Gelap. Adalah pemandangan pertama saat ketiga pasang mata itu terbuka.
Hening. Adalah keadaan yang tengah mereka rasakan di tengah tempat gelap yang tak terkira itu.
Hampa. Adalah perasaan yang kini menyelimuti hati mereka.
Bahkan mereka juga tak merasakan kaki menapak pada tanah, lantai, atau apapun itu. Serasa seperti melayang.
Ketika mata dan kesadaran telah menguasai sempurna. Hal pertama yang di cari adalah jalan keluar. Tapi sayangnya tak kunjung bisa. Kaki itu di buat berlari tapi tak berasa ada pergerakan entah itu maju atau mundur. Kegelapan yang mendera hanya mampu menekan rasa sesak dalam dada.
"Sial! Ada apa ini?! Kalau mati, ya mati saja. Kenapa pakai acara seperti ini segala!" gerutu Reychu kesal seraya memegang dadanya yang terasa berat untuk sekedar menarik nafas.
Dilihatnya kiri dan kanan, walau hasilnya tak berarti apa-apa. Ia hanya berharap setidaknya dapat bertemu kedua sahabatnya.
"RYURA...!! RAYAN...!!" teriaknya keras. Suaranya seperti berlalu begitu saja, tanpa menggema atau terdengar sedikit memantul. Reychu mulai di landa gelisah dan frustasi.
Ternyata kedua sahabatnya tak ada di sana.
"AARRGGGHHH...!! SIAPAPUN DENGAR AKU...?! TOLONG SIAPA SAJA JAWAB AKU!" nafasnya naik turun, ia bingung.
"Aku tidak buta 'kan?! Tapi, kalau aku buta, pastinya aku masih bisa merasakan sesuatu dari sentuhan..." gumamnya semakin bingung. Pasalnya ruang gelap gulita nan kosong itu mampu membingungkan siapapun.
Merasa berteriak tak akan menghasilkan apapun dan keadaan yang ia alami pun terasa asing. Reychu memilih diam, membiarkan keheningan kembali menyelimuti. Ia mencoba berpikir keras untuk mencerna keadaan yang tengah ia alami.
Tak berselang lama, jauh di ujung sana tepat di depan matanya memandang, sesuatu tampak bergerak mendekat. Pertama hanya ada satu namun kemudian muncul yang kedua, terus seperti itu hingga banyak jumlahnya serta mengelilingi nya dan semua tampak berkilauan dengan cahaya yang berbeda-beda tergantung apa yang terdapat di dalamnya.
Reychu mengernyit bingung. "Gelembung?!" katanya tak percaya dengan apa yang terpampang di depan matanya.
Ya. Benda kecil melayang yang datang satu persatu hingga menjadi banyak adalah gelembung dengan cahaya dan ukuran yang berbeda-beda. Sampai sesuatu yang terdapat di dalamnya menarik perhatiannya.
"Apa yang di dalamnya itu?!" tanyanya yang pasti pada dirinya sendiri.
Gelembung yang paling dekat dengannya menjadi objek pertama untuk ia amati dan akhirnya ia dapat melihat apa yang di suguhkan di dalamnya.
Sesosok gadis kecil nan cantik yang tak ada kemiripan sama sekali dengannya tengah tersenyum bahagia seraya berlari menyambar tubuh seorang wanita paruh baya yang juga tersenyum padanya untuk di peluknya. Lalu, datang pria paruh baya yang tampak ada kemiripan dengannya bergabung bersama dua perempuan berbeda generasi itu dengan senyum menawannya. Di dalam gelembung itu mereka tampak sangat bahagia dengan latar tempat yang... Klasik?!
Reychu tidak mengerti dengan apa yang tengah ia alami.
Menurut Reychu gadis kecil itu masih berusia di bawah 10 tahun di lihat dari tubuhnya yang kecil dan mungil.
"Apa maksudnya ini?!" ujar Reychu masih bingung tak mengerti.
Matanya berpindah ke gelembung lainnya. Kembali, ia menangkap sesuatu yang menarik.
Di dalam gelembung itu, gadis kecil itu tampak sudah sedikit lebih besar dari sebelumnya. Senyumnya masih sama manisnya, tapi kali ini yang berbeda adalah tempat dan siapa yang tengah bersama dengannya. Sekumpulan gadis berbagai usia dan salah satunya adalah dia. Mereka seperti sedang merayakan sesuatu. Sesuatu yang di rayakan dengan sangat meriah. Dapat ia lihat sorot mata gadis itu hanya terfokus pada satu orang, yaitu seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya. Dia terlihat gagah dan tampan meski masih sangat muda. Dari pakaian nya ia tampak memiliki posisi yang tinggi.
Dengan masih mengernyit dia berujar. "Maksudnya. Dia sedang jatuh cinta, begitu?!" ucapnya dengan nada aneh. Beralih menatap sosok anak laki-laki yang di maksud. "Tampan memang. Tapi, tetap sama saja. Apanya yang istimewa?!" komentarnya kesal lantaran masih kebingungan hingga saat ini.
Beralih lagi ke gelembung yang lainnya, tampak gadis itu lagi dengan senyum merekah yang lebih dari sebelumnya. Ia terlihat sedang memberi penghormatan dengan anggun dan santun, persis seperti orang yang berpendidikan luas. Tata kramanya terjaga dengan baik. Di depan gadis itu terdapat gundukan lantai yang ternyata lebih tinggi dengan tiga buah kursi di atasnya layaknya singgasana karena terlihat dari kilau emasnya yang tak dapat menipu. Kursi di tengah di isi oleh seorang pria berusia sekitar 30 tahunan dengan busana mewah khas kerajaan yang menunjukkan posisinya, di sisi kanannya terdapat wanita berusia sekitar di bawah 30 tahun dengan busana yang sama mewahnya hanya modelnya berbeda, dan di sisi kirinya terdapat anak laki-laki yang dia lihat di gelembung sebelumnya. Di sini ia seperti mulai paham bahwa yang di lihatnya seperti...
"Keluarga kerajaan?!" katanya ragu. Di lihatnya lagi dengan seksama gadis itu dengan suasana yang terjadi di dalam gelembung itu.
"Kenapa ia terlihat senang?!" rasa penasarannya mulai bangkit. Ia kembali melihat ke gelembung yang lain.
Apa yang di lihatnya kali ini sukses membuatnya tertegun.
Di dalam gelembung itu, gadis itu terlihat murung. Wajahnya sendu dan sedih sampai Reychu bisa merasakan kesedihan itu. Saat itu gadis itu tengah memakai gaun merah yang mewah dan indah atau mungkin bisa di sebut hanfu, Reychu meyakini dalam hatinya kalau itu adalah busana yang di gunakan saat ada acara besar. Tapi kenapa ia malah sedih?, Pikirnya bingung.
Tak lama ia dapat melihat seorang laki-laki yang gagah itu memasuki ruang yang mungkin adalah kamar. Wajahnya tak sedap di pandang, dia terlihat kesal. Terlihat ia seperti mengatakan sesuatu namun tak dapat di dengar oleh Reychu yang sebab itu Reychu semakin kesal dan penasaran. Laki-laki itu terlihat seperti mengungkapkan sesuatu yang pada akhirnya membuat gadis itu semakin murung dalam kesedihannya.
"Kurang ajar! Tidak bisakah ia sedikit lembut?!" rutuknya kesal tiba-tiba melihat hal itu.
Terus seperti itu dengan gelembung yang lain. Hingga tiba di gelembung yang memancarkan cahaya keabu-abuan terasa sedih dan menyayat.
Di dalamnya terlihat gadis itu yang kini jauh lebih dewasa tengah menangis dengan pilunya melihat sesuatu yang begitu menyayat hati dimana laki-laki yang Reychu yakini adalah laki-laki sebelumnya sedang berduaan dengan wanita lain. Meski parasnya sama cantiknya, tapi menurut Reychu gadis yang seperti tokoh utamanya jauh lebih cantik dengan aura seorang yang bijaksana terpancar nyata. Gadis itu menangis dalam diam.
"Sialan! Ingin ku bunuh pria itu!" desisnya geram. Dadanya naik turun karena marah.
Tak ingin melihat gambaran dalam gelembung itu ia memilih melihat gelembung yang lain.
Kali ini gelembung yang semakin memicu kemarahannya. Dimana dapat ia lihat wanita yang tadi bersama pria tampan namun menyebalkan itu, menurut Reychu. Berdiri dengan angkuhnya, dagunya terangkat sombong sambil melirik sinis gadis di depannya yang tampak seperti tengah bertahan dari rasa sakit dalam hatinya. Wanita itu seperti sedang berbicara yang lagi tak bisa di dengar oleh Reychu namun ia yakin bukan kata-kata yang baik. Setelahnya tampak wanita itu berbalik pergi dengan langkah sok berkuasanya meninggalkan gadis itu yang kini terlihat sudah menumpahkan air mata nya.
Reychu tak sadar sudah mengepalkan tangannya. "Dasar wanita ular. Kalau kau sampai berhadapan dengan ku. Lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu. Cih!" seru Reychu berdecih marah. Ia mengutuk habis wanita sombong itu.
"Huh! Sudah aku tak ingin melihatnya lagi. Yang ada aku semakin marah-marah tidak jelas." semburnya sambil bersedekap dada seraya mengatur nafasnya agar kembali teratur.
Usai ia mengatakan itu tiba-tiba satu persatu gelembung itu bergerak kearahnya dan itu membuat Reychu bingung dan kelimpungan sendiri hingga ia memilih memejamkan matanya erat. Meskipun demikian, gelembung itu tetap bergerak mengerumuni nya sampai ia tertelan oleh gelembung. Kemudian gelembung-gelembung itu pecah bersamaan dan di susul oleh cahaya terang yang amat menyilaukan.
Ryura memandang sekelilingnya yang hanya di selimuti kegelapan. Ia sama sekali tak bertindak apa-apa, hanya diam dan menunggu seolah tahu bahwa semua yang terjadi tak sampai di sini saja.
Benar saja, jauh di ujung sana muncul gelembung yang sama seperti yang di lihat Reychu. Bedanya adalah isi gelembung tersebut. Tapi, percayalah. Ryura tak tertarik sama sekali dengan apa yang ada di dalam gelembung itu. Wajahnya tetap sama, datar dan ekspresi nya tak berubah sedikitpun.
Dia masih Ryura si manekin hidup.
Sekilas ia melihat. Ada seorang gadis yang di pukuli dengan menggunakan kayu panjang secara asal-asalan. Gadis itu hanya diam menerima semua itu. Sampai beberapa anak laki-laki yang tampak sedikit mirip dengan gadis itu berhenti karena merasa telah selesai. Ryura meyakini bahwa beberapa anak laki-laki itu adalah saudaranya. Namun pertanyaannya, kenapa bertindak seburuk itu?!
Usai para anak laki-laki pergi datang dua gadis yang tampak sebaya, terlihat di sana bukannya menolong mereka malah meneruskan tindakan kejam anak-anak lelaki tadi hanya saja kali ini salah satunya menggunakan cambuk dan satunya menyiraminya dengan air kotor.
Darah tak luput dari pandangan Ryura dan ia yakin itu pasti sakit, meskipun Ryura sendiri tak pernah menunjukkan ekspresi sakit saat ia tengah terluka.
"Bocah malang." hanya itu yang di gumamnya pelan.
Karena sejak awal ia tak tertarik dengan gelembung yang banyaknya tak terkira itu, ia jadi tak tahu kalau kini gelembung-gelembung itu sudah mengelilingi nya.
Dengan perlahan ia mengulurkan tangannya ke arah gelembung yang di lihatnya tadi dan menyentuhnya. Bukannya pecah gelembung itu justru menempel padanya dan di ikuti yang lain hingga ia tertutup oleh gelembung sampai semua itu pecah dan memancarkan cahaya yang sangat terang.
Menoleh kesana kemari dengan bingung juga heran. Tangannya bergerak untuk merapa, siapa tahu ada benda yang dapat ia sentuh. Tapi, sayang. Harus berakhir cemberut.
Rayan merasa jadi orang buta sekarang. Meskipun ia yakin telah membuka matanya tapi tetap saja. Tidak ada penampakan lain selain hitam.
