15

"Hoam ..., Via betul apa katamu kemarin. Hari ini perutku sakit banget." Mila menguap sambil memegangi perutnya.

"Kamu diajakin ngomong kok nggak jawab sih?" Mila masih memejamkan matanya. Dia masih sangat mengantuk akibat diare yang dideritanya, Mila bolak-balik kamar mandi sepanjang malam.

Satu jam kemudian Mila meregangkan badannya dan benar-benar terbangun. Ia kembali ke kamar mandi dan menyelesaikan kegiatan paginya. Tas selempang sudah bertengger di bahunya.

"Aku siap!!" teriak Mila, tetapi tidak ada jawaban.

"Via? Via, kamu ke mana sih? Udah pagi ayo bangun." Mila memanggil Sylvia melalui ponselnya.

Tidak ada jawaban. Mila membuka laptopnya dan mencoba berbicara pada laptop itu layaknya orang gila. Tetap saja tidak ada jawaban.

Mila memutuskan untuk menuju gedung Gen's Future. Ia berlari kecil, poninya sedikit bergoyang saat menghampiri meja resepsionis menambah kesan imut. Tak disangka kedua resepsionis itu mempersilahkan Mila untuk menunggu di dalam ruangan Deon.

Resepsionis 1 mengantarnya menuju ruangan sang CEO. Mereka berjalan berdua, kesempatan ini digunakan sang resepsionis untuk mengorek informasi. "Adek pacaranya Tuan Deon ya?"

"Ha?! nggak kak, bukan."

"Kalo gitu, pasti pacarnya Tuan Elvan?" Wanita itu memberikan tatapan menyelidik.

"Bukan, bukan kak." Mila menggoyangkan tangannya. Ia bahkan tidak pernah berdekatan dengan lelaki. Mila menganggap semua gender sama, itu sebabnya dia tidak canggung walaupun berdekatan atau bersentuhan dengan banyak orang.

"Kalau gitu, kamu pasti saudara jauhnya." Wanita itu kembali menebak.

Wajah Mila terbilang manis dan imut dengan kulit putih, hanya saja kondisi keuangan yang membuatnya nampak kumal dan tidak terawat. Mila seperti mutiara yang masih tertutup kotoran, dan sekarang sinarnya mulai sedikit terlihat.

"Mm ... bukan kak, aku hanya mitra bisnisnya."

"Mitra bisnis? tapi, Tuan Deon tidak pernah mengijinkan siapapun menunggu di dalam ruangannya. Kupikir kamu pasti sangat spesial baginya."

"Ehem, aku ... nggak tahu juga kak." Pipi Mila merona. Belum pernah ada lelaki yang tertarik padanya, bahkan ia jarang mendapatkan pujian.

"Nama kamu siapa?"

"Aku Karmila kak, kalau kakak siapa?"

"Jingga. Udah sampai, aku tinggal dulu ya." Jingga melambaikan tangannya dan berlalu pergi.

Mila mendudukan dirinya di sofa empuk itu, matanya mengedar mencari keberadaan Via. Ia yakin, Via pasti ada di tempat ini. Sesekali Mila memanggil namanya.

"Via ...." Tetapi, tidak terdengar jawaban.

Pintu ruangan terbuka, Mila membetulkan posisi duduknya saat kedua makhluk tampan itu memasuki ruangan. Deon memakai setelan berwarna biru langit, sedangkan Elvan mengenakan setelan berwarna Hijau muda. Mereka sangat menyukai warnanya masing-masing.

Ruangan Deon pun di dominasi dengan warn biru. Perpaduan warna biru gelap dan terang yang pas, membuat ruangan itu tampak elegan. Deon mendudukkan dirinya disebelah Mila, sedangkan Elvan berada di sofa tunggal.

"Ada keperluan apa Anda mencari Saya, Nona Karmila?" Deon mendekat dan menghirup aroma yang telah lama dirindukannya. Aroma yang menguar dari tubuh Mila seperti lotion bayi, segar sekaligus lembut.

Mila kaget dan sedikit memundurkan badannya. Tetapi aroma khas yang sama dengan tupai itu sama dengan aroma Deon. Hal itu membuat Mila tidak dapat terlalu menjauh, indra penciumannya merindukan aroma si Tupai alias Deon.

"A,aku ... aku mau bertanya, dimana Via?" tanya Mila setelah bersusah payah mengatur detak jantungnya.

"Via?" tanya Elvan.

"Iya, Sylvia. Sistem yang selalu ada bersamaku itu." Mila menjelaskan.

"Mungkin dia sedang menjalankan tugasnya yang lain."

"Tapi, kenapa? Dia nggak bilang apa-apa sama aku." Mila mulai meneteskan air matanya sedih.

"Maafkan kami, misimu telah selesai. Begitu juga dengan keberadaan Syl yang harus pergi." Deon mengusap lembut lengan Mila.

Mila menangis di dalam pelukan Deon yang baginya sangat nyaman. Dia sangat kehilangan Mila, ia benar-bebar sebatang kara setelah kedua orang tuanya tiada. Sylvia lah yang telah meramaikan harinya dan membuatnya kembali bersemangat menjalani hari.

"Aku ... aku nggak punya siapa-siapa lagi. Kenapa kalian harus ambil Via?" ucap Mila.

Deon dan Elvan hanya menaikkan bahunya. Kejadian ini masuk kedalam catatannya, jika manusia adalah makhluk sosial. Karmila mendorong Deon, ia menghapus air matanya kasar dan berdiri.

"Terimakasih, Saya permisi," ucapnya dan berlalu pergi.

Mila bukanlah gadis cengeng yang akan terpuruk dan bersandar pada orang lain. Dia adalah seorang Wanita Mandiri. Mila bahkan sudah terbiasa bekerja membenting tulang semenjak dirinya SMP. Dia tidak pernah mengeluh tentang kerasnya hidup.

Mila keluar dari ruangan itu, ia berbelok menuju sebuah ruangan yang bertuliskan toilet. Mila memercikkan wajahnya dengan air di wastafel, kemudian ia mengusap wajahnya kasar. 'Semangat Mila!' ucapnya dalam hati.

Mila keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kembali cerah. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya seirama dengan langkah kakinya. Tak lupa ia menyapa Jingga saat hendak keluar dari gedung itu.

Hari ini langkah kakinya terasa sedikit berat, ia memutuskan untuk menuju kampus pilihannya. Mila menaiki sebuah bus kota yang membawanya menuju ke tempat yang dimaksud, Univeraitas A. Bus berhenti, Mila mengedarkan pandangannya.

Tempat itu sangat ramai dengan laki-laki dan perempuan yang berkelompok. Mila berjalan memasuki bangunan besar itu. Ia menyusuri setiap ruangan yang ada, terakhir ia memutuskan menuju kantin kampus.

Mila memesan semangkuk soto babat dan segelas es teh. Sejenak rasa sedihnya menghilang saat ia menikmati makanan itu. Udara sejuk di sekitar kantin membuat moodnya semakin membaik.

Seorang lelaki menepuk pundak Mila, membuat Mila memutar tubuhnya. Mila memicingkan matanya, ia merasa tidak mengenal pria itu.

"Hai, sendirian aja nih?" Mila tidak menggubbrisnya.

"Lagi ada masalah?" tanya pria itu lagi.

"Maaf, aku nggak kenal kamu."

"Kalo gitu, ayo kenalan. Abel."

"Karmila."

Abel selama ini masih terus mengekori Mila. Dia dapat melihat aura bintang dari dalam diri Mila. Terlebih lagi, Abel telah jatuh cinta padanya.

"Kamu ngapain disini sendirian?"

"Suka-suka aku lah mau kemana."

"Emang kemana teman kamu?"

"Aku nggak ada teman." Mila menjawab apa adanya.

"Kok ketus banget sih." Abel menopang dagunya dengan sebelah tangan.

"Emang aku nggak ada teman, kamu sendiri ngapain ganggu aku?" Mila kembali bertanya.

"Aku juga nggak ada teman, kebetulan lihat kamu kok sendirian aja jadi kusamperin."

"Cih, modus!" Mila beranjak berdiri dan meninggalkan Abel.

Mila bergegas keluar dari kampus dan menuju halte terdekat. Abel menuju lahan parkir untuk mengambil mobil, ia memacunya cepat berharap dapat menyusul Mila. Bertepatan dengan tibanya Abel di depan halte, Mila telah naik ke dalam bus kota yang akan membawanya pulang.

Abel menyerah untuk hari ini. Ia tidak ingin dianggap sebagai penguntit. Mereka kembali menuju rumah masing-masing untuk beristirahat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!