Hari mulai sore, namun Ryura masih saja terdiam di tempatnya bersama Furby lantaran dihadang oleh warga desa dimana ia berpijak saat ini.
Setelah memberikan sebuah penawaran, kepala desa tua itu diam menunggu jawaban dengan perasaan yang tak karuan. Sebenarnya ia sama sekali tak ingin meminta bantuan kepada gadis tak berekspresi itu, hanya saja sekarang ini ia membutuhkan cara yang bisa di gunakan untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi disini.
Dia merasa gadis datar itu punya kemampuan untuk mengatasi masalah desanya. Lagipula ia juga tak bisa meminta bantuan dari kerajaan, karena desa kecil itu telah di kepung mulai dari danau An-An sampai melewati Padang rumput api liar. Alhasil, utusan yang mereka kirim pasti akan berakhir mati.
Lalu bagaimana bisa Ryura mendatangi desa tersebut? Jawabannya, karena para orang tak di kenal itu hanya menginginkan desa Danpyo. Entah kenapa?!
Selagi Ryura tidak keluar dari perbatasan desa maka orang-orang tak dikenal itu diam.
Keheningan menelan mereka semua.
Si kepala desa tua dan warganya berpikir gadis di depan mereka tengah mempertimbangkan penawarannya tanpa tahu sebenarnya Ryura tak sedikitpun merepotkan dirinya sendiri untuk hal semacam itu.
Dia diam bukan karena tengah mencerna serta memahami tawaran kepala desa tua desa Danpyo itu, melainkan hanya diam. Sejujurnya ia tak tertarik sama sekali.
Saat ini ia lapar dan ingin segera ke ibukota. Karena selain bisa makan, disana jugalah tempat Han Ryura sebenarnya tinggal. Bila ada tempat tinggal, kenapa harus cari tempat lain, begitulah pikir Ryura.
Jika bertanya soal bagaimana ia bisa berada di danau An-An? Maka jawabannya adalah ia di ajak oleh saudaranya untuk berburu ke hutan, hutan lain yang juga terhubung dengan danau An-An dari arah seberang danau. Dia di ajak agar dapat di perintah sekaligus di tindas.
Jarak tempuh dari ibu kota dengan hutan tidak sampai satu hari karena melalui jalur lain dekat dengan lereng gunung. Jadi, bila melihat ke bawah maka dapatlah siapapun lihat sebuah danau An-An terbentang luas di bawah lereng gunung yang memiliki banyak tebing-tebing tinggi.
Karena sebelumnya Ryura hanyalah gadis lemah, ia bisa apa.
Han Ryura yang bodoh dan tak berdaya itu hanya bisa diam menerima perlakuan tersebut. Walaupun ia menangis, air matanya tak akan bisa membuat seluruh keluarga Han iba padanya. Hanya karena terlahir lemah dia harus menerima semua perlakuan buruk itu.
Dan sialnya bagi keluarga Han. Sekarang tubuh lemah Han Ryura telah di isi oleh jiwa dari Ryura Jenna. Gadis yang hanya memiliki satu wajah yaitu datar tak berekspresi. Gadis yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, tapi bukan berarti ia tak tahu bagaimana cara melindungi orang yang baik dengannya.
Catat! Yang baik, bukan yang dia sayangi.
Dia mungkin punya sahabat, tapi itu hanya labelnya saja meskipun tetap sering menghabiskan waktu bersama. Dia tetaplah seorang diri dan kedua sahabatnya tau akan hal itu. Mereka mengerti karena itu mereka menerima kekurangan Ryura tersebut.
"Tidak tertarik!" singkat, padat, dan jelas meluncur sempurna dari mulutnya.
Kepala desa tua dan warganya tak bisa bila tak terhenyak. Jawaban singkat itu sungguh terkesan tak terbantahkan, seperti orang yang memiliki pendirian yang cukup tinggi. Bila ia berkata A maka akan selamanya A, itulah yang ada di pikiran mereka.
"T..tapi, bisa k..kau pertimbangkan lagi? Kau bisa melewati desa ini tanpa hambatan. Hanya cukup dengan membantu kami. Lagipula, bila kau ingin keluar dari desa ini pun akan sulit. Di perbatasan masuk desa ini tepat sebelum mendapati Padang rumput api liar, mereka ada di sana menahan agar kami warga desa tak bisa keluar untuk meminta bantuan kepada kaisar kerajaan Huoli ini. Kalau kau memilih untuk keluar pasti akan di hadang mereka dan akan di bunuh." cecar kepala desa tua menggebu. "Aku tidak tahu gadis kecil sepertimu itu sekuat apa, tapi tetap saja kau hanyalah gadis kecil." akhirinya dengan memberi sedikit penjelasan agar gadis itu sadar akan usianya walau terdengar sinis.
Ryura tetap diam, tapi hatinya bergumam. "Tubuh ini yang muda, aku sudah jauh lebih tua darinya."
"Jawabanku tidak berubah." finalnya.
Kepala desa tua sampai tak habis pikir bagaimana bisa ada gadis yang sudah sok hebat, tak punya hati lagi. Ini hanyalah sebuah bantuan yang dia sendiri ragu untuk memintanya pada gadis semuda Ryura dan ragu apakah gadis itu bisa membantu, tapi tetap melakukannya lantaran sudah berada di situasi yang amat genting.
"Hei. Gadis! Jangan berlagak hebat kau, ya! Seharusnya kau merasa bangga ada seseorang yang berpengaruh meminta bantuan kepadamu. Kau pikir kau cukup hebat hingga bisa sombong seperti itu?!!!" cerca warga desa yang sudah tidak tahan melihat Ryura yang sama sekali tidak merespon apapun perkataan mereka.
"Ya, benar itu."
"Jika bukan kau yang muncul, kami tidak akan membuang waktu kami seperti ini!"
Mendengar itu, yang lainnya ikut menyahut. Ada begitu banyak hinaan, umpatan, dan kata-kata menyakitkan lainnya yang di dapat Ryura akibat sikap tak pedulinya, bahkan si kepala desa tua pun turut membiarkan warganya mengeluarkan suara. Tapi, sayangnya suara yang keluar dari mulut mereka tak ada yang bisa membangkitkan emosi Ryura. Gadis itu tetap tenang di tempatnya, semua itu hanya di anggap angin lalu.
"Itu bukan urusanku!" selanya singkat yang lagi-lagi membuat mereka yang mendengarnya sampai terbelalak tak percaya.
Jawaban itu sungguh tak berperasaan.
"CUKUP!" teriak kepala desa tua dengan marah kemudian memandang tajam Ryura, aura di sekitarnya berubah mencekam dan panas. "KAU PIKIR, KAU SIAPA, HAH?! AKU SUDAH BERBICARA BAIK-BAIK DENGAN MU TAPI KAU MEMBALASNYA DENGAN CARA SEPERTI INI. KAU SUNGGUH TERLALU MEMANDANG TINGGI DIRIMU!" bentaknya dengan sekuat tenaga, bahkan warganya yang tadi berdiri dekat dengannya memilih menjauh. Kepala desa mereka telah mengeluarkan kekuatannya dan itu bukanlah sesuatu yang baik.
Hal itu pun sampai membuat Furby bertelepati. "Pria tua itu memiliki kekuatan! Berhati-hatilah!"
Ryura masih tak bergeming. Walaupun ia pun turut merasakan tekanan yang panas mencekamnya. Namun, sepertinya ada yang terlupakan disini. Kalau sebenarnya Ryura memang bisa merasakannya namun tidak sampai kentara, karena Ryura hidup tanpa emosi di jiwanya sehingga tekanan itu hanya sampai di bagian luar dirinya dan tidak sampai kedalamnya.
Alasan mengapa seseorang bisa merasa tertekan setelah mendapati ada yang menekannya dari dalam yakni secara emosional, itu karena ia pun memiliki perasaan takut. Tapi, dalam konteks Ryura kali ini. Ia yang memang tak memiliki emosi hanya bisa merasakan dari permukaannya saja sedang dari dalam dirinya sama sekali tidak merasakan tekanan apapun, karena dia tidak memiliki perasaan takut. Begitulah kira-kira.
"Sudah tak punya sopan santun, kau juga tak punya hati nurani! Wajahmu saja yang manis di pandang, tapi hatimu sungguh... Huh! Aku bahkan tak tahu bagaimana menjelaskannya." kepala desa tua itu menggeram marah. Emosinya benar-benar terkuras habis akibat marah dan amarahnya semakin menjadi saat melihat kalau Ryura bahkan tak bergeming mendapati dirinya di katai dengan kasar membuat hawa di sekitar kepala desa tua itu mengeluarkan uap panas hingga memunculkan asap yang samar-samar terlihat.
Kepala desa tua itu sungguh tak bisa mengerti sedang berada di situasi apa sekarang ini.
Saat hendak menyerang kembali tiba-tiba sesuatu muncul.
*Wush...
Jleb*!
Sebuah panah melintas tepat di depan hidung Ryura sampai-sampai dia bisa merasakan angin tajam berhembus saat anak panah itu melesat dengan kuat.
Melihat kejadian itu, kepala desa dan warga terkejut bukan main dan segera mengambil ancang-ancang siaga. Kekuatan tekanan kepala desa sampai menghilang seketika.
"SIAPA ITU?"
"KELUAR KAU!"
"JANGAN BERSEMBUNYI, PENGECUT!"
Teriakan beberapa orang warga mewakili kewaspadaan mereka.
Sedang Ryura masih bisa tetap tenang, hanya sedikit melirik ke arah anak panah yang kini menancap di tanah dalam posisi sedikit miring.
"Akhirnya bertindak juga setelah lama bersembunyi." seru Furby dalam telepatinya.
Sebenarnya, sudah sejak tadi Furby merasakan kedatangan seseorang yang memiliki niat buruk terhadap mereka. Tapi, kuda itu memilih diam. Lagipula ia percaya Ryura pun merasakannya.
"..." Ryura diam, tapi sepertinya sesuatu telah mengusiknya. Melirik tajam melalui ekor matanya namun tenang dan santai di saat bersamaan ke arah pohon besar yang tak jauh dari kumpulan mereka -Ryura dan warga desa- dan di yakininya kalau pohon itulah arah asal anak panah melesat.
Bruk!
Suara hentakan dua kaki yang menuruni kuda menggema. Setelah sekian lama baru kali ini Ryura beranjak dari tempatnya.
Wajah tanpa ekspresi itu sungguh membuat yang melihatnya bingung dan bertanya-tanya. Apa yang sedang di pikirkannya? Atau apa yang hendak ia lakukan?
Ryura sudah berdiri menghadap pohon yang berada agak jauh di sisi kanannya yang artinya lokasi pohon itu berada di sisi kiri kumpulan warga desa Danpyo.
Kepala desa di buat penasaran akan apa yang ingin di lakukan oleh gadis berwajah datar tanpa ekspresi itu. Ia mengawasinya dengan seksama setiap pergerakan Ryura. Tak jauh berbeda dengan warganya meski tidak mengamati terlalu detail.
Beberapa menit ia memandang pohon itu baru kemudian ia menoleh ke samping dimana seorang pria yang mungkin usianya sama dengan dia di masa modern dulu berdiri waspada dengan tombak di tangannya yang ia todongkan ke sembarang arah.
Sejenak ia melihat pria itu, lalu berjalan kearahnya dengan tenang. Semua orang disana melihatnya dengan pandangan yang berbeda-beda.
Begitu sampai di dekat pria itu, tanpa permisi dan tanpa pikir panjang Ryura mengambil tombak itu darinya yang sukses membuat pria itu terkejut bukan main lantaran terlalu waspada sampai melupakan sekitarnya.
"Apa yang..." kata-katanya terputus saat melihat apa yang dilakukan gadis di depannya ini selanjutnya. Ia terkejut di buatnya.
*Wuish...!
Zruup!
Brugh*!
Tombak itu di lemparkan dengan kekuatan penuh layaknya sedang melakukan lempar lembing di sekolahnya dulu. Dan ternyata oh ternyata...
Tombak itu menancap tepat sasaran.
Seseorang yang terkena tombak itu seketika jatuh sekarat. Tombak tersebut menembus tepat di ulu hatinya, hingga ia terlihat seperti sate dengan tusuk bambunya.
Kepala desa tua terkejut bukan kepalang melihat apa yang di suguhkan di depan matanya. Tak percaya gadis bertubuh kurus itu mempunyai kekuatan besar di dalam dirinya padahal ia tak bisa merasakan kekuatan itu.
Tak ingin menunggu lagi, beberapa warga bergerak cepat guna menyeret orang yang di yakini salah satu dari kelompok penjahat yang belakangan ini mengusik ketenangan hidup penghuni desa Danpyo untuk di interogasi selagi masih hidup.
"Menganggu saja." tuturnya pelan tak berasa, tapi ternyata terdengar sampai ke telinga kepala desa tua yang sejak awal memperhatikannya. Ia terkejut dengan dua kata yang keluar dengan lancarnya dari bibir Ryura.
Dua kata itu terkesan sepele di ucapkan untuk menanggapi permasalahan kali ini. Dia hampir terluka karena anak panah itu, tapi bagaimana bisa gadis itu berkata demikian yang jelas-jelas sangat tidak cocok di sandingkan dengan situasi saat ini.
Masih memandangi gadis yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya, dilihatnya gadis itu berjalan ke arah kudanya lagi dan menaikinya hingga ia telah duduk sempurna di punggung kuda hitam gagahnya.
Mata kepala desa masih tak berpindah dari objeknya.
Diam sejenak sebelum akhirnya menadahkan tangannya seperti hendak meminta sesuatu. tak terduga kalimat yang Ryura ucapkan sungguh terdengar membahagiakan kepala desa tua itu.
"Berikan aku suratnya. Akan aku berikan kepada kaisar." tuturnya datar namun itu cukup untuk membuat kepala desa melupakan sifat acuh Ryura. Setelahnya ia segera melesat pergi untuk menyiapkan surat yang sangat ingin ia berikan pada kaisar.
"Sungguh?! Baiklah. Tunggu sebentar."
Furby yang mendengar permintaan penunggangnya menjadi bertanya melalui telepati. "Ryura, kau ingin membantu mereka?"
Dengan tenang Ryura menjawab langsung tanpa telepati. "Hanya ingin mempersingkat waktuku yang terbuang sia-sia di sini." mengelus pelan rambut Furby kemudian melanjutkan. "Aku ingin ke tujuan awalku."
Furby mengangguk paham mendengarnya. ia nyaris di buat jantungan bila mendapati Ryura mendadak baik, karena sejak awal pertemuan mereka yang ia tahu gadis yang kini duduk anteng di punggungnya adalah gadis yang tak berperasaan pada sesuatu yang sia-sia untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
anggrek violet
wajah datar tanpa ekspresi,,,,hhhmmmm menarik
2022-07-06
1
Nur'aini ajah
gw suka sikap ryura
2021-05-25
4
Arifa Zahra
bermakna ryura tak sayang dong dengan sahabatnya
2020-08-03
40