Setelah selesai dari misi, merekapun memutuskan untuk segera pergi. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena Reychu yang sudah sangat mengantuk dan Rayan yang gerah karena tubuhnya di basahi oleh keringat juga keinginannya untuk dapat menonton pria-pria tampan yang sudah menjadi kebiasaannya saat di waktu senggang. Sedang Ryura, tak perlu di tanya. Dia tak tampak bergairah akan apapun, entah itu untuk sekadar tidur atau menonton yang jelas begitu tiba di rumah tujuan utamanya hanya kamar setelahnya entahlah. Kedua sahabatnya bahkan tak tahu apa yang jadi kebiasaan Ryura bila sendirian dikamar.
Begitu mereka berhasil keluar dengan tenang dan aman pemandangan pertama yang di tangkap adalah hujan. Meski tidak begitu deras tapi tetap saja hujan dan itu akan membuat jalanan licin terlebih saat ini mereka ada di kawasan hutan.
"Hah?! Hujan?! Yang benar saja?!" keluh Reychu.
"Hmm... Mau bagaimana lagi?! Namanya juga kondisi alam. Tak mungkin kan dia berhenti hanya karena kau mengeluh." saut Rayan.
Ryura memandang hujan dengan tatapan dalam namun sulit di artikan hingga tangannya terulur meminta sesuatu. "Berikan kuncinya. Cuaca seperti ini tidak cocok untuk orang yang mengantuk mengemudi." pintanya.
"Kau tidak lelah, Ryu?" tanya Rayan cemas, karena bagaimanapun ia sendiri yang melihat aksi Ryura di lorong depan pintu kamar tempat target berada. Dimana ia yang paling banyak menebas lawan hingga tergeletak tak berdaya bahkan ada yang langsung menuju kematian. Sedang Rayan sering tidak tegaan apalagi yang di hadapi adalah pria tampan, wajahnya itu yang sangat tak ingin Rayan lukai. Kasihan, katanya.
"Tidak!" singkat Ryura. Kalau sudah begitu tak ada pilihan lain selain menyerahkan apa yang di minta sahabatnya itu.
"Baiklah. Ini. Tapi, ingat kau harus hati-hati. Cuacanya sedang tidak mendukung." peringatan Rayan hanya di balas deheman lalu berlalu pergi menerobos hujan tanpa peduli akan basah. Melihat itu Reychu dan Rayan langsung mengekor di belakangnya.
Di dalam mobil, ketiganya sudah duduk dengan tenang.
Reychu di kursi belakang merebahkan tubuhnya setelah ia membuka jaket hitam kulitnya yang basah karena hujan dan sedikit menyisakan bau amis darah juga sepatu boot nya di campakkan begitu saja ke jok belakang.
Di depan, tepatnya di samping kursi pengemudi Rayan sudah melepas kepangannya kini rambutnya di ikat sanggul asal agak tinggi memperlihatkan leher jenjangnya. Jaket hitam kulitnya pun ia tanggalkan menyisakan kaos putih tanpa lengan. Ia duduk anteng dengan kaki yang di naikkan ke atas dasboard.
Sementara di kursi kemudi, Ryura hanya menanggalkan jaketnya saja membiarkan kaos hitam lengan pendek yang melekat pas di tubuhnya terlihat. Dia duduk diam sambil mengemudi santai menerobos hujan yang mengguyur dengan tenangnya.
"Ryu-Ray, bangunkan aku kalau sudah sampai, oke?" kata Reychu dengan suara khas orang yang setengah sadar karena mengantuk. Tanpa menunggu kedua sahabatnya menjawab ia langsung tertidur di kursi belakang dengan dengkuran halus yang mengiringinya.
Melirik kebelakang. "Dia itu... Tak pernah berubah. Selalu bisa tidur di mana saja." celetuk Rayan dan kembali menatap jalan di depannya.
Jalanan yang tidak begitu mulus masih terbentang panjang di depan mereka, entah sepanjang apa. Sepertinya mereka pun tak tahu karena tak pernah mengukur jarak tempuh dari jalanan beraspal hingga ke tempat dunia malam itu.
Goncangan demi goncangan ringan menemani kesunyian Rayan dan Ryura selain suara hujan yang berjatuhan ke bumi.
