Besok Bayu dan Kiana akan keluar dari rumah ini. Sebenarnya berat bagiku untuk menyetujui mereka keluar dari rumah ini, walau aku tidak suka dengan Kiana karena dia selalu aku anggap sebagai menantu pembawa sial itu.
Sejak Bayu menikah dengan Kiana, menurutku dia hanya membawa hal yang negatif dalam kehidupan Bayu dan keluarga ini.
Baru berapa bulan setelah mereka menikah, suamiku satu-satunya yang menjadi tumpuan dan harapan hidupku meninggal mendadak tanpa tahu penyebabnya.
Dulu ketika suamiku masih hidup, hidupku enak banget. Mana pernah aku cari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga ini. Tiap bulan suamiku selalu memberikan uang belanja kurang lebih tiga juta rupiah belum termasuk listrik, air dan kebutuhan dapur lainnya.
Uang segitupun jika aku rasa kurang dan butuh untuk kebutuhan lainnya, tinggal aku bilang ke suamiku. Dia pasti langsung memberikan sejumlah uang yang aku minta.
Dirumah juga ada pembantu yang membereskan rumah mulai dari mencuci, mengepel, memasak dan berberes. Makanya dari dulu, Ana anak gadisku sampai sekarang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga karena pikirku ada pembantu yang mengerjakan.
Tiap hari, aku bisa bersantai nonton dan berkumpul dengan ibu-ibu arisan. Yah, begitulah hidupku dulu yang serba berkelimpahan dari sisi materi karena dulu suamiku adalah marketing manager di perusahaan ternama di tempat dia bekerja.
Setelah suamiku meninggal, hanya berselang sekitar 6 bulanan, Bayu anakku juga mengalami kecelakan yang menyebabkan kakinya cacat sampai sekarang. Bertubi-tubi musibah kudapat sejak Bayu menikah dengan Kiana. Itulah penyebab utama aku sangat tidak menyukai menantuku yang satu itu.
Belum lagi jika aku bandingkan Kiana dengan Nur. Walau Nur kemampuan masaknya tidak sebanding dengan Kiana tapi dia masih bisa kuandalkan terutama saat dia gajian minimal dia memberikan aku dua ratus ribu rupiah kepadaku, lumayan buat tambahan belanja Ana karena dia anak gadis kesayanganku satu-satunya.
Yang menjadi puncak kemarahanku, sejak menikah dengan Kiana. Bayu jauh lebih mendengar perkataan Kiana dibandingkan dengan aku, ibu yang telah melahirkannya.
Belum lagi akhir-akhir ini gayanya sok kaya gitu, pakai acara pinjam uang ke Bu Laila. Sejak Bayu cacat dan tidak kerja lagi, boro-boro aku dikasih uang tiap bulan. Hidup mereka saja, masih aku tanggung bersama dengan Budi anak pertamaku.
Hidupku yang dulu serba berkelimpahan berubah drastis. Dengan tubuh rentaku ini tiap hari aku harus membuka warung. Untung ada Budi anakku yang masih membantu biaya rumah ini delapan puluh persen, mana penghasilan dari warung tidak seberapa, belum lagi belanja Ana yang lumayan besar.
Kalau tidak ada Budi yang membantu biaya listrik, dapur dan air bisa-bisa aku tambah stress dengan hidup ini 😫😫😫.
Lamunanku terhenti, ketika Bayu berada disampingku.
'Bu, besok pagi aku, Kiana dan anakku Soni berencana akan pindah ke kontrakan' kata Bayu padaku.
Berat rasanya jauh dari putraku walau aku suka mengeluarkan kata-kata kasar padanya berhubung dari dulu aku tidak suka dia menikah dengan Kiana. Hanya dulu, Bayu tetap bersikeras mau menikahi Kiana dan suamiku juga merestui mereka.
Sebenarnya aku tidak suka karena Kiana berasal dari keluarga tidak mampu, aku takut nanti setelah dia menikah dengan Bayu malah membebani anakku. Pikiranku tentang Kiana dulu benar-benar terjadi, Kiana hanya membebani anakku saja, sampai-sampai aku ibunya tidak diperhatikan lagi.
'Kamu yakin, Bayu mau pindah dari rumah ini ? Dengan kondisi kakimu yang seperti itu ? Apa yang dijanjikan Kiana sampai kamu tega meninggalkan ibu dan saudaramu' jawab aku kepada anakku Bayu.
'Maaf, bu bukan seperti itu bu. Dengan kakiku yang cacat ini, aku sudah terlalu banyak membebani ibu dan Mas Budi. Rencana aku dan Kiana akan buka usaha online shop kecil-kecilan, bu' jawab Bayu kepadaku.
Itu kan benar firasatku, Kiana lagi.. Kiana lagi pasti dia yang punya ide pindah dari rumah ini sehingga putraku tega meninggalkan aku dan saudaranya. Memang menantu pembawa sial, gumamku dalam hati.
Dari dulu Bayu adalah anak yang penurut dan ketika dia sudah kerja, selalu aku diberikan setengah gajinya. Tetapi sejak menikah dengan Kiana, semuanya diberitahukan ke Kiana. Aku tidak leluasa lagi menikmati uang hasil keringat putraku sendiri, mana suamiku tiba-tiba meninggal tanpa tahu penyebabnya.
'Terus kalian tinggal dimana ? Rumah mertuamu kan tidak ada kamar buat kalian tinggal. Jika kalian kontrak bukannya buang-buang uang, sementara disini masih ada kamar buat kalian tinggal' tanyaku kepada Bayu.
Mana tau dengan pertanyaanku barusan ke Bayu. Bayu mengurungkan niatnya buat keluar dari rumah ini.
Yah, walau si Kiana menantu pembawa sial tapi jika dia tidak ada, bisa benar-benar repot aku. Siapa yang bakalan mencuci, memasak, mengepel dan berberes-beres rumah.
Jika aku bayar pembantu lagi, uang dari mana ? Warungku sekarang lagi sepi, dan Budi sejak Covid ini gajinya sering dibayar telat sama perusahaan tempat dia bekerja. Bisa tambah stress aku, pikirku 😫😫😫
'Kita sudah cari kontrakan, bu dekat rumah bapak ibu. Tidak besar sich, bu hanya satu kamar saja. Dan untungnya yang punya kenalan dari bapak bu, jadi dikasih harga murah, bu' jawab Bayu anakku.
Dia tetap ingin keluar dari rumah ini, ini pasti gara-gara si Kiana yang udah mempengaruhi anakku. Yasudahlah, pikirku paling berapa bulan lagi balik lagi kesini. Mana mungkin mereka bisa hidup mandiri tanpa aku dan Budi. Si Kiana kan hanya tamat SMA saja, batinku.
'Oh, begitu Bayu. Yasudah, jika itu keinginan kamu dan Kiana. Ibu tidak bisa menahan kalian' ujarku kepada Bayu.
Kita liat saja sampai kapan Bayu dan Kiana betah keluar dari rumahku, gumamku dalam hati.
Kiana..Kiana.. memang selalu buat masalah dalam hidupku, batinku.
Setelah ini, aku harus bicara ke Budi, Nur dan Ana. Tidak mungkin semua pekerjaan rumah yang dulunya dikerjakan oleh Kiana, aku yang mengerjakan karena jujur tubuhku sudah tidak kuat lagi belum aku harus buka warung.
Walau Bayu kakinya cacat, dia juga bisa kuandalkan buat angkat barang warung. Apakah nanti anakku Budi mau membantuku sama seperti yang dilakukan Bayu ? Trus apakah Nur dan Ana juga akan membantu aku urusin rumah ini seperti mencuci, memasak, mengepel dan berberes rumah ?
Mana Ana anak gadis semata wayangku tidak pernah kerja rumah tangga lagi, boro-boro masak. Menyapu aja dia tidak bisa. Trus Nur, pinternya cuma dandan aja. Sebelas dua belas sama Ana anak gadisku.
Aduh, banyak sekali pertanyaan muter-muter di otakku. Seandainya suamiku masih ada pasti hidupku tidak seperti sekarang ini 😫😫😫
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Rindayu
semangat thor....lanjut
2022-05-01
0
Maida
bagus ceritanya ..
2022-04-30
0