Di tempat yang asing dan terkesan kuno, bahkan bisa di katakan tempat yang saat ini hanya di huni oleh seorang gadis amat sangat tidak layak huni. Kotor, berdebu, dan siap untuk hancur.
Sebuah peraduan yang terbilang buruk menjadi tempat peristirahatan untuk gadis yang kini terlelap menyedihkan atau bisa di katakan ia telah...
MATI!
Namun sepertinya sesuatu telah terjadi padanya. Dimana saat tubuh itu mulai mendingin dan memucat serta tak ada tanda-tanda adanya pompaan nafas, sepersekian detik setelahnya tubuh itu kembali menghangat dan memerah juga adanya pergerakan yang menandakan kalau ia telah bernafas lagi, bahkan sebuah cahaya memancar dari tubuh tersebut.
Tubuh yang semula kurus dan layu, kini mendadak padat dan segar. Tidak ada kata lemah, tidak ada kata sakit. Bagai terlahir kembali tubuh itu bangkit dengan cara yang tidak ada manisnya sama sekali.
Tubuh yang semula terkulai lemah dengan posisi setengah badan dia atas tempat peraduan dan setengah kebawahnya terduduk di lantai, kini secara spontan terlonjak bangun dengan kedua matanya yang terbuka sempurna layaknya orang yang terbangun dari mimpi buruk nya.
Srak!
Pandangan matanya yang melotot itu masih kosong, tubuh gadis itu terduduk tegap. Tak berselang lama barulah mata itu berkedip setelah dirasa mulai perih karena kering.
Hal pertama yang dilihatnya adalah dinding kayu yang kumuh dan tampak rapuh. Mungkin bila di dorong dengan telunjuk saja sudah mampu merobohkannya.
"Heh?! Dimana aku?!" keningnya mengernyit. Sadar ia berada di tempat yang asing, segeralah ia menggerakkan pandangannya menyapu sekitar. Ia bahkan sampai bangun dari duduknya dan mulai berkeliling guna mengamati ruangan yang ia tempati saat ini.
Gadis itu belum menyadari adanya sebuah perubahan.
"Ya ampun buruk sekali!" komentarnya dengan ekspresi aneh saat melihat betapa tak ada bagusnya tempat yang kini ia amati, bahkan ia sampai tak bisa menyebutkan model jenis apa ruangan yang terlihat kumuh plus reyot itu. Sampai sesuatu membuatnya terjatuh terlungkup mencium lantai.
Brugh!
"Ah sial! Siapa yang membuatku jatuh, hah?!" geramnya kesal sekaligus sakit.
Masih dalam posisi tengkurap ia menundukkan kepalanya untuk melihat kearah kakinya dan ternyata pakaian yang dia pakailah penyebab ia terjatuh dalam posisi memalukan.
Wajah itu memandang datar pada kain yang masih melilit kaki kirinya. "Ternyata kau!" desisnya pada kain tersebut seolah kain bajunya itu makhluk hidup yang dapat merespon perkataan nya.
Dia tarik kain tersebut sampai ia terhenyak menyedari ada yang aneh pada dirinya. Dengan segera ia bangkit kembali dan meneliti pakaiannya.
"ASTAGA...!!! HALUSINASI MACAM APA INI?!" ujarnya dengan suara keras seraya mengembangkan pakaiannya agar dapat ia lihat lebih jelas. Untungnya tak ada siapapun di sana selain dirinya.
"Heh?! Hanfu?!" sadarnya tak percaya.
"HAHAHAHA....!!!" seketika tawanya menggelegar hingga burung yang tengah bertengger manis di batang pohon mendadak terbang ke sembarang arah.
"Ya ampun... Mati yang mati. Kenapa pakai acara drama kolosal segala, heh?!" katanya setelah selesai tertawa, tapi detik berikutnya ia terdiam seperti sesuatu menyadarkannya.
"Mati?! Ah, iya... Aku kan sudah mati, kenapa hidup lagi?!" wajahnya sumringah saat telah mengingat sesuatu, pertanyaan konyol pun terlontar begitu saja.
Ia ingat saat terakhir kali bersama kedua sahabatnya tengah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Ryura. Saat itu keadaannya sedang turun hujan, Guntur dan petir beberapa kali menyambar hingga mengenai mobil mereka.
Seharusnya saat itu adalah saat-saat kehidupannya berakhir, tapi sepertinya tidak!
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu...!" ucapnya sambil memicingkan matanya saat ia merasa sesuatu memenuhi otaknya. Dan benar saja, sebuah ingatan berputar dengan sendirinya tanpa bisa di cegah. Berputar layaknya tayangan video yang mana di mulai dari awal hingga akhir.
