Di dalam kamar VVIP, terdapat 3 orang anak manusia yang dua di antaranya saling meluncurkan tatapan sengit penuh kebencian sedang satunya tergeletak begitu saja. Entah hidup atau mati, pastinya ia tengah tak sadarkan diri.
Reychu menggerakkan tangannya halus guna menggapai sesuatu hingga tangan itu kini menggenggam sebilah belati yang menjadi salah satu senjata andalannya setiap kali menjalankan misi yang di berikan selain pistol.
Martin yang melihat itu langsung berkilat waspada, otaknya sempat kebingungan sampai akhirnya ia menyadari kecerobohannya yang membiarkan senjata apinya jauh darinya tepatnya di salah satu pakaian yang tergeletak begitu saja di lantai. Keadaan kamar yang remang-remang menyulitkan penglihatannya.
"Mau mulai sekarang? Aku tak sabar ingin melenyapkan mu saat ini juga!" desis Reychu rendah nan dalam, tersirat kebencian dan sakit hati yang luar biasa. Ia juga menyadari kegelisahan yang di rasa Martin, tapi apa pedulinya.
Mata milik Martin memindai setiap sudut ruang berharap menemukan sesuatu yang dapat ia gunakan. Tapi, sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak padanya karena tak ada apapun yang bisa ia gunakan. Meski kamar VVIP itu mewah tapi seluruh barang yang ada bersifat canggih serta otomatis karena menggunakan remot serta menempel secara permanen di tempatnya. Jadi apalah daya selain mengandalkan kemampuan diri sendiri.
"Kau! Bagaimana bisa kau ada di sini? Jika hanya untuk membalaskan kematian Tina, ku yakin kau tak mungkin sampai membuntuti ku kemari. Sebenarnya apa tujuanmu? Tempat ini juga bukan untuk orang miskin seperti mu." geram Martin seraya mengungkit persoalan di masa lalu dengan gadis bernama 'Tina' yang tak lain adalah gadis polos kesayangannya Reychu. Tapi, di sisi lain baru ia sadari kalau 3Ry tak mungkin tahu tempat ini apalagi memasukinya secara mereka bukan dari kalangan berada terlebih mereka hanya anak yatim-piatu yang miskin.
"Sial! Bagaimana aku bisa tidak menyadari hal ini!" batinnya mengamuk tak percaya.
"HAHAHA..." tawa Reychu menggelegar memenuhi ruangan. "Astaga... Kau baru sadar rupanya. Kemana saja kau, hah?! Seharusnya sudah sejak tadi kau sadar akan kehadiran kami di sini. Tapi, kurasa karena otakmu terlalu di kotori nafsu kau jadi lambat berbikir." ledeknya sarkas.
Tangan Martin terkepal kuat tak terima. "KAU!!!" teriaknya marah.
Ekspresi menghina yang terpancar dari wajah Reychu kini berganti dingin dan mengintimidasi. Tatapannya tajam bak elang menemukan mangsanya.
"Berhentilah berteriak yang akan menguras tenagamu." jedanya. "Ku beritahu padamu alasan aku ada di sini. Kau... Martin Gong! Selamat atas kebodohanmu telah mengusik hidup seorang tuan muda dari keluarga Chen. Tepatnya saat di pesta perjamuan, dimana kau telah mempermalukannya dengan mengatakan wanita yang di bawa tuan muda Chen ke pesta perjamuan tersebut adalah wanita yang pernah kau tiduri. Aku yakin kau tahu seperti apa lanjutannya!" jelasnya tajam dan terkekeh di akhir saat melihat wajah pias Martin saat ia mengulik kembali kejadian tempo hari yang membuatnya terlibat dengan tuan muda dari keluarga yang jauh lebih terpandang dari keluarga Gong-nya.
"Tidak mungkin!" gumam Martin tak percaya, otaknya berusaha mengelak meski nyatanya tak bisa.
"Haha... Tak ada yang tak mungkin. Jika kau bahkan mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan pada Tina di saat aku sakit. Kenapa yang seperti ini tidak?!" cerca Reychu sinis dengan bumbu kebencian yang mendalam.
Karena tak tahu harus apa dan pikirannya juga buntu, dengan tergesa-gesa ia menerjang lebih dulu ke arah Reychu. Bahkan ia tak peduli lagi akan kondisinya yang tak berpakaian.
Reychu tak bergeming di tempatnya namun matanya masih memandang lekat pada pria yang kini bergerak hendak menerjang nya.
Pukulan demi pukulan di layangkan, tapi tak satupun yang kena. Sedang Reychu cukup santai memainkan belatinya hingga meninggalkan bekas goresan di beberapa bagian tubuh Martin meski tak dalam, seperti tangan dan paha pria itu.
Tidak sampai di situ tendangan pun di luncurkan, lagi-lagi dapat di hindari oleh Reychu dengan gesit.
"Cih! Sungguh tak punya malu! Berkelahi dengan ku dalam keadaan seperti itu. Kau tak takut itu menjadi peluang besar untukku?" kata Reychu mempertanyakan penampilan Martin yang tak memakai apa-apa. Sedang pria yang di maksud sudah tampak terengah-engah kelelahan.
"Diam kau! Gadis gila sepertimu hanya sampah!" umpat Martin geram. Tapi, Reychu sama sekali tak peduli.
Reychu melihat jam yang ada di tangannya di mana waktu menunjukkan tengah malam. Ia tak ingin berlama-lama di tempatnya saat ini. Jadi ia memilih bergerak mengambil kesempatan saat lawannya lengah. Bukan pengecut hanya tak ingin buang-buang waktu. Ia juga manusia butuh tidur, begitu pikirnya.
Crass...!
"Aaarrggh!" erang Martin kesakitan ketika miliknya di potong begitu saja oleh Reychu dengan belatinya. Ia langsung jatuh terduduk.
"K..kau... Gi..gila!" makinya dengan suara tertahan.
"Hehehe... Semua orang tahu itu. Kau saja yang lupa kurasa." kata Reychu penuh hinaan. "Maaf Martin. Aku tak punya banyak waktu untuk menemanimu bermain maka akan aku akhiri dengan cepat." jelasnya.
Tanpa menunggu lama Reychu langsung saja menerjang Martin menggunakan belatinya dengan membabi-buta, tanpa ingin memberi Martin celah untuk melawan balik.
Crass...!
"Ini untuk kematian Tina!" menggores panjang dada bidang Martin dengan belatinya hingga sobek cukup dalam dan panjang. Di lalukannya tanpa belas kasih.
Crass...!
"Ini untuk tugasku yang mengharuskan kami menghabisi mu!" menggores lagi ke wajah tampan Martin yang kini telah berlumuran darah, bahkan hidungnya sampai terbelah.
Crass...!
"Ini untuk kebencian ku karena harus menahan kesabaran selama ini untuk melenyapkan mu!" menusuk tepat di jantungnya hingga Martin merenggang nyawa.
"Dan semua selesai!" katanya ringan seraya bernafas lega.
Mendongakkan kepalanya sembari memejamkan mata hingga tak terasa airmata mengalir melalui sudut matanya.
"Tina, sudah ku kirimkan Martin Gong padamu. Sisanya akan menjadi urusanmu. Ku harap kau tenang di alam sana. Aku mencintaimu, adik angkat ku!" ungkapnya lirih penuh luka dan kasih sayang.
Ia bangkit dan segera beranjak pergi meninggalkan mayat Martin dan wanita yang masih tak sadarkan diri itu.
Saat tangannya telah menyentuh handle pintu, di tolehkan sedikit kepala dan pandangannya guna melirik jasat Martin yang mengenaskan. Sebuah seringai muncul di bibirnya.
"Hihihi. Kalau sudah begini kau jadi jauh lebih tampan, Martin Gong. Karena itu kau harus berterima kasih pada ku. Sampai jumpa di neraka nanti!" serunya.
Berbalik dan di bukanya pintu itu. Ia keluar dan pemandangan pertama yang di lihatnya adalah tumpukan mayat yang tergeletak dengan malangnya di lantai. Ia melirik Ryura yang saat ini justru tengah membersihkan wajahnya dari darah dengan sapu tangannya. Beralih ke sahabat satunya, yang sukses membuatnya menatap jengah pada yang satu itu. Reychu jadi sering memutar bola matanya bila di hadapkan dengan Rayan, si imut yang kecentilan.
Lihatlah bagaimana senangnya dia yang asik duduk di atas tubuh seorang pria tampan dari lainnya yang adalah salah satu orangnya Martin. Tak henti-hentinya Rayan memekik tertahan seraya menggeram gemas pada pria itu. Padahal pria itu sudah tak berdaya dengan sakit di sekujur tubuhnya akibat perkelahian sengit tadi.
"Sejak kapan dia begitu?" tanya Reychu pada Ryura. Membuat gadis manekin hidup itu menoleh menatap Reychu kemudian beralih menatap Rayan.
"Sejak 10 menit yang lalu." jawabnya lagi-lagi singkat dengan tanpa ekspresi berarti.
"Huh! Sudahlah. Ayo, pulang. Aku lelah." ujar Reychu sambil merenggangkan otot tubuh nya.
Ryura tak perlu mengajukan pertanyaan mengenai Martin karena jawabannya sudah di dapatnya, tak lain dan tak bukan adalah misinya selesai dengan lancar. Terbukti dari Reychu yang melenggang santai meski sebagian tubuhnya menyisakan cipratan darah.
Mengulurkan tangannya untuk memberikan sapu tangan baru miliknya, Reychu yang melihatnya langsung tersenyum dan menerima benda itu meski ia tak mendapatkan balasan senyuman dari Ryura.
Berjalan mendahului Ryura. Begitu sejajar dengan Rayan, Reychu langsung saja menarik kerah belakang baju Rayan dan menyeretnya untuk mengikutinya kembali pulang.
"Eh..eh..eh..! Santai, Rey! Kau mencekik ku!" kesal Rayan hingga memajukan bibirnya yang membuatnya semakin imut. Ia bangkit dan merapikan penampilannya kemudian kembali melangkah.
Kini ketiganya berjalan santai seperti tak pernah terjadi apapun.
"Semua amankan, Rey?" tanya Rayan.
"Heum! Kau tak perlu khawatir. Cctv-nya sudah ku manipulasi." jawab Reychu santai tanpa menoleh kearah Rayan.
Rayan mengangguk mengerti. "Lalu kau Ryura? Tak ada yang curiga padamu kan saat kau mencuri kunci kamar VVIP itu?" beralih ke Ryura. Hanya di balas deheman.
Begitulah kenyataannya. Hanya saja ia masih bingung bagaimana Ryura bisa tahu keberadaan target mereka sementara baru Reychu yang pertama melihatnya. Sepertinya hanya Ryura yang tahu jawabannya.
"Tapi... Bagaimana bisa kau tak ketahuan, Ryu?" tanya Rayan penasaran sambil mengusap dagunya berpikir segala kemungkinan.
Ia tahu sahabatnya yang satu ini memiliki kemampuan yang membuat orang lain tak menyadari kehadirannya. Dia datang dan pergi layaknya hantu, tak jarang Rayan dan Reychu sering terkejut atas tindakannya.
"Menerobos masuk ke ruang kerja pemiliknya."
"Benarkah? Tapi, kau tidak ketahuan. Memangnya apa yang di lakukan bos night club ini? Apa ia tengah keluar?" tanya Rayan lagi. Ia masih penasaran.
"Bercinta!" jawaban singkat itu sukses membuat Rayan dan Reychu menoleh bersamaan ke arahnya yang tak di tanggapi sama sekali.
"Kau serius?!" seru Reychu antusias. Ryura mengangguk membenarkan.
"Wah... Hebatnya...!"
"Emm.. Jadi begitu... Sepertinya aku mengerti bagaimana alurnya. Ryura yang memiliki kemampuan bak hantu berhasil mengelabui si bos pemilik tempat ini. Dan aku juga yakin. Kau masuk dan keluar tanpa ada halangan. Benarkan?" jelas Rayan seraya menunjuk Ryura.
Ryura kembali mengangguk membenarkan.
"Hahaha... Hebat-hebat. Sungguh sahabat kita ini benar-benar hebat." soraknya kagum sambil menepuk-nepuk punggung Ryura yang hanya di abaikan. "Baiklah. Di lanjutkan nanti saja perbincangan ini. Sekarang saatnya kita pulang. Ray, kau yang hubungi tuan muda Chen dan beritakan keberhasilan kita padanya. Jangan lupa minta bonus yang sudah dia janjikan." perintah Reychu yang sudah biasa bagi Rayan.
Tanpa mau menundanya, Rayan segera menghubungi orang yang di maksud.
Sesaat kemudian.
"Ckckck... Orang kaya memang tak sayang uang." ujarnya saat mendapatkan notifikasi dari bank yang memberitahukan masuknya transfer-an atas nama Chen Ki Jun. Siapa lagi kalau bukan tuan muda Chen.
"Sudah selesaikan?! Mari kita pulang!!!" serunya riang tanpa beban seolah kejadian yang terjadi beberapa saat lalu tidaklah berarti apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
Unha Oa
kurang Paham deh. kok tiba2 mati 3r trus langsung pindh jiwa ,trus si permaisuri gimn keluar dri penjara kok langsung ketemu sma temn2y di depn tembok
2022-11-19
0
langit biru
seru deh ceritanya
2022-03-11
1
༺ Kianna ༻
bener bener sahabat sejati
2022-01-11
1