Seperti biasa aku bangun subuh jam empat kurang lima belas menit, sebelum melakukan rutinitasku memasak aku shalat subuh dulu bersama suamiku Mas Bayu.
Walau keadaan kami yang serba kekurangan, Mas Bayu selalu mengingatkanku untuk selalu shalat dan bersyukur. Bangga rasanya punya suami seperti Mas Bayu, seandainya kakinya tidak cacat karena kecelakan tahun kemarin pastilah suamiku menjadi orang sukses dan disayang sama keluarganya pastinya. Tapi nasib berkata lain..
Aduh itukan aku masih juga ngeluh, padahal suamiku berusaha kuat walaupun aku tahu dia tertekan lebih dari aku akibat ulah keluarganya.
Habis shalat, kusempatkan menyusui Soni anakku sebelum memulai masak sarapan pagi.
Mumpung hari ini sabtu, aku berencana ke Bank untuk melihat saldo rekeningku hasil menulis onlineku karena biasanya Mas Budi dan Mba Nur tidak kerja di Sabtu.
Jadi mereka bangun agak siangan dan aku tidak perlu buru-buru masak makan siang dan biasanya sarapan pagi juga masih ada.
Hari ini aku masak nasi goreng khas Padang tidak lupa dengan telur mata sapi dan kerupuk merah khas Padang. Aku mulai masak jam lima pagi dan jam enam pagi semua makanan sudah siap kutata dimeja.
Setelah selesai memasak aku masuk kamar dan bicara ke Mas Bayu rencanaku pergi ke Bank untuk mengecek saldo rekeningku.
'Mas, hari ini aku mau ke Bank liat penghasilan menulis onlineku. Aku titip Soni yah, mas. Nanti jika sudah masuk uangnya, aku rencana kita kontrak dekat rumah ibu bapak, Mas' kataku kepada suamiku.
'Baiklah, aku setuju dengan idemu Kiana. Daripada kita disini terus tidak baik buat perkembangan anak kita. Kita hanya dianggap benalu oleh keluargaku. Maafkan, aku yah yang belum bisa menafkahimu sayang' ujar suamiku dengan muka sedih.
'Sudahlah, mas. Jangan dibahas lagi, nanti klo aku sudah ada uang kita usaha bersama yah. Aku rencana mau buka olshop kecil-kecilan' ujarku kepada suamiku.
Suamiku menggangguk dan kulihat senyuman di mukanya.
Sebelum berangkat ke Bank, aku sempatkan menghubungi Ibu Laila melalui sms untuk meminta nomor rekeningnya karena rencananya utangku yang seratus ribu akan kutransfer ke rekeningnya.
'Bu, bisa minta nomor rekeningnya. Jika hari ini uangku sudah ada langsung kuganti' smsku ke Ibu Laila.
'Ini nomor rekeningku xxxxxxx Kiana. Kabarin yah, jika sudah ditransfer' balas Bu Laila
Seandainya uangku hari ini sudah masuk, aku akan memulai aksi balasku ke keluarga suami. Aku tidak mau nantinya dilihat Susi anaknya dan dikira aku pamer pada Susi berhubung aku masih menghormati Bu Laila.
Sebelum aku berangkat ke Bank, aku berpamitan dengan mencium tangan Mas Bayu dulu.
'Mas, aku berangkat yah. Doain semoga sudah masuk uangnya' kataku ke suamiku.
'Amin, Kiana. Hati-hati dijalan yah' ucap Mas Bayu padaku.
Berhubung jarak Bank hanya berapa kilometer saja dari rumah ibu mertuaku dan uang di sakuku tinggal sedikit maka aku kesana berjalan dengan santainya hitung-hitung sambil refeshing berhubung sejak kaki Mas Bayu cacat untuk keluar rumah saja aku tidak bisa karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga layaknya babu di keluarga suamiku.
Sesampaiku ke Bank, aku langsung ambil antrian Bank ke satpam yang sedang bertugas.
Aku diantrian ke sepuluh berhubung aku sampai kesana sudah jam sebelas siang. Sekarang masih antrian kelima, berarti aku masih enam antrian lagi.
Jujur aku deg-degan seandainya saldo belum masuk gimana ? Aku harus tetap sabar jadi babu di keluarga suamiku dan kuat dengan caci maki ibu mertua dan iparku.
Tapi jika saldo rekeningku udah masuk, aku berencana melakukan aksi pembalasanku pada mereka. Sudah kususun rencana dengan rapi di otakku buat membalas perlakuan mereka padaku.
Akhirnya aku dipanggil oleh Customer Sevice Bank yang bertugas saat itu
'Antrian kesepuluh silahkan' kata Customer Service yang bertugas.
Kucepat-cepat ke Customer Service dengan membawa buku tabunganku. 😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments