Malam gelap hari ini sungguh terasa mencekam berbanding terbalik dengan suasana malam yang indah bertabur bintang. Suara binatang malam yang saling menyahut menjadi pelengkap suasana.
Seperti saat ini, terlihat 3 orang gadis dengan pakaian serba hitam berbahan kulit melekat pas di tubuh mereka langsung dan jangan lupakan senjata andalan mereka, sedang berdiri menghadap sebuah bangunan yang berada tepat di tengah hutan dan mereka yakini bahwa bangunan tersebut adalah club malam yang tersembunyi namun elit.
Dilihat dari luar bangunan tersebut hanya tampak seperti kotak tanpa jendela ataupun celah. Tapi, percaya atau tidak. Di dalamnya siapapun akan menemukan kesenangan dunia yang tiada tara.
Lingkungan sunyi dan terpencil membuat orang-orang yang gila akan nikmat dunia pasti tak akan tinggal diam bila ada yang menyuguhi tempat dengan fasilitas yang sempurna. Bahkan untuk masuk saja mereka memerlukan kartu khusus.
"Kau bawa kartunya?" tanya gadis berambut pendek ikal setengah leher berwarna hitam sambil terus memandang bangunan kotak yang tidak di beri penerangan sama sekali sehingga tampak menyatu dengan gelapnya malam.
Dia bernama Reychu Velicia.
"Tentu, Sweety!" jawab gadis berambut panjang lurus yang di kuncir kepang menyamping seraya menunjukkan kartu di tangannya yang di apit oleh jari telunjuk dan jari tengah.
Dia bernama Rayan Monica.
"Baiklah! Mari kita masuk sekarang! Tidak adil bukan kalau mereka hanya bersenang-senang sendiri?!" tutur Reychu menyeringai penuh siasat. Tapi seringai itu segera luntur saat salah seorang dari mereka langsung melangkah pergi lebih dulu tanpa kata.
"HEY, RYURA! KAU MERUSAK BAGIAN PEMBUKANYA!" teriak Reychu kepada gadis berambut sebahu yang di kuncir seadanya dengan seenak jidatnya melewatinya begitu saja. Meski sebenarnya itu hanya teriakan tak berarti karena dia tak benar-benar kesal. Sudah biasa menghadapi gadis manekin hidup itu.
Dan dia bernama Ryura Jenna.
Plak!
Usai berteriak sebuah jitakan menyambutnya, membuatnya meringis sakit walau tak seberapa.
"Sialan! Kenapa kau menjitakku?" desis Reychu kesal sambil mengusap kepalanya.
"Kecilkan suaramu, wahai makhluk Tuhan yang cantik! Apa kau ingin kita ketahuan?!" terang Rayan mengingatkan.
"Ahh... Aku lupa soal itu. Hehe!" sadar Reychu cengengesan.
"Huh!" acuh Rayan jengah.
Di tengah perdebatan singkat itu suara lain menginstruksi keduanya.
"Mau sampai kapan kalian disana?!" suara itu milik Ryura seraya menoleh sesaat, kemudian kembali melanjutkan jalannya.
"Ah iya. Tunggu!" seru keduanya.
Tepat di depan bangunan tersebut Rayan melangkah maju lebih kedepan. Memandang dinding mulus tanpa ada celah di sana tapi ia yakin terdapat tempat untuk menjadi akses jalan masuk bagi mereka.
"Hmm... Siapa yang mendesain bangunan seperti ini? Menyebalkan sekali!" gerutu Rayan.
"Ayolah jangan lama-lama. Kalau tidak bisa berikan pada Ryura. Biar dia yang urus." kata Reychu kesal lantaran harus menunggu. Rayan yang mendengarnya mendelik tajam ke arahnya merasa di remehkan, tapi tak urung jua ia menyerahkan kartu tersebut pada Ryura yang berdiri di belakang sebelah kanannya meski tatapannya masih melirik tajam pada Reychu.
Merasa masih di tatap dengan tidak sedap, Reychu balas menatap sambil mengangkat dagunya angkuh. "Apa kau punya hutang?!" ketusnya.
"Huh! Kau terlalu kasar dan liar, Rey! Aku jadi penasaran pria gila mana yang mau denganmu!" sarkas Rayan seraya menceloskan pandangannya kedepan dimana saat itu juga ia melihat Ryura dengan tenang mencari pintu masuk gedung tersebut.
"Apa kau bilang..." belum sempat Reychu membalas suara gesekan mengalihkan atensinya begitu juga Ryura dan Rayan.
Greekk!
Bagai terbuat dari teknologi tercanggih abad 21, tiba-tiba saja lantai tempat mereka berpijak bergerak turun membuat Reychu yang berdiri tepat antara garis dalam dan luar lantai yang bergerak itu refleks melompat kecil memasuki kotakan lantai tersebut.
"Wah... Tak ku sangka pintu masuknya dari bawah." seru Reychu kagum.
"Norak!" celetuk Rayan dan itu terdengar oleh Reychu yang hanya acuh lantaran sudah biasa.
"Bagaimana kau melakukannya, Ryura manis?" tanya Rayan dengan nada centilnya.
Ryura hanya melirik sekilas kemudian menjawab. "Terdapat lubang segaris di bawah. Sejengkal dari lantai." jawabnya singkat dan datar tentunya membuat Rayan dan Reychu mengangguk mengerti. Mereka tidak mempermasalahkan raut wajah sahabatnya itu karena memang sudah begitu dirinya Ryura.
"Pantas saja sulit! Ternyata begini pintu masuknya." gumamnya pelan dan saat itu juga matanya di suguhkan pemandangan yang luar biasa berisik juga penuh sesak belum lagi lampu diskotik yang seperti bola terus berputar tanpa henti.
Reychu dan Rayan saling tatap kemudian sama-sama menyunggingkan senyum smirknya seraya membisikkan kalimat yang sama secara serentak.
"Let's do it!"
Sementara Ryura sudah melangkah lebih dulu melewati kumpulan manusia berlainan jenis yang saling bergoyang menikmati musik yang menggema memekakkan telinga. Tidak hanya sekadar bergoyang bahkan mereka melakukan lebih dari itu dan itu adalah pemandangan yang sangat menjijikkan.
Bukan Ryura Jenna namanya bila ia terganggu akan pemandangan tersebut. Bukan karena ia pernah merasakan nya, melainkan karena ia hidup layaknya mati. Wajah cantiknya yang cenderung manis tak pernah menunjukkan ekspresi selain datar biasa, emosinya pun tak ada lain selain tenang. Di provokasi separah apapun tak akan membuatnya menunjukkan emosi berarti sehingga ia di juluki manekin hidup.
Berbeda dengan temannya.
"Hai, tampan!" sapa Rayan seraya mengerling genit pada seorang bartender yang sedang mengelap gelas berkaki sebelum menggunakannya setibanya ia menghampiri meja bar dan menduduki kursi yang tersedia.
Bartender tampan yang baru saja di sapa gadis cantik nan imut pun membalas sapaan tersebut dengan senyum menawannya dan berujar.
"Hai, juga. Ingin di buatkan sesuatu, nona cantik?" Rayan yang mendengarnya langsung tersipu malu sampai menggigit bibir bawahnya hingga ia semakin tambah imut. Bohong bila bartender itu tak terpana.
"Tentu, wine satu! Tolong!" jawab Rayan dengan nada centilnya sambil memperbaiki posisi duduknya dengan melipat tangan kirinya di atas meja bar dengan siku kanan bertumpu sembari menyangga dagunya dan menatap penuh damba pada bartender tampan di depannya. Bartender tersebut dengan senyum merekah langsung bergerak cepat untuk menyiapkan minuman yang di minta seorang bidadari cantik di hadapannya.
"Sungguh tampan!" gumamnya dalam hati saat matanya menangkap objek cuci mata yang begitu menyegarkan.
Salah bila sikapnya itu di artikan kalau ia seorang playgirl atau pemain. Mungkin perilakunya akan membuat orang berpikir demikian tapi perlu di garis bawahi bahwa dia hanya pengagum pria tampan dan sikap manja kecentilannya tak lebih dari memang begitu diri dianya. Meskipun dia seorang pengagum pria tampan tetap saja belum ada yang bisa menyentuh hati nya. Hati seorang Rayan Monica.
Terlebih sahabat satunya Rayan dan Ryura.
"Astaga... Luar biasa sekali tempat ini! Siapa sebenarnya orang yang berpikir untuk membangun tempat seperti ini hanya untuk kesenangan dunia semata. Sungguh boros!" komentar Reychu sambil terus melangkahkan kakinya berkeliling bangunan kotak yang ternyata isinya bagai dunia lain. Penuh manusia yang bertingkah seolah tak punya beban dalam hidupnya.
Dia mengamati dengan seksama seraya merekam semua yang dilihatnya kedalam memori otaknya guna melancarkan aksi dia dan kedua sahabatnya nanti.
Saat sedang asyik-asyiknya berjalan sambil menikmati apa yang di suguhkan meskipun tak ada yang sedap di pandang dan justru membuatnya jijik itu, sesuatu mengejutkannya hingga bergerak cepat untuk bersembunyi di balik dinding lorong.
"Hehehe... Tak ku sangka secepat ini akan menemukan targetnya!" serunya pelan seraya mencuri-curi pandang sekaligus berjaga-jaga dari sekitar yang mungkin akan mencurigai nya.
Dapat dilihat oleh matanya. Seorang pria tampan menyeret masuk seorang gadis muda yang menangis memberontak minta di lepas hingga pria itu menggeram kesal langsung memanggul gadis tersebut dan memasukkannya ke dalam kamar yang pintunya tampak besar seperti menunjukkan kalau itu adalah ruangan khusus atau VVIP.
"Huh! Predator **** rupanya! Menjijikkan! Kenapa masih hidup saja dia!" gerutunya kesal dengan masih melihat kearah hilangnya pria tampan dan seorang gadis malang.
Di tengah-tengah kekesalannya, sebuah ide melintas di otaknya. Dia tersenyum manis namun mencurigakan.
"Hmhm... Sesuatu yang menyenangkan akan terjadi, sayang sekali bila di lewatkan." ujarnya yang langsung menegakkan tubuhnya dan mulai kembali berjalan dengan santai menuju pintu tersebut.
Katakanlah ia lancang. Bagaimana bila didalam kamar itu sesuatu sedang terjadi? Tapi, bukan Reychu Velicia namanya bila tak membuat kehebohan karena ia terkenal akan kegilaannya dalam melakukan segala sesuatu.
Berdiri tepat di hadapan pintu besar yang berukir indah menyambut penglihatannya. Dengan gaya santainya ia merogoh saku jaket kulitnya mengambil benda pipih guna menghubungi kedua sahabatnya namun sayang sebuah sentuhan di pundaknya membuatnya terkejut bukan main.
Puk!
Dengan gerakan cepat ia hendak menyikut perut seseorang di belakangnya tapi sudah lebih dulu di tahan. Setelah di lihat ternyata itu adalah sahabatnya sendiri. Ryura.
Lega rasanya!
"Sialan kau, Ryu! Berhentilah bersikap layaknya hantu! Kedatangan mu benar-benar tak bisa kurasakan! Menyebalkan!" omelnya berbisik yang hanya di diami oleh Ryura, Reychu hanya bisa menghela nafas karena tak tahu harus apa pada satu makhluk Tuhan yang satu ini.
"Kau dari mana? Aku baru saja akan menghubungi kalian." katanya lagi.
Tanpa banyak bicara Ryura langsung mengangkat tangannya dan memperlihatkan apa yang ia bawa sejak tadi. Reychu tertawa senang melihatnya namun segera ia tahan karena tak ingin terdengar oleh orang lain.
"Baiklah, lakukan yang harus kau lakukan. Aku akan menelpon Rayan dulu." katanya sambil memundurkan diri dan segera melakukan panggilan.
"Halo, Ray! Kemarilah sekarang! Kami sudah menemukannya dan berhentilah menggoda pria! Aku tak akan menolongku bila salah satunya tertarik padamu!" tanpa mau menunggu jawaban dari Rayan, ia langsung menutup sepihak panggilannya.
Sementara Rayan yang masih duduk manis di kursi bar dengan di temani bartender tampan pun tak bisa menutupi kekesalannya pada sahabat tersayangnya yang satu itu. Gerutuan kesal lolos dari bibir ranum bergincukan merahnya.
"Hah! Benar-benar, si gila ini!!"
"Ada apa, nona?" tanya bartender itu tanpa sungkan karena merasa sudah akrab akibat perbincangan sesaat tadi.
"Eh... Tidak, tidak. Tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya aku harus pergi sekarang. Temanku sudah menelpon. Jadi, maaf aku tak bisa berbincang lama denganmu." ucap Rayan sedih dan itu membuat bartender merasa berarti.
Meski sebenarnya Rayan sedih karena belum merasa lama menikmati wajah tampan bartender tersebut tapi malah sudah di panggil. Alhasil mau tak mau ia harus beranjak karena ini juga bagian dari tugas bukan sekadar bersenang-senang.
"Ah.. tidak apa-apa. Pergilah. Semoga kita bertemu di lain waktu." senyum manis nan teduh penuh pengertian milik bartender itu mampu membayar lunas kesedihannya yang tak bisa berlama-lama menikmati wajah tampannya yang seratus persen di yakinnya asli tanpa ada oplas-an.
"Baiklah. Senang bertemu denganmu! Bye-bye!" katanya dengan manis dan segera melenggang pergi meninggalkan bartender tampan itu bersama keterpesonaannya pada Rayan.
"Haaahh...! Kawaii!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
Oi Min
Wkwkwkwkwkwk...... Rayyan kek aq. Aq jg pecinta pria tampan dan cewek cantik. Pokoke sing apik2.
2022-09-04
1
Mrs.R
kakak kakak sekalian mapir ke cerita Novel ku yukk....bantu ramaikan. mohon 🙏baca sekali saja 😁 biar tau bagus atau gak. Ceritanya cukup menari ko...bantuya..kakak
Judulnya: ROHAINI YOU LOVE ME.
Jika sesui dengan karakter atau kesukaan kakak jangan lupa vaforit dan like 😉
Terimakasih......
2022-04-04
2
pristiana
😊😊😊😊👍👍👍
2022-03-29
2