"Ryura..." bosan hanya di selimuti keheningan, Rayan memilih membuka suara. Meski ia tak yakin akan mendapat obrolan yang dia inginkan bersama sahabat satunya itu.
"Hm."
"Kau tahu 'kan. Kalau aku belajar pengobatan tradisional dengan salah seorang tetua di pedesaan pinggir kota." ucap Rayan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan basah di depannya yang di soroti lampu mobil.
"Hm. Lalu?" tanya Ryura meski sebenarnya ia sama sekali tidak penasaran.
"Dia memberiku bonus dengan mengajarkan ku cara membuat racun dan penawarnya dari 3 tahun lalu. Setelah aku di nyatakan mampu meracik obat-obatan herbal tradisional." jelas Rayan.
"Lalu?"
"Menurutmu, apa ada gunanya aku mempelajarinya? Racun itu pasti tidak akan terlalu ku butuhkan di setiap misi, apalagi penawarnya. Terlebih apa gunanya di racuni kalau kita bisa langsung membunuhnya dengan senjata api."
"Pelajari saja semuanya." jawab Ryura yang masih fokus mengemudi. Rayan menoleh di buatnya.
"Aku memang mempelajari semuanya. Bahkan 3 tahun terakhir ini aku hanya fokus bereksperimen dalam membuat racun dan penawarnya. Sampai-sampai guruku itu memujiku jenius, karena sangat cepat mempelajari berbagai macam jenis racun serta penawarnya." jedanya. "Awalnya aku sangat antusias begitu mendengar akan belajar membuat semua itu. Tapi, lama kelamaan aku bosan juga. Habisnya tak ada satupun racun yang aku coba pada manusia. Paling hanya racun ringan seperti yang ku gunakan malam ini. Racun pelumpuh dengan durasi 6 jam, itupun tidak membutuhkan penawarnya karena tak akan terjadi apa-apa." bahunya merosot rendah. "Sekarang aku merasa sudah membuang banyak waktu hanya untuk mempelajari hal yang takkan ku praktekkan secara langsung." keluh Rayan hingga bibirnya manyun tak terkendali dan kemudian sesuatu membuatnya terlonjak kaget.
JEDAARRR...!!!
Petir menggelegar ditengah-tengah obrolan mereka.
"Astaga... Jantungku..." ucapnya seraya mengelus dada. Melirik Ryura yang tak bergeming.
"Ya Tuhan. Manusia yang satu ini benar-benar!" geramnya dalam hati.
"Tidak ada ilmu yang sia-sia." kata Ryura bijak tanpa peduli keadaan Rayan yang baru saja mengalami kejutan alam.
"Emm... Kau memang benar. Tapi, tetap saja!" seru Rayan lesu seolah habis mendapat hukuman. "Eh, ngomong-ngomong. Tadi aku melihatmu menggunakan benda itu. Kau sungguh-sungguh menggunakannya?" rasa penasaran Rayan bangkit saat mengingat aksi mereka tadi, bahkan kini ia melupakan kesedihannya pada ilmu yang di pelajarinya namun tak dapat ia coba langsung.
Ryura melirik sekilas Rayan yang seperti anak kucing saat melihat gumpalan benang.
"Hm." Ryura membenarkan.
"Kenapa? Bukankah kau selalu merasa benda itu terlalu istimewa bila hanya sekadar di pakai untuk misi yang biasa seperti tadi?!" Rayan berujar mengungkapkan rasa penasaran nya.
Pasalnya benda kecil namun panjang itu adalah benda kesayangan Ryura. Gadis manekin hidup itu tak pernah menggunakannya bila misi yang di terima hanyalah misi biasa. Setahu Rayan, selama sepuluh tahun berkarir di dunia hitam dan 9.5 tahun Ryura memiliki benda itu. Gadis itu hanya menggunakannya 3 kali yang artinya ini adalah keempat kalinya Ryura menggunakannya. Tentu saja hal itu memancing rasa penasaran sahabatnya, khususnya Rayan.
"Entahlah. Hanya ingin saja." jawab Ryura seadanya. Karena nyatanya ia pun tak tahu mengapa tergerak untuk menggunakan benda yang adalah senjata kesayangannya. Mendengar itu Rayan hanya bisa ber'oh'ria saja.
Sampai sesuatu telintas di benaknya. Rayan segera membalikkan badannya menghadap sahabatnya yang masih tenang di tempatnya.
