13

Mila duduk manis di sana sekitar 40 menit, barulah muncul duo bos yang gantengnya selangit sedang berjalan kearah lift. Resepsionis 1 memberi tahu kepada Elvan perihal kedatangan Mila. Elvan menurunkan sedikit kacamata hitamnya itu, ia menoleh kebelakang dan benar saja memang Mila sedang duduk di sana.

Deon mengikuti arah pandang Elvan, matanya menangkap sosok Mila yang terlihat cantik terkena sinar matahari pagi itu. Tiba-tiba Deon menjadi salah tingkah, ia membetulkan pakaiannya dan menyisir rambutnya kebelakang. Elvan terkekeh geli melihat gelagat Deon yang salah tingkah itu.

Elvan melangkah maju menghampiri Mila dengan Deon yang mengekorinya. Mila yang merasa bukunya tertutup bayangan segera mendongakkan kepalanya. Ia melihat sosok Elvan dan segera mengeluarkan sapu tangannya.

"Ini Tuan sapu tangan Anda, terimakasih telah meminjamkannya padaku waktu itu."

"Ah, bukan masalah. Oh ya, perkenalkan ini adalah Bos Saya."

"Bos? Saya kira Anda adalah Bosnya."

"Bukan, aku hanya wakilnya saja. Ini dia Bos yang sesungguhnya, namanya Deon Gentala." Elvan menggeser tubuhnya hingga Deon terlihat.

Mila melotot melihat penampilan modis Deon. Satu anting berwarna blue diamond, Kalung berbentuk kunci, dan gelang emas dengan batu giok berwarna-warni. Melihat gelang itu, Mila teringat akan misinya.

'Kayaknya ini si Bos deh,' batin Mila.

Deon mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya, membuat Mila semakin yakin jika orang tersebut adalah Si Bos. Dengan menyambut uluran tangan Deon, Mila dengan lantang berbicara perihal game yang telah dimainkannya.

"Apakah misi Saya sudah selesai Tuan?" tanya Mila tiba-tiba.

Deon tersenyum, dia mempersilakan Mila untuk mengikutinya menuju lantai teratas dan berbincang di ruangannya. Para wanita di meja resepsionis sudah kembali berbisik. "Untung aja Nona itu nggak sama Tuan Elvan." Wanita 1.

"Ia, kayaknya emang lebih cocok sama tuan Deon. Buktinya dia bisa bikin Tuan Deon salting dan senyum-senyum gitu." Wanita 2.

Mila masih dibuat kagum saat melewati lorong menuju ruangan Deon. Banyak lukisan-lukisan aneh yang dia tidak pernah melihatnya. Mila semakin terkejut saat masuk kedalam ruangan Deon.

Ruangan Deon sangat besar dengan layar dan perangkat komputer dimana-mana. Mila tercengang saat mengetahui semua komputer dalam keadaan menyala dan memperlihatkan gambar yang sama. Modelnya pun lain, komputernya sangat modern.

"Silakan duduk," ucap Deon.

Mila mendudukkan dirinya di sofa, Deon memgambil posisi di depan Mila sedangkan Elvan duduk disebelah Mila. Tatapan tajam Deon membuat Elvan berpindah tempat duduk. "Bagaimana bisa kamu menebak jika si Bos adalah aku?"

"Via memberiku petunjuk yang mengarah kepadamu. Seorang lelaki tampan yang memakai semua hasil misiku. Anting-anting yang terbuat dari batu permata Rose, dan gelang dengan 10 batu giok."

Deon sangat puas dengan hasil kerja Mila, sebetulnya misi Mila telah selesai tetapi dia ingin bersamanya lebih lama.

"Jadi ... Apakah aku tampan?" kata-kata konyol itu keluar dari mulutnya, membuat Elvan tidak sengaja menyemburkan udara dari mulutnya dan tertawa terbahak-bahak.

Deon memberikan tatapan tajam ke arah Elvan. Dia merutuki pertanyaan konyolnya itu. Deon bukanlah penakluk wanita, dia sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta.

"Tentu saja Anda sangat tampan Tuan." Mila sedikit tertawa, tetapi tidak nampak jatuh cinta pada Tuannya itu.

"Lalu, mengapa kamu tidak histeris seperti para wanita lainnya."