Kedua tangannya memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit namun hanya sesaat. Ia paham sekarang, ingatan yang berputar di otaknya adalah sebuah memori seseorang meski ia masih belum menyadari ada hubungan apa antara ingatan itu dengan dirinya. Ia juga baru menyadari kalau ingatan yang berseliweran itu sama persis dengan apa yang pernah ia lihat di dalam gelembung dulu.
Setelahnya ia mengangkat wajahnya, tepat sekali dimana pandangan matanya jatuh pada sebuah cermin perunggu yang sudah tertutup debu namun masih memperlihatkan samar-samar pantulan dirinya.
"Cermin?!" gumamnya dalam hati merasa miris melihat cermin yang memantulkan gambar dengan warna yang buruk dan tak enak di lihat.
Ia berjalan mendekat dan segera mengulurkan tangannya guna menghapus debu yang menutupi cermin tersebut. Barulah setelahnya ia dapat melihat pantulan wajahnya, saat itu juga matanya terbelalak melihat rupa tersebut.
"Wajah siapa ini?" tanyanya panik seraya meraba wajah asing juga familiar namun cantik luar biasa. "Astaga.... Cantik sekali!!!" lanjutnya girang. Ekspresinya yang sebelumnya kaget juga panik karena merasa itu bukan wajahnya seketika berganti dengan ekspresi kagum dan terpesona melihat betapa cantiknya paras gadis itu.
"Ya ampun. Ini bukan wajahku. Tapi, lihat... Ya Tuhan, cantiknya diriku...!" serunya senang. Matanya berbinar bahagia.
Ia menggerakkan wajahnya ke berbagai arah untuk melihat lebih jelas bila wajah itu yang kini ia klaim sebagai wajahnya benar-benar cantik melebihi wajah aslinya.
"Astaga, Reychu! Selamat untuk mu! Kau punya wajah baru sekarang! HAHAHA!!!" semburnya asal tanpa berpikir panjang.
"Eh! Sebentar..." ujarnya ketika menyadari sesuatu untuk kesekian kalinya.
"Tubuh ini bukan milikku. Wajahnya bisa menjadi bukti akurat untuk menjelaskan ada yang salah disini." mengetuk-ngetuk dagunya sembari berpikir dengan melangkahkan kakinya berjalan mondar-mandir.
"Hmm... Apa aku melintasi waktu kemasa lalu?!" gumamnya bertanya dengan harapan ada yang bisa menjawab, tapi sayangnya tidak ada.
Kepalanya mengangguk yakin. "Ya, ya, ya... Pasti! Tidak salah lagi! Sebelumnya aku 'kan dengan yang lainnya berada dalam situasi yang tidak baik. Kemudian kami mengalami kecelakaan dan mati. Lalu, Tuhan masih menyayangiku hingga aku di kirim kemari dan menempati tubuh seorang perempuan yang memiliki posisi tinggi yaitu, 'Permaisuri'! Dan dia juga memiliki nama panggilan yang sama dengan ku." jedanya.
"Yaitu... Reychu. Ahn Reychu!" jelasnya semakin yakin.
Kemudian ia memandang intens wajah permaisuri tersebut dari cermin lalu berdecak malas sekaligus meledek. "Ck! Pantas saja hidupmu menderita. Kau, permaisuri! Kuberitahu, ya! Namamu itu tak cocok untuk gadis berjiwa baik dan lembut seperti mu. Nama Reychu itu lebih cocok untuk gadis seperti ku. Kau mengerti?!" terangnya seraya menunjuk pantulan dirinya atau lebih tepatnya diri Reychu sang permaisuri yang ada di dalam cermin.
Ahn Reychu yang kini di rasuki jiwa Reychu Velicia menegakkan badannya dan berbalik menjadi membelakangi cermin dengan angkuh. Senyum manisnya terukir namun menyiratkan makna lain.
"Menarik! Kehilangan tubuh indah ku di kehidupan sebelumnya, kini aku memiliki tubuh baru yang bahkan lebih indah. Dan bonus istimewa nya adalah..." binar di matanya tampak terang. "Tubuh ini juga masih perawan. HAHAHA!!!" tawanya pecah seketika.
Ya, benar adanya. Ahn Reychu meski seorang permaisuri tapi malangnya ia masih perawan, yang artinya sang kaisar tak memiliki minat untuk menyentuhnya. Karena sejak awal, kaisar belum memiliki perasaan lebih padanya itulah kenapa ia tak di sentuh. Akan tetapi, kaisar amat menghargainya.
Namun sayangnya kemalangan datang saat keluarga kerajaan membuka acara pemilihan selir sehingga seorang gadis yang juga menyukai kaisar bahkan terobsesi padanya langsung mengambil langkah cepat dan licik.
Sebelumnya kaisar belum juga memiliki rasa pada perempuan-perempuan yang telah menghuni haremnya, sampai dimana selir licik itu membuat skenario yang menjebak permaisuri agar di benci lebih dulu sehingga ia bisa meminta belas kasih pada kaisar. Tak di sangka rencananya berhasil bahkan di luar ekspektasi nya.
Kaisar menyayanginya pada akhirnya, juga menjadi perempuan pertama di Harem yang di sentuhnya membuat permaisuri harus menelan pil pahit di hidupnya. Tapi, itu belum bagian terburuknya.
Bagian terburuknya adalah saat dimana permaisuri yang tak tahu apa-apa di tuduh ingin mencelakai sang selir kesayangan yang sudah mendapatkan gelar sebagai selir agung ketika ia di nyatakan mengandung beberapa Minggu di awal masa kehamilan nya.
Ingin membantah namun semua bukti mengarah padanya. Hanya bisa menatap sendu dan memohon sebuah kepercayaan pada kaisar yang malah di balas dengan tatapan tajam tak berperasaan hingga ia di jatuhi hukuman kurungan di istana dingin selama 6 bulan lamanya tanpa pelayan atau siapapun untuk membantunya. Dan pada akhirnya ia mati menyedihkan!
Mengelus dagunya lembut. "'Aa... Aku ingat pernah berkata bahwa, bila 'aku dipertemukan dengannya maka aku akan melakukan sesuatu padanya', hmm..." menggerakkan bola matanya ke sembarang arah.
"Hihihi... Baiklah. Sebagai ucapan terimakasih ku karena Kau masih menjaga kesucian mu dan membuatku tak merasa sedih di pindahkan ke tubuhmu. Maka aku akan melakukan sesuatu sebagai bentuk balas budiku. Dan aku tidak perlu persetujuan mu untuk menerima bentuk terimakasih ku!" jelasnya dengan seringai mengerikan khas Reychu Velicia.
Sedetik berikutnya seringai itu berganti dengan wajah bingung.
"Ngomong-ngomong soal itu. Bagaimana dengan Ryura dan Rayan, ya?! Apakah mereka baik-baik saja?! Atau justru mati dan tak di beri kehidupan seperti ku?!" pikirnya penasaran. "Huh! Pasti akan menyenangkan bila kami bertiga berkumpul. Sungguh kombinasi yang sempurna!" ujarnya lesu.
Krucuk... Krucuk...
"Ya ampun... Sekarang aku sudah merasa lapar." mengelus perut ratanya dengan ekspresi melas.
Menoleh kesana kemari berharap menemukan sesuatu untuk di makan. "Menurut ingatannya. Ada dapur kecil di bagian belakang kamar ini. Coba kita lihat." katanya sambil melangkah menuju dapur di istana dingin tempatnya menerima hukuman.
"Mengingat bagaimana permaisuri merenggang nyawa sungguh malang. Kekurangan gizi?! Yang benar saja. Lihat! Kalau sampai tidak ada bahan makanan di dapur, jangan salahkan aku kalau aku akan mencarinya di luar istana. Huh! Kaisar bodoh itu pikir hanya karena ia menjabat posisi tertinggi lantas aku takut begitu?! No way!" gerutunya.
"Eh.. eh..! Aku nyaris melupakan sesuatu yang amat penting. Biar ku ingat." ucapnya berlagak berpikir tanpa menghentikan langkahnya.
"AHA!!! Benar-benar sebuah takdir. Kurasa marga itu memang di peruntukkan bagiku untuk ku lenyapkan. Aku sangat senang menyadari hal ini. Hehehe!" kekehnya seram.
"Gong Dahye! Gong Martin atau Martin Gong! HAHAHA... Sungguh ironis sekali kalian keturunan Gong. Sepertinya hidup kalian memang di ciptakan untuk berada dalam genggaman ku. Hihihi..." tuturnya setelah menyadari bila marga itu seolah tak bisa lepas darinya.
Marga Selir Agung yakni Gong Dahye dari masa lalu yang ternyata sama dengan marga Martin Gong dari masa depan. menurut Reychu, itu bukan sebuah kebetulan melainkan takdir untuknya. Jika dulu ia melenyapkan Martin Gong karena kejahatannya yang telah menghancurkan hidup gadis kecil kesayangannya hingga berujung kematian, maka sekarang ia juga akan melenyapkan selir agung Gong Dahye karena kejahatannya yang ingin menyingkirkan permaisuri Ahn Reychu.
Dengan riang gembira ia mempercepat langkahnya menuju dapur istana dingin seraya berucap.
"Baiklah! Mari kita mencari makanan untuk mengisi perut cantikku yang tengah lapar!"
Visual Cast untuk Ahn Reychu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 398 Episodes
Comments
@⒋ⷨ͢⚤L♡Marieaty♡
visualnya cantik cantikkk 😘😘😘😘
2023-09-02
0
Oi Min
Habis itu minta cerei aje Ryu.....
2022-09-04
1
Dewi Ansyari
Reychu menjadi permaisuri wah tunggu saja kamu selir bodoh pembalasannya👍👍👍
2022-04-02
1