"Eh! Aku belum memberitahumu, ya?" ujar Rayan dengan sangat antusias. Ryura melirik sekilas.
"Soal apa?" tanyanya datar. Rayan tak mempedulikan hal itu karena sudah biasa baginya. Mungkin akan jadi tidak biasa bila Ryura mendadak berekspresi dan mencabut gelar manekin hidup nya.
"Tadi, saat di dalam club itu aku bertemu pria tampan. Dia seorang bartender. Kau tahu, ketampanannya alami. Ya, ampunn... Aku merasa fresh kembali setelah melihatnya. Putih, bersih, mulus, cool, tubuhnya tegap dan pastinya tampan luar biasa. Aku juga sempat berkenalan dengan nya. Mau tahu?" Rayan bercerita dengan semangat tak peduli Ryura mendengarnya atau tidak yang pasti ia hanya ingin berbagi kebahagiaan nya dengan sahabat-sahabatnya, walaupun saat ini yang satunya malah tertidur pulas di kursi belakang.
Saat ingin menyebut namanya sebuah suara kembali mengagetkan nya. "Namanya itu..."
JEDARRR...!!!
"AAA....!!!"
Tak hanya Rayan yang terkejut, ternyata di kursi belakang juga tak kalah terkejut lantaran suara petir kali ini lebih besar dengan kilatan cahaya nya yang menyambar tajam. Ryura yang sebelumnya tak bergeming saja sempat terhenyak namun hanya sesaat lalu kembali normal.
Reychu terbangun dari tidurnya langsung ke dalam posisi duduk. Rayan hanya menggumamkan kata yang entah apa itu intinya supaya ia bisa kembali tenang.
"Suara apa itu tadi?" tanya Reychu dengan wajah bangun tidurnya, sebelah tangannya memegang kepalanya yang berdenyut sakit lantaran bangun dengan spontan akibat suara yang memekakkan telinga. Sesekali ia meringis dan menggeleng guna mengusir rasa sakitnya.
"Petir." jawab Ryura singkat. Reychu menghela nafas mendengarnya kemudian membanting punggungnya ke sandaran kursi.
"Besar sekali suaranya. Aku sampai terkejut." racaunya dengan mata terpejam.
"Tidak hanya suaranya yang menggelegar. Kilatan cahayanya juga tak kalah menyilaukan. Aku sampai buta sesaat." timpal Rayan.
Melirik kekiri dan kanan. "Belum sampai juga?" tanya Reychu saat matanya masih menangkap pemandangan hutan yang gelap dan basah akibat hujan yang belum berhenti.
"Jalanan licin, Rey. Kita harus hati-hati. Aku belum ingin mati di sini. Membayangkannya saja berasa konyol." balas Rayan.
"Siapa juga yang mau mati di sini. Tidak elite sama sekali." ujar Reychu acuh. "Masa iya. Gadis-gadis cantik seperti kita yang biasanya melenyapkan nyawa orang tiba-tiba di kabarkan tewas bersama akibat di sambar petir!" celetuknya tanpa pikir panjang.
*BLAARRR....!!!
AAAAAAA*....!!!
Siapa yang menyangka kalimat yang hanya asal sebut itu menjadi nyata?!
Usai Reychu mengucapkan kalimatnya yang asal-asalan itu. Petir kembali menyambar, namun kini tepat mengenai mobil mereka hingga terjungkir balik dan menggelinding sampai terperosok ke dalam jurang yang berada tak jauh dari jalanan kecil di hutan tersebut. Suara teriakan mereka, tepatnya Rayan dan Reychu pun turut tenggelam bersama dengan jatuhnya mobil yang mereka tumpangi.
Dan mereka...
Mati?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
@⒋ⷨ͢⚤L♡Marieaty♡
dan mati begitu saja 🙄🙄🙄gimana tuh dengan uang nya sayang bener😅😅😅
2023-09-02
1
Oi Min
Penasaran..... Apa mereka akan saling menemukan dan mengenali nnti di dunia kuno y??
2022-09-04
1
🦢🐣Xiao Qi Qi🐣🦢
kak izin koreksi ya... tak bergeming itu artinya tak diam saja, klo utk menyatakan ia diam tak melakukan apa2 cukup dg bergeming saja
2022-06-04
2