Rayan keluar dari gubuk atau gudang jerami dengan wajah di tekuk jengkel, tapi begitu melihat rumah bergaya kuno ia terkesima. Biasanya segala yang kuno atau bersejarah hanya bisa ia lihat lewat drama kolosal ataupun museum sejarah dan hal itu mengingatkan ia saat sedang menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya ketika mereka menganggur dari pekerjaan dengan menonton drama kolosal di TV saat di masa modern.
Sungguh ia jadi rindu saat-saat itu.
Nostalgia nya runyam ketika seseorang yang tadi berteriak memanggilnya kini telah berdiri angkuh di hadapannya.
"Akhirnya keluar juga kau." ujarnya sarkas sambil berkacak pinggang, siapa lagi kalau bukan si kepala pelayan yang gendut itu. Menurut ingatan Rayan, ia bernama Ge Duo Yen.
Mengeja nama itu di benaknya membuat Rayan nyaris menyemburkan tawanya. "Ge Duo Yen?! Kenapa tidak sekalian Ge-De-Nya... Pfft!" gumamnya dalam hati serta menahan diri agar tawanya tidak lepas.
"Sekarang tugasmu adalah berbelanja! Jangan lemah! Kau pikir hanya kau yang kerja! Dan ingatlah, kau tinggal disini tidaklah gratis! Anak haram sepertimu sebenarnya tidak akan pernah punya tempat tinggal! Hanya aib yang tak berguna!" hinanya panjang lebar. Sebenarnya ia merasa sedikit ada yang aneh dari gadis di depannya, entahlah apa itu?! Hanya saja tampak seperti lebih segar dan indah di pandang mata. Tapi, ia segera mengenyahkan pemikiran itu karena sangat tak mungkin hal seperti itu terjadi.
Rayan yang mendengar kalimat hinaan sepanjang dan selancar itu tanpa hambatan tak bisa untuk tidak mengepalkan tangannya dengan wajah yang di usahakan seperti Yu Rayan sebelumnya, karena ia harus menjalankan permainannya dengan apik. Jujur saja, ini kali pertama ia mendapat hinaan sekasar itu walaupun dulu juga ia adalah seorang yatim piatu sehingga tak tahu apakah ia anak haram atau bukan. Tapi, hidupnya damai tanpa ada bully-an.
"Huff... Sabar Rayan... Jadilah, seperti Ryura yang takkan pernah terpengaruh hanya dengan kata-kata seperti itu. Dan ingat, kau Rayan Monica. Oke... Rayan Monica." katanya dalam hati guna memenangkan diri agar tak sampai mengeluarkan amarah berlebih atau orang akan curiga bila dirinya bukanlah Yu Rayan, mengingat Rayan sebelumnya hanyalah gadis yang selalu menerima di perlakukan layaknya budak dengan harapan tidak di jual untuk menjadi wanita penghibur di rumah bordil.
Menyodorkan sebuah keranjang anyaman dengan kasar ke arah Rayan dan di sambut terkejut atau lebih kepada menahan diri. Saat ini Rayan hanya bisa bersabar agar rencana bermainnya tidak gagal. Lagipula dia tak bisa asal melangkah di tempat baru yang mungkin memiliki banyak misteri seperti yang pernah ia tonton. Kekuatan, misalnya.
"Itu uang dan daftar belanja. Lakukan dengan benar atau kau akan tahu akibatnya! Huh!" usai melontarkan kalimat gertakan Ge Duo Yen langsung berbalik untuk beranjak pergi. Di rasa sudah jauh barulah Rayan unjuk diri.
"Hah... Hah...! Benar-benar sial!" sambil mengipas wajahnya yang terasa gerah dengan tangan. "Tunggu saja pembalasan dari ku!" katanya dengan suara pelan agar tak ada yang mendengar.
Tak ingin tiba-tiba wanita gendut itu datang dan memarahinya lagi, Rayan memutuskan segera beranjak dari sana sekalian ia ingin tahu seperti apa perwujudan pasar di masa ini bila di lihat secara langsung.
Mengikuti apa yang ada dalam ingatannya, akhirnya Rayan menemukan yang namanya pasar tradisional. Lagi-lagi Rayan di buat terkesima. Pasar di masa ini tak jauh berbeda dari pasar di masa modern. Hanya bedanya yang saat ini ia lihat adalah nyata sedang yang ia tonton dulu hanya duplikatnya saja.
Senyum indah merekah di wajahnya, terlebih saat matanya menangkap beberapa pria tampan dengan berbalut pakaian yang menunjukkan bahwa ia adalah dari kalangan atas. Selain warnanya yang mencolok bahan kainnya pun hanya dengan sekali lihat Rayan tahu kalau kain itu terbuat dari kualitas terbaik.
"Ck! Aku juga mau!" rengaknya dalam hati, ia juga menginginkan pakaian mahal seperti yang di kenakan para orang berada itu. Maklum ini adalah Rayan Monica bukan Yu Rayan.
Tak ingin nantinya ia khilaf sampai menggunakan uang yang di berikan untuk belanja, akhirnya ia pun beranjak ke area pasar untuk secepatnya membeli semua yang ada dalam daftar walaupun ia tak ingin melakukannya. Bukan tak bisa berbelanja apalagi berbelanja di pasar tradisional yang saat di masa modern hanya Rayan dan kedua sahabatnya datangi saat mereka sedang ingin memakan makanan yang hanya bisa di dapat di pasar tradisional. Dan lagi pasar tradisional nya juga sudah mengalami banyak perubahan sesuai dengan kemajuan jaman. Jadi, ini adalah hal baru untuknya sekalipun ia memiliki ingatan pemilik tubuh.
Matanya melotot tak percaya melihat bahan makanan yang ia pegang saat ini sungguh tak layak apalagi untuk di makan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menggelengkan kepalanya dengan ekspresi takjub.
"Luar biasa! Sungguh murah hati dan kaya raya!" ujarnya yang sepenuhnya adalah ledekan.
Di depan gadis yang tak lain adalah Reychu si permaisuri tak di anggap a.k.a Reychu si gadis gila, terpampang nyata setumpuk bahan makanan yang terdiri dari sayur dan buah, itupun layu dan mulai mengeluarkan bau seperti halnya sayur atau buah yang melembek dan membusuk. Meskipun baunya tak semenyengat bangkai tapi tetap saja, hewan herbivora pun akan berpikir dua kali untuk memakannya.
"Kaisar, oh kaisar... Sungguh raja yang dermawan dan baik hati. Tak heran mengapa permaisuri mu cepat sekali menemui ajalnya. Asupan makanan yang di berikan saja luar biasa lengkap. Lihatlah semuanya bergizi!" tuturnya terselip kejengkelan dan hinaan berbentuk kiasan untuk suaminya. Eh?! Suami pemilik tubuh maksudnya.
Mana sudi Reychu Velicia mengakuinya sebagai suami. Di kehidupan sebelumnya saja ia tak pernah terpikirkan untuk membangun sebuah keluarga padahal usianya sudah cukup matang. Eh, sekarang saat di hidupkan kembali statusnya malah menjadi seorang istri. Mana terima dia.
Otak gilanya sebenarnya sudah menyimpan rencana untuk membuat kaisar menjatuhkan titahnya agar mencabut gelar permaisuri nya atau dalam kata lain menceraikannya. Tapi, tentu saja tidak dengan tergesa-gesa. Ia akan membuat sebuah alur skenario seperti yang pernah dilakukan oleh selir agung Gong Dahye saat ingin merusak nama baik permaisuri di depan kaisar bahkan seluruh penghuni istana. Skenario yang akan berakhir dengan penyesalan seorang kaisar yang katanya hebat dan pintar dalam memajukan kekaisaran nya hingga menjadi di takuti dan di segani.
