Aura di sekitar arena adu fisik terasa amat mencekam nan menegangkan. Dua anak manusia berbeda jenis, ukuran, dan usia itu tampak saling beradu pandangan tajam dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Tatapan tajam Reychu yang terkesan penuh peringatan dan Bou Qin yang tatapan tajamnya justru menyiratkan gejolak amarah tak tertahan.
Bahkan karena suasana yang tak mengenakkan itu para penonton sampai hening tak berani bersuara. Hanya memfokuskan mata mereka pada dua manusia yang kini berdiri tegak di dalam panggung arena.
"Cuih! Kuharap kau tidak menyesal karena sudah berani menantang ku!" Bou Qin meludah marah, sedang Reychu hanya acuh mendengar apa yang baru saja diucapkan Bou Qin.
Mengangkat bahunya acuh. "Aku mana tahu akan menyesal atau tidak. Jadi, daripada aku pusing sendiri memikirkan apakah aku salah langkah atau tidak lebih baik menyelesaikan apa yang sudah ku mulai. Bukankah begitu tuan..." terlihat berpikir. "'Aa... Bou Qin. Ya, tuan Bou Qin." Reychu manggut-manggut saja tak tahu kalau pria di depannya sudah benar-benar di selimuti amarah.
Sementara para penonton sibuk mengutarakan suara mereka dengan berbisik.
"*Gadis itu terlalu berani."
"Dia tidak sadar diri kurasa."
"Gadis itu sepertinya sudah gila."
"Bou Qin pasti tak akan tinggal diam."
"Apa gadis itu cukup mampu mengalahkan Bou Qin?!"
"Aku berharap gadis itu menang. Bou Qin sudah cukup lama menyombongkan diri selama ini."
"Benar*!"
Kira-kira seperti itulah yang terdengar meski samar. Sedang dua pria yakni tuan muda dan pengawalnya hanya diam mendengarkan semua komentar itu dengan mata yang terus menatap intens ke arah panggung arena atau lebih tepatnya menatap lurus ke arah Reychu.
"Baiklah... Baiklah... Dari pada menunggu lebih lama lagi. Mari kita mulai. Seperti yang sudah kau ucapkan, gadis kecil. Bila kau menang maka hadiah Bou Qin sebelumnya dan hadiah di ronde ini akan jadi milikmu." kata seorang pria gendut pendek yang adalah si penyelenggara dengan lantang tanpa mau peduli delikan tajam Bou Qin yang mendengarnya.
"Hei, pak tua! Kapan aku menyetujuinya? Jangan asal mengambil keputusan kau, ya! Kau lupa siapa aku?!" geramnya marah karena tidak di anggap.
Dengan sedikit gugup lantaran takut, pria gendut pendek itu menjawab. "S..sudahlah, kenapa kau harus menolak tantangan gadis itu? B..bukankah kau menganggap dia hanyalah gadis lemah. H..harusnya dia bukanlah apa-apa bagimu?"
Berpikir sejenak hingga akhirnya mengangguk mengerti. "Ya, ya... Aku memang tiada tandingannya. Pastinya aku yang akan memenangkan tantangan kali ini dan kau gadis bodoh. Bersiaplah menyambut kekalahan mu! HAHAHA..." kata Bou Qin dengan sombongnya, Reychu sampai menggelengkan kepalanya menanggapinya.
"Sombongnya makhluk yang satu ini." kata Reychu jengah dalam hati.
"Sudah selesai berbincangnya?! Kalau sudah mari kita mulai. Aku sudah tak bisa menahan rasa laparku! Kalau sampai aku kalah kau di wajibkan mentraktirku makan!" ucapnya mutlak yang justru mampu membuat siapa saja yang mendengarnya tersedak ludah mereka sendiri.
"A..apa... Hah! Kau pikir siapa kau..." belum selesai Bou Qin bicara dengan raut wajah tak sangkanya, Reychu segera menyela.
"Aku?! Tentu saja gadis yang sedang menantang mu kalau kau lupa." katanya bangga. "Eh! Tidak heran kalau kau sampai lupa... Kau kan sudah tua! Hahahaha..." ledeknya hingga tertawa renyah sendiri.
