"Lagi gambar apa?" Abel melongokkan kepalanya melalui bahu Mila.
"Eh, lagi gambar pemandangan aja." Mila menoleh sedikit kearah suara itu.
"Kalo butuh kertas dan alat gambar, bilang aja nanti aku berikan."
"Nggak usah, ini cukup kok." Mila menunjukkan kertas dan tinta buatannya.
"Wah, kamu ternyata hebat juga ya bisa bikin kertas darurat."
"Biasa aja, pake apa aja bisa asal ada kemauan." Mila masih melanjutkan goresannya.
"Aku ... nggak rela kalo kamu deket sama si Deon itu." Abel merubah posisi duduknya di depan Mila.
"Maksudnya?" Mila memiringkan kepalanya.
"Aku ... sebenarnya aku ... aku suka kamu." Abel menyatakan perasaannya.
'Maksudmu suka kalo aku mati?!' batin Mila marah. Mila hanya diam, dia tidak menyangka jika Abel akan menyatakan cintanya di dunia virtual ini. Melihat Mila yang hanya diam saja membuat perasaan bersalah Abel semakin besar, tetapi egonya untuk memiliki Mila telah membuatnya hilang akal.
"Kalau kamu suka aku, kenapa harus di sini? kamu bisa ungkapin perasaanmu melalui dunia nyata, bukan virtual."
"Aku nggak punya cara lain untuk jauhin kamu dari Deon." Abel menjambak rambutnya frustasi.
'Pengecut!' batin Mila lagi.
"Aku mau jalan-jalan dulu, siapa tahu ketemu panda kemarin." Mila menyimpan kertas tadi dibawah batu.
"J,jangan ... panda itu memang kelihatan imut, tetapi bisa jadi bahaya." Abel menjadi panik.
"Bahaya? bukankah dunia virtual ini kamu yang bikin? kok bisa bahaya?" Mila semakin penasaran.
"Aku nggak hebat sampai seperti itu." Abel menarik tangan Mila, ia menunjukkan garis yang mengelilingi rumah, air terjun, dan beberapa tanah lain didekatnya. "Garis ini adalah pemisah antara dunia virtual buatanku dan milik orang lain." jelasnya.
"Milik orang lain? bisa nggak kita keluar dari sini." Mila mengorek informasi lebih dalam.
"Aduhhh, itu juga lagi aku usahain. Ternyata orang yang aku ajak kerja sama itu jahat, dia tidak ingin melepaskanmu setelah tahu kalau kamu dekat dengan Deon." Abel mondar-mandir frustasi.
"Kok makin rumit?" Mila menggaruk kepalanya.
"Intinya, dia musuhnya Deon. Aku masih mencari cara untuk membebaskanmu, tetapi dia mengancam akan merusak dataku sehingga kamu terjebak disini selamanya."
"Lah, kok jadi gini sih. Kok jadi aku yang di tumbalin, kamu jahat banget sih Abel." Mila mengungkapkan perasaannya.
"Maafkan aku, aku berbuat ini karena sayang sama kamu."
"Cukup! Udahlah, mending kamu ngilang aja dulu beberapa hari. Aku lagi males ketemu kamu." Kesempatan bagus bagi Mila untuk membuat alasan, dengan begini Mila dapat bergerak bebas mencari cara untuk keluar.
Abel pun menuruti kemauan Mila untuk menghilang selama beberapa hari. Kebetual Abel juga ingin bernegosiasi dengan Tuan Cosmo. Ternyata selama ini Abel tidak pernah bertemu Cosmo, mereka berhubungan melalui email.
Ponsel Mila kembali berbunyi.
**Misi komplit.
Misi ke 12 : Kelemahan panda**.
"Kalo misi kek gini juga aku tahu musti ngapain. Aku lebih suka ditemani Via." Mila menyimpan ponselnya kembali, belum lama ponsel itu di dalam kantong Mila sudah bergetar lagi.
Mila melihat tulisan yang membuatnya sangat yakin jika itu adalah Via.
Misi \= Uang. Loe mau duit kagak?
"Aaa!!! Via, aku kangen banget sama kamu." Mila memeluk ponselnya dan melompat gembira. Tapi, tidak ada jawaban lagi. Mila tak patah semangat, ia membawa peta kecil yang dibuatnya tadi.
Pisau kecil selalu berada di pinggangnya. Mila berjalan keluar dari lingkaran Abel, ia melihat petanya. Ada pohon bambu di beberapa titik yang kemungkinan besar panda itu bersembunyi disana.
Mila melihat kembali petanya, ada 4 titik kumpulan pohon bambu disana. Mila akan memulai dari pohon bambu tedekat yang terletak di sebelah air terjun dekat pondok. Ia menyusuri setiap sudut kumpulan pohon bambu itu.
Hasilnya nihil, Mila tidak menemukan apa-apa disana. Mila juga tidak melihat sang panda. Kemudian Mila beralih ke kumpulan pohon bambu ke dua, hasilnya pun sama tidak ada si panda. Namun, Mila mendapati beberapa hal aneh di sana.
"Apa ini?" Mila menemukan benda pipih berbentuk segi lima dengan logo CM.
Mila melihat panda itu sedang berjalan mendekat kearahnya. Ia pun bergegas bersembunyi di balik batu besar. Panda itu seperti sedang mencari sesuatu, dia mengais rontokan daun bambu di sekitar sana. Panda itu terlihat celingukan kebingungan dan berlalu pergi.
Mila bergegas mengikuti tuan panda itu menuju sebuah gua. Mila melongok kedalam gua, dia berusaha melihat isi gua tanpa masuk kedalamnya. Dari luar terlihat seperti gua biasa.
'Ogah ah masuk ke sana kalo masih ada si Tuan Panda. Lebih baik aku cari emblem berikutnya.' batin Mila.
Mila berjalan menuju titik pohon bambu berikutnya. Ditengah jalan ia mendapat sebuah notifikasi baru.
Kenapa loe kagak ngikutin si panda Ciripa?!
Karena aku nggak mau di mangsa hidup-hidup sama panda jadi-jadian itu. Mila membalas chat dari Via.
"Cerdas juga dia." Elvan kagum dengan pertahanan diri Rose. Deon tersenyum bangga melihat keputusan yang diambil Mila.
"Aku juga kagum sama Mila yang bisa buat kertas dadakan." Jingga juga mengutarakan ke kagumannya.
"Dia memang pantas menjadi pendampingku." Deon tersenyum lebar mendengar semua pujian yang dilayangkan untuk Mila. Deon sendiri merasa takjub dengan kemampuan Mila saat membuat kertas dadakan itu. Ia yang notabene dari peradaban luar biasa canggih, sangat asing dengan kegiatan tradisional.
Jangan loe ilangin emblem itu! Simpan baik-baik!
Ternyata kamu masih tetap cerewet!😜
Mila bergegas menyimpan ponselnya kedalam saku. Ia melanjutkan perjalanannya menuju titik ke tiga. Di sana ia melihat sesuatu yang berkilau di atas pohon bambu yang lentur itu.
Mila menarik nafasnya, ia mengeluarkan jurus kaki ringannya dan berlari dengan cepat menaiki bambu yang lentur itu. Kaki lincahnya kembali membawanya turun dan mendarat dengan baik. Mila tersenyum puas dengan kemampuan beladirinya, ia tidak menyangka dapat melakukan jurus ini.
Mila menyimpan emblem itu dan melanjutkan perjalanan menuju titik ke empat, tempat emblem ketiga kemungkinan berada. Sesampainya di sana, Mila merasa sangat lelah dan lapar. Ia mempercepat pencariannya dan ingin kembali menuju rumahnya.
Seting waktu siang hari membuatnya tidak dapat membedakan waktu. Mila mencari di segala tempat tetapi tidak ketemu. Saat dirinya sudah merasa sangat lelah, dia melihat sesuatu yang berkelip di dalam rebung.
Mila terlalu lelah untuk menguliti anak bambu itu di sana, dia memutuskan memotong dan membawa pulang bambu muda itu. Mila mengambil jalan pintas, ia melihat melalui peta buatannya. Jalanan sedikit berbatu dan keadaan Mila yang kelelahan membuatnya tak memperhatikan jalan, hal ini mengakibatkan Mila terpeleset jatuh dan kakinya terkilir.
Tak menyerah disana, Mila mencari ranting kecil dua buah. Ia mengapit kakinya dengan dua ranting itu dan membebatnya dengan jaket yang dipakainya. Mila kembali berjalan pulang walau tertatih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments