'Kiana..Kiana' begitulah teriak ibu ke aku seperti biasa subuh jam 4 pagi aku sudah mulai memasak buat sarapan dan makan siang keluarga suamiku
'Cepat mbak, ibu memanggilmu' ucap Ana ke aku. Bergegas aku gendong Soni dan titip ke Mas Bayu supaya aku bisa memulai memotong sayur dan persiapan lauk lainnya.
'Mas, aku titip Soni yah mau kedapur mulai masak' kataku ke suami
'Aduh, jangan dulu Kiana aku mau cuci motor Mas Budi berhubung dia mau berangkat kerja, lumayan upahnya tiga puluh ribu' kata suamiku padaku.
Kugendong anakku dan kebawa kedapur. Ibu mertua dengan muka sewot ngomong ke aku 'Lama benar kamu, sakit tenggorokanku teriak-teriak tapi kamu tidak datang juga. Punya telinga tolong dipake yah' dengan ketus ibu mertua ngomong ke aku.
'Maaf, bu' cuma itu yang bisa kukatakan. Sebenarnya sudah terbiasa ibu mertuaku ngomong ketus dan pedas tapi tetap saja aku tidak bisa terima diperlakukan seperti ini. Sampai kapan aku direndahkan ? batinku
Kuelus dada dan ambil kerupuk di kaleng buat Soni berhubung anakku lagi lincahnya karena baru satu bulan belajar jalan.
'Kamu itu beruntung kutampung disini, bisa makan gratis dan tidak perlu mikirin lagi buat biaya listrik dan air' kata ibu mertuaku.
'Iya, bu' kujawab ibu mertuaku sambil masak makanan kesukaan dia ikan pangek dan gulai cubadak khas Padang.
Walau hanya tamat SMA, kemampuan masakku seperti anak kuliah tata boga karena bakat memasak kedapat dari ibuku yang dulu pernah buka warung nasi Padang. Dari ibukulah, aku belajar masak masakan Padang yg menggugah selera dan buat orang yg makannya bakal ketagihan.
Bukannya membantu aku memasak, ibu mertuaku malah ongkang-ongkang kaki sambil sibuk dengan handphone nya.
Fiuhh,, ingin rasanya kulempar ini panci masakan ke muka ibu mertuaku tapi apa daya aku masih butuh makan dan tidak mungkin aku kembali ke rumah orang tuaku karena keadaan ekonomi bapak dan ibu sekarang makin parah.
'Habis masak, kamu cuci baju, sapu lantai dan ngepel yah' dengan santainya ibu mertua memerintahku.
Beginilah rutinitasku dari pagi sampe malam hanya dijadikan babu oleh keluarga suamiku.
**********
Walau lelah dengan kerjaan rumah, setiap malam pasti kusempatkan menulis novel di aplikasi berbayar, bagiku menulis merupakan salah satu hobi sekaligus pelipur laraku kala ini. Dimana aku bisa menumpahkan cerita mengenai keadaanku sekarang. Sambil menulis aku memikirkan ibu-ibu di warung langganan ibu mertuaku, siapa kira-kira ibu yang memungkinkan aku minjam uang untuk buka rekening bank.
Kebersit di otakku, ibu Laila dari semua ibu-ibu langganan warung mertuaku. Dia yang paling baik dan paling ngertiin aku, tapi... Apa anaknya Ibu Laila membolehkan yah, mengingat ibunya memang baik tapi anaknya sebelas dua belas dengan iparku si Ana yang bermulut ketus.
Serentak lamunanku buyar, ketika Mas Bayu masuk kamar dan mengetuk pintu.
'Sayang, kamu lagi sibuk' ujar Mas Bayu padaku
'Tidak mas, seperti biasa aku sedang mencari ide buat novelku mas' kataku ke Mas Bayu dengan sopan
'Baiklah, mas tidur dulu yah karena capek seharian cuci motor Mas Budi dan bantu ibu jaga warung' kata Mas Bayu kepadaku.
Sejak kaki Mas Bayu cacat, selain fisiknya yg tidak lengkap lagi. Mental Mas Bayu juga lebih cepat rapuh karena perlakukan keluarga Mas Bayu kepada aku dan Mas Bayu.
'Mas, sabar yah dalam waktu dekat kita pasti bisa keluar dari neraka ini' kataku dalam hati. Semoga saja Bu Laila berbaik hati meminjamkan uang buatku besok, batinku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Intang Parhani
ini plagiat. ini cerita temanku
2022-06-01
0
Rindayu
semangat kakak....lanjut
2022-05-01
0