Cit... Cit...
Seekor tikus mengendus-endus di dekat tumpukan jerami. Mengais, mengorek apapun yang ia bisa guna agar mendapatkan makanan. Jujur saja ia lapar saat ini.
Langkah dari kaki-kaki kecilnya menuntunnya ke arah gundukan daging yang masih berkulit serta berlapis kain dan jangan lupakan surai hitamnya yang tergerai asal. Pastinya sangat berantakan.
Si tikus mulai mengendus lagi bahkan menggigit surai-surai itu sampai tertarik dan pada akhirnya menimbulkan teriakan seseorang.
"AAAAA...!!!"
mendengar teriakan itu si tikus langsung pergi melarikan diri, takut bila dia yang justru di mangsa bukannya sebaliknya di akibatkan perbedaan ukuran yang cukup besar.
"Huaaa... Sakiiit...!" keluhnya merengek seraya menggosok-gosok bagian kepalanya yang rambutnya di tarik entah oleh siapa, ia tak tahu.
Merasa telah baikan barulah mata indah itu terbuka dan apa yang saat ini ia lihat sukses membuatnya tertegun. Perlahan ia amati dengan seksama tempat itu, mulai dari langit-langit bangunan yang hanya seluas 2 x 2 meter turun ke dinding kayu kusam tak bercat bergeser ke samping hingga memutar masih sama sampai ia berhenti pada pintu kayu yang tertutup. Di lanjutkan kembali dengan pandangan yang semakin turun ke lantai yang langsung bersentuhan dengan tanah dan kini ia baru menyadari kalau saat ini alas yang ia duduki adalah tumpukan jerami.
Matanya terbelalak tak percaya. Ia pun panik sampai beranjak dengan kasar dan berlari ke arah pintu hendak di buka, namun sayang ternyata terkunci.
"Eh! Kenapa ini?! Apa aku di culik?! Ya ampun... Ryura... Reychu... Kalian di mana masa cuma aku sendiri di sini!" gerutunya dengan suara kecil sedikit merengek.
"Seingatku kami jatuh bersama ke jurang setelah mobil kami di sambar petir. Lalu, kenapa aku malah berakhir disini?!" ujarnya bingung, keningnya berkerut dalam mencoba berpikir keras hingga sebuah ingatan panjang melintas di otaknya membuat ia sedikit meringis sakit seraya memegang kepalanya.
Dirasa telah hilang rasa sakitnya, segera diangkatnya kepala dengan ekspresi tak percaya.
"Gelembung itu! Ya! Gelembung itu!" kepalanya mengangguk cepat begitu menyadari sesuatu.
"Apa ini yang di sebut time travel?!" Melihat sekeliling dan berakhir memperhatikan dirinya serta penampilannya yang kumuh dan kotor bahkan ia bisa mencium sendiri bau tak sedap yang menguar pada dirinya. Campuran antara bau asap, keringat, dan sengatan panas matahari.
"Tidak salah lagi!" jawabnya sendiri.
Dia pun memilih mencoba tenang guna menjernihkan pikiran sambil kembali berjalan ke tumpukan jerami sebelumnya, tempat dimana ia terbangun lalu mendudukinya. Pikirannya mulai mencerna apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Yu Rayan! Jadi itu namamu?! Apa kau juga yang menyeretku kemari?! Hah! Jujur saja, aku sedikit sedih dan kecewa karena harus mengalami perjalanan melintasi waktu ke masa lalu dan berakhir malang di tubuhmu! Tubuh seorang anak haram yang di perlakukan layaknya budak! Tapi..." jedanya sembari mengangkat kedua tangannya untuk ia perhatikan.
"Setidaknya satu hal yang membuatku tak begitu kecewa." senyum tipis terukir di bibirnya. "Kau cantik dan imut. Bahkan melebihi parasku sebelumnya. Dan itu sangat menggemaskan! Aku suka! Hanya saja... Eugh!" kata-katanya terputus saat ia memilih menyengir ngeri melihat kondisi tubuh baru yang kini ia tempati.
"Kau jorok! Bau! Dan lengket! Sebenarnya sudah berapa lama kau tak mandi, hah?! Menurut ingatanmu, kau memiliki kulit yang cantik melebihi saudarimu. Tapi, lihatlah sekarang... Sshhh!" ia meringis tak berdaya.
"Aku tak suka keadaan seperti ini! Aku Rayan Monica, selalu mengutamakan penampilan. Bagaimana bisa menarik perhatian pria tampan kalau begini keadaannya?! Sungguh bukan aku!" gerutunya.
"Baiklah. Berhubung tubuhmu sudah menjadi milikku, maka aku akan lakukan apapun sesukaku. Tak peduli bila nanti keluarga besar Yu terkejut melihat perubahan drastis dirimu. Lagipula aku punya banyak cara untuk sekedar membuat alasan. Karena aku adalah Rayan Monica! Bukan Yu Rayan! Kau mengerti sayang!" jelasnya seraya mengelus pipi chubby dari tubuh barunya.
"Kyaaaaa!!! Menggemaskan sekali kau ini!!!" teriaknya tertahan agar tak ada yang tahu bila saat ini jiwa Rayan begitu kegirangan memuji betapa imutnya tubuh barunya saat ini ia bahkan mencubit dan mengunyel-unyel pipi dari tubuh itu sendiri. Mungil, imut, cantik, dan hanya tinggal merawatnya agar mempesona berkali-kali lipat.
Sungguh, Rayan masih tak habis pikir tentang alasan ia berakhir di tubuh gadis malang yang memiliki nama panggilan sama sepertinya. Mungkin, karena ia mati konyol alias tersambar petir usai melakukan aksi membantainya. Jadi, Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup kembali?! Tapi ia tak begitu yakin. Kecuali, Tuhan memberinya kesempatan hidup lantaran kebanyakan dosa akibat sering memberantas orang-orang yang bahkan tak memiliki masalah dengan dia dan kedua sahabatnya sekalipun memang target yang mereka hadapi benar-benar mempunyai kesalahan.
Terlalu sibuk menyelami pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak sadar bila pintu ruang yakni pintu gudang jerami a.k.a kamar tempatnya beristirahat di buka seseorang, disusul suara cempreng milik orang itu membangunkannya dari kehanyutannya dalam pikiran sendiri.
"HEI, KAU! SUDAH SELESAI PINGSANNYA?! JANGAN BANYAK BERSANDIWARA HANYA UNTUK ISTIRAHAT! KAU BUKAN NONA RUMAH DI KEDIAMAN INI! TUNGGU APA LAGI CEOAT KEMBALI BEKERJA!"
BRAK!
Pintu kayu itu di banting usai berteriak yang malah terdengar memekakkan telinga.
Rayan menatap kesal ke arah pintu dimana seorang wanita bertubuh gempal yang menurut ingatan milik Yu Rayan adalah seorang kepala pelayan di kediaman keluarga Yu-nya.
Yu-nya?! Yang benar saja. Semenjak tubuh Rayan si anak haram di huni oleh jiwa Rayan si gadis imut dari masa depan. Maka tubuh itu sudah menjadi milik Rayan Monica. Tak peduli, akan siapa dan dari mana asal usulnya, baginya dia di beri kesempatan yang mungkin guna untuk membantu menyelamatkan kehidupan tragis pemilik tubuh maka itu artinya tubuh Yu Rayan menjadi milik Rayan Monica. Tanpa bantahan.
"Huh! Berani kau berteriak padaku! Dasar kepala pelayan kurang ajar! Lihat apa yang aku lakukan pada dirimu, karena telah berani mengusik ketenangan ku. Sekalian juga membalaskan perbuatan siapapun yang telah membuat Yu Rayan menderita. Itu yang bisa ku perbuat sebagai bentuk balas budiku karena telah menyerahkan tubuhnya untuk ku ambil alih!" terangnya sambil tersenyum culas, tersirat penuh rencana.
"Dan tentunya. Permainanku membutuhkan tokoh-tokoh untuk berperan di dalamnya. Menurut kalian apa yang bagus ku berikan sebagai hadiah selamat bermain, ya...!" katanya seraya mengelus dagunya tanda berpikir. Matanya masih mengarah ke pintu sebelumnya.
Sesak, dingin, dan basah adalah alasan komplit yang kini melingkupi dirinya. Hingga mata itu terbuka yang di lihatnya hanya samar-samar gelap dengan sedikit bebayang cahaya yang pecah.
Blup... Blup...
Tak sengaja air terhirup melalui hidungnya saat hendak menarik nafas, saat itulah ia sadar. Kalau saat ini ia tengah berada di dalam air.
Tak ingin kembali mati konyol. Dia menggerakkan kedua tangan dan kakinya untuk mendorongnya keluar ke permukaan.
Tak lama ia pun akhirnya dapat merasakan udara dan dapat menghirup oksigen sebanyak-banyaknya meski masih terasa sakit di hidung dan dadanya.
Merasa ia berada agak di tengah permukaan air yang amat luas namun ia yakini bukanlah laut segera saja ia berenang ketepi. Sesampainya di tepian ia langsung menghempaskan tubuhnya ke tanah dalam posisi terlentang dan membiarkan kakinya sedikit terkena air.
Nafasnya tersengal juga berat. Akhirnya ia memilih menepuk kuat dadanya agar membantu mengeluarkan air yang sempat masuk. Dan ternyata berhasil. Dia pun lega.
Wajah datar tanpa ekspresi dengan mata merahnya akibat terlalu lama di dalam air yang kini bergerak mengamati pergerakan awan serta ujung tebing tinggi yang terlihat di atasnya. Dia pun tak perlu mencerna terlalu lama, karena ia paham apa yang sedang terjadi padanya.
"Gadis malang!" katanya mengingat saat dimana ia melihat gelembung ingatan itu yang terdapat gadis dengan nasib malangnya yang di pukuli dan sekarang ia memiliki seluruh ingatan itu tanpa terkecuali. Termasuk bagian dimana gadis yang di Katai malang olehnya di dorong jatuh dari tebing yang tengah ia lihat saat ini dan karena ketidakmampuan gadis itu berenang ia pun akhirnya merenggang nyawa.
Miris sekali.
"Tubuhmu milikku sekarang!" klaimnya tanpa mau panjang lebar. Karena sesungguhnya ia tahu, tubuh yang kini ia tempati bukanlah tubuhnya itulah yang dirasanya. Di tambah ingatan orang asing yang memasuki otaknya bukanlah tanpa alasan, begitulah yang ia pikirkan.
Lagipula, baik hidup di masa depan ataupun di masa lalu, itu tak akan mengubah seorang Ryura Jenna yang bergelar manekin hidup untuk berubah. Tak peduli seberapa menderitanya pemilik tubuh sebelumnya, baginya tak penting kecuali orang-orang yang suka menyakiti Han Ryura -nama si pemilik tubuh sebelumnya- kembali mengusik hidup keduanya maka ia tak akan segan terlebih di kehidupannya yang sekarang ia tak lagi perlu menahan diri lantaran tak ada lagi hukum yang menjaga hak sesama manusia di sini.
Ia bebas bila ingin melenyapkan siapapun yang berani mengusiknya.
"Han Ryura!" panggilnya dengan nada rendah dan dalam.
"Jangan berharap lebih padaku! Aku tak sebaik itu untuk mau membantumu membalaskan dendam dari rasa sakit yang kau alami! Tapi, bila keluarga mu yang lebih dulu menganggu ketenangan ku maka aku tak akan segan-segan lagi. Karena kini tubuh mu adalah milikku!" terangnya penuh ketegasan atas kepemilikan yang mutlak.
Dirasa sinar matahari begitu menyengat kulit, Ryura pun beranjak dari sana dengan tertatih lantaran masih lelah di tampah kini ia di landa kantuk.
Akhirnya tak ingin ambil pusing, ia memilih mencari batang pohon rimbun di sekitar danau yang ia ketahui melalui ingatannya untuk di jadikan tempat peristirahatan sementara guna mengembalikan tenaga yang terkuras akibat tenggelam nyaris ke dasar danau.
*Tap...
Tap...
Tap*...
Kakinya yang tanpa alas itu melangkah menuju batang pohon yang sudah ia tunjuk sebagai tempatnya istirahat untuk sekarang. Meski bajunya sudah mulai mengering ia sama sekali tak berminat untuk mempedulikannya, tujuannya hanyalah tidur. Matanya sudah setengah terpejam dan ia tak ingin menunda waktu tidurnya lagi.
Sesampainya di bawah pohon tersebut ia segera mendudukkan dirinya seraya menyandarkan punggungnya dalam posisi ternyaman menurut Ryura dan selanjutnya ia pun tertidur pulas.
Visual Cast untuk Yu Rayan.
Visual Cast untuk Han Ryura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
@⒋ⷨ͢⚤L♡Marieaty♡
semua visual nya pada cantik cantik aku suka 😘😘😘
2023-09-02
0
Adhie
ada yang mau mapir baca novelku kaka kaka....?
2022-06-05
1
Bbycheese👶🧀
lanjut, semangat🔥
2022-04-29
1