Caci Maki Keluarga Suami (2)

Kukira dengan baliknya Susi dan Bu Laila dari rumah kami. Ibu mertua dan iparku berhenti menghina aku dan suamiku.

Nyatanya malah mereka makin menjadi-jadi menghina aku dan suamiku.

'Hei, mantu sok kaya. Otakmu kemana, udah kebentur berapa kali di dinding atau otakmu udah pindah ke dengkul' ucap ibu mertuaku

'Hahaha, memang mantu terkaya ibu nich harus dibawa ke rumah sakit jiwa kebanyakan berkhayal. Udah rada-rada' sambil menyilangkan telunjuk ke kepalanya sindir Ana kepadaku

'Aduh, Ana kamu jangan gitu dong. Bagaimanapun juga Kiana tetap kakak iparmu yang harus kamu hormati. Mana tau nanti klo kamu hormat sama dia, tiap bulan kamu bisa dibeliin tas Hermes asli looh. Kan dia mantu terkaya ibu sekarang' Mba Nur pun ikut menyindir aku dengan gaya sok-sokan berkelas dia.

'Hah, tas Hermes asli mba. Yang benar aja, mana tau dia merek tas terkenal. Yang ada aku cuma dibeliin tas loakkan di kaki lima, mba. Itupun pake acara ngutang lagi mba. Hahahahaha' sindirian Ana padaku.

'Oiya, maaf mba lupa. Mantu terkaya ibu kan, tidak tau merek tas mahal yah, Ana' jawab Mba Nur sambil sibuk membenarin makeup dia yang menurutku terlalu menor.

Yah, itulah Mba Nur mulutnya juga sama pedasnya sama Ana dan ibu mertuaku apalagi sejak dia sudah bekerja di salon kecantikan ternama pasti sedikit-sedikit pamer tas dan gaun bermerek.

Belum lagi hobinya yang cuma bisanya dandan saja, dipastikan nanti ketika aku keluar dari rumah ibu mertua dia nanti bakal jadi babu gantiin aku. Hahahaha, ngumam aku dalam hati.

Belum lagi si Ana, anak gadis kesayangan ibu yang tidak bisa apa-apa. Taunya cuma menghamburkan uang hasil warung saja bersama geng pesta dia tiap hari. Mana bisa bersih-bersih dan masak kayak aku, batinku.

'Silahkan kalian tertawa sebesar-besarnya', batinku. Dan mungkin luka hati ini makin hari makin besar saja dengan tingkah kalian. Ya, Tuhan ingin rasanya aku tampar mereka satu-satu dan membalas perlakuan mereka kepadaku. Maafkan, aku Ya Tuhan hambamu tidak bisa memaafkan mereka dengan gampangnya.

'Bayu, kamu tau tidak seharusnya di hari tuaku aku menikmatinya malah sialnya aku punya anak sepertimu yang cacat dan tidak bisa diharapkan, yang selalu buatku malu. Aku masih harus buka warung tiap hari untuk mencari uang dan belum lagi kamu punya istri yang tidak tau diri ini, bisanya ngerepotin aja' ujar ibu mertuaku ke Mas Bayu sambil menjuntuk ke arahku.

Mas Bayu tertunduk saja dengan seribu bahasa mungkin dalam hatinya jauh lebih sakit dari aku karena ibu kandungnya sendiri ngomong seperti itu.

'Iya, nich Bayu dan sekeluarga bisanya mengadahkan tangan saja ke kita yah bu. Jika aku tidak bayar listrik, dapur dan air mau makan apa Bayu dan anak istrinya. Udah gitu, tidak tau terimakasih lagi. Bikin malu, pake acara pinjam uang ke Bu Laila' jawab Mas Budi dengan ketusnya.

'Mas Bayu cocoknya jadi pengemis bu di jalan' sindir Ana adik iparku.

Kesal banget aku mendengar ibu dan iparku menyalahkan Mas Bayu. Akupun tidak tinggal diam dengan perlakuan mereka yang semena-mena kepada aku dan Mas Bayu.

'Bu, Mas Bayu tetap putra ibu. Apa ibu tidak ingat dulu pas dia masih kerja, tiap bulan aku tidak masalah dia memberikan setengah gajinya ke ibu buat warung dan kuliah Ana' dengan kesalnya aku ngomong ke mertuaku.

'Apa katamu, beraninya... ' ibu mertuaku mendorongku yang sedang menyusui Soni anakku untung Mas Bayu pas dibelakangku jika tidak mungkin aku akan jatuh bersama dengan anakku.

'Udah, cukup bu!!!' kata Mas Bayu

'Kamu, Bayu. Beraninya membentak ibu' ujar ibu mertuaku ke Mas Bayu. Begitu sikapmu kepada ibu yang sudah melahirkan kamu.

'Memang Kiana memberi efek jelek kepadamu. Dari dulu kamu tidak pernah membentakku, tapi hari ini...' dengan marahnya ibu berkata ke Mas Bayu

'Iya, nich Kiana memang wanita pembawa sial. Makanya Mas Bayu didik istrimu yang benar. Udah Mas Bayunya cacat dan sekeluarga bisanya cuma repotin ibu. Si Kiana berani lagi melawan ibu' jawab Nur istri Mas Budi.

'Maaf, bu' cuma itu yang bisa Mas Bayu ucap dengan tertunduk.

'Udah..udah' kata Mas Budi.

'Mau sampe kapan kalian berdebat, perutku udah lapar nich. Mana Kiana belum masak makan malam lagi' Mas Budi mengakhiri perdebatan sengit hari ini.

'Iya, kak. Kedapur sana siapin makan malam. Besok pagi banget aku harus ke kampus. Aku harus tidur cepat hari ini' jawab Ana adik iparku

Seketika itu juga, aku langsung ke dapur menyiapkan masakan buat malam ini. Kubuka kulkas ada bahan sayur lodeh dan juga ayam dari hasil belanjaku kemarin sebelum ke rumah Bu Laila.

Sebenarnya aku bisa saja kemarin ini tidak meminjam uang Bu Laila karena masih ada uang seratus ribu dari ibu mertuaku. Tapi, aku takutnya ibu mertua menyuruhku membeli kebutuhan dapur. Yah, begitulah ibu mertuaku yang menurut dia gaji seratus ribu sebulan termasuk juga membeli kebutuhan dapur kalau Mas Budi belum gajian.

Kuhidupkan kompor sambil menggendong anakku karena Mas Bayu masih berberes warung. Sudah biasa bagiku masak sambil jaga Soni anakku.

'Lama banget sih mba' celoteh Mba Nur lagi

'Iya, bentar masih goreng ayam' jawabku

Fiuhh, dikira masak buat sekeluarga gitu bisa cepat kali yah, mana semua dikerjakan sendiri lagi. Ana sama Nur enak-enakkan nonton televisi sambil ketawa-tawa.

Peraturan yang harus aku dan Mas Bayu patuhi sejak Mas Bayu tidak kerja lagi yakni kami tidak boleh makan bersama mereka. Kami boleh makan setelah mereka makan.

Jadi tiap hari, aku dan Mas Bayu makan setelah mereka makan. Kadang cuma disisain kuah dan nasi aja. Kalau mereka berbaik hati ada sepotong ikan atau sepotong ayam yang harus aku dan Mas Bayu bagi bersama dengan Soni anakku.

Selesai masak, aku tata masakan di meja ada sayur lodeh sepanci dan juga ayam goreng bumbu buatanku. Untung nasi tadi pagi masih ada jadi mereka tidak perlu tunggu lama untuk makan malam. Biasanya jika aku agak lama dikit memasaknya pasti udah keluar kata-kata kasar dari ibu mertua dan iparku.

Selesai menata makanan aku, memberitahu mereka dan aku langsung ke kamar buat melanjutkan tulisan novel onlineku.

Tiba-tiba Mas Bayu masuk dan mengeluarkan recehan uang.

'Ini Kiana, cuma ini uang yang aku punya sekarang' jawab Mas Bayu.

Ada lima lembar uang seribu dan selembar uang sepuluh ribu. Totalnya lima belas ribu. Kuambil, uang dari Mas Bayu dan bilang makasih.

Begitulah suamiku walau dengan kondisi cacat kakinya, dia masih berupaya mencari nafkah buat aku dan Soni. Walau uangnya tidak seberapa aku terima dan aku selalu bersyukur punya Mas Bayu yang selalu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Maafkan, aku Ya Tuhan yang kadang suka kesal dan menuntut kepada Mas Bayu, batinku.

'Kiana, maafkan ibu dan saudaraku yah. Aku janji kalau sudah ada uang nanti. Kita akan keluar dari rumah ibu' jawab Mas Bayu

'Iya, mas' cuma itu yang aku jawab ke Mas Bayu.

Besok aku harus ke Bank, cek rekening. Mudah-mudahan uang menulis onlineku yang kisaran dua puluh jutaan sudah ada. Jika sudah ada, hari itu juga aku akan meninggalkan rumah ibu mertuaku dan mencari kontrakan dekat rumah ibu bapakku, pikirku.

Rumah ibu bapakku hanya ada dua kamar, itupun satu kamar buat ibu bapak dan satu lagi buat adikku Yuni yang sedang sekolah SMA. Selain tidak mau ngerepotin mereka, memang kamar buat aku dan Mas Bayu tidak ada sejak aku menikah dengan Mas Bayu. Dulunya pas masih gadis aku sekamar dengan Yuni adikku.

Semoga besok, rekeningku sudah ada uang hasil menulisku, batinku🙏🙏

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!