"Ish! Di mana ini?!" erangnya mulai frustasi. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"HALLOO...! ADA ORANG LAIN DISINI! BISA DENGAR AKU...!!!" teriaknya sampai terbatuk-batuk.
Rayan mendengus sebal sambil terus berusaha melirik ke segala arah berharap menemukan sesuatu. Dan benar saja, ia memang menemukan sesuatu tapi itu hanyalah...
"Heh?! Gelembung?!" gumamnya merasa aneh dengan kemunculan gelembung yang sama seperti milik Reychu dan Ryura.
Saat gelembung itu sudah dekat barulah ia dapat melihat apa yang terdapat di dalamnya, lantaran sejak tadi ia sudah di buat penasaran setelah melihat ada sesuatu yang bergerak di dalamnya dari kejauhan.
Dalam gelembung yang dilihatnya, ia menangkap seorang gadis kecil yang sangat manis serta imut dengan pipi chubby nya sedang berlutut di depan pintu kayu yang besar dengan papan nama di atasnya. Dari yang dia eja, papan nama itu bertuliskan 'kediaman Yu'. Keadaan yang sedang hujan deras tak membuat gadis itu bangkit dari berlutut nya bahkan ia dapat melihat betapa tubuh kecil itu telah menggigil menahan dingin yang merasuki tubuhnya.
Rayan iba sekaligus sedih melihatnya. "Kasihan sekali!"
Beralih ke gelembung yang lain. Tampak gadis kecil itu sudah sedikit bertumbuh. Kira-kira sekitar usia 10 tahunan, menurut Rayan. Di dana gadis itu terlihat sedang membawa dua ember kayu yang berukuran sedang menggunakan sebilah bambu panjang yang ia letakkan di pundaknya. Bayangkan saja bagaimana rasanya gadis sekecil itu sudah bersusah payah dengan harus mengangkut air dalam ember untuk di bawa ke kediaman tempatnya tinggal.
Yang buruknya adalah setiap ia membawa pulang air selalu saja ada yang dengan sengaja menumpahkan air di dalam ember kayu miliknya hingga ia harus kembali mengambil ulang airnya.
Rayan sampai menggelengkan kepalanya tak sadar saking tak percayanya dengan apa yang dia lihat.
"Siapa yang tak memiliki hati sampai memperkerjakan anak di bawah umur seperti itu??" gerutunya kesal.
Di gelembung lainnya lagi. Rayan sampai tak kuasa menahan diri melihat apa yang terpampang di depan matanya. Saat di mana gadis itu baru saja selesai mencuci pakaian yang jumlahnya tak terhingga itu, tepat ketika ia baru saja bernafas lega dan hendak mendudukkan dirinya seseorang langsung menyeretnya dan menyuruhnya berbelanja terlihat dari sebuah keranjang rotan yang di anyam dan sekantong kain. Rayan menduga itu adalah uang. Kemudian orang tersebut mendorongnya seolah menyuruhnya agar bergegas pergi.
Lagi-lagi Rayan tak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya.
"Apa gadis kecil itu budak?! Bagaimana bisa di perlakukan sekejam itu?!" katanya tak habis pikir.
Dahinya tiba-tiba mengernyit berpikir. "Sebenarnya apa yang terjadi?! Jenis gelembung apa ini?! Kenapa semuanya memiliki isi yang seperti..." kalimat tanya yang membingungkan darinya terhenti sebelum ia selesai berucap seolah sesuatu menyadarkan nya.
"Apa ini bisa di sebut gelembung ingatan?!"
Setelahnya gelembung-gelembung itu mendekat. Rayan yang tak mengerti dengan apa yang terjadi hanya diam sampai ia terselimuti oleh gelembung yang banyak itu. Tak lama kemudian gelembung itu pecah bersamaan dan langsung memancarkan cahaya yang cukup menyilaukan hingga ruang gelap itu menjadi terang benderang sepenuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
Lee
keren
2022-10-15
0
Mitra Mandiri Teknik
cerita reinkarnasi yang bertele tele yang pernah ku baca
2021-12-07
2
Adwa Ji Ana
skripsi edisi dr
2021-12-03
1