Dimana-mana author bebas ngarang... Lalala...lalalala...lalalalalalala...
***
Senyum merekah tak lepas dari wajah bertutupkan cadar itu seraya melangkah menuruni panggung arena. Siratan bangga dan bahagia terlihat jelas dari mata yang menyipit bak bulan sabit. Tanpa mau peduli kalau orang-orang di sekitarnya menggigil takut padanya.
Sambil berkacak pinggang, ia berseru riang. "WAHAI HADIRIN SEKALIAN! SEPERTI YANG SUDAH KALIAN LIHAT. DISINI AKULAH PEMENANGNYA! JADI, HADIAH BOU QIN DAN RONDE KETIGA INI MENJADI MILIKKU. HAHAHA!!!" kemudian menoleh memandang tubuh Bou Qin yang berbaring dalam keadaan tengkurap dengan darah yang membasahinya di lantai panggung arena.
Ia mendengus angkuh untuknya. Sebagai tanda bahwa dialah pemenangnya.
Setelahnya, beralih menghadap pria bertubuh gendut yang adalah si penyelenggara acara. "Tuan penyelenggara... mana hadiah ku?" mintanya sembari menadahkan tangannya, tak lupa menggoyangkan ke empat jarinya sebagai isyarat agar segera di berikan.
Gadis yang tak lain adalah Reychu sepertinya melupakan sesuatu saking senangnya. Yaitu melupakan kalau ia tengah di pandang ngeri dan horor oleh para penonton yang didominasi oleh pria itu.
Mereka tak percaya dengan apa yang mereka saksikan barusan. Dimana seorang gadis bertampang lemah terlebih ia tengah lapar mampu mencabik-cabik tubuh pria bertubuh tinggi besar yang bila dilihat saja sudah dapat di pastikan kalau gadis itu pasti akan kalah.
Tapi, nyatanya. Salah total.
Tidak sampai di situ kengerian mereka. Bahkan mereka seolah enggan berdekatan dengan Reychu, oleh karenanya saat gadis itu berjalan secara serempak mereka membelah jalan dengan sendirinya.
Sepertinya, otak mereka telah di tekankan oleh sebuah peringatan tentang Reychu untuk tidak sekali-kali berani memprovokasinya. Lagipula, siapa juga yang mau menjadi Bou Qin selanjutnya?!
Di saat yang lainnya di selimuti ketakutan, Reychu justru terlihat santai tanpa rasa bersalah. Bila ada yang bertanya apakah ia tak takut asal membasmi orang? Maka, jawabannya adalah tidak.
Kenapa? Karena Reychu sadar, ia sudah tak lagi ada di dunia modern nya dulu. Dimana harus selalu berhati-hati agar tak tertangkap telah melakukan tindak kejahatan.
Sekarang ini ia berada dimasa, dimana nyawa masih di anggap tak berarti. Meskipun saat ini si korban pertama Reychu dalam keadaan sekarat, namun ia bisa menjamin pria itu belum mati kecuali di biarkan kehabisan darah.
Maka dari itu...
Pruk!
Tiga kantung hadiah yang masing-masing berisikan 10 tael emas telah di jadikan satu dan di serahkan padanya. Tentu saja hal itu membuat senyum di balik cadar itu semakin merekah lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih rapi. Mungkin bila kedua sudut bibir itu bisa memanjang, maka ia akan memanjang sampai menyentuh telinga.
"I..itu h..hadiah mu..." kata si penyelenggara terbata-bata.
"Yap! Terimakasih, tuan! Kalau begitu aku sudah selesai disini maka aku akan pergi. Daah..." senangnya dan bersiap beranjak pergi bahkan ia sudah mengangkat tangannya untuk melambai kepada seluruh pria yang masih dalam mode diam ada di sekitar tempat pertunjukan tersebut. Tapi, sesuatu menghentakkan pikirannya. Segera ia berbalik sampai membuat semua yang disana terkejut bukan main.
Tapi, Reychu acuh saja. Baginya, para pria itu terlalu berlebih-lebihan alias 'lebay'.
"Hey, paman!" panggilnya pada pria dewasa yang sekiranya berusia 30 tahunan, membuat pria itu tersentak kaget.
"Aku?!" tunjuk ke dirinya sendiri. Reychu mengiyakan.
Di lemparnya 5 tael emas kearahnya yang mana hal itu sukses membuat orang di sekitarnya terbelalak tak percaya. Mereka mulai berpikir bila gadis muda seperti Reychu sedang ingin melakukan hal baik, seperti menyumbang misalnya.
Sayangnya tidak begitu.
"Ambil itu dan bantu aku bawa dia ke tabib dan pastikan ia selamat. Kalau tidak..." titahnya seenak jidat, namun malah sikap kelabakan yang di dapat. Reychu memutar bola matanya jengah.
"Kalau tidak... Kalian harus mengganti uangku itu sebanyak 5 kali lipat. Kau mengerti, paman?!" lanjutnya enteng.
HA'!!!
Otak mereka mendadak kosong. Sama sekali tak mengerti maksud dari perkataan gadis di depan mereka itu. Karena yang mereka dengar sungguh terdengar gila.
"M..maksudmu... Kami semua yang harus menggantinya?" tanya pria lain yang juga bagian dari penonton tadi.
"Tentu saja...!" Reychu terkekeh. "Aku kan berbaik hati untuk meringankan beban kalian dengan cara bersama-sama mengganti uangku, itu juga bila aku mendapati tuan Bou Qin mati. Tapi, kalau dia hidup kalian tak perlu menggantinya." jelasnya lagi santai seraya mengedikkan bahunya acuh. "Baikkan aku?!" pujinya pada diri sendiri.
Sebagian yang mendengarnya hanya mampu mengelengkan kepala mereka tak habis pikir. Ternyata ada manusia yang seperti itu. Nyatanya benar-benar ada.
Merasa ia tak butuh jawaban lantaran mereka berada pada posisi yang tak dapat menawar. Akhirnya Reychu memilih beranjak pergi dengan hati riang gembira membayangkan akan dapat makan enak sebentar lagi.
"Baiklah. Urusanku sudah selesai. Sisanya kalian yang urus. Aku pergi dulu, aku sudah tidak bisa menahan rasa lapar ini. Tapi, di lain waktu aku akan datang untuk memastikannya. Ingat aku menandai kalian. Dadaaahh..." seraya mengusap perutnya ia berlalu pergi dengan hati bahagia meninggalkan kerumunan orang yang masih tak bisa percaya akan berada pada situasi yang sulit untuk di mengerti oleh akal pikiran mereka.
Mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu berteriak senang. "BEBEK BAKAAAAARRRR...!!! AKU DATAAAANNGG...!!! YUHUUUUU...!!!"
Sungguh senang sekali rasanya, pikir Reychu.
Bila dia bisa sesenang itu seolah tanpa beban padahal ia tengah berada di luar istana yang menjadi tempatnya memenuhi hukuman, sepertinya karena ia tak peduli akan apa yang terjadi nanti. Baginya sekarang-ya-sekarang, nanti-ya-nanti. Kedua Waku itu berbeda.
Tak peduli akan jadi apa dirinya nanti, maka biarkan ia menikmati apa yang bisa ia nikmati selagi bebas.
Disini permaisuri Ahn Reychu tengah senang sebab akan dapat merasakan makanan lezat yang sudah 3 bulan ini tak ia nikmati, maka beda halnya dengan yang disana dimana keadaan sang kaisar Li Hanzue yang justru di selimuti kebimbangan dan kebingungan hingga ia frustasi dibuatnya.
Di dalam ruang belajarnya, tampak seorang pria tengah memegangi kepalanya yang menunduk dengan siku tangan menumpu pada meja.
Rasanya kepalanya mau meledak memikirkan masalah yang belakangan ini menimpa kerajaannya. Ia butuh saran dan solusi, tapi tak tahu harus kemana bertanya. Bukannya tak bisa memikirkannya sendiri, tapi tetap saja ia adalah manusia biasa pasti butuh orang lain untuk membantu. Tak bisa melakukannya sendiri.
Ia sudah pernah terpikirkan untuk bertanya pada permaisuri nya. Bagaimanapun tak akan ada yang bisa mencegahnya bila ia mengunjungi permaisuri nya yang sedang dalam masa hukuman. Tapi tak bisa terwujud karena selir agung kesayangannya selalu selangkah di depannya lebih dulu.
Bila di tilik kembali, pada awalnya ia hanya menganggap hal itu adalah kebetulan semata. Tapi, bila sudah sering... Benarkah hanya sebuah kebetulan?!
Ingin ia bertanya, namun takut akan melukai perasaan selirnya yang mungkin berpikir bahwa ia mulai berprasangka buruk padanya. Dan hal inilah yang membuatnya tertekan rasa frustasi.
Apalagi saat ini ia sedang mengandung anaknya.
Cintanya pada selir agung sungguh menyiksa. Dulu tidak sampai seperti ini. Tapi, sekarang... Ia merasa cintanya pada selirnya benar-benar sudah menjadi perasaan yang menyiksa.
Sungguh ia sangat mencintai selirnya, tapi sebagai seorang kaisar cinta seperti itu tak seharusnya ada. Kalaupun ada ia harus bisa mengendalikannya. Namun, sepertinya dia telah gagal melakukan yang seharusnya ia lakukan.
Sekarang ia baru merasa bahwa cinta yang ia miliki mengekangnya, membelenggunya, mengikatnya, dan menahannya hanya untuk seseorang saja.
Ia merasa kalau disini bukan ia yang memegang kendali atas dirinya, hatinya, ataupun wanitanya. Tapi, justru...
"SELIR AGUNG GONG DAHYE TELAH TIBA...!"
Kepala yang menunduk itu segera diangkatnya begitu para penjaga mengumumkan bahwa selirnya datang. Mengetahui hal itu tanpa sadar ia menghela nafas kasar seraya mengusap wajahnya kuat guna melampiaskan kepenatan hatinya.
Keningnya berkerut tajam, entah mengapa sekarang ini ia seperti tak menyukai lagi sikap selir tercintanya yang terlalu bebas bertindak.
Matanya yang menatap tajam sungguh berlawanan dengan kendali dirinya akan perasaan cinta yang dimiliki nya untuk sang selir.
Ingin ia marah, namun tak bisa.
Seperti sekarang, mata tajamnya meredup menjadi tatapan hangat meski jiwanya memberontak saat melihat selir agung Gong Dahye berjalan menghampirinya dengan senyum menawannya. Ini benar-benar kelemahan baginya.
"Salam yang mulia... Maaf kedatangan hamba telah mengganggu kesibukan anda." katanya merasa bersalah namun bagi mereka yang memiliki pendengaran tajam pasti akan menemukan setitik celah kepura-puraan di dalamnya.
Kepura-puraan dalam bersopan santun...
Sayangnya kaisar tampan itu telah dibutakan oleh cinta. Alhasil, ia menjadi tak peka.
"Tak perlu meminta maaf, selirku. Aku tidak akan menyalahkanmu. Kemarilah..." tutur dan pintanya sembari membuka tangannya guna menyambut sang selir mendekat padanya.
Tentu saja hal itu tak akan Gong Dahye sia-siakan dan ia selalu seperti itu.
Setelah posisinya tepat berada di samping Hanzue, segera ia menempelkan pipinya pada bahu Hanzue dengan tangan yang mulai mengelus lembut menggoda di dada bidang sang kaisar.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu ia menyukainya terlebih hal itu dilakukan oleh wanitanya. Tapi, sayang. Saat ini ia sedang tak bersemangat untuk melakukan hal yang biasa akan ia lakukan tiap kali hanya berdua dengan wanitanya.
Pikirannya sedang berada di tempat lain.
"Yang mulia, sibuk sekali sepertinya..." rengekan manja itu sungguh mampu mengelabui siapa saja yang otaknya sekecil otak udang.
Tak tahu saja, kalau saat ini tujuan Gong Dahye adalah bermanja-manja dengan prianya. Sejak ia mendapati kabar bahwa terdapat masalah di perbatasan negara api dari orang suruhannya. Hal itu membuatnya was-was, takut bila kaisar akan memilih mengambil langkah dengan menemui permaisuri nya.
Gong Dahye mengaku meski berat, bahwa dalam segi kecerdasan dalam membantu memimpin negara permaisuri Ahn Reychu lebih unggul darinya. Namun, malangnya sang permaisuri terlalu baik hati hingga bisa ia tindas sesuka hati.
"Ah... Maaf. Baiklah, aku akan menemanimu sejenak. Karena aku tak bisa berlama-lama. Masalah kali ini sungguh pelik. Kuharap kau mengerti." tuturnya lembut meminta pengertian seraya mengusap penuh perasaan pipi selirnya dengan ibu jarinya.
Mau tak mau Gong Dahye harus mengalah saat ini, tapi bukan berarti ia akan melepaskan prianya begitu saja.
"Yang mulia, tak perlu menemani saya. Saya kesini karena ingin menemani anda. Saya ingin memastikan bahwa anda tidak akan terlalu memaksakan diri. Bagaimanapun sebentar lagi Anda akan menjadi ayah, saya ingin yang mulia tetap sehat agar dapat menemani saya membesarkan anak kita." jelasnya dengan amat halus hingga dapat menyentuh hati kaisar Hanzue.
Tapi, perlu di ingatkan lagi. Sesungguhnya itu hanya kalimat semata, faktanya ia tak ingin diduakan sekalipun itu dengan pekerjaan.
Kaisar Hanzue tersenyum hangat tulus dari hati lantaran tersentuh oleh kata-kata wanitanya. Tangannya terulur mengusap perut buncit selirnya karena mengandung.
"Aku mengerti. Kau tak perlu khawatir akan hal itu." setelahnya diciumnya kemih sang selir. Saat itu terjadi, seringai licik terukir sempurna di bibir merah Gong Dahye.
Li Hanzue x Ahn Reychu.
***Gong Dahye x Li Hanzue.
Visual Cast untuk ***Gong Dahye.
Selamat membaca!!!🥰***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
ciiiiiiiiihhhhh 🧠🧠☠️☠️☠️☠️
2024-04-27
0
@⒋ⷨ͢⚤L♡Marieaty♡
betulll itu 🥰🥰🥰 dan kita bebas membaca 😘😘😘🤭🤭🤭
2023-09-02
0
Oi Min
G sabar kebusukan Gong Dahye terbongkar. Gmn reaksi Li Hanzue, dan saat itu tiba dia sdah g pnya permaisuri lagi
.... Wkwkwkwkwkwk...... Seru kek nya
2022-09-04
1