6

"Wah ... aku tidak menyangka, kelincimu akan menjadi sangat agresif jika berurusan dengan uang." Elvan menyerukan pemikirannya.

"Gadis yang menarik." Si Bos menautkan kedua tangannya.

"Tapi, mengapa kamu memberinya kemudahan?" tanya Elvan. Dirinya duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.

"Dia perempuan, usianya pun masih 18th."

"Kelincimu yang sebelumnya tidak seperti ini, bahkan pada misi ke 2 saja mereka menyerah," kata Elvan.

"Maka dari itu aku memberinya sedikit keringanan."

"Bilang saja kalau kamu jatuh cinta padanya."

"Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak mengenal cinta? Sekarang persiapkan misi ke 5."

"Baik Bos." Elvan segera berkutat dengan komputernya.

Didalam rumah Karmila tampak sudah bersih, pagi ini dia bangun pagi-pagi sekali dan bergegas membersihkan rumahnya. Staminanya kembali terisi setelah sarapan bergizi yang disantapnya. Kembali ia menggunakan tas slempangnya, siap menghadapi misi ke 5.

Misi ke- 5 : Hiking.

"Hiking? kok misinya semakin aneh sih?"

Udah, mending loe ikutin aja kemauan si Bos. Karmila mengangguk setuju.

*Skill yang ditawarkan hari ini adalah :

- Kemampuan teknis

- Kemampuan fisik

- Pemahaman lingkungan*.

"Kemampuan teknis masih dapat kucari di internet, kemampuan fisikku lumayan. Mm ... pemahaman lingkungan aja deh kayaknya."

Loe yakin? nggak mau milih kemampuan fisik aja?

Mila menggelengkan kepalanya. " Bentar aku cari dulu perlengkapan apa aja yang dibutuhin. Aku nggak mau beli item kalau nggak terpaksa."

Kenapa?

"Mahal!" Karmila mencebikkan bibirnya kearah Via.

Karmila segera mencari kebutuhan apa saja yang diperlukan. Ia membawa sebuah tas ransel yang besar. Tali, pisau lipat, senter, sleeping bag, korek, dan baju ganti tak lupa dibawanya. Beberapa camilan, panci kecil dan mie instan juga sudah dia bawa. Karmila memakai jaket parasut dan sepatu boots.

Bukan tanpa alasan dia dapat mempersiapkan segalanya dengan baik. Karmila adalah salah satu anak yang berprestasi saat mengikuti jambore. Kini ia telah siap dengan tas ransel disepanjang punggungnya dan topi berwarna coklat muda itu.

Waow, loe bisa keren juga ternyata.

Karmila menaik turunkan alisnya, memberikan beberapa gaya ke hadapan Sylvia. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Karmila. Sylvia bagaikan kamera hidup, menampilkan secara langsung ekspresi Karmila.

Mereka berangkat menuju salah satu gunung tertinggi di pulau ini. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, tidak banyak waktu bagi Mila untuk bersantai. Dia tidak ingin bermalam di tempat yang buruk.

Karmila mulai melangkahkan kakinya, kompas berada di tangan kanannya. Beruntung dia memilih pemahaman lingkungan, didalam otaknya saat ini terpampang peta dari gunung yang sedang di dakinya. Setelah setengah hari perjalanan, perutnya mulai berbunyi meminta untuk segera diisi.

Karmila menggunakan kemampuannya untuk memahami lingkungan di sekitarnya. 2km di arah barat daya terdapat sungai yang dangkal, cocok digunakan untuk bermalam. Sepanjang perjalan menuju ke sana, Karmila memunguti ranting-ranting kecil yang akan ia gunakan untuk membuat api unggun nantinya.

Saat sudah dekat, ia melihat kumpulan alien itu lagi. "Ish, kenapa lagi-lagi ada mereka sih?! Jangan-jangan ini ulah dari Bos mu," gerutu Mila.

Bos gue kagak berteman sama mereka, alien-alien itu ingin menggagalkan rencana si Bos. Loe mau item atau skill gratis?

"Bentar aku pikir dulu." Mereka berbisik bersembunyi di balik semak-semak.

"Aku minta skill gratisan aja, aku minta jadi iron woman."

What?! jangan ngadi-ngadi deh loe!

"Nah, kamu bilang bebas. Kalau aku jadi iron woman, jangankan 5 alien, 10 alien pun habis aku lawan."

Ciripa!!!

Suara derap langkah menghampiri mereka, membuat Mila dan Via mau tak mau keluar dari persembunyiannya.

"Kamu sih teriak-teriak nggak jelas."

Loe yang mintanya aneh-aneh!

Beberapa alien mulai melangkah mendekat, membuat Mila semakin waspada.

"Aku minta skill beladiri permanen!" Teriak Mila tiba-tiba. Via otomatis memberikan skill itu kepada Mila, sinar yang sangat terang itu membuat para alien sedikit mundur.

Tiba-tiba sorot mata Mila berubah menjadi tajam, tak ada rasa takut. Dia menghajar para alien itu dengan berani. Tendangan dan tinjuan dilayangkan, membuat para alien menjadi semakin beringas.

Mila berhasil melumpuhkan 3 alien, tersisa 2 lainnya. Tenaga Mila sudah menipis, membuatnya sedikit kewalahan. Tiba-tiba ada anak panah yang melesat mengenai salah satu dari alien itu, membuatnya menghilang secara misterius.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mila, dia menghajar alien yang tersisa dengan seluruh tenaganya. Alien itupun ikut menghilang bersamaan dengan pingsannya Mila. Tubuhnya ditangkap oleh sesosok pria misterius yang telah membantunya.

Siapa loe? gue tau loe bisa lihat gue!

"Nggak penting, lebih penting nyawa dia!"

Ikut campur banget sih loe!

"Kalau mau bantu kasih uang, tinggal kasih aja. Nggak perlu sampe pertaruhin nyawa gini."

Siapa loe!

Lelaki itu tidak mendengarkan ocehan Via, ia lebih fokus membangun tenda dan meletakkan Mila di dalamnya. Dia juga membuat api unggun untuk Mila dan memasak ikan bakar untuknya saat terbangun nanti. Aroma ikan bakar itu membuat Mila membuka matanya.

"Hmm ... aroma apa ini?" tanya Mila.

Lelaki itupun segera meninggalkan Mila, dia bersembunyi di balik semak-semak dan mengawasinya dalam diam. Dia menempelkan jari telunjuknya di bibir, tanda bagi Via untuk diam.

"Wah ... ini semua kamu yang siapin buat aku?"

E,eehh ... eh ... itu, itu ... dah lah loe buruan makan ikan itu, biar balik lagi semangat loe!

Mila pun segera menyantap makanan yang ada di depannya itu, mengisi perutnya yang dari tadi berbunyi merdu.

"Hati-hati bos, rupanya ada yang tertarik sama kelinci mungilmu itu." Elvan berbicara.

"Brengsek! Siapa dia?! segera cari tahu!" Bos itu berteriak marah. Dia mengekspresikan kemarahannya dengan membuang semua barang yang ada di dekatnya.

"Tenang bos, aku takut bumi akan hancur kalau kamu marah." Elvan terlihat sangat ketakutan.

Tatapan tajam dari Deon yang merupakan Bos itu membuat Elvan menutup mulutnya rapat-rapat. Ya, lelaki itu bernama Deon Gentala. Pria berusia 25th, CEO dan founder dari Gen's Future.

Nafas Deon memburu, seumur hidup dia tidak pernah merasakan cemburu yang teramat sangat. Dia hanya pernah marah 1 kali seumur hidupnya dan itu mengakibatkan hancurnya 2 planet. Kemarahannya disebabkan oleh kematian sang adik tercinta yang sampai saat ini masih menjadi misteri.

Karmila membersihkan sisa-sisa makanan itu dan tetap menyalakan api unggunnya, menghindari hewan liar yang bisa datang kapan saja.

"Via, misi kita hari ini nggak selesai dong?" tanyanya sedih.

Misi loe hari succesfull, dah kagak usah khawatir. Mending loe tidur aja sekarang untuk misi selanjutnya besok.

"Siap kapten!"

Mila masuk kedalam kemahnya, dia mulai terbawa suasana malam itu. Alunan lagu merdu dari alam, membawanya berangkat menuju alam mimpi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!