16

Mila tidak dapat tertidur nyenyak, kehilangan untuk sekian kalinya membuatnya kembali berpikir. Benarkah dia hanya membawa sial? tetapi heningnya malam diam-diam membiusnya dan membawanya menuju alam mimpi.

Pagi ini dia kembali merasakan kesendirian. Rumah kecil itu terasa sangat sepi, tidak terdengar teriakan atau makian dari Sylvia. Mila memutuskan untuk mendengarkan lagu, ia menyetelnya keras-keras agar rumah terasa ramai.

Setelah kegiatan paginya selesai, Mila yang bingung tanpa tujuan memutuskan untuk membersihkan rumahnya. Seharian ini dia gunakan untuk menyapu, mengepel, mengelap jendela dan perabotan rumah, memotong rumput, bahkan mencoba memasak beberapa resep kue dari internet. Kegiatannya itu memakan waktu hingga sore hari.

Rumahnya terlihat sangat bersih tanpa debu. Mila bergegas membersihkan dirinya saat merasa badannya lengket karena keringat. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Mila berniat untuk berjalan-jalan mengusir kebosanannya.

Kini Mila sedang berada di dalm bus kota, ia memandang jalanan melalui jendela disebelahnya. Angin sore menerpa wajahnya, sayangnya ini bukan dipedesaan sehingga angin itu mengandung debu, kotoran dan asap knalpot. Mila segera menarik kepalanya masuk, tetapi matanya melirik kearah bangunan besar yang dilewatinya.

Gedung Gen's Future. Mila teringat jika ia memiliki seorang teman disana. Mila bergegas meminta berhenti di halte terdekat. Ia setengah berlari menghampiri gedung itu. Mila kembali bersemangat ketika mengingat temannya itu.

Ia memasuki gedung aneh itu, keadaan di sore hari masih sama ramainya dengan saat pagi hari. Mila celingukan mencari keberadaan seseorang itu. 'Ketemu!' Serunya dalam hati.

"Kak Jingga!!" teriak Mila.

Jingga yang tengah memunggungi Mila itu segera memutar tubuhnya mendengar seseorang memanggil namanya. Deon dan Elvan yang hendak keluar itu pun menghentikan langkahnya mendengar suara Karmila. "Sedang apa dia disini?" tanya Deon kepada Elvan.

"Entahlah, seharusnya kamu lebih tahu daripada aku," jawab Elvan.

Mereka mengawasi Mila dari kejauhan. Beberapa pekerja yang melewati mereka menyapa Bosnya, tetapi malah mendapat tatapan tajam dari Deon. Posisi mereka sangat lucu, Deon menunduk dan menempel pada sebuah dinding, ia hanya memunculkan separuh wajahnya untuk melihat Mila. Sedangkan Elvan berada di belakang Deon dan kepalanya berada diatas Deon lebih tinggi sedikit.

Para pegawai lainnya terkekeh geli melihat tingkah bos tampan mereka yang aneh. Kejadian ini tidak pernah mereka lihat. Bos tampan mereka selalu tampak sempurna.

Mila melompat kegirangan saat menemui Jingga. Jingga yang merasa Mila sangat imut juga ikut senang. Mereka melompat berdua dengan bergandengan tangan.

"Kamu ngapain ke sini? Mau ketemu Tuan Deon?"

"Nggak kak, aku ke sini mau ajakin kakak nonton."

"Boleh, tapi jam kerja aku belum berakhir."

"Aku tunggu kak Jingga di sana ya." Mila menunjuk sofa di sudut ruangan. Jingga menganggukkan kepalanya.

Telinga kedua lelaki itu terasa membesar ketika mendengar kata-kata bioskop. Mereka memutuskan untuk membuntuti Mila dan Jingga. Mila hanya menunggu selama 40 menit disana, sama halnya dengan Deon dan Elvan yang langsung menuju mobilnya.

Mereka menunggu di dalam mobil hingga Mila dan Jingga keluar dari gedung itu. "Ayo kita berangkat." Jingga mengajak Mila menaiki taxi yang telah dipesannya.

Mobil Deon mengekori taxi itu sepanjang perjalanan. Jingga yang hafal betul mobil Bosnya segera menutup mulutnya kaget. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja Tuannya itu sedang menuju ke suatu tempat yang arahnya sama dengan mereka.

Setibanya mereka di mall, Mila tampak terkagum-kagum melihat tempat perbelanjaan yang sangat besar itu. Matanya sangat puas memandang benda-benda mewah yang ada disana. Mila ingin memasuki berbagai toko yang ada di dalam mall tersebut, tetapi Jingga mengingatkan tujuan utama mereka kemari.

"Kapan-kapan aja kita ngemall sampe puas, sekarang keburu mulai nih filmnya."

"Oke-oke, tapi kakak janji ya temenin Mila jalan lain kali."

"Aman, selama aku selesai kerja." Jingga menaik turunkan alisnya.

Mereka memesan tiket salah satu film terbaru saat itu, film yang bertajuk alien romance. Entah mengapa film itu sangat laku keras saat itu. Dering ponsel Jingga mengagetkan kedua perempuan itu. Jingga mengangkat telepon asing itu tanpa curiga.

"Halo."

"Pesankan aku 2 buah tiket yang sama dengan kalian."

"T,tuan?!" Mata Jingga terbelalak kaget mendengar suara bariton itu.

"Jangan sampai Mila tahu, cepat!"

Tut ... tut ...

"Ada apa kak?"

Jingga menutup ponselnya, wajahnya terlihat sedikit khawatir. 'Apa aku masuk kedalam drama percintaan mereka berdua ya? jangan-jangan mereka lagi berantem? Ihhh ... serem kalo aku disuruh milih Karmila atau Tuan Deon.' Jingga berucap dalam hati.

"Kak! kenapa?" Mila menepuk pundak Jingga sedikit keras.

"Eeh nggak papa kok, biar aku aja yang beli tiketnya. Kamu beli popcorn gih."

"Pop corn? Wah, ini sih salah satu makanan yang aku ingin coba kak."

"Emang kamu nggak pernah coba?" Mila menggeleng pelan.

"Ya udah, kamu beli popcorn dan aku beli tiket. Kita ketemu lagi disini ya," ucap Jingga.

Mila menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya membentuk sebuah lingkaran kecil yang berarti Oke. Mereka berpencar, Mila antri lebih panjang dari pada Jingga. Jingga telah sampai lebih dulu di loket, sedangkan Mila masih jauh dari stand popcorn.

Jingga memesan 4 buah tiket dengan nomor kursi yang berbeda, dia tidak ingin terjadi kecanggungan nantinya. Jingga menyerahkan tiket itu kepada dua orang lelaki tampan yang memakin jaket hodie dan kaca mata hitam. Kedua orang itu juga memakai masker, membuat Jingga susah mengenali mereka.

Mila menghampiri Jingga yang telah menunggunya di tempat pertemuan. Mereka masuk bersama dan duduk bersebelahan di baris ke tiga belakang. Mila menyodorkan popcorn dan cola berukuran besar, masing-masing satu.

Lampu telah dipadamkan dan film dimulai. Film itu menceritakan sebuah kisah cinta antara manusia dan seorang alien. Alien berbentuk layaknya manusia dengan mata besar dan tanpa telinga.

"Elvan! Bagaimana bisa manusia bumi menggambarkan kita seperti itu!" Bisik Deon dengan kemarahan yang tertahan.

"Tenanglah bos, itu karena mereka tidak pernah bertemu dengan kita. Itu juga karena daya imajinasi mereka yang bagus." Elvan menjelaskan dengan rasional, dia tidak ingin bosnya meledak-ledak di dalam bioskop.

"Elvan! apa lagi itu?! Kita tidak mengeluarkan lendir!" Deon melayangkan protes saat terlihat adegan si alien mengeluarkan lendir dari tangannya.

"Mungkin aja itu alien dari planet slime, Bos jangan berburul sangka dulu."

Baru beberapa menit berlalu, Deon kembali melayangkan protesnya.

"Kapal Alienku tidak seperti itu! Kenapa semua orang salah mengira tentang alien!" Deon berteriak lantang dengan nafas yang memburu.

Semua mata memandang ke arahnya, beruntung kondisi di dalam bioskop sangat gelap sehingga tidak ada yang menyadari siapa itu. Hanya ada dua orang yang mengetahui jika Deon lah yang sedang berteriak.

Dia adalah ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!