12

Flash back On.

"Coba tangkap aku kalau bisa." Elvan berlari bersembunyi di balik pohon menghindari serangan mata laser Via

Elvan!! Gue nggak akan lepasin loe sebelum loe kena mata laser gue!

Kejar-kejaran itu berlangsung seru dan berakhir saat Elvan terjerembab kedalam danau buatan itu. Badannya basah, ia juga terlihat kesakitan saat lengannya terkena laser Via. Mila membantu Elvan untuk keluar dari danau itu dan menawarkan rumahnya sebagai tempat untuk mengeringkan pakaiannya.

"Terimakasih nona, tetapi saya sedang teburu-buru." Elvan berbalik pergi dengan tangan yang melambai.

"Tapi Tuan, bagaimana dengan sapu tangannya?" tanya Mila.

Elvan sudah terlalu jauh untuk mendengar panggilan Mila. Karmila menggelengkan kepalanya perlahan saat mengingat tingkah laku Elvan dan Via yang menurutnya sangat kekanakan. Mila memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.

"Kamu kenal sama Pria tadi?" tanya Mila di sela-sela kegiatan menyikat giginya.

Dia itu musuh bebuyutan gue!

"Emangnya kamu pernah diapain?"

Waktu itu udah waktunya dia nge-upgrade gue, tapi dia malah enak pacaran. Koneksi terganggu, proses upgrade gue nggak sempurna, parahnya lagi baterai laptopnya habis dong. Kebanyang nggak gue seharian ngelag, ngomong patah-patah nggak jelas.

Tawa Mila kembali meledak, dia membayangkan lucunya Via kala itu.

Loe jangan ngetawain gue ya Ciripa! mau loe cobain laser gue?!

"Nggak ... ampun bos, apunnnnn."

Kejar-kejaran ringan terjadi hingga Mila merebahkan badannya diatas kasur. Mereka terkekeh bersama malam itu. Tak lama setelah itu, Mila dan Via tertidur.

Flash back Off.

Pagi ini Mila membuka matanya perlahan dan kaget dengan apa yang dia lihat. Keadaan sekitarnya tidak lagi nampak 4d tetapi nyata. Mila melompat turun dari atas kasurnya, ia menuju kaca besar di dekat lemari pakaiannya dan melihat pantulan dirinya dari dalam cermin.

'Normal? Aku udah kembali? tapi rumah ini sama sama persis dengan rumah virtualku,' batin Mila.

Ia kembali melihat keatas kasur, Via masih terlelap dan tetap berbentuk bola bulu yang imut. Mila berlari keluar halaman, kakinya menginjak rumput disana. Mila memejamkan matanya merasakan sensasi rumput basah yang mengenai kakinya itu.

Beberapa pengendara sepeda, ibu-ibu, dan tukang becak berbisik melihat tingkah aneh dari Mila. Mila seperti tidak mendengarkan suara mereka, alias budeg 😅. Woi Ciripa! ngapain loe merem-merem nggak jelas disini?

Mila membuka matanya kaget, dia membekap Via dan membawanya masuk kedalam rumah.

"Jangan terbang sembarangan, kita sudah ada di dunia nyata."

Nggak ada yang bisa ngeliat gue kecuali loe. Lagian emang dari dulu kita bergerak di dua dunia, virtual dan nyata.

"Kok bisa?"

Ilmu loe nggak bakal nyampe kesana. Buruan sarapan dan mandi.

Mila mengangguk setuju, ia bergegas melakukan perintah Via. Banyak hal sangat dirindukannya, sebab tidak banyak manusia dan interaksi di dunia virtual. Mila bertanya kepada Via dengan mulut yang penuh, "Sekarang aku tinggal dimana ini Via?"

Loe sekarang tinggal di kota X, ibu kota negara ini.

"Wah, jauh banget sama tempat tinggal aku dulu." Mila terlihat lesu.

Kenapa? Loe pingin pulang?

"Ya, aku kan ingin ke makan Ibu aku. Aku juga bermaksud kembali bekerja pada Koh Budi."

Ciripa!! Duit loe sekarang udah banyak! Loe juga udah bisa kuliah.

"Oh iya, nanti aku cari kerja disini aja pelan-pelan sekalian kuliah."

