*Tap...
Tap...
Tap*...
Suara langkah kaki yang terbilang banyak terdengar menggema di tanah. Tapi, bila di perdengarkan lebih jelas hanya sepasang kaki yang terdengar tegas melangkah sedang yang lainnya mengikuti dengan was-was.
Sepasang kaki tersebut adalah milik seorang pria bertubuh atletis nan gagah, ia berjalan tegap dan pasti. Wajah datar nan seriusnya itu membangkitkan kewibawaannya dengan aura kepemimpinan yang menguar nyata.
Wajahnya rupawan, ia tampan melebihi pria tampan yang ada di negerinya. Dia gagah juga hebat melebihi pria hebat di negerinya. Tidak hanya tampan dan hebat, ia ternyata juga adalah seorang pemimpin. Pemimpin negeri serta kerajaannya.
Dialah sang Kaisar dari Kerajaan Huoli di Negara Api. Kaisar yang terkenal akan ketegasan dalam bertindak, sekalipun itu harus dengan cara yang kejam. Ia juga dikenal tak pandang bulu, bila salah satu anggota keluarganya terlibat masalah ia pun akan memberikan tindakan tegas sesuai dengan kesalahannya.
Satu yang paling tidak ia sukai atau lebih tepatnya yang paling ia benci yaitu...
PENGKHIANATAN!!!
Sejauh ini belum ada terdengar di telinganya ada yang berani berkhianat. Oleh karena itu, belum juga ada yang namanya hukuman mati bagi orang-orangnya selain hukuman cambuk dan di kurung di penjara bawah tanah bagi bawahannya. Dan hukuman kurungan di kediaman masing-masing atau di asingkan ke istana dingin bagi anggota keluarga kerajaan nya.
Bicara soal hukuman di istana dingin. Ia sudah melakukannya dan itu ia lakukan untuk permaisuri nya sendiri karena kesalahan istrinya itu yang terlalu cemburu hingga kehilangan akal sehatnya sampai berniat untuk mencelakai selir agung sekaligus wanita kesayangannya yang sekarang ini tengah mengandung anaknya dan sudah menginjak usia 4 bulan.
Bila mengingat kejadian itu, ia masih tak habis pikir dan tidak dapat menahan amarahnya. Bagaimana seorang gadis yang di kenal cukup dewasa di usia yang masih muda itu bisa berbuat hal sekejam itu?
Meski ia akui, ia memang belum pernah bersikap layaknya suami yang baik selain dengan cara menghormatinya lantaran sikap bijaksana nya dan kecerdasan nya dalam segala hal. Ia juga menyadari kelemah-lembutannya dan bertutur kata serta sopan santun yang selalu dijaga.
Ia juga mengakui perhatian yang selama ini permaisuri nya berikan padanya atas bentuk dari kewajibannya sebagai seorang istri. Tak hanya itu, ia juga tahu sebesar apa cinta permaisuri nya itu padanya. Tapi, walaupun begitu ia juga belum bisa memberikan hatinya untuk permaisuri nya selain rasa hormatnya.
Sampai hal yang tak pernah di sangkanya terjadi, dimana ternyata permaisuri nya itu bukanlah gadis yang baik. Sejak ia memiliki selir mulai dari satu hingga kini memiliki beberapa selir. Permaisuri nya sudah mulai menunjukkan belangnya yang mana membuatnya bersyukur tak pernah menaruh hati padanya.
Terlebih sekarang ia sedikit lega lantaran sang istri pertama sudah ia beri hukuman dengan mengurungnya di istana dingin. Meskipun sejujurnya, entah mengapa. Jauh di lubuk hatinya, selalu ada sesuatu yang memintanya untuk tidak melakukan hal pada permaisuri nya dimana hal itu akan menuntunnya pada penyesalan di kemudian hari. Tapi, selalu ia tepis dan abaikan bisikan hatinya itu. Baginya, ia telah melakukan hal yang benar.
Langkahnya terhenti begitu saja, membuat pengikutnya yang berada di belakang secara spontan ikut berhenti. Mereka menunduk tak berani menatap kaisar mereka yang entah kenapa saat ini mengeluarkan hawa mencekam dari dalam dirinya. Hawa yang membuat siapapun merasa tertekan dan takut tiba-tiba.
"Y..yang mulia..." suara seseorang yang tak lain adalah Kasim kaisar tercekat tertahan. Tak berani melanjutkan saat matanya melirik junjungannya yang kini tengah menatap pintu besar dengan papan nama di atasnya yang bertuliskan 'ISTANA DINGIN'. Tak tahu kenapa junjungannya melakukan hal itu, padahal mereka hanya akan lewat saja.
