Kepercepat langkahku ke Customer Service Bank yang memanggil nomor antrianku sambil memegang buku tabungan dan nomor antrian Bank.
'Siang, bu. Ada yang bisa dibantu' kata Customer Service Bank dengan ramahnya sambil tersenyum manis kepadaku.
'Siang, juga mbak. Aku mau mencetak buku tabungan berhubung mau liat saldo terakhirku sekalian mau urus kartu ATM dan mengaktifkan internet banking serta mobile banking' jawabku dengan ramah juga ke Customer Service nya
'Baik, bu. Saya bicara dengan ibu?' tanya Customer Service kepadaku
'Saya Kiana, mba. Ini buku tabungan saya mba' sambil kusodorkan buku tabungan Bankku ke Customer Service.
'Baik, bu Kiana. Saya cek dulu yah bu, mohon ditunggu' Customer Service mengambil buku tabungan dari tanganku sambil tersenyum dengan ramahnya.
'Baik, bu Kiana. Terimakasih sudah menunggu dengan sabar. Ini sudah saya cetak buku tabungan ibu' Customer Service kembali menyerahkan buku tabunganku yang sudah dicetak kepadaku.
Betapa terkejutnya aku melihat saldo rekeningku bertambah sesuai dengan penghasilan menulis onlineku. Nominal yang aku terima sekitar dua puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah. Sementara masih ada enam juta enam ratus ribu rupiah lagi yang belum aku terima karena beda aplikasi. Sehingga untuk pembayarannya pun berbeda tanggalnya.
'Alhamdulilah... Alhamdulilah...' ucapku.
Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hatiku, selama ini tidak pernah aku melihat uang sebesar itu apalagi sekarang saldo itu adalah saldo di rekeningku sendiri.
Karena terlalu bahagianya sampai kakiku bergetar seketika melihat saldo rekeningku yang menggendut.
Lamunanku terhenti dengan sapaan ramah dari Customer Service Bank dihadapanku.
'Gimana, bu Kiana. Untuk sms banking dan mobile bankingnya mau diurus sekalian ?' ucap Customer Service dengan ramahnya.
'Oiya, mba. Aku mau urus sekalian' jawabku dengan senyum juga.
Dikarenakan kemarin aku membuka rekening bank terburu- buru karena takut ibu mertuaku marah aku keluar rumah kelamaan, sampai-sampai kartu ATM saja tidak sempat aku urus.
Nah, mumpung saldoku sudah menggendut dan setelah urusanku semua selesai. Aku rencana langsung keluar dari rumah ibu mertuaku sesuai dengan omonganku sebelumnya dengan suamiku. Aku urus semuanya mulai dari kartu atm, mobile banking dan juga internet banking.
Pastilah setelah mengurus ini semua, aku lebih leluasa lagi mengecek saldo rekeningku kapan saja dan dimana saja.
Rencanaku setelah ini, aku juga bakal membeli handphone baru untuk menunjang kerjaan menulis onlineku karena handphone lama sudah tidak membantu lagi karena loading lama ketika aku mengupload karya tulis onlineku.
Setelah urusanku mengurus kartu ATM, internet banking dan mobile banking selesai. Tidak lupa aku menghubungi suamiku Mas Bayu untuk memberi kabar mengenai saldoku yang sudah menggendut.
'Assalamualaikum.. Mas. Alhamdulilah.. Mas. Uang hasil menulis onlineku sudah masuk, mas' ucapku ke suamiku Mas Bayu.
'Alhamdulilah, Kiana. Jangan lupa ganti uang Bu Laila yah dan ucapkan terimakasih' jawab Mas Bayu.
Begitulah Mas Bayu dia terlalu baik dan selalu mengingatkanku akan kebaikan orang. Beda banget sama keluarganya. Hufffhh..
'Baik, mas. Oiya, mas hari ini rencana habis selesai semua urusanku. Kita langsung pindah ke kontrakan dekat rumah ibu bapk yah Mas. Aku sudah tidak betah tinggal di rumah ibu' ujarku kepada Mas Bayu.
'Jika itu buat kamu nyaman, aku ikut kamu Kiana. Mas, beres-beres baju kita dulu yah. Supaya pas kamu balik, kita langsung pindah. Pastinya kamu capek banget hari ini' kata Mas Bayu.
