Cukup lama juga sepasang kekasih itu melepas rindu dengan hangat. Eh! Panas maksudnya. Sedang Rayan dengan sabar menunggu saat-saat yang paling tepat untuk memulai aksinya. Katakanlah ia kurang kerjaan, tapi apalah daya bila ia termasuk orang yang jail jika jiwa kejailannya mencuat ke permukaan.
"F..fei Rong... Jangan terlalu kuat... Ah!" pinta Ming Luo dengan sedikit mendesah lantaran kekasihnya benar-benar bermain di dadanya dengan asiknya. Sementara Fei Rong yang wajahnya asik menyusup di area leher Ming Luo begitu mendengar kekasihnya berkata demikian, ia pun tersadar kalau semakin lama ia semakin di butakan oleh gairahnya sendiri hingga terkekeh kecil.
"Maaf, sayangku Luo'er! Aku hanya sangat bahagia hingga aku sungguh ingin cepat-cepat memilikimu seutuhnya." tutur Fei Rong lalu kembali melanjutkan aksinya.
Ming Luo yang mendengarnya tersenyum senang seraya mengelus rambut Fei Rong dengan sayang.
"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan jadi milikmu seutuhnya." lugasnya pasti.
"Aku mencintaimu, Luo'er. Sangat mencintaimu. Jadilah milikku selamanya!"
"Apapun untukmu, Fei Rong sayang." balas Ming Luo dengan suara rendah dan dalam hingga terdengar indah di telinga Fei Rong terlebih ketika Ming Luo dengan berani meniup daun telinga kekasihnya. Sungguh hal itu membuat Fei Rong nyaris tak bisa menahan diri lagi.
"Kau sungguh semakin agresif, sayang!" ungkapnya sambil tersenyum menggoda yang di balas serupa oleh Ming Luo.
"Kau yang mengajariku, bukan?" katanya dengan suara yang di buat sensual, seolah sengaja memancing kekasihnya.
"Oh, kau benar-benar membuatku mabuk kepayang!" pekiknya tertahan karena sedang berada di tempat terbuka, setelah itu Fei Rong langsung kembali menyambar bibir milik kekasihnya dengan rakus.
Pria itu benar-benar meluapkan nafsunya pada gadisnya. Sampai pakaian bagian atas Ming Luo telah melorot di buatnya. Ming Luo pun tak kalah berani, ia juga melonggarkan pakaian Fei Rong agar dapat leluasa mengelus dada bidang juga punggungnya bahkan hingga ke tengkuk leher Fei Rong yang mana mampu membuat prianya semakin hilang kendali dan ingin meminta lebih.
Tangan Fei Rong tak tinggal diam saat merasakan telapak tangannya sudah menyentuh kulit mulus Ming Luo. Gerakannya semakin kuat namun lembut secara bersamaan. Dia sungguh amat menikmatinya.
"Aku benar-benar menginginkanmu sekarang juga." jujur Fei Rong sambil menggeram akibat menahan sesuatu yang sudah sangat menyesakkan.
"Hah?! Kau yakin?" tanya Ming Luo ragu. Bukan ragu akan kekasihnya melainkan ragu akan tempat mereka saat ini.
Memandang satu sama lain sambil terengah-engah. Fei Rong berucap. "Kau mempercayai ku?"
Ming Luo menjawab dengan senyum manisnya. "Tentu! Lakukanlah! Aku milikmu!" bisiknya tanpa ragu.
Saat itu juga dengan segera Fei Rong menyingkap hanfu panjang Ming Luo ke atas hingga kaki jenjangnya terlihat. Dengan sigap ia mengangkat tubuh Ming Luo agar kedua kakinya melingkar di pinggangnya. Hal itu sukses membuat Ming Luo terkejut atas tindakan kekasihnya.
Melihat raut terkejut itu, Fei Rong menjelaskan. "Jangan khawatir. Kau cukup ikuti aku."
Sesaat Ming Luo ragu hingga ia memberanikan diri untuk bertanya. "Fei Rong. Dari mana kau belajar melakukan ini? Kau tidak mengkhianati ku kan?" nada itu terdengar sedikit bergetar sedih dan Fei Rong memaklumi itu. Tapi, satu yang pasti. Pria bernama Han Fei Rong itu hanya mencintai satu wanita yaitu, Yu Ming Luo.
"Hhh... Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya melakukannya secara naluriku sebagai seorang pria. Dan yang perlu kau tekankan pada dirimu adalah... Aku Han Fei Rong hanya mencintai Yu Ming Luo saja. Ingat itu!" jujur Fei Rong mengingatkan kekasihnya agar tidak terlalu cemas akan dimana hatinya berlabuh.
Ming Luo pun akhirnya mengangguk paham dan mereka kembali melanjutkan apa yang tertunda.
Mengamati keasikan mereka jangan sampai melupakan keberadaan Yu Rayan yang sudah bergidik geli melihat dan mendengar semua itu dari kedua insan yang asik dengan dunianya sendiri.
"Dua hewan berkedok manusia itu benar-benar mengerikan!" cercanya tak tahan.
Mendengus kesal dan sarat akan siap untuk bertempur pun bangkit. "Nikmatilah permainan ku. Kakakku sayang." desisnya penuh misteri dan licik.
Di sebuah atap dari bangunan berlantai tiga, tampak seseorang tengah duduk tenang dan santai di ujung atap sembari memandang ke bawah. Sesekali ia pun terkikik geli dan tertawa dengan suara kecil.
Dari postur tubuhnya, ia terlihat seperti laki-laki. Pakaiannya indah dengan perpaduan antara oranye dan merah, kulitnya putih bersih, dan yang paling mencolok adalah topeng rubahnya. Membuat siapapun tak ada yang tahu seperti apa rupanya. Bila bukan karena suara tawanya, orang tidak akan menyadari kalau ia saat ini tengah tertawa.
"Mari kita saksikan! Apa yang akan di lakukan gadis manusia itu pada mereka!" ujarnya pada dirinya sendiri.
Saat hendak melakukan lebih. Tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan kegiatan panas sepasang kekasih itu, Ming Luo dan Fei Rong.
"Hei!"
Terdengar sapaan samar dari balik dinding kayu yang menjadi sandaran tubuh Ming Luo.
"Ada orang lain disini, Fei Rong..." kata Ming Luo yang mulai gelisah hingga ia tanpa sadar mencengkram pundak kekasihnya yang mana membuat Fei Rong segera menenangkannya. Secara perlahan pun Ming Luo menurunkan kakinya yang sebelumnya sempat melingkar di pinggang Fei Rong.
"Tenanglah. Lebih baik kita diam dulu." ujar Fei Rong sambil mengernyitkan keningnya. Ada gurat kesal disana.
"Sial. Siapa yang berani menggangguku.!" geram marah Fei Rong dalam hati.
"Apa-apaan itu! Kami hampir saja mencapai tujuan, sudah ada yang datang. Mengganggu saja!" maki Ming Luo tak kalah kesal dalam hatinya, walau ia terlihat cemas.
Rayan berdehem tanpa suara, kemudian melanjutkan.
"Bagaimana?!" terdengar suara gadis kecil yang terdengar bertanya menggema ke telinga Ming Luo dan Fei Rong, Mereka menyimak pembicaraan yang terjadi di balik dinding kayu itu sampai mengernyit di buatnya.
Sepasang kekasih itu saling pandang seolah sorot mata mereka berkata, 'itu suara seorang gadis kecil...!'.
"Menjijikkan!" suara selanjutnya terdengar seperti suara seorang pemuda yang lugas dan sinis.
"Fei Rong..." panggil Ming Luo dengan perasaan yang mulai di rundung gelisah. Takut bila ada yang melihat dirinya di tempat seperti ini dengan seorang pria, terlebih tampak sedang melakukan hal yang tak umum di lakukan seorang gadis bermartabat dari keluarga terpandang seperti dirinya. Apalagi saat mendengar suara itu begitu sinis.
"Ssstt... Aku tahu... Tenanglah, ada aku!" balas Fei Rong pun mencoba menenangkan.
"Hehehe... Jadi, kau masih menginginkannya? Jika aku jadi kau, aku tidak akan Sudi meminang gadis murahan seperti dia." kekeh suara gadis kecil itu membalas suara pemuda yang tadi.
Deg!
Kalimat itu tanpa sadar menusuk telak ke hati Ming Luo. Membuat cengkramannya semakin menguat tanpa sadar. Sedang Fei Rong yang turut mendengarnya menggertakkan gigi dengan rahang yang mengetat marah. Seolah tak terima akan perkataan tersebut, padahal kalimat itu bukan ditujukan untuk kekasihnya.
Meskipun sebenarnya memang ditujukan untuk Ming Luo.
"Cih. Kau pikir aku sudi. Mengingat bagaimana tubuhnya di sentuh oleh pria lain saja sudah menunjukkan kalau ia tak punya harga diri. Aku tidak habis pikir! Apa sebegitu tidak sabarnya dia menunggu hari pernikahan kami?! Ugh! Kami?! Apa yang ku katakan!" suara selanjutnya terdengar sarkas penuh hinaan dari si pemuda.
Fei Rong dan Ming Luo masih terus menyimak pembicaraan itu. Tanpa sadar memupuk amarah yang tak jelas.
"Dia memang begitu. Kudengar di sangat mencintai pria itu sampai-sampai mengabaikan larangan ayah agar tidak berhubungan dengan dia. Tapi, apa boleh buat kakakku itu sudah dibutakan oleh cinta."
"Huh! Cinta katanya?! Cinta sampai merendahkan diri seperti itu?! Kurasa dia memang sudah gila!"
"Aku tahu itu!"
"Lihat apa yang akan aku perbuat padanya. Dia berani mempermalukan ku dengan pengkhianatan padahal ia tahu kalau dia dan aku sudah terikat pertunangan. Sungguh wanita tak beradap!"
"Apa yang akan kau lakukan?!"
"Akan aku arak dia dan kekasihnya di muka umum dalam keadaan tanpa busana. Biar dia dan keluarganya serta pria itu tahu sedang berhadapan dengan siapa!"
Saat itulah Fei Rong segera menarik pergi Ming Luo dari gang itu dalam keadaan yang masih berantakan. Ia sebagai laki-laki yang hampir mendapatkan apa yang paling ia inginkan tentu saja merasa geram dan marah. Tapi, perkataan kedua orang tadi itu benar-benar memukul kesadaran mereka telak tanpa aba-aba. Membuat Fei Rong ingat akan hubungannya yang di tentang oleh ayah dari kekasihnya.
"Fei Rong... Auh!" keluh Ming Luo tersentak karena di tarik tiba-tiba.
Tap...
Tap...
Tap...
Mendapati rencananya sukses besar setelah melihat bagaimana saudarinya dan kekasihnya pergi dengan tergesa-gesa akibat ulahnya. Seketika itu juga tawa yang telah ia tahan sejak awal memulai aksi jailnya pecah begitu saja.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..."
Rayan tertawa terpingkal-pingkal sampai terduduk di tanah sembari memegang perutnya yang keram karena tertawa. Sudut matanya sampai mengeluarkan air mata.
Dia sungguh tak tahan untuk tidak tertawa.
Lama ia melepas tawa, detik berikutnya tawanya hilang dan wajahnya menjadi datar. Ia mendengus sesaat kemudian mendongak menatap ke atas. Rayan begitu karena merasakan kedatangan seseorang meski dari jarak yang agak jauh.
"Dramanya sudah selesai. Kau bisa pergi sekarang!" sinis Rayan pada sesosok yang di yakininya adalah seorang lelaki, dia duduk di ujung atap sedang memandangi ke arahnya. Rayan yakin itu, meski sosok itu memakai topeng tapi ia bisa merasakan bahwa sosok itu tengah mengamati nya.
Rayan tahu sosok itu menyaksikan apa yang sudah dia lakukan pada dua orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
anggrek violet
aduuuhhh Rayan,,,,kenapa ga biarkan aja mereka melakukannya,,,,sementara mreka bermain baru kau muncul di depan mreka biar mreka kelabakan dg keadaan mreka yg kacau balau,,,,
2022-07-06
1
Fikah Handayani
ampun dah itu klakuan 3cwe
2021-08-10
1
Dan Kougo
jempolku pada Rayuan👍👍👍🤣🤣🤣
2021-07-07
1