Sedang sang kaisar sendiri tak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya yang belakangan ini ia rasakan. Sambil memandang pintu kayu yang tampak rapuh itu, tiba-tiba sebuah bayangan terlintas jelas dibenaknya.
"Saya tidak tahu, kalau kepercayaan yang mulia terhadap saya hanya sebesar debu yang berterbangan tak berarti." mata sayu dan berkaca-kaca itu menatap sendu penuh rasa sakit ke arahnya. "Jika itu yang memang anda yakini tentang saya... Dan tetap teguh pada pendirian anda tanpa ingin mendengarkan penjelasan dari saya... Maka, saya akan diam." mata itu dipejamkan sejenak hingga air yang menggenang di dalamnya tumpah seketika barulah mata itu dibuka kembali dengan sorotan yang sama. "Karena, kini saya akan mengambil sebuah keputusan. Tak peduli apakah keputusan saya terdengar penting atau tidak bagi anda, yang mulia." suaranya mulai bergetar seolah tak kuasa untuk mengucapkannya. "Tapi, mulai saat ini... Saya Permaisuri Ahn Reychu... Akan lepas tangan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan yang mulia kaisar Li Hanzue... S..selamanya..." usai mengucapkan kalimat tersebut dengan suara yang terdengar jelas tengah menahan agar tidak terisak, permaisuri itu langsung berbalik pergi keluar dari aula pengadilan kerajaan menuju istana dingin tanpa mau memberi hormat terlebih dahulu seperti yang selama ini selalu ia lakukan kepada suaminya sekaligus kaisar di kerajaan tempatnya berpijak saat itu.
Tanpa sadar air mata menetes dari sudut dalam matanya saat ingatan tersebut terlintas kembali secara tak terduga. Kesadarannya kembali ketika ia merasakan sesuatu yang asin masuk kedalam mulutnya yang membuatnya dilanda ketidakpercayaan bahwa ia baru saja meneteskan air mata hanya karena bayangan 3 bulan lalu muncul kembali.
Jujur saja, ia merindukan gadis itu...
Merindukan permaisurinya...
Ia tak bisa menampik kenyataan bahwa hanya gadis itu yang bisa memahami apapun keadaannya. Saat ia dilanda kegelisahan karena masalah kerajaannya. Saat ia di hadapkan oleh situasi yang pelik, seperti adanya wabah yang menyerang salah satu desa di bawah kepemimpinan kerajaannya atau masalah mengenai peperangan. Saat ia dibuat bingung oleh banyaknya masalah yang datang silih berganti. Bahkan saat ia dilanda kelelahan yang teramat sangat namun tak bisa berhenti untuk sekedar menarik nafas singkat lantaran pekerjaan yang tak bisa di tunda.
Gadis itu... Ya, gadis. Ia sangat tahu itu, karena ia belum pernah menyentuhnya.
Gadis itu yang adalah perempuan pertama yang memasuki kehidupannya sesaat sebelum ia naik tahta dan sebagai salah satu syarat yang harus ia penuhi sebelum benar-benar memegang penuh segala kendali atas kerajaan dan negerinya.
Gadis yang ia nikahi dan di berikan amanat untuk menjadi seorang permaisuri sekaligus sosok pendamping yang akan menemaninya dalam keadaan apapun, juga pemegang kendali kestabilan kerajaan. Dalam arti kata, gadis itulah ibu bagi negara yang di pimpinnya, wajah bagi kerajaannya, serta perempuan yang di percayakan sebagai tempat untuk melahirkan keturunan yang nantinya akan menjadi penerusnya kelak.
Dialah yang paling mengerti dirinya melebihi dirinya sendiri.
Sayangnya kini. Jarak diantara mereka begitu luas terbentang. Sejak permaisurinya mengucapkan kalimat yang entah sedari kapan mulai terasa menyakitkan untuk ia dengar dan sejak ia memilih mengabaikan segala tentangnya. Sejak saat itulah, ia mulai dilanda kebimbangan.
Ia tahu, hatinya telah terisi oleh selir agung kesayangannya -Gong Dahye-. Tapi, bukan berarti ia lepas tangan dari mengawasi haremnya. Ia sadar bahwa yang namanya Harem kerajaan tak akan pernah luput dari perselisihan dan persaingan hanya untuk sekedar menarik perhatian sang kaisar. Karena itu ia menaruh orang kepercayaannya untuk mengawasi segala yang terjadi di haremnya.
Tapi, tetap saja. Kaisar Li Hanzue hanya memiliki satu tempat di hatinya dan saat tempat itu sudah terisi ia tak bisa menambahkannya lagi, meskipun demikian bukan berarti ia tak memiliki rasa tanggung jawab pada setiap perempuan yang sudah memasuki haremnya. Termasuk permaisuri. Walau pada akhirnya ia pun mengabaikannya karena suatu hal.
Kini, ia malah di landa kebimbangan. Perasaannya mulai kacau, terlebih belakangan ini muncul masalah di perbatasan negara api.
Bila sudah seperti ini, biasanya permaisurinya lah yang ia ajak berunding untuk saling bertukar pendapat. Meski ujung-ujungnya pendapat permaisurinya yang ia pakai sebagai rencana pertama, karena sang permaisuri pandai meminimalisir resiko yang akan terjadi. Sedang untuk rencananya sendiri, sering di jadikan sebagai rencana cadangan bila lawan tak ingin dengan cara yang aman.
Ini juga menjadi alasan mengapa ia tak pernah berpikir untuk melengserkan posisi istrinya -Ahn Reychu- dari posisi permaisuri.
Bicara mengenai selir agung kesayangannya, bukan tak percaya untuk membahas segala masalah kerajaan dengan selirnya itu. Hanya saja, pernah sekali ia lakukan sembari menikmati malam panjang bersama. Tapi, berakhir buntu.
Mengapa?!
Karena selir agung Gong Dahye lebih sering menyarankannya untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya dari masalah yang ada di kerajaannya. Dalam artian, secara halus meminta kaisar untuk memanjakannya dan melupakan urusan kerajaan bila sedang bersamanya.
Dan sialnya, ia baru menyadari hal itu beberapa waktu belakangan ini. Sebelumnya ia terlalu mencinta hingga yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara menyenangkan hati wanitanya. Tapi, kini ia merasa telah melakukan kesalahan yang mana malah merugikannya. Meskipun dari sisi kebutuhan biologis, ia terpenuhi. Tetap saja, sebagai seorang pemimpin tak bisa hanya memikirkan tentang kebutuhannya sendiri. Ia punya tanggung jawab atas seluruh penghuni negera api.
Inilah yang membuatnya mulai merasa wanitanya tak bisa di andalkan dan sayangnya, ia mencintai wanita seperti itu.
"Hah... Sulit di percaya. Aku gagal dalam memilih pemilik hati." tuturnya dalam hati tanpa sadar. Li Hanzue benar-benar tidak menyadari kalimat yang diucapnya.
Menarik nafas panjang seraya melirik sekilas pintu kayu yang rapuh itu dan bergumam lirih dalam hati. "Maaf dan sampai bertemu lagi."
Setelahnya ia kembali melanjutkan langkahnya bersama yang lainnya.
"Apa yang lainnya telah berkumpul?" tanya kaisar Li Hanzue lantang namun terkesan dingin. Maklum ia banyak pikiran belakang ini.
"Y..yang mulia... Hamba menjawab. Sudah, yang mulia. Mereka sudah berkumpul semua di ruang rapat kerajaan." jawab Kasim kaisar. Li Hanzue tak lagi berkata, ia hanya kembali fokus pada langkah tujuannya.
Selang beberapa saat.
Akhirnya, merekapun sampai di depan pintu besar dari bangunan khusus untuk melakukan perundingan atau diskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kerajaan Huoli.
Para penjaga yang ada di depan pintu segera memberi pengumuman akan kedatangan raja mereka.
"YANG MULIA TELAH TIBA!!!"
Begitu suara tersebut menggema para pejabat dan dewan kerajaan pun lantas berdiri segera dan langsung memberi hormat.
"SALAM KAMI KEPADA YANG MULIA KAISAR LI HANZUE. SEMOGA SELALU DI BERKAHI!!!"
Sedang yang di beri salam hanya diam dengan tampang dinginnya dan berjalan menuju singgasananya. Sampai di kursi kebesarannya, iapun duduk dengan gagah setelah mengibas jubahnya sebelum bergerak duduk.
"RAPAT DI MULAI!" titahnya lantang dan tegas.
Visual Cast untuk Li Hanzue x Ahn Reychu.
Visual Cast untuk Li Hanzue.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
ciiiiiiiihhhh 🧠🐌🐌🙄
2024-04-27
0
kutu kupret🐭🖤🐭
cuiiiiiihhh dasar 🧠🧠🐌🐌🐌🐌🐌🙄
2024-04-27
0
Oi Min
Sayang sekali..... Kmu sdah kehilangan permaisuri mu Li Hanzue..... Selamanya
2022-09-04
3