Berlari dengan riang dan semangat penuh sampai ia lupa kalau saat ini tengah lapar. Tapi, rasa minatnya terhadap aksi laga membuatnya melupakan sejenak rasa laparnya.
Pertunjukan adu fisik disini seperti pertandingan gladiator di dunia modern. Bedanya kini di selenggarakan di muka umum dan diperuntukkan bagi siapapun. Meski selama ini hanya di isi oleh para pria. Dan lagi, tak ada aturan khusus dalam pertunjukan ini selain tak boleh memakai senjata bila lawannya tak memiliki senjata, juga tak boleh keluar arena atau dia di nyatakan kalah, serta hidup dan mati di tangan pemain. Selebihnya bagi pemenang akan mendapatkan uang sebesar 10 tabel emas.
Siapa yang tak tergiur. Reychu pun tergiur mendengarnya.
Kini Reychu telah berada di kerumunan banyak orang yang lebih di dominasi oleh para kaum laki-laki. Tapi, Reychu tak ingin ambil pusing walaupun hanya dia yang tampak berbeda jenis sendiri.
Menyenggol tanpa ragu lengan seseorang yang berdiri di sebelahnya, ia bahkan tak melihatnya sama sekali. Pria tampan yang berpenampilan menawan dengan pakaian yang terbuat dari sutra terbaik berwarna biru muda serta kipas berukiran indah di genggamannya yang terbuka lebar menutup sebagian bawah wajahnya. Membuatnya tampak elegan.
Merasa ada yang menyenggolnya ia pun menoleh dan matanya langsung mendapati seorang gadis yang hanya setinggi bahunya dengan penampilan yang membuat ia tak nyaman seolah ada kuman di sekitarnya. Karena wajah itu di tutupi oleh cadar, ia jadi tak bisa melihat seperti apa wajah gadis itu. Mungkin bila ia melihatnya, pria yang berasal dari keluarga terpandang itu pasti tidak akan peduli dengan penampilan Reychu karena wajahnya yang akan menjadi pusat perhatiannya.
"Apakah sudah ada yang menang?" tanya Reychu cepat begitu selesai menyenggol orang di sampingnya yang dia sendiri tak tahu siapa.
Dengan mengernyit ragu ia menjawab. "Ronde kedua baru saja di mulai."
"Hah! Sudah ronde kedua?! Yaah, kasihan sekali. Aku tidak sempat melihat ronde pertamanya." menoleh cepat menatap pria yang sedikit membuatnya terhenyak lantaran ternyata pria di sampingnya cukup tinggi juga.
Ia pun mendongak. "Tinggi sekali kau ini." gumamnya menggerutu. Pria tampan itu hanya mengangkat alis sebelahnya heran setelah mendengar gumaman gadis yang tak dikenalinya.
Tak ingin basa-basi yang tak penting, Reychu kembali bertanya ke topik awal. "Siapa yang menang? Ku dengar hadiahnya uang! Berapa banyak?" tanyanya antusias.
Pria tampan itu sejenak terdiam mengamati ekspresi penuh ketertarikan dalam sorot mata Reychu pada pertunjukan yang saat ini sedang mereka saksikan.
"Kau wanita! Untuk apa bertanya soal hadiahnya. Kau pun tak akan mendapatkannya." dengan ketus pria itu menjawab pertanyaannya, jelas saja seketika Reychu dilanda kekesalan yang teramat dalam.
"Sebegitu hinakah perempuan di jaman ini?! Apa mereka pikir perempuan di ciptakan hanya untuk melayani pria dan melahirkan anak?! Sungguh membuatku kesal saja. Lihat apa yang akan aku perbuat untuk membuatmu bungkam!" tekannya dalam hati seraya melirik tajam pria di sampingnya yang sudah kembali berdiri santai menonton pertunjukan di depannya seolah percakapan tadi tak pernah terjadi.
"Angkuh sekali dia!" katanya menggeram dalam hati.
Tak ingin tenaganya habis karena marah, Reychu pun memilih kembali menyaksikan pertunjukan adu fisik yang kini di selenggarakan di atas panggung berukuran lumayan besar dengan membentangkan tali yang di ikat di setiap tiang sudut menyerupai ring tinju di dunia modern.
Dapat semua saksikan saat ini. Pria bertubuh tinggi besar dengan otot yang membuat siapapun pasti merinding seketika. Membayangkan bila tubuh sendiri di bekap oleh kedua tangan besar itu, mungkin saja tak perlu menunggu lama seluruh tulang akan remuk dengan mudahnya.
Reychu bahkan sampai tak sadar bila ia sudah beberapa kali menelan salivanya sendiri dengan perasaan ngeri.
"Itu tangan apa tangan?! Besar sekali!" gumamnya berseru sambil mata terus menyaksikan laga sengit yang terjadi di arena adu.
Di banting, di pelintir, di pukul, di tendang, dan lain sebagainya terus terjadi silih berganti. Melihat fisik lawan mainnya meski tak jauh berbeda namun tetap dapat di tangkap mata bahwa kekuatan keduanya tak seimbang.
Menurut pengamatan Reychu. Dari gerakkannya, pria bertubuh besar tapi tidak terlalu tinggi itu tampak seperti hanya menguasai teori beladiri dalam bertarung, tapi kemampuan praktek serta kekuatannya masih tingkat pemula. Sedang yang satunya tidak hanya menguasai seni beladiri tapi juga mampu mengubahnya kedalam cara bertarung secara liar dengan kemampuan dan kekuatan yang dapat di kombinasikan secara tepat di tambah praktek nya yang tidak main-main kelihatannya. Tentu akan menjadi perbandingan yang berat sebelah.
Reychu sampai geleng kepala dibuatnya. "Kalau dia masih bersikeras melawan pria tinggi besar itu. Aku bisa pastikan dua hal. Mati atau cacat!" celetuknya dengan nada pelan, tapi ternyata dapat di tangkap oleh pendengaran pria angkuh di sebelahnya sampai-sampai dia spontan menoleh guna memastikan kalau ia tak salah dengar.
"Aku tidak salah dengan 'kan?! Gadis ini... Apa dia benar-benar mengerti soal bertarung?!" tanyanya dalam hati sambil memandang sorot mata serius Reychu yang tak lepas dari pertarungan di area adu di depan sana.
Bugh!
"HAHAHA... KAU PIKIR AKU AKAN MEMBIARKANMU MEMENANGKAN PERTANDINGAN INI? ITU TIDAK AKAN TERJADI. GUAN YI, KAU TAK ADA APA-APANYA DIBANDINGKAN DENGAN KU. KAU HARUS TAHU ITU! HAHAHA..." katanya dengan suara dan tawa yang menggema begitu keras sampai dapat di dengar oleh para penonton termasuk Reychu. Matanya memandang dengan amat tajam lawannya yang sudah babak belur di buatnya, bahkan mata sebelah milik lawannya sampai membengkak memar sehingga pemiliknya kesulitan untuk melihat. Nafasnya juga menjadi tersengal-sengal karena lelah. Dialah yang di panggil Guan Yi.
"Kau terlalu sombong, Bou Qin! Tapi, aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi di akhir pertarungan kali ini. Entah aku atau kau yang menang. Terserah! Aku tidak peduli lagi! Yang aku inginkan saat ini adalah membalasmu! Membalasmu atas kematian saudaraku! Guan Zi! Kau dengar!" ungkap Guan Yi marah pada pria bertubuh tinggi besar yang menjadi lawannya yaitu Bou Qin.
Guan Yi bahkan melupakan dirinya yang sudah sangat terluka.
Mendengar ungkapan tersebut Reychu tak bisa menahan diri untuk tidak membuka mulutnya lebar. Sekarang ia mengerti, mengapa sejak tadi pertandingan di ronde kedua ini terkesan aneh. Ternyata salah satunya hanya bertarung dengan menggunakan emosi.
Reychu paham, sangat paham malah. Ia juga pernah dalam posisi pria itu. Posisi dimana ia selalu ingin menghabisi pria yang tak lain adalah Martin Gong karena perbuatan bejatnya, Tina si adik angkat kesayangannya harus menghadapi ajal di usia yang masih sangat muda.
Tetapi, dalam hal ini Guan Yi telah melakukan kesalahan yang besar. Tak seharusnya ia membenci sampai harus menghabisi Bou Qin dengan cara yang Bou Qin sendiri sangat menguasainya. Itulah mengapa orang yang sedang dikuasai oleh amarah, masih harus dapat berpikir dengan benar atau semuanya hanya akan menjadi bumerang.
Reychu menghela nafas dan kembali bergumam yang ditujukan untuk Guan Yi. "Kalau aku jadi kau, aku akan memilih meracuninya daripada beradu tanding dengannya yang sudah pasti mampu membalas. Ckckck... Emosi yang begini sungguh tak baik untuk di pelihara." melipat kedua tangannya di atas perut dengan mode santai dan tak sadar kalau gumamannya kembali di dengar oleh pria tampan yang masih berada di sebelahnya.
"Aku jadi rindu Ryu dan Ray. Kalau Ryu yang berada di posisi pria itu, sudah di pastikan tak perlu menunggu besok pria besar itu sudah tak bernyawa. Dan kalau Ray yang di posisi itu, aku yakin dia akan menyiksanya dengan racun andalannya." Reychu kembali bergumam bangga untuk sahabatnya dan benar-benar tak menyadari semua yang keluar dari mulutnya di dengar dengan baik oleh pria tampan itu. Sampai pria itu malah tanpa sadar terus memperhatikan nya.
"Apa gadis ini sungguh memiliki teman yang seperti itu? Kalau iya! Lantas apa kemampuan yang dimiliki gadis ini?!" dalam hati ia bertanya-tanya.
Pertunjukan adu fisik yang di saksikan semua orang disini benar-benar tak seimbang. Sorak-sorai para penonton yang mendukung jagoannya terdengar berisik, sahutan satu sama lain tak ada hentinya. Reychu di tengah-tengah mereka sudah memasang wajah masam. Ia jengkel karena harus terlibat dalam situasi seperti ini ditambah ia baru sadar kalau perutnya belum di isi membuatnya tak bisa menunggu lebih lama.
Ujung kaki kanannya di mainkan dengan mengetuk-ngetuk tanah guna menyingkirkan rasa bosannya. Gerak-gerik orang yang lagi menahan sabar sungguh terlihat dalam diri Reychu kali ini sampai-sampai pria di sampingnya spontan memutar bola matanya jengah.
"Dia persis seperti cacing kepanasan!" ejeknya dalam hati seraya melirik Reychu yang tak kunjung diam.
BRAK!
Para penonton refleks membuka jalan begitu seonggok tubuh manusia terbanting keluar arena dalam kondisi yang mengenaskan. Tubuh itu berhenti tepat di depan kaki Reychu yang tak bergeming bahkan ia juga tak terlihat takut begitu matanya di suguhkan pemandangan seperti itu.
"Lihat! Kau lihat, Guan Yi! Aku menang! Aku memang akan selalu menang! Kau dengar aku! HAHAHA...!" perkataan Bou Qin begitu sombong sampai membuat Reychu meliriknya tajam, aura yang di pancarkan pun mulai terasa berbeda. Pria tampan di sebelahnya merasakan perubahan itu.
"Ada apa ini?!" gumamnya bingung.
"Tuan Muda..." panggil seseorang lain yang ternyata sejak tadi sudah mengekor pria tampan itu, mendengar dirinya di panggil segera pria tampan itu memberi isyarat agar pria di belakangnya diam. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah pengawalnya yang memang sedari awal hanya diam mengikuti kemana tuannya pergi.
Menatap iba pria bernama Guan Yi yang kini tergeletak mengenaskan di dekat kakinya. Mengikuti naluri nya, Reychu berjongkok menatapnya seksama lalu berkata. "Tidak adakah yang ingin menolongnya?" tanya Reychu dengan suara datarnya. Setelahnya ia kembali bangkit menatap sekelilingnya yang hanya diam menonton.
"Cih! Hanya sebatas ini rupanya tingkat kemanusiaan kalian!" sinisnya dengan nada dalam dan itu terdengar menusuk siapapun yang mendengarnya.
"Hei kau gadis. Apa yang kau lakukan di sini. Di sini bukanlah tempat untuk gadis lemah tak berguna seperti mu. Karena itu pulanglah jangan sampai ibumu mencarimu. Huh." seru Bou Qin menghina dengan nada angkuh dan jangan lupa senyum miringnya yang di iyakan mereka-mereka yang menonton.
