Kalian dengar itu... Dia bilang kita akan celaka bila kita mengganggunya. Sungguh konyol." melangkah mendekat pada Ryura yang diam. Memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki, ketua perampok itu tampak sedang menilai.
"Hm... Memangnya kau punya apa sehingga begitu percaya diri mengancam kami, heh? Bahkan bila di lihat dari perawakannya saja kau tak lebih dari sekadar sampah tak berguna." menunduk menatap kaki Ryura yang tanpa alas. "Lihatlah, kau saja tak memakai alas kaki." menaikkan pandangannya ke pakaian Ryura. "Juga pakaian yang kau pakai ini... Murahan dan lusuh. Kotor dan bau. Sungguh, sama sekali tak mencerminkan seorang gadis dari keluarga berada. Hanya saja kau cantik dan manis." seringai penuh arti terpancar di wajah si ketua itu.
Ryura masih menatap datar pria didepannya yang tak henti-hentinya mengoceh. Sementara anak buahnya sudah cekikikan seperti tahu akan kearah mana pemimpin nya berbicara.
"Begini saja bagaimana kalau kau ku berikan penawaran yang bagus?" mendekat kesisi kepala Ryura, tepat di telinganya. "Aku punya kenalan di tempat bordil. Kecantikan mu pasti tak akan menyulitkan mu untuk bergabung ke sana. Tak hanya uang yang kau dapat, kepuasan serta jaminan bahwa kau akan selalu dapat tampil memukau setiap waktunya. Kau akan mendapatkan apapun yang kau mau dengan mudahnya, karena yang perlu kau lakukan adalah..." jedanya.
"Melayani para pria bangsawan dengan kemolekan tubuhmu." lanjutnya dengan nada sensual serta sembusan di telinga Ryura sebagai penutup. Baru kemudian ia menjauhkan kepalanya dari Ryura dengan senyum mesumnya yang tak hilang.
Tapi sepertinya ada yang salah disini. Sesaat kemudian alisnya saling bertautan heran. Gadis didepannya ini tak merespon apapun perkataannya bahkan tersipu malu pun tidak, hal itu tampak dari wajah putihnya yang tak bersemu merah. Si ketua membesarkan bola matanya tak percaya, hingga pikiran-pikiran aneh tentang Ryura muncul.
Mungkin salah satunya mengenai, 'apakah gadis itu pecinta sesama jenis?!'.
"Sudah selesai?" ujar Ryura datar. "Kini giliran ku." sambungnya dan detik berikutnya sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"KETUAAA...!!"
Tak tahu harus berkata apa dan tak tahu harus berbuat apa. Pedang yang semula masih di dalam genggaman ketua perampok itu, entah sejak kapan berpindah tangan yang kini justru berada di tangan Ryura. Tak hanya itu mata pedang itupun menancap sempurna pada ulu hati pria di depannya hingga menembus punggungnya, sampai-sampai matanya tak dapat menutup dan ia tewas begitu saja.
Pakaian lusuh Ryura kini bernodakan darah tapi tak di hiraukannya. Sedang pada bawahan perampok yang telah tewas itu menjadi naik pitam hingga di selimuti amarah yang membuncah.
"SIALAN, KAU ******! BERANINYA MEMBUNUH KETUA KAMI...!!!"
Satu persatu dari sekelompok perampok yang berjumlah 15 orang dikurang 1 itu menyerbunya dengan membabi-buta. Pedang di tangan mereka di gerakkan dengan ganas guna untuk membalas gadis yang tak dapat di sangka mampu membunuh ketua mereka dengan mudahnya. Padahal setahu mereka, sang ketua adalah orang yang ahli dalam bertarung.
Ryura hanya menghela nafas malas. Jujur saja ia malas saat ini terlebih ia tengah lapar. Tapi, bila ia tak ikut membasmi mereka yang ada ia tak kunjung sampai ke desa yang mana bisa menjadi tempatnya mencari makan.
Jadi di sinilah ia.
*Tang...
Ting...
Krash...
Crass...
Ting...
Crass...
Tang*...
Suara adu pedang menggema. Tebasan dan tusukan pun tak kalah melengkapi. Dengan lihai tanpa beban Ryura melawan para perampok tersebut. Santai, tenang bak tarian gemulai seorang penari yang mengikuti lantunan musiknya dengan syahdu.
Sayangnya, satu persatu pula pria-pria itu merenggang nyawa juga ada yang terluka parah dan kini ikut terkapar bersama mayat rombongan yang menjadi korban rampokan mereka.
Krash...
Tebasan terakhir di layangkan dan berakhir menewaskan yang di tebas. Dengan kokoh berdiri menjulang di tengah-tengah serakan mayat. Dia tak terluka barang sedikitpun, hanya pakaiannya saja yang berlumuran darah. Namun tak menutup fakta kalau saat ini Ryura tampak seperti dewa kematian yang dengan mudahnya mengambil nyawa orang-orang.
"Ugh!" erang salah seorang pria yang ternyata masih hidup namun sekarat akibat luka tusuk yang dalam dari Ryura. Matanya menatap sayu penuh kesakitan kearah Ryura. Tak percaya bila kalah dari seorang gadis.
Sebagaimana sifat Ryura. Ia membuang begitu saja pedang yang ia gunakan tadi. Dan berjalan ke arah gerobak barang yang tertutupi oleh anyaman jerami. Ia bahkan tak peduli apakan ada salah seorang perampok itu yang masih hidup atau tidak.
Bila berpikir ia ingin mencuri jawabannya adalah salah. Tujuannya adalah untuk mencari paling tidak pakaian bersih yang dapat ia pakai, mengingat pakaiannya sekarang tak memungkinkan baginya untuk tetap ia pakai apalagi untuk mendatangi sebuah desa. Bisa-bisa rusak begitu saja ketenangannya. Lagipula sekarang ini juga barang-barang yang ada di hadapannya ini sudah tak berpemilik, maka bolehlah yaa...
Srak...
Anyaman jerami itu di buka dengan lantang dan terpampanglah setumpuk gulungan kain sutra kualitas terbaik. Ada juga beberapa pakaian jadi. Jangan lupa berkotak-kotak perhiasan perempuan yang asli terbuat dari emas dan beberapa benda lainnya.
Tak berniat mengambil yang lain selain pakaian, maka tangannya hanya terulur untuk mengambil pakaian jadi yang terlipat rapi di sebuah kotak tak bertutup. Ryura mulai memilih warna dan model apa yang nyaman untuknya. Meski sebenarnya tak ada model yang terlampau berbeda. Nyaris sama. Begitu sudah ia temukan, segeralah ia beranjak menuju tandu yang telah kosong sejak para perampok-perampok itu datang sebelum malah mereka yang menemui ajalnya. Di sana ia mengganti pakaiannya.
Tak butuh waktu lama. Sebuah kaki terulur keluar lebih dulu dan kini kaki itu sudah beralaskan sepatu sampai seluruhnya tampak, yakinlah tak ada yang dapat menolak pesonanya yang manis luar biasa.
Atasan berwarna abu-abu gelap sepanjang betis senada dengan celana panjang besarnya, di padu dengan jubah sepanjang paha berwarna abu-abu muda. Rambutnya di biarkan tergerai indah begitu saja. Kini penampilannya benar-benar sempurna walau sederhana. Aura yang terpancar menjadi lebih nyata terasa.
Setelah ia keluar dari tandu dengan penampilan barunya, tapi sepertinya ada yang bertambah pada dirinya. Dan ternyata sebuah bungkusan kain yang di gendong di punggungnya layaknya tas sebagai tambahan. Entah apa isinya. Yang pasti ia menemukan nya dari dalam tandu.
Meninggalkan begitu saja lokasi kejadian dimana menenggut banyak nyawa. Tapi, sekali lagi harus di tekankan. Dia adalah Ryura Jenna dalam tubuh Han Ryura, gadis yang tak berekspresi dan acuh. Sekalipun dia terlibat dalam aksi perampokan sekumpulan perampok tadi tapi yang utama baginya adalah dirinya sendiri, lagipula bukan ia yang memulai.
Dan sekarang setelah dipikir-pikir, secara tak langsung Ryura telah menjadi perampok dimana ia merampok dari para perampok...
Tetapi, entah di sadari Ryura atau tidak. yang pasti seseorang telah melihat aksinya sejak awal dan kini senyum miring terukir di bibirnya dari tempatnya berada.
Hai-hai... salam hangat dari Author *LeoRa_*....
Disini author cuma mau bilang, kalo apapun yang author buat dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka dan semuanya hanya rekayasa nya author aja.
mulai dari nama tokoh dan tempat, latar, alur cerita, adegan, dll.
***HANYALAH KHAYALAN SEMATA***
jadi, apabila kalian menemukan sesuatu yang tak biasa jangan pernah berpikir untuk mencaritahunya di google, buku, atau apapun.
karena gak bakal ketemu.
soalnya semua itu murni dari imajinasi author aja. OKOK...
kalo gitu silahkan lanjut membaca...
senang rasanya kalian suka cerita author...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
°nina°
bau bau cowo
2023-08-04
1
momi nana
baca sampai sini ...semakin suka
LANJUT BACA LAGI ❤️
2023-06-10
0
Oi Min
Siapa?? Ryu dah ada penggemar rahasia nya
2022-09-04
1