Seekor kuda bersama penunggangnya melewati jalanan di sekitar hutan menuju sebuah pemukiman yang di kenal dengan nama Desa Danpyo. Desa terakhir di negara api, dekat dengan Hutan Panas. Dimana di sana juga lah danau terbesar di negara tersebut berada.
Danau An-An.
Di sebut sebagai hutan Panas dikarenakan hutan tersebut meski rindang dan tumbuhan tumbuh dengan lebatnya. Hawa yang berada di dalam hutan itu bisa di katakan panas, atau lebih sering terasa hangat bila masuk musim dingin, semi, dan gugur. Bila sudah masuk musim panas, barulah hawa di dalam hutan tersebut benar-benar terasa memanggang. Membuat siapa saja pasti memilih untuk tidak menggunakan jalur di hutan Panas bila ingin menuju perbatasan barat negara api, kerajaan Huoli.
Sebuah gerbang desa Danpyo telah terlihat menjulang di depannya. Dapat Ryura lihat, beberapa orang berlalu lalang di balik gerbang itu. Tak hanya orang, ia juga bisa melihat beberapa bangunan rumah sederhana di beberapa titik tersusun berjarak satu sama lain.
Ryura pun menuntun Furby untuk memasuki gerbang desa tersebut dengan berjalan santai. Tak mungkin kan ia harus memacu kudanya di tengah-tengah masyarakat. Walau tidak tampak padat, tapi tetap saja, orang-orang itu sudah lebih dari dua.
Furby dengan tubuhnya yang terlalu besar daripada kuda umumnya berhasil menarik perhatian penduduk desa Danpyo.
Ada yang memandang takjub lantaran Furby adalah kuda yang amat menawan dengan bulu hitam legamnya serta rambutnya yang panjang berkilau belum lagi tubuhnya yang gagah. Tapi, ada juga yang memandangnya takut dan ngeri. Bahkan ada dari mereka yang bersikap siaga karena curiga atas kedatangan Ryura dan Furby.
Wajar bila berpikir dan bersikap demikian. Ryura dan Furby terlihat asing bagi mereka, terutama bila melihat kuda yang sesungguhnya mereka yakini tidak terlahir di negara api. Karena meskipun desa berada di ujung barat dekat danau An-An dan perbatasan bagian barat, mereka cukup di bekali dengan ilmu sebab sang kaisar kerajaan Huoli selalu ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat dan negerinya.
Namun, sayang apapun persepsi mereka tentang Ryura dan Furby. Sama sekali tak membuat kedua makhluk berbeda spesies itu terusik. Ryura tetap dengan wajah datar biasa seolah tidak sedang menjadi objek pengamatan dan Furby hanya bersikap layaknya kuda pada umumnya.
Setelah seperempat jalan memasuki desa Danpyo, sekelompok warga bergerak menghadangnya. Beberapa diantara mereka bahkan telah membawa tombak dan pedang sebagai persiapan.
"BERHENTI!" teriak seorang pria tua berambut dan berjanggut panjang yang telah memutih dengan lantang seraya menodongkan tongkatnya.
Melihat hal itu Ryura hanya diam tak bergeming. Tapi, tangannya bergerak untuk menepuk pelan leher Furby bermaksud memintanya untuk menghentikan langkahnya dan Furby tak punya alasan untuk menolak.
Pria tua yang lebih pantas dipanggil penatua itu diam menatap gadis yang masih duduk anteng di atas kuda besarnya dengan mata melotot. Berpikir bila dia melakukan hal itu gadis itu akan takut atau paling tidak ia akan segan sehingga mau turun dari kudanya dan menghadap guna menjelaskan sesuatu padanya mengenai kehadirannya.
Tapi, sayang. Ryura tak bergeming, begitupun kudanya. Mereka diam bak patung.
Lama menunggu respon yang diinginkan, namun tak kunjung di dapatnya. Maka, penatua itu kembali bersuara.
"Dasar tak punya sopan santun!" gumamnya berdesis geram dengan mata terpejam rapat.
Orang-orang di belakang penatua itu memandang kesal kearah Ryura yang bersikap tidak sopan pada yang lebih tua padahal dia hanya seorang pendatang.
Mata berhias keriputan itu terbuka dan menatap tajam pada Ryura. "SIAPA KAU? APA MAU DAN TUJUAN MU DATANG KE DESA KAMI? BILA KAU DATANG HANYA UNTUK MEMINTA KAMI MENJADI PEMBERONTAK, MAKA ENYAHLAH. ORANG SEPERTI KALIAN SUNGGUH TAK PANTAS HIDUP!" bentaknya hingga terengah-engah. Sampai salah seorang di sampingnya spontan mengusap punggungnya untuk menenangkan si penatua.
Mendengar sebuah kalimat yang tak masuk akal bagi Ryura membuat ia menelengkan kepalanya sedikit seraya bergumam. "Pemberontak?! Aku?!" suara itu terlalu kecil hingga hanya dapat di dengar oleh Furby.
"Fheurrbb!" kini Furby ikut bersuara, mengajak Ryura berbicara. Sedang para penduduk desa tak menganggap suara Furby berarti karena mereka tak tahu makhluk jenis apa kuda besar nan gagah itu.
"Sepertinya, sesuatu telah terjadi di desa ini!"
"Hmm." dehem Ryura membalas perkataan Furby setelah baru saja suara kudanya itu memasuki pikirannya. Seperti mereka telah terhubung hingga dapat bertelepati.
"PERGILAH DARI SINI! KAMI TIDAK PERNAH MENERIMA ORANG-ORANG YANG TIDAK TAHU DIRI SEPERTI KALIAN! PERGI!" bentak penatua itu lagi. Membuat para warganya ikut angkat suara.
"YA, PERGI KAU! DAN JANGAN KEMBALI!"
"KAMI TIDAK AKAN TERMAKAN OLEH BUJUKAN KALIAN!"
"******** KALIAN SEMUA!"
"ENYAHLAH! KAU HANYA AKAN MEMBAWA MALAPETAKA KEPADA KAMI!"
Teriakan dan umpatan serta tuduhan itu terus di layangkan untuk Ryura, namun itupun tak mampu membuat Ryura bergeming barang sedikitpun.
Bila tindakan sekelompok warga desa Danpyo telah kelelahan akibat amarah yang mereka keluarkan, maka lain halnya dengan Ryura yang tak terganggu sama sekali. Ryura tahu umpatan itu bukan untuknya, mereka hanya sedang salah paham.
Mata indah gadis berwajah datar itu berkedip tenang, setenang hembusan angin saat ini yang mana membuat surai panjangnya yang indah tak terikat bergerak menari-nari mengikuti irama angin berhembus.
"Kurasa kalian telah salah orang." celetuknya santai dengan wajahnya yang tak juga menunjukkan ekspresi apapun. Kosong itulah yang di lihat oleh sekelompok warga desa Danpyo tersebut.
"Apa?! Tidak mungkin!" elak penatua tegas.
"Terserah! Setidaknya aku telah mengatakannya." lugasnya setenang air danau.
Mendengar itu penatua tersebut pun terdiam seraya mengamati sosok gadis tak berekspresi yang juga tak beranjak turun dari punggung kudanya.
Entah mengapa, ia tak bisa tidak percaya pada apa yang di katakan oleh gadis manis di depannya. Seperti, sesuatu telah menegaskan padanya bahwa yang tengah ia hadapi adalah sosok yang lain dari yang lain.
Sesosok manusia yang tak bisa ia rasakan jiwa manusianya, seperti ambisi, emosi, ego, dan lain sebagainya. Bahkan penatua yang di kenal hebat di desa Danpyo itupun tak bisa membaca apapun melalui wajah dan sorot matanya. Kosong, itulah yang bisa ia ungkapkan untuk menjelaskan sesuatu pada diri gadis manis itu.
Mengetahui hal tersebut, penatua itu menjadi bingung sendiri. Bagaimana gadis semanis Ryura bisa bertahan dengan dirinya yang seperti itu. Bahkan, penatua itu juga entah bagaimana sampai berpikir ambigu, 'apakah gadis itu memiliki nafsu layaknya gadis normal?!'.
Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya membuat penduduknya heran melihatnya.
"Kepala desa, anda baik-baik saja?!" tanya seorang pria yang tampak berusia 30 tahunan itu pada penatua yang ternyata adalah seorang kepala desa di desa Danpyo.
"Ehem... Aku baik!" jawabnya setelah berhasil menetralkan pikiran nakalnya yang masih saja terlintas maski ia tahu kalau ia sudah tua.
Furby menatap sinis kearah kepala desa tua itu, kemudian bertelepati. "Pikirannya sungguh tak pantas!"
Ryura yang menerima telepati itu segera melirik Furby, lalu kembali melihat kepala desa tua itu. Ia hanya acuh.
"Lalu, kau mau apa ke desa kami?" tanya kepala desa dengan baik-baik, sukses membuat warganya tersentak hingga memberinya tatapan tak percaya.
"Hanya lewat."
"Kepala desa! Anda percaya padanya?! Lihat dia! Penampilannya... Kudanya... Apakah anda yakin kalau dia bukanlah salah satu dari mereka?" serbu salah seorang warganya yang di iyakan oleh yang lain.
"Tenanglah! Aku mengerti apa maksud kalian... Jadi, biarkan aku mengambil jalan aman terlebih dahulu." sergah kepala desa tua itu dengan suara pelan.
Tak tahu saja ia bahwa suaranya dapat di dengar oleh Furby.