'Baik, Mas. Terimakasih, Mas' ujarku. Kuakhiri telepon dengan suamiku dan bergegas ke ATM untuk mengganti uang Bu Laila.
Sesampainya aku di Mesin ATM, aku keluarkan kartu ATM dan mentransfer uang sejumlah seratus lima puluh ribu ke rekening yang sudah diberikan Bu Laila tadi pagi.
'Assalamualaikum, Bu Laila. Bu Laila uang ibu sudah saya ganti yah bisa dicek langsung' kataku ke Ibu Laila melalui telepon.
'Wah, makasih banyak Kiana. Tapi barusan cek yang masuk seratus lima puluh ribu. Ada lebih lima puluh ribu yah.. Hehehe' ucap Bu Laila.
'Iya, bu tidak apa-apa, lima puluh ribu sebagai ucapan perminta maafku karena agak lama gantinya' ujarku.
Sebenarnya aku mentransfer lebih mengingat hanya Bu Laila yang mau membantu aku ketika aku butuh uang kemarin disamping itu sekarang tanggal dua puluh tiga pastinya suaminya juga belum gajian dan uang Bu Laila juga sedang menipis sesuai dengan cerita Susi kemaren.
Sebelum melanjutkan aksi balas pembalasanku ke keluarga suamiku, aku mampir dulu ke rumah makan Padang. Karena dari tadi pagi belum sempat sarapan sedangkan sekarang udah jam satu siang. Perutku sudah mulai susah diajak kerjasama.
'Mas, nasi rendang dan sayur lodeh satu yah. Makan disini' ucapku ke penjaga Rumah Makan sebelah Bank tempat aku mengurus ATM tadi
'Baik, bu. Mau minum apa ?' ujar penjaga Rumah Makan Padang
'Es jeruk satu yah, mas' kataku ke penjaga Rumah Makan Padang
'Baik, ada tambahan lagi ?' ujar penjaga Rumah Makan Padang
'Bungkus dua nasi rendang dan satu gulai ayam yah, Mas' ujarku kepada penjaga Rumah Makan Padang
Aku makan dengan lahapnya di rumah makan Padang dekat Bank berhubung sudah lama banget aku tidak mencicipi daging.
Yah, begitu lah nasib aku dan Mas Bayu yang tinggal di rumah ibu mertua. Untuk makan daging, ikan atau ayam bisa dibilang hanya sebulan sekali itupun jika mereka berbaik hati meninggalkan makanan buat kami.
Selesai makan siang di rumah makan Padang dekat Bank, aku bergegas bawa bungkusan nasi itu buat suami dan ibu bapakku.
Berhubung sebelum membeli kebutuhan buat pamer, aku mau mampir ke rumah bapak ibu dulu untuk memberitahu mereka jika aku tidak tinggal di rumah ibu mertua lagi.
'Tok..tok..tok.. Assalamualaikum.. ' kataku sebelum masuk ke rumah bapak ibu
'Wa'alaikumussalam... Kiana, masuk nak' kata ibu
'Ini, bu sedikit nasi Padang. Kebetulan aku baru dapat rejeki dan rencana mau pindah kontrakan dekat sini' langsung aku ceritakan ke ibu berhubung bapak lagi kerja jam segitu buat narik angkot.
'Ada apa, nak' tanya ibu
'Tidak kenapa-napa, bu. Saya dan Mas Bayu hanya ingin mandiri saja, bu' kataku kepada ibu.
Aku tidak menceritakan hal sebenarnya ke ibu karena aku tidak mau kesehatan dia terganggu karena urusanku dengan keluarga suamiku. Ibu ada riwayat darah tinggi makanya aku takut menceritakan hal sebenarnya.
Mana ada orang tua yang mau anaknya diperlakukan semena-mena walau itu oleh ibu mertuanya sendiri.
'Ibu dirumah sendiri, Yuni mana bu ? ' tanyaku ke Ibuku.
'Ohh, Yuni hari ini ada ekstra kulikuler di sekolah Kiana biasa pulang sore' kata ibuku.
'Maaf, bu aku tidak bisa lama-lama karena rencana hari ini mau langsung pindah kontrakan. Kapan-kapan aku kesini lagi yah' jawabku.
Setelah dari rumah bapak ibu, aku bergegas naik taksi buat belanja kebutuhan pamerku ke keluarga suami 🛒🛒🛒🛒
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments