Rasanya seperti mimpi siang bolong, hari ini aku bisa keluar dari rumah ibu mertuaku, batinku 💃💃💃💃
Senang sekali rasanya, apalagi Mas Bayu selalu mendukung apapun keputusanku walaupun aku tau dia pasti sedih jauh dari ibu dan saudara-saudaranya. Karena bagi Mas Bayu, aku dan Soni adalah segala-galanya.
Mas Bayu juga mengerti jika kita terlalu lama tinggal di rumah ibu mertuaku, tidak baik buat perkembangan Soni anakku karena kita tidak diperlakukan baik seperti layaknya keluarga pada umumnya malah kelihatan seperti hubungan majikan dan babu tepatnya.
Pagi ini, aku bangun seperti biasa jam empat kurang lima belas menit. Setelah bangun tidak lupa aku sholat bersama Mas Bayu dan menyusui anakku Soni.
Tapi bedanya hari ini, aku hanya masak mie instant hanya buat aku dan Mas Bayu yang aku beli kemaren ketika pulang dari rumah bapak ibuku karena sejak kemaren aku tidak mau lagi melakukan pekerjaan rumah tangga disini. Lebih tepatnya aku tidak mau lagi dianggap babu dirumah ini, batinku.
Ketika aku sedang memasak mie instant di dapur, aku berpapasan dengan Mas Budi yang sedang membuat kopi.
'Kiana, kamu yakin mau pindah dari sini ?' tanya Mas Budi padaku.
'Iya, mas aku sama Mas Bayu mau pindah karena tidak enak ngerepotin Mas sama ibu terus' jawabku kepada kakak iparku itu.
'Apa tidak sebaiknya dipertimbangkan lagi, Kiana? Aku diceritakan ibu, kalian mau ngontrak. Mending disini aja, masih ada kamar buat kalian. Aku juga tidak masalah menanggung makan kalian disini. Sebagai saudara kan harus saling bantu' jawab Mas Budi padaku dengan ramahnya.
Dalam hatiku, kok rasanya aneh Mas Budi yang selama ini selalu ngomong pedas dan kasar mirip seperti istrinya tiba-tiba ngomong dengan sedikit memohon kepadaku untuk tetap tinggal di rumahq ini, batinku.
'Iya, mas tapi untungnya kita dapat kontrakan murah dari kenalan bapak mas. Jadi harganya juga tidak terlalu mahal dan kita memang mau hidup mandiri, kasihan Mas Budi yang terus membiayai hidup aku dan Mas Bayu' sindir aku ke Mas Budi.
'Masalahnya, Kiana. Jika kamu dan Bayu pindah dari rumah ini. Siapa yang bantu ibu jaga warung, memasak, mencuci, dan berberes rumah' ketus Mas Budi padaku.
Akhirnya ketahuan juga, ternyata dia ngomong baik padaku untuk menahanku dan Mas Bayu buat jadi babu lagi di rumah ini. Fiuhh,, kutarik nafas panjang mendengar ucapan dari Mas Budi.
Seketika itu juga, Ana berada disampingku dan dengan manjanya dia setengah memohon kepadaku.
'Ka Kiana, jangan pindah dong. Disini aja ka, kenapa harus pindah sich ? Lagian kita masih amat sangat membutuhkan kaka' kata Ana adik iparku.
'Oohh' cuma itu jawabku
'Lagian Mba Nur, tidak bisa masak makanan enak ka tidak seperti kak Kiana. Kemarin malam saja, kita hanya digoreng telur dan kita semua makan hanya pakai kecap. Rasa telurnya pun hambar dan tidak ada rasa ka. Beda jauh sama masakan ka Kiana yang selalu enak' celoteh Ana kepadaku.
Habis kesabaranku dengan tingkah kedua iparku rasanya ingin kelempar piring-piring dapur ke muka mereka satu-satu. Tapi kucoba tahan emosiku karena aku tidak mau buang-buang tenaga meladenin mereka.
'Maaf, aku tidak bisa mengikuti kemauan kalian kali ini' itu saja yang aku ucapkan ke mereka dan berlalu dari hadapan mereka.
Kubawa mie instant ke kamarku, ada dua mangkok satu mangkok buat aku dan Soni dan satu mangkok lagi buat Mas Bayu.
Soni anakku baru berumur setahun setengah tapi sudah aku biasakan makan apa saja karena hidup kita yang serba kekurangan.
'Mas, ini mie instantnya. Yuk kita makan bersama' kataku ke suamiku Mas Bayu.
'Makasih, Kiana. Ayuks' jawab Mas Bayu.
Dan kitapun bersama menghabiskan dua mangkuk mie instant dengan lahapnya. Setelah itu, aku melanjutkan menulis onlineku karena masih jam enam kurang lima belas menit.
Setiap pagi, aku selalu chat dengan seorang penulis terkenal di facebook untuk belajar mengasah kemampuan menulisku dikarenakan sejak rekeningku menggendut, segala upaya aku lakukan untuk belajar belajar dan belajar terus semua yang berhubungan dengan menulis baik dari youtube maupun penulis novel lainnya.
Rencananya jam tujuh pagi baru kita keluar dari rumah ibu mertuaku ke kontrakan baruku.
Ada satu tas besar dan satu tas kecil berisikan pakaian aku, Mas Bayu dan Soni anakku. Tidak banyak memang barang yang kita bawa hanya pakaian saja sementara perlengkapan lainnya rencananya nanti dua hari lagi Mas Bayu akan balik ke rumah ibu mertuaku untuk mengambil berapa barang kita yang kita beli diawal nikah dulu seperti meja, kursi dan televisi.
Sebenarnya semua perlengkapan kontrakan baru sudah lengkap tetapi rasanya sayang-sayang barang kita ditinggal disini. Karena di kontrakan baru pasti kita masih membutuhkannya, pikirku dan Mas Bayu.
Semuanya sudah siap dan pagi ini sudah menunjukkan jam tujuh kurang dua puluh menit. Waktunya aku dan Mas Bayu siap-siap sebelum meninggalkan neraka ini, batinku.
Aku menggendong Soni anakku dengan menjinjing satu tas kecil sedangkan Mas Bayu mengangkat satu tas besar walau kakinya cacat dia sudah biasa angkat barang berat karena setiap pagi selalu membantu mengangkat cabe dan sayur buat kebutuhan warung ibu mertuaku.
Diruang tengah, ibu mertua, Mba Nur dan Ana sedang menonton televisi. Sementara Mas Budi sudah berangkat kerja karena Mas Budi masuk kerja jam setengah delapan, sementara jarak rumah ke kantornya lumayan jauh makanya dia berangkat lebih awal.
Ketika melihat, aku dan Mas Bayu sedang mengangkat tas. Ana langsung datang menghampiri kami.
'Kak Kiana, jangan pindah dong ka. Aku masih butuh kaka disini. Habis masakan Mba Nur tidak enak, aku malas makan telur mulu. Tar bisulan aku gara-gara Mba Nur' jawab Ana dengan manjanya.
'Apa katamu, kamu bilang makananku tidak enak. Susah-susah aku masak malah tidak dihargai. Dasar anak manja' teriak Mba Nur kepada Ana.
'Ibu, liat tuch. Mba Nur galak banget, masa aku dimarahi. Memang benar kok masakan dia tidak enak' ngadu Ana ke ibu mertuaku.
'Sudah..sudah.. , Ana. Hargai Nur, dia sudah capek masak buat kita. Lagian kamu, nyapu aja tidak benar. Tapi masih aja nyalahin Nur' jawab ibu mertuaku sambil ngebela Mba Nur.
'Iya, tuch bu. Cewek kok tidak bisa apa-apa. Makanya jangan pinternya hambur-hamburin uang saja' kata Mba Nur.
Aku dan Mas Bayu cuma menonton adu mulut antara Ana dan Mba Nur.
Ana menanggapinya dengan sewot sambil lanjut memainkan handphonenya lagi.
Lalu tiba-tiba, Mba Nur mendekatiku dengan muka yg bersahabat.
'Kiana, disini aja. Nanti aku janji tidak bakal nyuruh-nyuruh kamu lagi dan kerjaan rumah tangga bisa kita bagi bersama' rayu Mba Nur dengan ramahnya.
'Maaf, mba tapi aku dan Mas Bayu sudah tidak mau jadi babu kalian lagi' aku jawab dengan santainya sambil tersenyum.
Mukanya Mba Nur memerah dengan seketika mendengar perkataanku barusan. Dan ibu juga tiba-tiba berdiri dan berkata.
'Yasudah, jika kalian memang mau keluar dari rumah ini. Silahkan, ibu tidak akan melarang lagi Paling juga bentar lagi kalian balik lagi' jawab ibu mertuaku dengan ketus.
Aku bergegas ambil tas jinjingku sambil menggendong anakku dan berpamitan dengan ibu mertuaku. Begitu juga dengan Mas Bayu berpamitan dengan ibu mertuaku dan yang lainnya. 👋👋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Rindayu
bagus kiana mending cape badan daripada cape pikiran, bikin penyakit....keluarga ga ada ahlak
2022-05-01
0