Pagi ini Mila bangun dengan perasaan yang aneh, dia merasa ada seseorang yang memeluknya semalaman. Seseorang yang menyalurkan rasa hangat kepadanya. Saat ia membuka mata, tidak didapati seorang manusia lain selain dirinya dan tupai itu. 'Ah, mungkin hanya mimpi' batin Mila.
Mila segera melakukan rutinitas paginya, tak lupa ia memberi beberapa kacang kenari untuk tupai peliharaannya itu. Mereka berdua sedang duduk di meja makan setelah ritual mandinya selesai.
Ciripa, CS loe sekarang udah lumayan banyak. Loe punya 50.000 CS, di potong utang loe jadi sisa 10.000 CS. Loe juga masih punya 1 skill gratis.
"Wah, banyak banget CS aku. 50.000 di kali 50.000 ... " Mila menggunakan kalkulatornya, ia menutup mulutnya tak percaya saat tahu hasilnya.
Kagak usah kaget, bos gue tuh orang terkaya sejagad raya. Dia biasa membeli planet.
"Planet? Rumah maksudmu?"
Planet Ciripa ... bos gue kan Alzssjsbbs.
Karmila mengerutkan keningnya saat bunyi buzz itu kembali pada Via.
Sorry, gue lupa kalo itu larangan. Sekarang loe lihat aja misi selanjutnya apaan?
Karmila membuka ponselnya untuk mencari tau misi hari ini.
M**isi ke- 9 : Pertarungan**.
"Pertarungan apaan nih Via? Duel tinju? atau Karate?"
Loe punya apa yang menonjol untuk ditawarkan? nah itu loe jadiin modal untuk duel nanti.
Mila refleks melihat kearah gunung kembarnya yang memang diatas rata-rata. Ia bergegas menyilangkan tangannya di dada dan menggeleng pelan ke arah Via. "Nggak gini juga Via, masa iya aku di suruh jual badan?"
Tepok jidat dah urusan sama si Ciripa ini, bukan jual badan Neng! Loe ada kelebihan apa? Kebetulan gue pernah denger loe nyanyi dan suara Loe lumayang juga.
Mila menurunkan kedua tangannya, ia menunjukkan gigi rapinya ke arah Via. Cengiran khasnya ditambah tingkahnya yang malu-malu membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
"Boleh juga tuh, aku juga doyan nyanyi. Tapi, mau adu suara sama siapa?" Celetuk Mila.
Loe coba cari di iklan, siapa tau ada lomba nyanyi.
Karmila mencari dan dia teringat pada kontes menyanyi 'Indonesia Mindol'. Mila bergegas mendaftar, betapa beruntungnya dia langsung mendapat nomor urut 43 dari ribuan orang yang mendaftar. Mila bergegas mempersiapkan dirinya untuk tampil sembari menunggu gilirannya.
Loe mau nyanyi lagu apa?
"Aku mau nyanyi lagunya Andmesh, Hanya Rindu."
Giliran Mila tiba, ia memperkenalkan dirinya dan mulai bernyanyi. Para juri tertarik dengan suara khas Mila yang sedikit serak tetapi sexy itu. Mila mendapatkan golden tiket dengan mudah.
Naas saat akan keluar dari ruang audisi, para alien telah berada di sana. Mila yang akan mundur tidak bisa, tangannya ditarik paksa oleh mereka. Mila di bawa paksa menuju suatu tempat.
Tempat ini sangat luas dan modern, ini adalah kapal induk mereka. Mila seketika merasa nyawanya terancam saat mengetahui ia berada di dalam markas musuh. Salah satu alien yang diyakini Mila adalah ketuanya datang mendekat.
"Apa hubunganmu dengan Tuan Gentala?" ucapnya dengan suara aneh. Kemampuan berbahasa alien sangatlah tinggi, sehingga dengan mudah mereka memahami bahasa Mila.
"Siapa Tuan Gentala? namanya saja aku baru mendengarnya."
"Kamu bohong! lenyapkan dia!"
"E,eh jangan dulu, aku belum cairin uang aku." Mila mencari alasan.
"Oh, jadi Gentala menawarkan imbalan uang padamu?"
Loe jangan ngomong macam-macam! Jangan di jawab dia. Alien yang lain datang dan hendak melenyapkan Via. Mila melawan dengan sekuat tenaga, Deon yang berada di sampingnya meminta bantuan pada Elvan melalui telepatinya.
Elvan segera mengirim bala bantuan untuk datang ke tengah hutan, tempat Mila melakukan misi ke duanya. Menunggu Elvan sedikit lama, beruntung tuxido bertopeng datang. Ia membawa sebuah pistol cahaya, mirip dengan yang dimiliki para alien itu.
Tembakannya selalu mengenai sasaran, Mila tiba-tiba mendapatkan ide. Dia hendak meminta skill pada sistem, "Via, aku mau skill gratisku sekarang! aku mau skill teleportasi."
Sylvia memejamkan matanya mengabulkan permintaan Karmila. Skill teleportasi telah di aplikasikan, Mila menggandeng tuxido bertopeng. Dia juga mengapit tupai itu di lengannya dan tangan sebelahnya lagi memegang Sylvia. Dia membayangkan keadaan di luar kapal ini, dan dalam sekejap mereka telah berpindah tempat.
Mereka masih belum lolos. "Via, skill hari ini kutukar dengan item. Aku minta bom dengan kekuatan ledakan yang sangat besar. Sekarang, no debat!"
Sekali lagi Via memejamkan matanya dan sebuah benda bulat kecil berada di tangan Mila. Ia berpindah menuju bawah kapal untuk menempelkan benda itu. Dengan cepat Mila berpindah tempat untuk menggandeng semua temannya dan menghilang lagi menuju rumahnya.
Suara ledakan terdengar sangat dahsyat, bahkan menyebabkan getaran pada tanah yang mereka pijak. Karmila bernafas lega, dia tidak menyadari jika tangannya masih menggenggam erat tangan tuxido itu. Tupai alias Deon menggigit tangan Mila, membuatnya mengaduh lagi.
"Aduh! Eh, maaf aku nggak sengaja pegang tanganmu."
"Nggak apa-apa, kamu nggak terluka kan?" tanyanya.
"Oh, aku baik-baik aja. Tapi, kamu siapa?"
"Kenalin, aku Abel." Abel mengulurkan tangannya
"Karmila." Mila menyambut uluran tangan Abel.
"Kamu kok bisa tau kalo aku lagi diculik sama mereka?"
"Kebetulan aku juga mengikuti audisi Mindol."
"Ohh, kamu masuk nggak?"
"Hehe, sayangnya aku nggak lolos."
"Oh, maaf."
"Nggak masalah, sebenernya aku cuma iseng aja ikut audisi itu. Oh ya, tadi kamu hebat banget bisa teleportasi gitu."
"Oh, nggak kok. Itu ... itu cuma kebetulan aja. Udah ya, aku masuk duluan. Bye." Mila segera masuk kedalam rumahnya itu.
Abel merutuki dirinya sendiri, dia membuat Mila menjadi tak nyaman dengan kata-kata yang di lontarkannya tadi. Sedangkan Mila berpikiran lain, ia lari dari Abel sebab tidak ingin Abel tahu mengenai Via. Dia takut jika Abel akan menganggapnya gila.
Sementara itu Elvan sedang memperbaiki kerusakan yang diakibatkan ledakan bom tadi. Datanya bocor, dia takut akan semakin banyak alien yang masuk ke dalam dunia virtual milik Deon. Dia sudah memulihkan beberapa titik, tetapi masih belum cukup untuk menutup semuanya.
Elvan memanggil Deon, ia berkata jika ledakan tadi cukup parah merusak sistem yang ada. Dengan terpaksa Deon kembali. Dia bukannya marah, Deon justru tertawa terbahak-bahak.
"Kelinciku sangat pandai membuat kekacauan." Deon menggumam sembari jari lincahnya bermain diatas keyboard yang tak dapat disentuh itu.
Malam ini Karmila tidak dapat memejamkan matanya, ia mencari keberadaan aroma wangi itu. Tupainya menghilang, aroma wangi itu juga ikut pergi. Karmila membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur sampai ia lelah dan tertidur.
Abel tengah berkutat dengan laptopnya, ia sedang memasukkan Mila sebagai salah satu kandidat penyanyi baru terbaik. Sejatinya memang suara Mila sangat bagus sehingga ia melakukannya bukan tanpa alasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments