11

Tidak seperti kemarin, pagi ini Mila bangun dengan wajah kusut. Entah bagaimana bisa aroma wangi tupai itu membiusnya dan menjadi candu. Mila berjalan dengan gontai, ia merasa sangat malas.

Rasa mager itu membuatnya enggan untuk mandi, ia langsung menuju dapur untuk menikmati sarapan alakadarnya. Bagaikan orang yang ditinggal pergi oleh kekasihnya, Mila menyendokkan makanan tetapi tidak dimakannya.

Loe kenapa Ciripa?

Mila tak menjawab, ia masih mengaduk-aduk makanan di mangkuknya.

Woi! Ciripa! Sadar!

"Eh, iya? ada apa Via?" tanya Mila linglung.

Loe kenapa? Bangun tidur bukannya mandi dan gosok gigi, malahan langsung makan. Loe sarapan jigong?!

"Enak aja, aku enggak lagi makan kok."

Astaga dasar Bocah Gemblung tenan! Itu yang kamu pegang apa Ciripaaaa!!!

"Loh? kok bisa aku makan sereal?"

Loe nanya gue? Halooo ... yang ada gue lagi nanya loe! Lagi mikirin apa sih?

"Nggak ada kok, eh ngomong-ngomong si tupai kemana ya?"

Oh, jadi gara-gara Tuan tupai?

"Iya, wanginya itu bikin kangen. Aku nggak pernah nemuin parfum seharum itu."

Oh, itu mah parfum langka. Dijualnya di planet Venus, yang gue tau sih harganya fantastis.

"Planet Venus? Maksud kamu nama tokonya planet Venus?"

Bukan, planet Venus di luar angkasa itu. Venus yang dinamai dari dewi cinta dan kecantikan dalam mitologi Romawi. Setelah Bulan, planet ini merupakan objek alami tercerah di langit malam.

Karmila manggut-manggut mendengar penjelasan yang dijabarkan oleh Via.

Deon terlihat senang mendengar Mila sedang merindukannya, merindukan aroma tubuhnya. Dia tersenyum melihat tingkah konyol Mila.

"Sepertinya dia sudah sampai di tahap tidak bisa tidur tanpa kamu," ledek Elvan.

"Apakah tugasmu sudah selesai?" Pertanyaan Deon membuat Elvan berbalik kembali menuju sofa dan kembali berkutat dengan tugasnya itu.

Karmila memaksa tubuhnya untuk mandi dan bersiap. Ia memberi semangat pada dirinya sendiri. Kini dirinya sudah berdiri di depan kamar dengan tas selempang yang selalu menemaninya.

Mila membuka ponselnya, melihat misi berikunya.

Misi ke 10 : Mencari si Bos.

"Udah sampe misi ke 10 dan mencari si bos? Semoga ini misi terakhir."

Sepertinya loe udah lelah ya?

"Ya, aku rindu kehidupanku. Aku juga ingin melanjutkan kuliah."

Ya udah buruan loe berangkat dan cari si bos. Loe bisa nanya langsung sama si Bos, udah kelar nggak nih misi.

"Tapi di mana? nggak ada petunjuk apa pun yang bisa aku pakai?"

Sorry Ciripa, hari ini nggak ada skill dari si Bos.

"Kok gitu?"

Gue nggak tahu juga, mungkin karena nyari orang kagak butuh skill apa-apa.

"Ada foto? atau nama? Kasih petunjuk apa gitu."

Kalo petunjuk, gue cuman bisa kasih tahu kalo dia orangnya ganteng, tinggi, kulit putih, dan rambut biru.

"Hobi dia apa?"

Hobi ya? gue kagak tau juga. Pokoknya di pake semua barang yang udah loe dapetin dari sini.

"Batu giok dan kalungnya titanic itu?"

He em

Mila tertawa terbahak-bahak, ia sedang membayangkan seorang lelaki yang memakai kalung berliontin biru, cincin, gelang serta anting yang terbuat dari batu-batu giok itu. Ia tertawa hingga air mata keluar dari sudut matanya. "Kamu yakin si Bos pake gituan?" tanya Mila dengan masih menahan tawanya.

Iya gue yakin! Napa sih loe ketawa-ketawa nggak jelas.

"Ya kamu coba bayangin aja, seseorang yang pake begituan di tubuhnya. Pasti akan terlihat seperti perempuan jadi-jadian." Mila kembali tergelak.

Woi Ciripa! Kalo loe masih ketawain si Bos, gue doain loe kagak bisa keluar dari sini.

"Jangan dong Via." Mila mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.

"Terus aku carinya di mulai dari mana ya?" tanya Mila lagi sambil melangkahkan kakinya berjalan menyusuri trotoar.

Siapa tahu kalian jodoh, nggak perlu repot-repot cari pasti si Bos datangin kamu.

"Mana ada si Bos nyamperin bawahannya" Mila tertawa pelan.

"Eh, tapi bukannya para Bos itu suka berada di perusahaannya sendiri ya? Duduk di belakang meja besar."

Iya

"Nah, mungkin kita mulai dari sana aja. Aku masukin satu per satu perusahaan yang ada, aku tanya resepsionis, siapa tahu bos mereka berambut biru."

Loe yakin tanpa janji temu bisa ketemu sama mereka?

"Hmm, iya juga sih. Kasih ide dong Via, kasih aku bocoran dikit aja."

Gak bisa.

"Dunia ini luas banget loh Via, nggak mungkin aku bisa cari dengan mudah. Kalau nggak, kamu pasti tahu jadwalnya si Bos kan? Hari ini dia ada acara di mana?" tanya Mila.

Hari ini ya? hmm ... kayaknya dia ada di ...

"Dimana?"

Di ...

Mata Mila melebar menunggu kata-kata yang keluar dari sistem itu.

Di perusahaannya lah. Sylvia tergelak.

"Ya elah Via, kamu godain aku terus. Ini udah hampir sore loh dan aku udah jalan jauh juga."

Salah sendiri loe bangunnya kesiangan, masih pake acara lelet kek siput. Loe dari pagi bengong di meja makan udah makan waktu berpa jam. Sampe matahari udah tinggi loe baru mandi.

"Ya maap, nggak tahu nih kenapa tiba-tiba aja ngerasa lesu gitu."

Mila sampai di sebuah taman, taman virtual ini sangat indah. Ia duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke arah danau buatan. Beberapa angsa terlihat berenang bebas, suasana taman sangat tenang.

Angin sepoi yang berhembus membuat rambut Mila sedikit bergoyang. Dia menarik nafas dalam, menahannya sebentar, kemudian membuangnya perlahan. Ingatannya kembali beberapa minggu yang lalu saat ia harus bekerja banting tulang demi menghidupi sang Ibu.

Air mata jatuh tanpa ijin Mila, dia merindukan sosok Ibu dan Ayahnya. Tetapi, Mila adalah wanita tangguh yang dapat berjalan sendiri. Ia dapat mengahadapi dunia ini sendiri.

Tiba-tiba seorang pria berdiri di hadapannya, ia memberikan sebuah kain berbentuk segiempat berwarna hijau muda. Mila mendongakkan kepalanya, ia melihat seorang lelaki tampan sedang berdiri di hadapannya. Lelaki itu tersenyum ceria.

"Halo Nona, mengapa kamu menangis?" tanya si Pria.

"Oh, aku cuma teringat mendiang Ayah dan Ibuku." Mila mengambil sapu tangan itu dan mengusap air matanya.

"Saya kira Anda sedang bersedih karena masalah pekerjaan."

Modus!

Lelaki itu memberi tatapan tajam kepada Via, mereka sama-sama beradu tatapan tajam. Mila yang melihatnya jadi sedikit penasaran.

"Apa kamu dapat melihatnya?" tanya Mila.

"Bola bulu menyebalkan ini? Aku dapat melihatnya, dia sangat jelek dan bau."

Mila menahan tawanya, tetapi tidak bertahan lama. Mila tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan pria itu.

Mulut dijaga! Gue laserin loe mampus!

"Coba kalau kamu bisa." Pria itu berlari dan bersembunyi di balik pohon menghindari tatapan laser dari Via.

Sejenak Mila melupakan misi yang baginya sulit itu. Hari semakin gelap, Mila memutuskan untuk pulang dan menyudahi kegiatan hari itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!