"Baru sadar rupanya!"
Ryura tak menunjukkan tanda-tanda peduli. Dia tetaplah dia.
Mengusap janggut panjang putihnya. "Baiklah... Ehem...! Kau hendak kemana, gadis muda?! Tahukah kau, kalau kau saat ini sedang berada di desa Danpyo yang terletak di bagian barat negara api, kerajaan Huoli?! Dan lagi ini dekat dengan perbatasan barat. Tak mungkin bila kau hanya ingin lewat saja!" katanya masih tak percaya.
"Aku memang mau lewat." jeda Ryura. "Lagipula, aku tidak punya urusan dengan desa ini." terangnya singkat.
"Kalau begitu, kemana tujuan mu sebenarnya?"
"Ibu kota!" lugas Ryura dalam mode tenangnya.
"Ibu kota?!" cerna si kepala desa tua itu. "Jarak ibu kota memang tidak terlalu jauh dari sini. Tapi, kau harus melewati Padang rumput api liar bila ingin kesana." jelas kepala desa tua tersebut memberitahu.
"Padang rumput api liar?" cerna Ryura.
"Hm. Padang rumput api liar adalah sebuah lahan yang masuk dalam kawasan desa Danpyo, dimana sebuah tumbuhan rumput yang berwarna merah menyala layaknya api yang membara dengan ukurannya yang panjang dan berduri. Bila ada seseorang yang terkena duri rumput tersebut, maka dia akan terkena racunnya. Dimana orang tersebut akan merasakan tubuhnya terbakar, minum ataupun berendam air tak akan bisa menghilangkan racun tersebut." jelas kepala desa tua itu menarik nafas dulu sebelum melanjutkan.
"Tapi, racun itu akan segera hilang bila sudah 30 jam. Itupun bila orang tersebut mampu bertahan selama itu. Atau dengan menggunakan penawarnya, yaitu buah yang tumbuh di akar rumput api liar itu sendiri. Selain ukurannya yang kecil, buah itu juga sulit di dapat karena tak semua akar dari rumput api liar itu memilikinya." setelahnya kepala desa tua itu terhenyak sadar.
"Mengapa aku mengatakannya padamu?!" tanyanya yang sebenarnya termasuk pertanyaan yang konyol. Warganya hanya bisa menahan tawa ketika itu.
Ryura tetap saja acuh tak acuh. Dia masihlah seorang berjulukan 'mayat hidup'.
"Ehem." dehemnya menetralkan rasa malu akibat ulahnya sendiri. "Maafkan aku, gadis muda. Tapi, kau tak bisa melewatinya!" tegasnya melarang.
Ryura tak bergeming, begitupun Furby.
Karena tak mendapatkan balasan, kepala desa tua itu melanjutkan kalimatnya.
"Karena kau mengatakan bahwa kau bukanlah bagian dari orang-orang yang kami maksud. Maka, kau di wajibkan melakukan sesuatu sebelum kau ku perbolehkan melewati desa yang ku kepalai ini. Bagaimana? Kau setuju?" tawar kepala desa tua itu penuh misteri.
Ryura hanya menatapnya datar tanpa minat.
Danau An-An.
Padang Rumput Api Liar.
Dari: *LeoRa_😋
hai3... sahabat pembacaku sekalian...
sebelumnya aku mau ucapin.
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN...
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN...
UNTUK SAUDARA SEIMAN SEMUANYA**...
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 🙏🙏🙏🎉🎉🎉**
Semoga kalian semua mau memaafkan aku yang mungkin sering membuat kalian kesal karena lama nunggu update-an karya ku ini.
Tapi, percayalah. selama aku selaku Author diberi kesehatan dan keselamatan, maka pastinya (insya Allah) aku bakal up trus hingga tamat.
cuma kendalanya di cepat atau lambatnya episode selanjutnya up. mohon maklum dan sabar, yaa...
terkadang saat aku ingin cepat up, review nya yang lambat. apa boleh buat?! aku pun tak berdaya akan hal itu...😩
OK... JANGAN SEDIH-SEDIH!!!
Karena author sendiri tipikal orang yang gak bisa sedih lama-lama. hehehe...
oleh sebab itu....
*SELAMAT MENANTI KARYA AUTHOR YANG BERJUDUL ***3Ry Melintas Waktu**
SEMOGA KALIAN AKAN SELALU MENYUKAINYA HINGGA AKHIR CERITA...
SEE YOU NEXT TIME, GUYS!!!
BYE2!!!
ANNYEONG....👋👋👋***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
anggrek violet
lanjut perjalanan
2022-07-06
2
EL CASANDRA
padang rumput api liar, haha itu padang bunga higanbana alias bunga kematian (bunga red spider lily)
2021-09-14
3
Aisyah Fitri
update lagi dong thor
2020-05-26
3