"SIALAN KAU BOCAH...!!!" teriak Bou Qin marah, kemudian berlari hendak menerjang Reychu yang baru saja menyeka sudut matanya yang berair akibat tertawa.
Sedikit lagi bogeman mentah dari Bou Qin meluncur mengenai pipi kiri Reychu. Tapi sayangnya, di detik berikutnya Reychu menghindar di waktu yang tepat sehingga bogeman pria itu hanya mengenai udara.
Sebenarnya saat ini, Reychu sedang mencoba mengamati seberapa kuat lawannya. Karena bagaimanapun dirinya sadar, ia sedang tak memiliki cukup tenaga lantaran tengah lapar. Terlebih tubuh itu bukan miliknya, walaupun jiwanya sudah berganti tetap saja sisa-sisa kelemahan pemilik sebelumnya masih tertinggal dan menjadikan itu kendalanya. Jadi, yang bisa ia lakukan sekarang ini adalah mencari celah untuk dapat mengalahkan lawannya tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
"Huuh! Aku rindu Ryura. Kalau dia yang ada di posisi ku. Tak peduli sedang lapar atau kenyang. Ryura selalu bisa mengatasi lawannya... Oh, sahabatku! I Miss You So Much!" curhat Reychu dalam hatinya dengan rindu yang mendera.
Orang-orang yang melihat betapa gesit Reychu menghindari setiap pukulan Bou Qin, bahkan tak jarang ia menunjukkan kelenturan tubuhnya saat sedang menghindar agar tak sampai terluka itu pun tak bisa menutupi raut kagum mereka.
"Wow... Tubuh ini sangat lentur! Jauh lebih lentur dari tubuhku yang dulu! Senangnya...! Wajar kurasa. Ahn Reychu 'kan jago belajar menari!" batinnya berseru senang. Saat ingatannya menyadarkannya bahwa sang permaisuri sudah mempelajari segala hal yang patut di pelajari seorang perempuan yang kelak akan menuntunnya untuk menemukan pasangan yang tepat. termasuk menari.
"Apa hanya menghindar bisamu, hah!" gerutu Bou Qin marah karena merasa di permainkan oleh seorang gadis lemah.
"Oh, tentu saja tidak! Tapi, saat ini aku sedang menghemat tenaga. Tahulah, aku 'kan sedang kelaparan!" ujarnya santai saat ia membocorkan kondisinya sendiri yang mana membuat lawannya dan para penonton melongo dalam yang berbeda-beda.
"Dasar bodoh! Apa dia sudah gila mengatakan yang sebenarnya kepada lawan tentang kondisinya!" umpat si tuan muda dalam hati. Jujur ini kali pertama ia menyaksikan sendiri berapa bodoh dan gilanya seseorang saat sedang di hadapkan dengan keadaan seperti ini.
"Ouh. Bukankah itu berarti kau sedang lemah sekarang. Kalau begitu aku akan berbaik hati untuk membantumu menghabiskan tenaga mu." Bou Qin tersenyum licik.
"Oh, benarkah?! Kalau begitu silahkan coba saja! Tapi, jangan sampai kau menangis kalau pada akhirnya di kalahkan oleh gadis lapar ini ya..." tutur Reychu tak kalah licik.
Pertarungan kembali berlanjut dengan Bou Qin yang selalu menerjang lebih dulu. Reychu masih saja mengelak membuat pria bertubuh tinggi besar itu murka karenanya. Tapi, Reychu masih belum berniat untuk mengambil langkah maju meskipun ia tahu lawannya sudah mulai membabi buta menghajarnya.
Berputar ke kiri dan ke kanan untuk menghindari pukulan. Dan terkadang melompat guna menghindari tendangan dari bawah. Dan juga sempat melengkungkan punggung ke belakang saat pria itu dalam mode geram dan ingin rasanya membekapnya dengan tangan-tangan kekar miliknya agar gadis itu mati kehabisan nafas.
Tapi sayang, ia melupakan fakta kalau saat itu ia sudah memberi celah pada lawannya untuk menyerangnya.
Tak ingin melewatkan kesempatan, Reychu langsung meluncurkan sebelah kakinya guna menerjang ************ pria itu dengan kekuatan penuh. Dan...
Bugh!
Tubuh kekar itu membatu seketika dan detik berikutnya ia meringis kesakitan seraya memegangi miliknya yang terkena tendangan gadis kecil di depannya yang saat ini justru tengah memberikan senyuman manis nan polos tanpa dosa.
Penonton yang di dominasi oleh pria secara spontan pun ikut meringis seolah turut merasakan, bahkan sebagian dari mereka ada yang tanpa sadar ikut memegangi milik mereka masing-masing. Tak terkecuali tuan muda tampan dan pengawalnya itu yang hanya menunjukkan ekspresi meringis ngilu melihatnya.
"Oh tuan Bou Qin... Tidak ingin melanjutkannya lagi? Kalau tidak, aku tak apa. Aku malah senang." serunya seraya menaik-turunkan alisnya.
"Ugh... Dalam... M..mimpimu, b..bocah sialan!" desis Bou Qin geram. Ia tak terima di perlakukan seperti ini.
Senyuman polos tadi seketika berganti datar layaknya orang yang memiliki 2 kepribadian. "Mimpi?! Kalau begitu biar ku buat jadi nyata. Dan kali ini aku yang memulai."
"PENGECUT KAU, BOCAH!" teriak Bou Qin semakin marah.
"Anggaplah aku sesukamu, kau pikir aku peduli! Hama tetaplah hama! Mau dia dalam keadaan lemah atau pun kuat, tetap harus di basmi!" ucap Reychu tenang namun rautnya datar dan tajam.
"KAU ANGGAP AKU HAMA! DASAR KAU ******!" sekali lagi Reychu mampu memancing amarah pria bertubuh tinggi besar itu dengan mudahnya.
Menarik sudut bibirnya merasa lucu. "******, ya?! Sayangnya aku masih suci. Kurasa matamu sudah buta, bagaimana bisa gadis baik-baik sepertiku kau sebut ******?! Hahaha... Aku bahkan terlalu luar biasa untuk julukan itu!" kata Reychu seraya tertawa renyah yang dengan mudahnya menghilangkan kedatarannya tadi, bahkan ia sempat membanggakan diri dan itu sukses membuat orang yang melihatnya merasa Reychu adalah gadis gila.
"Kau benar-benar sudah membuatku marah, nona!" ucap Bou Qin di sela-sela giginya yang di katup rapat.
Tanpa perlu repot-repot menunggu balasan dari Reychu, Bou Qin sudah lebih dulu menarik pedang yang memang di sediakan di dekat panggung arena sebagai persediaan bila mana ada peserta yang ingin beradu menggunakan senjata.
Melihat itu Reychu mengernyit di buatnya. Tuan muda yang melihatnya dari bawah panggung sampai berujar dalam hati atas kemalangan gadis itu yang ia pikir tak akan mampu melawan karena lawannya menggunakan senjata.
Tapi, sayang seribu sayang. Pedang panjang nan tajam itu di tepis dengan mudah oleh senjata kecil milik Reychu. Apalagi kalau bukan pisau dapur yang sudah menghitam akibat karat.
Tang!
Para penonton menganga takjup sekaligus tak percaya dengan apa yang mereka lihat sampai-sampai seruan mereka kembali terdengar.
"*Hei, lihat itu. Bukankah itu pisau dapur."
"Astaga, itu bukan senjata yang mampu di adu dengan pedang."
"Dia benar-benar gila."
"Bou Qin akan di permalukan bila gadis itu sampai menang hanya dengan sebilah pisau dapur*."
Seperti itu sekiranya seruan mereka. Tuan muda dan pengawalnya saja sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.
Di tepis bukan di tahan pedang itu dengan pisau dapur milik Reychu. Karena Reychu tahu, bila ia menahan pedang itu dengan pisaunya bisa di pastikan pisaunya akan terpotong. Bagaimanapun ketajaman pedang melebihi ketajaman pisau dapur.
"Huff... Nyaris saja!" gumamnya lega begitu mampu menyingkirkan para pedang itu dari hadapannya.
Mata Bou Qin membulat tajam menatap benda yang di genggam lawannya. Ia merasa terhina hingga kemarahannya mancapai puncak. Pikirannya penuh dengan rasa malu, bila ia sampai kalah dengan gadis yang hanya menggunakan pisau dapur berkarat itu. Alhasil, emosinya menuntunnya untuk segera menghabisi gadis itu.
"Tak akan aku biarkan kau mengalahkan mu dengan pisau murahan itu!" gumamnya tak terima. Reychu di depannya hanya tersenyum seolah tahu apa yang mengganggu pikiran lawannya.
"HYAAAK..." teriaknya lantang menyerang Reychu.
Di layangkan pedang itu ke arah Reychu membuat gadis itu mengelak. Sadar kalau lawannya ingin kekalahannya, ia pun tak mau lagi bermain-main.
"Huh! Ini kau yang minta, Bou Qin jelek!" serunya dengan sempat-sempatnya mengejek. Pria itu semakin di kuasai oleh amarah karena ejekan Reychu.
Berlari gesit melalui arah samping kanan. Menyadari lawannya ingin menyerang lewat samping Bou Qin pun mengayunkan pedangnya berharap dapat melukai Reychu. Tapi, gadis itu lebih gesit dari yang di bayangkan.
Dengan sisa tenaganya, Reychu meluncur menggunakan lututnya yang di lipat menyentuh lantai panggung dengan tubuhnya yang di jatuhkan kebelakang sampai rambutnya menyapu lantai hingga pedang itu hanya menebas udara yang tepat di atas wajahnya. Reychu bahkan bisa melihat kilauan silau dari mata pedang itu saat cahaya tepat mengenainya.
Tak ingin membuang waktu, begitu lolos dari tebasan pedang dan kini Reychu tepat berada di belakang lawannya pun segera bangkit sebelum lawannya sempat berbalik.
Jleb!
Pisau yang di layangkan dari tangan Reychu tak dapat di hindari oleh Bou Qin saat benda tajam yang biasanya di tempatkan di dapur itu menembus kulit dan daging pria itu di bagian pinggang belakangnya. Tak sampai di situ, hal yang tak terduga dan tak terpikirkan pun di tunjukkan oleh Reychu dengan santainya.
*Sreet...
Jleb!
Sreet...
Jleb!
Sreet...
Jleb*!
Pisau yang sudah terbenam di bagian tubuh pria itu malah di tarik kebawah oleh Reychu hingga mengakibatkan pinggang sampai panggul Bou Qin terbelah, darah pun mengalir deras tak dapat di elakkan. Para penonton yang melihatnya seketika menahan nafas ngeri. Mata mereka melotot takut. tak jauh berbeda dengan Bou Qin yang seketika kehilangan suaranya di karenakan rasa sakit yang teramat sangat.
Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Punggung atas, lengan, paha belakang, dan terakhir perut Bou Qin dengan posisi Reychu tepat di belakangnya. Yang artinya tangan Reychu terulur ke depan dengan mata pisau di hadapkan ke dalam dan kemudian tangan itu di tarik ke dalam hingga ujung tajamnya menembus perut Bou Qin dengan sempurna.
Bagian mengerikan nya adalah saat Reychu masih bisa tersenyum bahkan tersenyum lega setelah selesai melakukan semua itu tanpa mau peduli bila kini ia di pandang seram oleh orang-orang.
Tak hanya penonton pertunjukan itu, melainkan para mengunjung pasar pun ikut melihatnya walau tak jelas.
"Haah... Leganyaaa!!!" serunya riang yang malah bertambah horor orang yang melihatnya. Pakaian dekil yang ia kenakan sudah di penuhi oleh darah lawannya.
*Brugh!
Klak*!
Dua suara jatuh menggema bersamaan. Yang satunya tubuh Bou Qin yang sudah tak berdaya dan satunya lagi kipas milik tuan muda yang sedari tadi menonton aksi mereka.
"Tuan muda..." panggil pengawalnya.
"Dia gila!" katanya dalam keadaan terkejut tanpa menghiraukan panggilan pengawalnya.
hai readers...
sedihnya author. maunya ada visual buat Bou Qin, tapi berhubung susah nyarinya. ya udah, gak usah aja.
yang penting author harap kalian tetap suka sama cerita karya author amatiran ini ya...
SELAMAT MEMBACA...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
Oi Min
Klo visual sang tuan muda gmn tor??
2022-09-04
1
rukiah rahmayu
kereeenn
2022-06-06
1
Shinta Dewiana
kereeennn
2022-04-03
1