Orang-orang lalu lalang cukup banyak terlihat. Sampai Rayan tak dapat menghitung ada berapa model orang yang bisa ia lihat.
Bangunan-bangunan kayu yang berjejer rapi di kiri kanan jalan dengan aktivitas berdagangnya sendiri, belum lagi kios-kios kecil yang di buka di sisi jalan mulai dari kios makanan hingga aksesoris terpampang sedia disana. Hal itu membuat Rayan tak bisa menghilangkan senyum indahnya.
Sambil memeluk keranjang yang di bawanya ia berjalan santai sembari mengedarkan pandangannya menyapu suasana pasar hari itu. Jujur, dia menyukainya.
"Tak apalah kembali ke masa lalu. Tanpa alat teknologi yang canggih dan kemudahan lainnya. Ini juga tidak terlalu buruk. Masih asri!" riangnya dalam hati.
Saat asik berjalan menikmati suasana pasar, tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang hingga membuatnya terhuyung ke depan dan jatuh dengan lutut serta telapak tangan sebagai penyangga tubuhnya agar tak jatuh lebih dari itu.
Brugh!
Mata Rayan terbelalak dengan mulut menganga. Ia tak percaya akan mengalami hal menyedihkan dan memalukan seperti sekarang ini, padahal baru saja tadi ia terkagum-kagum serta terpesona dengan apa yang ia lihat dan mulai menerima kenyataan bahwa ia terlempar ke masa lalu. Tapi, sekarang...
"Iihh... Menyebalkan sekali! Kau sengaja, ya. Menghalangi jalanku?" omel orang yang menabraknya dari belakang dan ternyata hanya seorang gadis seumurannya juga seukurannya.
Mendengar kalimat yang terdengar sombong itu menyadarkan Rayan dari keterkejutannya. Segera ia bangkit lalu menepuk-nepuk telapak tangannya yang terasa perih karena lecet dan mengibaskan pakaiannya agar pasir yang menempel saat ia jatuh hilang.
Menghadap gadis yang sama tinggi dengannya, bedanya gadis itu berpenampilan mewah hingga Rayan tak perlu bertanya apa status gadis itu yang tentunya sudah jelas. Meskipun tidak secara detail.
Tak ada tatapan takut di mata Rayan, yang ada hanya jengkel serta menahan perih di telapak tangannya. Sedang gadis di depannya merasa terhina melihat tatapan berani Rayan padanya. Karena ia jijik di tatap oleh gadis rendahan seperti Rayan.
"Kau! Berani sekali kau melihatku seperti itu. Apa kau tidak tahu siapa aku?! Mau aku congkel matamu, hah?!" gadis itu melotot marah.
Rayan memutar bola matanya malas harus menghadapi gadis manja modelan begitu. Andai ia tahu siapa Rayan itu, terlepas dari marga Yu yang di sandangnya. Rayan yakin ia akan mengemis ampun padanya, apalagi Rayan lebih tua darinya.
Rayan Monica, maksudnya.
"Coba saja. Tapi, sebelum itu ku beritahu padamu. Kalau kau tak cukup menakutkan untuk ku dan aku tidak peduli siapa kau. Jadi kenapa aku harus sampai tidak berani melihat mu?! Aneh sekali kau ini!" celetuk Rayan sebagai balasannya. Tak ingin peduli, Rayan memilih mengambil keranjangnya yang tadi ikut terjatuh.
"Wah! Kau... Kau benar-benar tidak punya malu dan kurasa kau juga tak punya tata krama. Tidakkah kau harusnya sadar diri?" hina gadis itu dengan membanggakan status nya secara tak langsung.
Tangan Rayan mengepal. Kesal, itu yang kini di rasakan olehnya. Tapi, ia segera mengingatkan dirinya kalau sekarang dia hidup di masa yang berbeda, dimana di masa ini kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan adalah yang di pandang. Jika tidak karena itu , sudah pasti Rayan akan meracuni gadis sombong di depannya ini.
Dengan senyum terpaksa, Rayan membalas. "Terimakasih sudah di ingatkan. Tapi, sepertinya ada yang kurang dari ucapan mu..." putusnya sengaja.
"Apa?" tanyanya garang dan menuntut.
"Rasa malu dan tata krama juga tidak ada padamu!" sinis Rayan telak, membuat gadis itu tak terima.
"APA KATAMU?! KAU..." teriakannya di sela oleh Rayan.
"Ssstt... Seorang gadis berstatus terpandang sepertimu harus berhati-hati dalam bersikap. Tidakkah kau malu sudah berteriak hingga menarik perhatian banyak orang. Aku sebagai rakyat jelata saja tahu bagaimana cara mengendalikan diri." sindir Rayan tenang namun menusuk gadis itu sembari memberi gadis itu senyum mengejeknya.
Kini gadis itu benar-benar marah, wajahnya memerah, tangannya terkepal, sorot matanya tajam seperti siap untuk menerkam. Tapi, sayang. Semua itu tak berpengaruh bagi Rayan. Untuk Rayan, itu belumlah seberapa. Di dunia modern, Rayan bahkan pernah mendapatkan yang lebih dari itu.
"DASAR KAU RENDAHAN...!" teriaknya, Rayan sampai spontan menutup telinganya saking kerasnya suara gadis itu.
"Pakai pita suara merek apa ini bocah!" kesalnya dalam hati.
Tak ingin perdebatan tak penting itu berlanjut, akhirnya Rayan memilih berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang masih berteriak-teriak memaki dan mengumpatnya sampai suara itu mengecil termakan jarak.
Sekarang giliran Rayan yang menggerutu sepanjang jalan. Rasa dongkol nya belum bisa reda juga.
"Cih. Gadis itu sungguh membuatku kesal saja. Apa tadi dia bilang rendahan?! Ingin sekali ku robek mulutnya itu. Cantik-cantik mengerikan. Aku sumpahi gadis itu tak memiliki jodoh! Huh!!" gerutunya dengan bibir yang manyun tak tertahan. Wajahnya yang di tekuk sepanjang jalan membuat orang-orang yang melihatnya merasa heran.
Sampai kakinya menuntunnya ke sebuah kios dagangan bahan-bahan makanan pokok yang dalam ingatannya Yu Rayan terkenal lengkap dan terjamin. Dengan mood yang buruk ia menyodorkan keranjang dan daftar belanja pada si penjual tanpa melihatnya. Tapi dia tahu kalau si penjual adalah laki-laki.
"Tuan, tolong siapkan belanjaan ku sesuai daftar dalam kertas itu. Aku sedang tak punya semangat untuk memilihnya sendiri." ujar Rayan dengan wajah muramnya yang malah terlihat menggemaskan, ia bahkan tak sadar dengan siapa ia berbicara sehingga membuat si penjual di depannya memandang terkejut atas perlakuan Rayan yang terbilang unik. Ia sampai melihat keranjang dan Rayan secara bergantian.
Bagaimana tidak di anggap unik. Saat ini Rayan sedang dalam suasana hati yang tak baik, tapi masih sempat meminta tolong juga berkata jujur atas apa yang dia rasakan dan itu membuat pria muda tampan di depannya tersenyum lucu melihat wajah imut Rayan yang di tekuk dan jangan lupa bibir manyunnya.
"Tentu, nona. Akan saya bantu menyediakan semua sesuai daftar. Kalau begitu sembari menunggu silahkan duduk dulu di kursi itu." tutur pria muda tampan itu dengan ramah yang suaranya saja mampu membuat Rayan terhenyak seolah insting kepekaannya terhadap ciri-ciri pria tampan aktif seketika.
Rayan menoleh cepat setelah alarm di kepalanya mengatakan kalau ada pria tampan di sekitarnya. Dan ternyata benar adanya. Saat itu juga senyum manis Rayan terukir sempurna membuat pria di depannya tak bisa bila tak terpana. Wajah imut itu semakin menggemaskan karena senyumnya.
"Kyaaaaaaa...!!! Tampannyaaaa...!!!" teriak Rayan kegirangan dalam hati. Wajahnya sampai memerah berseri-seri.
"Tuan, apa kau yang tadi aku ajak bicara?" pria itu mengangguk menjawab.
Rayan tetap tersenyum meski di kepalanya seperti mengingat bahwa sebelum jiwanya masuk ke tubuh Yu Rayan, tidak ada pria ini di sana.
"Maaf, kau penjualnya? Tapi, seingatku bukan."
"Ah, itu... Iya, sebelumnya ayah saya yang sering turun langsung melayani pembeli. Tapi, berhubung ayah saya sedang sakit jadi sekarang saya yang menggantikannya." jelas pria itu dan tak lupa senyum ramahnya.
"Ooo... Begitu rupanya. Paman Ji Hwan Ding sedang sakit?! Sakit apa?" tanya Rayan antusias dengan memasang wajah seolah-olah ia turut cemas. Padahal itu ia lakukan agar dapat mengobrol lebih lama dengan pria tampan yang ternyata si penjual bahan-bahan pokok yang sudah berlangganan.
"Ayo, Rayan jangan sia-siakan kesempatan yang ada saat ini!" semangat Rayan dalam hati.
Melihat wajah Rayan yang terlihat cemas membuat pria yang tak lain adalah anak dari Ji Hwan Ding si pemilik sebenarnya menjadi terharu. Tak tahu saja ia kalau Rayan tak sungguh-sungguh akan hal itu.
"Nona mengenal ayah saya?" Rayan mengangguk mengiyakan. Karena nyatanya memang benar.
Yu Rayan yang asli sejak dulu sudah berlangganan dengan toko bahan-bahan pokok milik keluarga Ji. Ia juga sudah mengenal dengan sangat baik si pemilik yang ia panggil paman itu. Sikapnya yang lemah lembut dan santun namun juga pemalu membuat paman Hwan Ding merasa tak tega sehingga setiap kali Yu Rayan yang datang membeli, beliau yang selalu melayaninya sembari bercengkrama untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman. Hwan Ding bahkan melarang bawahannya untuk melayani Yu Rayan karena ia yang ingin melayaninya. Lantaran paman Hwan Ding sudah sangat menyayanginya.
Pria itu mengangguk paham. "Hanya terlalu kelelahan. Anda tahu, nona. Toko kami selalu ramai dan ayah saya yang senang melayani pembeli jadi sering melupakan kesehatannya. Padahal sudah sering di ingatkan." jelas pria itu.
"'Aa... Jadi, begitu. Apa kau mau aku membantumu memeriksa paman Hwan Ding?" tawar Rayan saat ia ingat kalau dirinya yang dulu sudah pernah mempelajari segala tentang medis terutama cara tradisional. Terlebih si pemilik tubuh mengenal baik ayah pria itu.
Anak laki-laki Ji Hwan Ding tertegun mendengar penawaran itu. Bukannya tak ingin percaya, hanya saja ia merasa Rayan masih terlalu muda untuk langsung terjun mempraktekkan apa yang mungkin dia pelajari selama ini.
"Soal itu... Saya rasa tak perlu. Maksud saya, saya sudah pernah memanggil tabib untuk mengobati ayah. Jadi, tak perlu sampai merepotkan nona..." kata pria itu sedikit ragu dan tak enak hati.
Rayan hanya tersenyum saja, ia tahu penjelasan sebenarnya bukanlah itu. "Ya ampun, tampan... Kau bilang begitu bukannya karena kau meragukanku? Tak perlu sungkan... Aku tak masalah bila kau terus terang." kata Rayan dengan nada manjanya yang akhirnya keluar. "Lagipula bukankah tidak baik menolak niat baik seseorang?! Tenang saja aku sudah lulus dalam mempelajari segala tantang medis. Yang aku butuhkan adalah kepercayaan orang yang ingin aku bantu. Tapi, aku tak akan memaksa. Semua keputusan ada padamu." akhirnya dengan manis sampai pria tampan itu menjadi malu lantaran merasa ketahuan meragukan kemampuan gadis didepannya.
"Baiklah. Lupakan saja kalau kau tak mau. Tapi, bolehkah aku tahu namamu. Sayang sekali kan, aku sudah bertemu pria tampan tapi tak berkenalan." tuturnya sambil mengedip-edipkan matanya yang justru membuat pria itu yang mendengarnya langsung tersipu malu sampai telinganya memerah.
"A... A... I..itu... Ya, t..tentu... Namaku... Ji Hwa Xin..." ucapnya tergagap.
Rayan tersenyum setelah berhasil mengetahui nama pria tampan di hadapannya. "Ouu... Ji Hwa Xin?! Nama yang bagus sama seperti orangnya!" lagi-lagi Hwa Xin di buat tersipu. Maklum, ini kali pertama ia mendengar seorang gadis secara terang-terangan dan tanpa mau mengatakan ia tampan meskipun itu benar adanya.
"Sekarang giliran ku. Kenalkan namaku, Rayan, Yu Rayan. Dan jangan terlalu formal. Biasa saja, seperti kau berbicara dengan temanmu." dengan senyum yang tak luntur sedari tadi.
"Salam kenal. Baiklah, tidak buruk." setuju Hwa Xin. "Ehem. Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu, ya. Aku harus menyiapkan pesanan mu." pamit Hwa Xin. Rayan yang mendengar itu sebenarnya merasa keberatan, tapi apa boleh buat. Ia juga punya tugas yang harus dilakukan.
"Hm. Baiklah. Silahkan. Aku akan menunggu disini... Sambil melihatmu tentunya... Hihihi..." terima Rayan sambil kalimat terakhir di lanjutkan dalam hati.
Hwa Xin langsung beranjak meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang di pinta Rayan. Sedang gadis itu, malah asik memandang Hwa Xin dengan tatapan memuja dari kejauhan. Bagaimana tidak?! Hwa Xin itu pria tampan dan Rayan adalah penggemar pria tampan. Tentu saja, pria seperti Ji Hwa Xin masuk dalam daftar pria-pria tampan yang pernah ia temui.
"Haah... Sungguh pemandangan yang indah. Kekesalan ku yang tadi teralihkan seketika. Melihat pria tampan memang mampu membuat moodku membaik. Benar-benar ciptaan Tuhan yang menyegarkan mata. Hihi..." gumam Rayan dengan suasana hati yang sangat baik berkat pria tampan si penjual bahan-bahan pokok yang bernama Ji Hwa Xin.
***Yu Rayan x Ji Hwa Xin***
Visual Cast untuk Ji Hwa Xin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
°nina°
visual cwo yg lain nya juga donk thor
2023-08-04
0
Oi Min
Ah..... Rayan, ajakin aq donk klo mau cuci mata
2022-09-04
1
Rx one 01
cieee apa kah dia jadi pasangannya
2022-03-07
1