Reychu terkekeh mendengar hinaan itu kemudian memandang Bou Qin dengan tatapan aneh khas miliknya. "Lemah dan tak berguna katamu?" kepalanya mengangguk yang anggukan itu tak di mengerti siapa saja yang melihatnya.
Pria tampan itu mulai merasakan keanehan dari sikap gadis yang sejak tadi ia amati.
"Tuan muda, gadis itu terlihat aneh." bisik pengawal nya.
"Aku tahu. Karena itu diamlah dulu. Kita lihat ada apa sebenarnya dengan dia." balas tuan mudanya dengan ikut berbisik. Pengawal itu hanya bisa patuh.
Reychu berjalan ke sisi Guan Yi yang terkapar tak berdaya, berjalan mendekati Bou Qin. Ia mendongak menatap mata Bou Qin yang lebih tinggi darinya. Ekspresi mengejek cukup kental di perlihatkan melalui sorot mata Reychu yang membuat darah Bou Qin mendidih seketika, secara Reychu memakai cadar jadi pria itu tidak dapat melihat senyum khas Reychu untuknya. Ia hanya membalas dengan tatapan tajamnya sembari menahan diri.
"Bagaimana kalau kau lawan aku dan biarkan aku mempermalukan mu!" seru Reychu seraya menyeringai yang aneh di pandang mata tapi sayang senyum itu tak dapat di lihat siapapun. Sukses membuat orang yang melihatnya terkejut serta di liputi kecurigaan dan kewaspadaan.
Banyak dari para penonton itu mengumpat, ada juga yang menghinanya karena berani menantang seorang Bou Qin, juga ada yang mengasihani Reychu yang mereka pikir bernasip malang.
"Kau!!! Gadis kotor!!! Besar sekali nyalimu untuk menantang ku!!" desisan penuh amarah dari Bou Qin terdengar jelas, tapi sayang itu tak membuat Reychu menghilangkan smirk di bibirnya.
"Tentu. Karena aku memang berani. Hanya orang bodoh dan pengecut yang tidak berani menantang pria sombong seperti mu." berbalik memunggungi Bou Qin dan berjalan beberapa langkah kedepan seolah memberi jarak dengan pria bertubuh tinggi besar itu. Setelahnya kembali berbalik menghadap Bou Qin dengan masih mempertahankan tatapan remehnya.
Sementara Bou Qin berusaha mati-matian agar tidak menghajar gadis menyebalkan di depannya ini.
Sambil bersedekap Reychu berujar. "Kalau kau merasa cukup hebat, maka lawan aku. Jangan hanya karena aku tampak lemah dan ringkih kau jadi bersikap seolah-olah iba padaku. Karena aku tak selemah itu. Sejujurnya saat ini aku lapar. Rencana awal hanya ingin ikut pertunjukan adu fisik ini lalu memenangkannya kemudian mencari makan. Tapi sepertinya rencana itu harus di ubah." jedanya, tatapannya menjadi serius dan dalam.
"Dan rencana ku kali ini adalah... Bertanding denganmu agar aku dapat mematahkan kesombonganmu, setelah itu mempermalukanmu dan mengambil uang hadiahmu di ronde sebelumnya beserta hadiah di ronde ketiga ini. Anggap saja sebagai kompensasi." jelasnya santai seraya mengangkat bahunya acuh. "Dan dari sanalah kau harus kembali belajar, bagaimana menempatkan dirimu yang memiliki kemampuan lebih agar dapat di pandang terhormat oleh orang lain. Bukannya di pandang takut seolah kau siluman mengerikan yang menjelma menjadi manusia." lanjutnya tegas hingga memancarkan kewibawaannya dan itu membuat siapa saja yang melihatnya tak bisa bila tak terkagum-kagum padanya.
Hal itupun berlaku juga untuk pria tampan dan pengawalnya yang masih setia berada di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
Dewi Ansyari
Reychu di lawan kayaknya akan bernasib malang deh🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-04-02
2
Mitra Mandiri Teknik
hhhhhhh nulis nya g jelas amat woy, harus nya di bedain di lain tempat atau sementara itu, bukan nya langsung pindah ke orang lain
2021-12-07
0
gk punya nama
ak yakin pria tampan itu si kaisar, alias suaminya
2021-04-19
3