7

Kicauan burung dan suara aliran sungai membangunkan Mila pagi ini. Dia meregangkan badannya sejenak sebelum mulai mandi dan sarapan. Mila mengambil peralatan mandinya dan berniat untuk membersihkan diri di sana.

"Via, tutup mata kamu. Aku nggak mau Bos mesumu itu lihat aku mandi."

Gila loe mau mandi di sini! Via tahu jika ada lelaki asing yang selalu mengawasi Mila.

Loe cukup sikat gigi, cuci muka, cuci keti trs ganti dalam kemah sono!

"Sayang banget air sungai sebening ini nggak di pake mandi."

Kalo loe masih nekat mandi di sini, gue bakal bikin siaran langsung loe lagi mandi.

"E,eh jangan ... nggak jadi deh, aku ikutin saran kamu aja." Mila menyengir kuda.

Hari ini menu sarapan Mila adalah semangkuk mie kuah, aroma yang menguar itu membuatnya semakin lapar. Dia memakannya dengan lahap mengingat udara di sana pasti sedikit lebih dingin. Mila kini berkutat dengan ponselnya, ia melihat misi selanjutnya.

Misi ke- 6 : Penyelamatan Rapunzel.

"Astaga Via, aku bukan pangeran loh. Kok aku disuruh menyelamatkan Rapunzel? kenapa nggak Bos kamu aja sendiri?"

Mana gue tahu, kali aja loe tuh sebenernya cowok jadi-jadian.

"Enak aja! gunung kembar segede ini kamu bilang jadi-jadian?" Mila menggoyangkan payu dara nya.

Ketiga lelaki yang memperhatikannya di buatnya melotot. Deon terkekeh geli, Elvan menutup matanya atas perintah Deon, sedangkan Lelaki misterius itu tengah tertawa kecil melihat tingkah Mila.

"Kamu nggak punya kan yang seperti ini? iri? bilang bos!" Mila mengejek Via dengan masih menggoyang-goyangkan anggota tubuhnya yang paling menonjol itu.

Loe kira gue nggak ****? gue makhluk paling **** --, kata-katanya terpotong.

"Sebangsa kamu, iya aku ngerti kok." Jawab Mila santai, membuat Via semakin jengkel.

Dah lah, ayo ciripa kita let's go.

"Eits ... tunggu dulu, kamu belum kasih aku skill. skill hari ini apa aja?"

*Oh iya, hampir aja lupa. Gara-gara mata gue sakit dan otak gue kacau lihat loe punya gunung kembar goyang- goyang! Skill yang ditawarkan hari ini adalah :

- Memanjat

- Bela diri

- Mengepang*

"Apaan skill hari ini nggak guna semua, aku udah punya skill beladiri permanen kmrn kudapat gratis."

Ya udah, kali aja loe nanti butuh.

"Dahlah, ganti item aja. Bisa nggak skill di ganti Item?"

Hmm ... bisa, loe mau item apa?

"Kita lihat situasinya nanti," kata Mila sambil mengantongi pisau lipat dan gunting.

*Ayo kita berangka*t.

Mereka berdua berjalan semakin memasuki are hutan. Kemah Mila tidak dibongkar karena ia tahu masih butuh 1 hari untuk turun ke bawah. Semakin masuk ke dalam, Mila menemukan sebuah padang rumput luas yang di kelilingi pepohonan lebat. Ditengah-tengahnya terdapat sebuah menara yang tinggi.

Mila mendekati menara itu, persis dengan yang ada di dongeng rapunzel. Ia pun berteriak dengan keras.

"Rapunzel, Rapunzel, let down your hair, so that i might climb thy golden stair."

Tak lama kemudian rambut emas yang sangat panjang menjuntai ke bawah. Karmila menatapnya sejenak, ia menyentuh rambut itu tidak percaya. Itu adalah rambut asli. Mila pun segera memanjat ke atas, ia menggunakan kemampuan beladirinya.

Sesampainya di atas, betapa kagetnya dia melihat para ailien sudah berkumpul di sana. Sang Rapunzel sedang duduk terikat dengan Alien di kanan dan kirinya. Karmila melayangkan tendangannya, kali ini ia menggunakan pisau mengingat betapa sulitnya para Alien ini untuk di kalahkan.

Karmila melukai mereka satu persatu, ada seorang Alien yang menggunakan pistol khusus dan mengenai bahu Karmila. Pelurunya hanya menyerempet bahu Karmila, tapi rasa sakitnya luar biasa. Pistol itu adalah pistol cahaya, tidak menggunakan peluru tapi cahaya matahari yang sangat panas.

Dengan menahan sakit dan darah yang menetes dari bahunya, Karmila tetap melawan para Alien itu. "Via, aku minta senjata seperti mereka!"

Loe yakin sanggup bayarnya?

"Gratis! tadi aku nggak pilih skill kalo kamu lupa."

Oh iya, as you wish.

Senjata itu muncul secara misterius, saat ini tengah bertengger di pinggang sebelah kanan Mila. Dia mengganti pisaunya dengan senjata itu secepat kilat. Tembakan demi tembakan ia layangkan, membuat mereka semua lenyap seketika.

Lelaki penyelamat atau tuxido bertopeng mengurungkan niatnya untuk membantu Karmila. "Gadis itu ternyata sangat pemberani dan pintar dalam mengambil keputusan," gumamnya dalam hati.

Karmila segera melepaskan ikatan dari sang Rapunzel, tak lama kemudian terdengar suara yang sama. "Rapunzel, Rapunzel, let down your hair, so that i might climb thy golden stair."

Karmila meminta ia untuk menurunkan rambutnya. Ketika penyihir itu telah sampai di atas, Karmila dengan cepat menusuk jantungnya dan mendorongnya keluar jendela. Sang penyihir kembali masuk dari pintu samping yang tertutup tanaman rambat.

"Kok bisa nggak mati? aduh, aku lupa gimana cara bunuh dia?" Mila panik sambil berkacak pinggang. Saat tangannya meraba gunting, ia ingat jika penyihir itu akan mati ketika rambut Rapunzel dipotong.

"Aku potong rambutmu ya, sebelum nenek tua itu datang." Rapunzel menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Karmila memotong rambut Rapunzel dengan kemampuan alami yang di milikinya, hasilnya tidak buruk. Rambutnya masih panjang sampai pinggang tetapi sudah rapi. Nenek sihir itupun berteriak dari tengah tangga, ia berubah menjadi abu.

"Kenali aku Karmila." Karmila mengulurkan tangannya.

"Aku Anzel," Jawabnya seraya menyambut uluran tangan Mila.

"Makasih ya kamu udah menyelamatkan aku."

"Sama-sama, ayo kita turun."

"Gimana caranya?"

Karmila menepuk dahinya, ia lupa jika menara ini sangatlah tinggi. Mau tak mau mereka harus melewati tangga. Perjalanan mereka sangat lama dan melelahkan. Hari berubah menjadi malam, mereka masih ada di tengah ruangan. Dasar dari menara itu bahkan belum terlihat.

Perut Mila berbunyi minta diisi, ia menanyakan apakah Anzel mempunyai makanan. Anzel mengangguk, ia menunjuk ke atas. Dapur ada di sebelah kamarnya di atas, Karmila berteriak frustasi. Mereka kembali menaiki tangga yang banyak itu.

Sangat tidak mungkin Karmila melanjutkan perjalanan tanpa mengisi perutnya. Anzel memasak bubur kacang merah, aromanya membuat Mila bersemangat. Ia segera menandaskan mangkok buburnya, kemudian tertidur di atas kasur bersama Anzel.

"Jika lengannya tidak segera diobati, lukanya akan semakin melebar." Elvan terlihat khawatir.

"Beraninya mereka melukai kelinciku!" teriak Deon geram.

"Kirim aku ke sana! aku akan mengobati lukanya!" perintah Deon.

"Sekarang?"

"Sekarang! mumpung dia sedang terti--" Kata-kata Deon terhenti saat melihat Tuxido Bertopeng sedang mengobati Mila secara diam-diam.

"Arghhh!! Siapa bajingan itu berani menyentuh kelinciku! bukankah aku memintamu untuk menyelidikinya?!"

"Maaf Tuan besar, saya belum dapat menemukannya." Elvan seketika berubah formal melihat kemarahan Deon.

"Ini adalah kawasanku, aku yang membuat arena ini! Tidak mungkin ada yang dapat menembusnya! segera selidiki!" titah Deon.

"Siap Tuan Besar."

Deon segera menuju sasana tinju, ia tidak berduel dengan manusia tetapi dengan para robot. Seluruh robot di dalam gudang itu ia habisi hanya dengan tangan kosong.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!