Nah itu pinter, jangan lupa PR misi loe!

"Iya, iya. Aku mau daftar kuliah dulu deh."

Mila kini sedang duduk di sofa, dia berselancar di internet mencari universitas yang dia inginkan. Beruntung sekarang masih bulan Juni dan pendaftaran mahasiswa baru belum ditutup. Mila mendaftar di salah satu universitas ternama dengan jurusan Seni.

Mila tinggal menunggu email balasan setelah ia mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan berkas-berkas yang diminta. Jaman modern sudah tidak perlu lagi Mila berlari kesana kemari untuk mendaftar sekolah. Mila menuju tempat binatu dan meraih sapu tangan dari pria misterius itu.

Dia mengamati sapu tangan itu, tertera logo GF dengan motif timbul disana. Mila kembali menghadap laptopnya, ia mengetik GF di aplikasi Gulugulu. Muncul beberapa hasil, tetapi hanya satu yang membuatnya tertarik. Sebuah perusahaan IT dan Game yang bernama Gen's Future.

Mila mengklik laman tersebut, laman itu berisi informasi standar mengenai perusahaan Gen's Future dengan foto pemilik perusahaan yang disamarkan. Pada foto itu terlihat dua orang lelaki, satu berambut biru dan satu lagi berambut hijau. Persis seperti pria pemilik sapu tangan itu. Mila memutuskan untuk bertemu dengannya.

Gadis yang sangat rajin itu kini sudah siap di depan pintu. Mila memakai celana jeans skinny dan blouse berwarna peach, membuat kulitnya terlihat semakin putih. Rambut ikal panjangnya tergerai dengan cantik.

Mila pun melangkah keluar rumah dengan Via yang setia bertengger di pundaknya. Mila berpura-pura memakai earbud nya saat hendak berbicara dengan Via.

Loe mau kemana Ciripa?

"Mau balikin sapu tangan ini."

Emang loe tau dimana?

"Tadi kan aku udah cari tahu, kamu juga lihat laptopku. Sepertinya dia pemilik Gen's Future." Via tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mila.

"Kenapa kok ketawa?"

Nggak ada, loe udah salah kira. Kamu bener kok dia emang kerja disana. Tapi, bukan dia bosnya.

"Ouhh, ya ... ya .... Lalu namanya siapa? untuk memudahkan aku mencarinya."

Nama si brengsek itu Elvan.

Mila mengangguk tanda mengerti. Bis kota yang ia naiki sudah berhenti di depan gedung yang sangat modern. Bentuk bangunannya tidak seperti gedung bertingkat pada umumnya. Bentuknya lebih seperti UFO jika dilihat dari atas.

UFO tidak melulu berbentuk piringan, ada yang lebih estetik dan keren😎. Tolong kembangkan imajinasi kalian😘.

Mila sangat kagum dengan kecanggihan teknologi yang ada di sana. Ia terus berdecak sepanjang perjalanan menuju meja resepsionis. "Ada yang bisa kami bantu Nona?"

"Oh ya, perusahaan ini berdiri sejak kapan?" tanya Mila.

"Perusahaan ini berdiri sejak 5 tahun lalu, ada perlu apa nona kemari?"

"Oh itu, Saya ingin mengembalikan sapu tangan milik teman Saya."

"Kalau boleh Saya tahu namany?"

"Nama dia Elvan."

"Tuan Elvan?"

"Iya, rambut dia warnanya hijau.

"Apa anda sudah membuat janji?"

"Belum, tapi."

"Kalau begitu silahkan Nona menunggu di kursi sebelah sana. Tuan Elvan sedang dalam perjalanan kemari."

"Oh baik, terimakasih."

Mila duduk sambil membaca beberapa majalah yang ada disana. Dia tidak memperdulikan bisik-bisik dari para pekerja yang ada disana. Sudah bukan rahasia lagi jika Elvan adalah pemain wanita. Mila menjadi satu-satunya gadis yang mencari Elvan.

"Gila Tuan Elvan, sekarang sukanya yang muda-muda. Mana cantik banget gadis itu." Resepsionis 1.

"Iya, kasihan banget kalo harus berakhir sama Tuan Elvan." Resepsionis 2.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!