“Sistem, ini sembako dari siapa ya? Kok banyak amat? Beras 2 karung, gula 1 karung, minyak 1 dus, telor 1 peti, mie 1 dus, tepung, teh, sayur, buah --.” Kata-kata Mila terpotong.
Dari bos gue, dia tahu kalo loe kelaparan semalam.
“Kok bisa sih bos kamu tahu, emang dia bisa lihat aku?” ucap Mila dari dalam kamar mandi.
Ya jelas aja bisa.
“Aaaa!! Bilang sama bos mu jangan ngintip kalo aku lagi mandi!” Mila menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
Dasar bego! Nggak ada akses kamar mandi, palingan dalem kamar.
“Jadi dia udah lihat aku ganti baju?”
Pastinya.
“Sistem! Bilangin bos gila mu itu, tutup mata kalo aku lagi ganti!”
Iya ... iya Ciripa bawel!
Sedangkan lelaki yang biasa di panggil bos itu menyunggingkan senyumnya, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Jelas saja dia dapat mengakses seluruh tempat, teknologi dan peradabannya jauh di atas manusia di bumi.
Hari ini Mila makan enak, dia memasak tumis
buncis dan ayam goreng. Mila makan dengan menangis, mengingat kehidupannya sebelum bertemu sistem. Lelaki itu memegang janggutnya, dia tidak mengerti mengapa Mila masih menangis padahal dia sedang makan sesuatu yang baginya enak. Sistem pun bertanya,
Kenapa loe nangis?
“Aku sangat jarang makan makanan istimewa seperti ini, biasanya hanya tahu 1 dan nasi putih. Udah lama aku nggak bisa makan enak, semenjak Ayahku meninggal dan Ibuku sakit.” Air mata Mila merembes keluar.
Udah, yang penting sekarang loe bisa hidup lebih baik. Mereka juga bakal lihat dari surga dan ikut bahagis.
Mila mengangguk, dia kembali menikmati sarapannya itu dengan khidmat. Mila meraih ponselnya dan membuka misi ke dua hari ini.
Misi ke- 2 : Mengambil paket di tempat yang telah di tentukan.
“Paket apa ini?”
Meneketehe, loe siapin mental loe.
“Kok siapin mental? Cuman ambil paket doang.”
Item yang ditawarkan hari ini adalah :
- Lari cepat
- Antropomorfisme
- Petarung
“Apa itu Anksvhsgusjel?”
Apa? Kok otak gue nggak bisa cerna omongan loe?
“Maksud aku, artinya Asgyevbsmkh. Ah, belibet bener lidahku. Kemampuan kedua itu apa artinya.”
Ohh ... Antropomorfisme?
“Iya itu.”
Antropomorfisme adalah aktivitas orang-orang yang senang berkomunikasi dengan hewan.
“Kelihatannya seru, aku mau yang itu deh.”
Jangan pilih skill hanya karena keren Ciripa, oke lah gue upgrade dulu loe.
Sama halnya dengan kemarin, Mila merasakan seluruh tubuhnya bercahaya dan hangat. Setelah mengupgrade diri, Mila kembali menenteng tas bututnya. Dia berdiri di depan pintu dan berteriak,
“Aku siap! Semangat!”
Sistem menunjukkan keberadaan paket itu melalui GPS yang ada di ponsel Mila. Mila naik ke dalam bus, dia terpaku dengan pemandangan sekitar. Seumur hidupnya, Mila tidak pernah keluar dari kotanya. Lingkungannya hanya pasar dan sekolah.
Setelah berkendara selama beberapa jam, Mila turun di sebuah desa dengan hutan yang luas.
Sejenak Mila takut untuk melangkah, dia meremas tas selempang bututnya. Matanya terpejam, tarikan nafasnya dalam kemudian dia menghembuskan nafasnya dan membuka matanya.
Mila mantap untuk melanjutkan misinya. Sistem memintanya untuk berjalan masuk ke dalam hutan, beruntung hari masih pagi. Mila menelusuri jalanan penuh pepohonan itu, sesekali matanya memindai daerah yang baginya asing itu.
Semakin masuk ke dalam, Mila menemukan sebuah padang rumput yang sangat luas. Dia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan itu, menghirup aroma rerumputan di pagi hari.
“Hidup di sini sangat damai dan tenang ya Sistem.”
Emang loe mau tinggal di desa?
“Nggak tau juga, aku kan nggak ada niat untuk menetap. Eh, ngomong-ngomong aku kasih kamu nama ya.”
Loe mau kasih nama gue? Udah bikin bubur merah sama putih loe buat selamatan ganti nama gue?
“Kalo nggak mau ku kasih nama, berarti kamu udah punya nama?”
Udah, nama gue Sylvia. Jangan ganti-ganti seenaknya, ini nama pemberian si bos.
“Ok Syl.”
Panggil gue Via.
“Oke Via.” Mila mengembangkan senyum, matanya masih terpejam rapat menghadap langit biru.
Tiba-tiba langit menjadi gelap, sesuatu yang besar menghalangi sinar matahari pagi itu. Mila yang merasa tak enak segera membuka matanya, dia sangat terkejut. Seekor hewan aneh sedang berada di atas kepalanya, matanya merah, giginya runcing, tubuhnya bulat dan penuh dengan bulu.
“Aaaaa!!!” teriak Mila.
Graoowwww!! Hewan itu ikut mengaum.
Mila bangkit dari tidurnya, dia berlari sekuat tenaga menjauh dari hewan aneh itu. Hewan itu pun mengejar Mila, caranya bergerak dengan melompat. Kakinya sangat kecil tertutup bulu halus dan lebat sehingga tampak seperti bola yang memantul.
Kenapa loe kabur Ciripa?!
“Kamu nggak lihat apa? Ada monster di belakang aku.”
Bukannya kamu udah upgrade skill ya tadi pagi?
Mila menghentikan langkahnya, dia tampak berpikir.
Tadi pagi kamu memilih Antropomorfisme yang artiny loe bisa komunikasi sama hewan.
“Tapi kalo hewannya seperti itu, siapa juga yang sanggup. Lagian kok bisa ada hewan seperti itu.”
Mana gue tahu, dah coba aja. Siapa tahu hewan itu bagian dari misi loe hari ini.
“Oke ... oke, gue coba.”
“Kur ... kur ...kur ...”
Kuwi uduk pitik!
“Ri ... ri ... ri ...”
Kuwi uga uduk bebek!
Mila memutar bola matanya, dia mencoba sekali lagi.
“Jih ... jih ... jih ...”
Dasar bocah gemblung! Kuwi uduk asu, jian arek kok guoblok tenan.
“Kamu gimana sih Via, bukannya kasih saran malah ngejek aku.”
Ini tuh hewan yang nggak ada di mana-mana, kenapa loe panggilnya gitu. Coba loe deketin dan ajak ngomong, jangan kasar-kasar!
“Iya, iya, ini juga lagi ngumpulin niat.”
🎵Hewan besar berbulu lembut, bagaimana kabarmu? Aku datang untuk menjadi temanmu, berikanlah tanganmu, mari kita berteman ... lalala ... lala ... la ...🎵
Eh, dia ngerti loh. Hebat juga loe Ciripa, suara loe juga bagus.
Karmila tidak mendengar kata-kata Sylvia, dia masih memeluk erat teman berbulunya itu. Bulu yang sangat halus dan empuk. Wajah hewan itupun berubah menjadi sangat imut. Matanya besar dan hitam, mulutnya menjadi kecil tidak menampakkan taring yang banyak.
Ciripa! Buset dah gue di kacangin, woi! Lu mau duit kagak?
“Uang? Di mana?” Mila tersadar.
Noh, di depan loe yang lagi loe peluk-pelukin.
“Si bul-bul maksud kamu?”
Bul-bul siape lagi neng?
“Hewan ini namanya Bul-bul, dia kasih tau aku.”
Oh iya, gue lupa kalo loe hari ini jadi nerd. Udah, suruh dia pandu loe ke tempat paket berada.
Hewan itu pun menuntun Mila menuju sebuah tempat dengan pesawat asing. Dia menyusutkan bentuknya menjadi sebesar kepalan tangan. Nampak beberapa makhluk dengan bentuk aneh mondar-mandir di sekitar sana.
Bul-bul berkata jika paket itu ada di bawah pesawat aneh tersebut. Mila mencoba bergerak sehalus mungkin, berusaha menyelinap hingga sampai di bawah pesawat asing itu. Paket sudah berada di tangannya, tetapi Mila baru sadar jika kini dia tengah di kelilingi oleh sekelompok alien aneh itu.
“Hhalo, mmaaf ganggu. Aku Cuma mau ambil paket doang kok. Silakan dilanjutkan, bye.” Mila berusaha berlari secepat kilat.
Sayangnya yang berlari secepat kilat bukan Mila, tetapi para alien itu. Mereka telah lebih dahulu berada di hadapan Mila. Mila terkejut dengan kedatangan mereka.
“Gimana nih Via?”
Loe mau ambil skill gratisan loe, atau beli item?
“Kalo item ada apa aja?”
Apapun yang loe butuhin.
“Aku ... aku nggak bisa berpikir.” Mila memejamkan matanya ketika para alien berjalan mendekat membentuk lingkaran yang semakin kecil dengan Mila di tengahnya.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan pukulan, Mila masih tidak berani membuka matanya. Seorang pemuda dengan topeng di wajahnya dan setelan tuxido datang untuk menyelamatkan Mila.
Dia menghampiri Mila dan mengusap kepala gadis itu.
Mila membuka matanya, dia sangat terpesona dengan ketampanan pemuda itu. Belum sempat mengucapkan terima kasih, pemuda itu telah pergi meninggalkan Mila.
“Aaa ... tuxido bertopeng, kamu mau kemana?”
Sistem yang biasanya cerewet, kini tidak menanggapi. Bos besar juga sedang mengepalkan tangannya melihat kejadian itu.
“Via, kamu lihat pemuda tampan tadi kan? Si tuxido bertopeng, uhhh cakep bener dah.”
Jangan mimpi Ciripa! Dah cepet pulang, keburu gelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments