17

"Tuan Deon?"

"Deon?" ucap Mila dan Jingga bersamaa.

Ternyata mereka duduk dibelakang Mila. Meskipun pendingin ruangan disana sangat dingin, Mila masih dapat mencium aroma khas yang menguar dr tubuh Deon. Membuatnya ingin mendekat dan memeluknya.

"Hehe ... maaf, silakan kalian nikmati kembali filmnya." Elvan menetralkan suasana.

"Elvan! mata kita tidak sebesar itu juga!" Deon masih terus melayangkan protesnya hingga film berakhir."

Mereka berempat berbaris secara berurutan, sehingga banyak yang mengira mereka berempat sedang kencan ganda. Deon kemudian mengajak mereka untuk makan malam di rumah makan, tetapi Mila menolaknya. Dia ingin mencoba seluruh makanan yang ada di mall ini.

Perburuan makanan di mulai. Mila berpindah dari 1 stand ke stand lainnya. Sambil berjalan, sambil makan. Makanan berat ia makan di meja, makana ringan ia makan sambil berjalan.

Jingga kaget dengan nafsu makan Mila yang sangat besar itu. Dia sedikit mengingatkan teman barunya itu. "Mila, besok lagi kita ke sini oke. Kamu bisa membeli sisanya besok atau lusa, mereka nggak akan kemana-mana."

"Iya,iya aku berhenti kok. Udah kenyang banget juga sih ini." Mila mengelus perut buncitnya.

Deon dan Elvan memutuskan untuk menunggu dari kejauhan. Mereka tahu jika Mila akan membabi buta melihat makanan yang belum pernah dia makan. Deon dan Elvan memutuskan untuk membeli 1 cup kopi selagj menunggu Mila.

Kini mereka berada di dalam mobil Deon. Mobil canggih yang dia desain sendiri seperti miliknya di planet asalnya. Deon mengendari mobil itu ke rumah Jingga, kemudian Elvan, dan terakhir Mila.

Deon mengantar Mila hingga kedepan pintu rumahnya. "Udah sampe nih, makasih ya tumpangannya." Mila mengusir Deon halus.

"Hmm." Deon tak bergeming.

"Aku masuk dulu ya, bye." Mila membuka pintunya sedikit.

"Hmm." Masih dengan jawaban yang sama.

"Kok kamu masih disini sih? udah,pulang sana!" Mila akhirnya mengusir Deon.

"Aku ingin masuk."

"E,e,eh nggak boleh! udah malem, aku capek dan ngantuk banget." Mila menguap lebar.

"Baiklah, temui aku di kantor esok."

"Iya,iya besok aku kesana. Bye."

Blam! pintu ditutup sedikit keras. Deon menyunggingkan senyumnya karena dapat mengantar gadis pujaannya itu pulang, Deon pun kembali menuju tempatnya beristirahat.

Ternyata dari kejauhan ada sepasang mata yang selalu mengawasi Mila, orang itu terlihat marah dan mengepalkan tangannya melihat kedekatan Mila dan Deon. Ia segera mengambil gadgetnya, jarinya menari di atas keyboard transparan itu. Abel melancarkan aksinya, ia menarik Mila untuk masuk kedalam dunia virtual buatannya.

Pagi ini Mila bangun dengan perasaan yang aneh. Suasa pagi itu tidak seperi biasanya, suara yang ditangkap Mila adalah kicauan burung dan aliran air. Mirip dengan situasi di tempat tinggal asalnya.

Mila membuka mata, ia kaget dengan keadaan kamarnya yang berubah. Mila melihat bayangan dirinya di cermin menampilkan dirinya dalam gambar 5D. "Aku ada di dunia virtual lagi? Apa ini misi tambahan?" Mila bermonolog sendiri.

Ia kemudian menjelajahi rumah yang terkesan kuno itu. Rumah itu terdiri dari 2 buah kamar, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi, dan 1 dapur. Halaman rumah di depan dan belakang sangat luas, dengan pemandangan alam yang asri.

Walaupun 5D tetapi Mila merasakan ketenangan di sana. Seekor panda terlihat sedang duduk di belakang rumahnya, kemudian seorang lelaki muncul dari baliknya. "Tuxido bertopeng?" Mila bergumam.

Lelaki itu berjalan mendekati Mila, ia membuka topengnya yang ternyata adalah Abel. Mila menutup mulutnya tak percaya. "Abel?"

"Hai," sapa Abel.

"Kamu? Kok bisa?" Mila bingung.

"Ya bisalah, apa kamu lupa kejadian beberapa waktu lalu saat aku pernah menolongmu?"

"Iya sih, apa kamu orangnya Deon juga?"

"Oh ... jadi namanya Deon? Orang yang selama ini bikin kamu dalam bahaya itu bernama Deon?"

"Kok bisa aku dalam bahaya?"

"Iya, kamu nggak tahu aja seberapa bahayanya misimu itu."

"Benarkah? tapi setimpal dengan hasil yang aku dapat."

"Setimpal? apakah uang segitu setimpal sama nyawa kamu?" Abel mulai meninggikan suaranya.

"Kamu siapa? Kok marahin aku? ini nyawa aky bukan nyawa kamu, kok kamu yang sewot?" Mila kembali masuk kedalam rumah dan berniat membuat sarapan sederhana. Mila menggoreng tempe, tahu, dan ikan asin serta sayur kelor. Mila juga membuat sambal untuk menambah nikmatnya makan pagi itu.

"Kalo mau makan cuci tangan dulu." Mila meletakkan makanan di atas meja.

Abel yang memang sedang kelaparan segera mengambil makanan yang berada di atas meja itu. Aromanya sangat enak, tetapi makan sebanyak apapun Mila tidak merasa kenyang. Jika di dunia virtual milik Deon, ia akan merasa kenyang setelah makan.

Abel melihat kecurigaan Mila, ia mengalihkan perhatian Mila dengan membawanya bermain air di sungai. Keseruan alam membuat Mila melupakan rasa lapar dan hausnya. Mereka berdua bersenang-senang sepanjang hari.

"Elvan, coba kamu tanya Jingga. Mengapa Mila belum datang? tidak biasanya ia datang di siang hari." Deon merasa aneh.

"Mungkin saja Mila sedang bersenang-senang."

"Tidak mungkin. Mila pasti mencari Jingga untuk menemaninya."

"Mungkin dia memiliki teman lain." Elvan mengangkat kedua bahunya.

"Aku akan mencarinya di rumah." Deon bergegas menuju ke rumah Mila.

Sementara itu di dunia virtual milik Abel, Mila merasa sangat kehausan. Ia meminum air di sungai, tetapi sebanyak apapun dia minum rasa dahaga itu tidak akan hilang. "Abel, aku sangat kehausan, kanapa air sungai ini tidak dapat melegakan dahagaku?"

"Ah, itu hanya perasaanmu saja."

Mila pun menepis rasa penasarannya itu. Mereka kembali menjelajahi dunia virtual yang tidak ada malam hari itu. Keanehan kedua Mila rasakan.

"Abel, aku capek banget nih. Kok malamnya lama amat sih?"

"Eh, itu ... kita tidur sekarang juga nggak masalah." Abel menyengir kuda.

'Nggak beres nih orang, aduh tapi aku ngantuk banget. Mana lapar dan haus juga.' batin Mila.

Mila bertekad untuk mencari jalan keluar, tetapi ia harus menghimpun tenaga terlebih dahulu. Mila pun terlelap dengan harapan ia akan mendapat sedikit energi setelah terbangun nanti. Sementara itu Deon melihat keanehan di rumah Mila.

Hari sudah larut tetapi rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Deon memutuskan untuk menerobos masuk. Betapa kagetnya dia saat melihat Mila dalam keadaan tertidur dengan alat VR yang masih menempel di kepalanya.

Deon tidak dapat menarik begitu saja kacamata VR milik Mila, itu akan membuatnya ling lung antara dunia nyata atau virtual. Deon pun menghubungi Elvan. Ia meminta Elvan untuk menerobos ke dalam dunia virtual milik Abel.

Deon terlihat sangat geram, ia mengepalkan tangannya dan berteriak keras. "Keparat!! aku pasti akan membunuhmu!" Nafas Deon memburu, ia berjalan mondar-mandir tak sabar menunggu hasil kerja Elvan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!