"Huh! Apa hebatnya seorang pria dalam meninggikan derajatnya kalau menjadi pemimpin rumah tangga saja tidak becus." ejeknya sambil tersenyum sinis.
Mengambil posisi berkacak pinggang. "Baiklah! Seperti yang aku katakan tadi. Bila tak ada yang bisa di makan, maka aku akan keluar dengan atau tanpa izin si kaisar. Tapi, sebelum itu aku harus bersiap-siap. Bagaimanapun aku tak ingin kecolongan dalam hal sekecil apapun. Siapa yang tahu 'kan kalau di luar sana ada yang mengenaliku. Bisa-bisa sebelum rencanamu berjalan aku sudah di penggal duluan. Huh! Tak akan!" katanya panjang lebar seraya berbalik kembali ke kamar guna bersiap-siap. Tapi sebelum itu ia mengambil sebuah pisau dapur yang sedikit menghitam karena karat untuk berjaga-jaga, siapa tahu ia butuh.
Usai bersiap-siap dengan penampilan yang bukan Reychu 'banget', namun saat ini itu bukanlah prioritas utama. Biarkan Kumal dan tampak seperti gembel, setidaknya tak di ketahui itu sudah sebuah pencapaian. Apalagi dulu ia dan kedua sahabatnya sering melakukan penyamaran dalam model apapun, bahkan menjadi orang cacat sekalipun. Jadi, hal ini bukanlah masalah besar.
Di pasangkannya cadar dan di ikat rambutnya dengan asal. Biarkan saat ini ia menjadi dirinya sendiri yang selalu sesuka hati berpenampilan. Di kehidupan sebelumnya ia saja pernah berbelanja ke mall hanya menggunakan kaos oblong kebesaran dengan celana tidur bermotif polkadot beralaskan sandal rumah berbulu yang terdapat kepala dombanya, jangan lupakan kacamata tidur yang masih melingkar di keningnya dengan rambut pendek yang acak-acakan lantaran tak sempat di sisir.
Ia ingat sekali saat itu, Rayan tengah datang bulan sedang Ryura tengah memasak sarapan pagi. Reychu yang masih bergelung dalam selimut menjadi sasaran Rayan untuk meminta tolong membelikan pembalut karena pembalut miliknya telah habis, sementara ia tak ingin memakai milik sahabatnya hanya karena berbeda merek.
Akhirnya dengan malas dan masih mengantuk Reychu beranjak pergi. Awalnya ingin ke minimarket terdekat saja, eh. Minimarket nya malah tutup. Ingin ke supermarket pun berakhir sama. Akhirnya dalam keadaan kesal dan jengkel ia segera kembali kerumah untuk mengambil mobil dan membawanya menuju ke mall. Jadilah ia di sana menjadi pusat perhatian, namun bukan Reychu namanya bila ia peduli.
Kembali ke sekarang.
"Aku jadi rindu masa-masa dulu..." gumamnya lesu.
Krucuk... Krucuk...
Perutnya kembali berbunyi. "Kau sangat lapar rupanya... Baiklah, mari kita cari makan di luar sembari melepas lelah karena pikiran dan hati."
Dengan langkah seribu ia pun pergi ke arah belakang yang seperti dalam ingatan Ahn Reychu bahwa ada sebuah pintu reyot di balik semak-semak menjalar.
Sekarang disinilah ia. Di area pasar tradisional. Senyum indahnya melebar selebar-lebarnya. Ia sangat senang bisa melihat dunia luar selain dinding kayu kumuh di istana dingin.
Menghirup udara kebebasan adalah yang terbaik baginya. Dengan langkah riang ia membaurkan diri ke kerumunan orang-orang yang ada di pasar itu.
Banyak aroma yang terhirup oleh hidungnya. Mulai dari makanan rebusan, gorengan, bakaran, kukusan, dan lain sebagainya. Bahkan ia juga mencium aroma tak mengenakkan seperti bau badan orang-orang yang menyatu satu sama lain. Tapi setidaknya aroma makanan lebih pekat dari pada bau badan.
Menghampiri setiap tempat untuk melihat makanan apa yang di jual. Seperti saat ini, ia tengah mendatangi seorang pria paruh baya yang sedang membolak-balikkan daging bakarnya.
"Hai, paman. Apa yang paman bakar kenapa aromanya sedap sekali?" sambil memfokuskan pandangannya ke arah daging yang tengah di bakar. Pria yang di panggil paman itu tersenyum mendengar pertanyaan gadis yang berpenampilan kumuh di depannya tapi entah mengapa ada sesuatu yang memancar dari dalam dirinya. Sesuatu yang istimewa?! Entahlah.
"Bebek. Kau mau?" tawar si paman.
Wajah Reychu seketika menjadi menyedihkan meskipun dengan menyengir malu. "Hehe. Paman, sepertinya tidak sekarang. Aku tak punya uang dan rencananya aku ingin mencari uang dengan cepat tapi bukan dengan cara mencuri. Apa paman punya saran?" jelasnya dan bertanya tanpa malu atau ragu, membuat pria paruh baya itu lagi-lagi tersenyum tak menyangka masih ada yang bersikap jujur seperti gadis yang bila melihat matanya saja sudah bisa di tebak bila ia memiliki paras yang cantik.
"Haha... Kau jujur sekali anak muda. Tapi, bila kau meminta saran akan aku berikan." jawabnya senang karena gadis didepannya sangat sopan dan terkesan lugu. Tak tahu saja ia seperti apa sosok Reychu sebenarnya.
"Wah... Paman baik sekali. Kalau begitu apa sarannya paman?" tanya Reychu tak sabar apa lagi perutnya terus saja meronta minta segera diisi.
"Sebenarnya aku tak yakin apa usulku bisa kau lakukan. Ini agak berat."
"Tak apa paman. Katakan saja. Bagaimana aku tahu itu berat kalau aku tak tahu apa itu."
"Baiklah. Begini. Di depan sana sedang di adakan semacam pertunjukan adu fisik dengan hadiah uang." menunjuk ke arah kerumunan yang terlihat kecil dari jauh namun padat. Bisa di pastikan sangat ramai di sana. Reychu jadi semakin bersemangat untuk tahu pertunjukan macam apa itu.
"Adu fisik?!"
"Iya. Adu fisik. Seperti pertarungan beladiri untuk melihat siapa yang kuat. Tapi, biasanya yang ikut hanyalah para laki-laki." jelas si paman dengan sedih lantaran kasihan pada gadis di depannya pasti sangat tak mungkin mengikuti hal semacam itu. Tapi, sepertinya pemikiran nya salah dilihat dari betapa berbinarnya mata gadis di depannya saat ini.
"Wah, sungguh paman?! Adu fisik, seperti bertarung begitu?! Wah... Luar biasa!" katanya dengan semangat yang tinggi.
"Tapi, jangan memaksakan diri, anak muda. Kau akan terluka nantinya. Cobalah cari yang lain saja." cegah si paman khawatir.
Reychu menggelengkan kepalanya cepat. "Paman tak perlu khawatir. Meskipun kelihatannya aku tidak mampu. Tapi, percayalah paman. Aku akan memenangkan adu fisik itu dan membawa hadiah uangnya. Dan akan kembali kesini untuk membeli daging bakar milik paman ini. Percayalah." tuturnya meyakini. "Kalau begitu aku pergi dulu." tanpa menunggu balasan dari si paman ia langsung melesat pergi menuju tempat pertunjukan itu dengan berlari meninggalkan sang paman yang dalam keadaan menganga hendak mengucapkan kalimat nya.
"Huh! Gadis yang sangat bersemangat! Ku harap kau baik-baik saja." gumamnya kembali ke pembakaran dagingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
°nina°
ge dou ye aku baca nya malah jadi ga doyan
2023-08-03
0
°nina°
seketika aku pun tersedak waktu mengeja nya
2023-08-03
0
Dikaa
bertele"
2021-09-03
2