"Entahlah, aku tidak merasakan apapun." Mila menjawab dengan jujur.

Kata-kata Mila membuat Deon berpikir keras, bagaimana agar Mila dapat jatuh cinta padanya seperti para wanita yang selalu mengejar-ngejarnya. Dia menatap Mila lama, membuat Mila menjadi tidak nyaman. Dia celingukan sambil meremas jarinya.

Pasalnya dia adalah seorang perempuan dengan dua orang laki-laki di sebuah ruangan tertutup. Jantung Mila berdegup kencang. 'Nggak mungkin mereka akan macam-macam kan?' batin Mila.

Elvan dapat melihat ketakutan Mila saat pandangan Deon masih tak berpaling. Ia menepuk pundak sahabatnya itu untuk menyadarkannya. Deon pun memundurkan badannya dan mengambil sebuah keputusan.

"Selamat, misi Nona yang terakhir telah selesai. Anda dapat menjalani kehidupan yang Anda inginkan. Tapi ..."

"Tapi?" Mila bingung, kenapa masih ada kata-kata tapi.

"Kamu harus bekerja disini."

"Bekerja di perusahaan Tuan? Tetapi Saya bahkan masih akan memulai kuliah dan mengambil jurusan yang tidak sama dengan bidang Anda."

"Kamu masuk jurusan apa?" Elvan membuka suaranya.

"Seni."

"Pas sekali, kami membutuhkan orang seni dalam mengembangkan game ini." Elvan membuat alasan.

Mila mengerutkan keningnya dalam, dirinya tidak menemukan kecocokan antara IT dengan seni. "Tidak, kamu akan bekerja sebagai asisten pribadiku." kata-kata Deon membuat Mila semakin tidak percaya.

"Tapi, aku nggak ada ilmu disana. Aku juga membutuhkan waktu untuk kuliah." Mila tidak lagi menggunakan bahasa formalnya.

"Terserah, aku hanya memintamu mempersiapkan segala hal untukku dari mulai aku bangun tidur hingga kembali tidur. Waktu luang diantaranya dapat kamu gunakan untuk keperluanmu."

'Aduh, kok jadi gini ya. Via, bantuin aku dong." Mila memanggil Via dengan batinnya.

Kenapa loe nyariin gue? Udah enak banget penawaran si Bos itu. Loe kagak usah capek-capek cari kerjaan lainnya.

Mila tampak berpikir sebentar, akhirnya ia pun mengambil keputusan.

"Maaf Bos, aku masih nggak bisa nerima penawaran dari Bos. Kalau sudah selesai, Mila pamit undur diri dulu ya." Mila bangkit berdiri dari duduknya.

Ia melangkah keluar dari gedung yang sangat mewah itu. Deon tidak percaya jika ia di tolak oleh seorang gadis yang tidak tahu apa-apa. Dia mencari dimana kesalahnnya.

"Kamu terlalu memaksa dia sehingga Nona Mila bukannya mendekat tetapi semakin mundur," nasehat Elvan pada Deon.

Deon menatap tajam ke arah Elvan, dia hendak melayangkan perintah tetapi tidak jadi saat Elvan segera berkutat pada layar komputernya.

Mila menaiki bus untuk kembali ke rumahnya, ia bermaksud mampir ke sebuah toko untuk membeli bahan-bahan keperluannya.

Loe bodoh banget sih Ciripa! Loe udah melewatkan kesempatan emas bisa kerja jadi asisten seorang bos besar.

"Justru aku ini tahu diri, aku tidak mempunyai kemampuan dibidang itu. Aku takut akan membuatnya malu nanti."

Loe nggak perlu skill apa-apa disini. Tugas loe cuma siapin pakaian, sepatu, air mandi, ingetin jadwalnya hari ini kemana aja, udah selebihnya ekorin aja terus sampe dia pulang terus tidur."

"Nah itu dia masalahnya Via, aku masih harus kuliah jadi nggak bisa ngekorin dia terus." Mila telah sampai di meja kasir dan membayar barang belanjaannya.

Ya udah terserah loe.

Mila mengisi sore harinya itu untuk melihat televisi dan menunggu email balasan dari universitas incarannya. Balasan telah masuk, Mila diterima bersekolah disana. Tahun ajaran baru akan dimulai bulan depan, sehingga Mila masih memiliki waktu kosong 1 bulan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!