Sepanjang perjalanan pulang, Karmila terus saja mengagumi tuxido bertopeng. Pahlawannya hari ini, entah apa yang akan terjadi jika pangerannya tidak datang tepat waktu. Sang Bos besar pun ikut merasa panas mendengar mulut Karmila terus menceritakan pengganggu itu.
Beberapa jam kemudian, Mila sudah tiba di rumahnya. Ia memasak makan malam dan kemudian menyantapnya sendirian. Malam semakin larut, tubuhnya sudah sangat lelah. Ia bergegas membersihkan diri dan berangkat ke alam mimpi.
Keesokan pagi, Karmila membuka ponselnya setelah tugas di rumah selesai. Ponselnya tidak mengeluarkan misi apa-apa.
"Via, misi hari ini belum muncul?"
Nggak ada misi hari ini, misi loe ada di dalam pake itu.
"Paket yang kemarin? Kamu nggak setorin ke bos?"
Itu dari bos gue buat kamu, baik kan si bos? udah tampan, kaya, kasih kamu sembako, kasih kamu paket itu.
"Mana aku tahu kalo si bos ganteng, lihat fotonya aja nggak pernah." Karmila mencebikkan bibirnya.
Si bos tuh orang paling ganteng di dunia, bahkan di seluruh galaksi.
"Emang alien? paling ganteng di seluruh bima sakti?"
Memang si bos adalah agsgZzzzzzzbhjznzzz.
"Kamu kenapa Via?" Mila mengangkat ponselnya.
Nggak papa, cuma dicubit dikit sama si bos. Udah, loe buka paketnya cepetan. Bisa berabe kalo nggak terpasang hari ini.
Mila duduk di lantai rumahnya, kemudian ia memutar-mutar benda persegi panjang itu. Tidak nampak isolasi ataupun pinggiran kertas. Benda itu tampak seperti logam, bukan kertas. Mila merabanya, terasa ada sedikit benjolan di sana.
Dengan takut Mila menekan benjolan itu, tiba-tiba benda pipih itu terlempar dan terbuka menjadi besar. Sebuah laptop, ponsel, dan VR sudah tergeletak di lantai rumahnya. "Woaahhh ... canggih bener. Aku nggak bisa mikir, gimana caranya benda kecil bisa berubah jadi seperti ini."
Jangan lama-lama kagumnya, masih banyak hal yang harus kamu kerjakan. Segera buka!
Karmila duduk bersimpu, dia mulai membaca buku panduannya. Laptop telah dia nyalakan, ponselpun telah ia nyalakan. Karmila memasukkan alamat emailnya, dia berselancar sebentar mencari gambar-gambar 'oppa'.
Awas keluar nanti tuh bola mata, buka laptop yang dilihat malah gambar cowok gituan.
"Ehh ... bukan cowok gituan, ini cowok ganteng. Uuuhh ... aku pingin banget bisa ketemu idolaku itu." Karmila berjingkrak kegirangan.
Kagak usah mimpi ketinggian loe. Sekarang buka VR nya, instal aplikasinya.
"Tanpa kuota? emang bisa?"
Ada gue, internet lancar.
Karmila mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengikuti arahan-arahan dari Sylvia dengan seksama, beberapa jam berlalu hingga akhirnya semua telah selesai di pasang. Karmila juga menyulap ruang keluarganya itu menjadi tempat yang luas untuk bergerak menggunakan VR.
Sekarang loe cobain sensasi jalan di bulan, gue pindah ke laptop loe.
"Oke aku coba."
Sistem sudah membawa Karmila mendarat di bulan, "Wah, ini pengalaman pertama aku pake VR dan berjalan di Bulan." Karmila tersenyum lebar, wajah kagumnya masih terlihat meskipun terhalang kacamata besar itu.
Loe rasain sensasi berjalan di bulan.
"Ini beneran aku lagi ada di bulan?"
Simulasi ciripa, ini tuh cuman Virtual. Otak loe doang yang traveling.
Sistem memindahkan Mila ke lautan, seketika Mila menjadi panik.
Nafas aja, loe kan lagi di darat, nggak bener-bener di laut.
"Oh iya," Karmila menikmati divingnya hari itu.
Sylvia membawanya masuk kedalam berbagai macam situasi. Gurun, laut, dan pegunungan, membuat Karmila merasakan sensai yang berbeda.
Disini loe bisa jadi apa aja yang loe mau.
"Apa aja? aku pingin banget jadi penyanyi."
Nanti, ada tugas dadakan dari si bos.
"Tugas apa? ini udah siang menjelang sore loh Via."
Misi kali ini gampang. Buka ponsel baru loe.
Karmila membuka ponsel barunya.
Misi ke- 3 : Mencari alamat.
"Alamat siapa nih Via?"
Mana gue tahu, perintah dari si Bos, loe cari alamat pake VR. Siapin VR loe, gue kirim loe ke daerah yang di maksud si Bos.
Karmila memakai VR nya, tetapi sedetik kemudian dia melepaskannya.
"Skill aku gimana?"
Loe kan sekarang pake VR, nggak usah kemana-mana Ciripa. Sambil jalan kalo mau upgrade skill oke-oke aja.
"Oh, ok."
Karmila memasang alat VR nya itu, Sylvia membawanya ke pusat kota. Banyak gedung tinggi dan sangat ramai penduduk. Karmila yang notabene gadis desa nan miskin ini pun hanya bisa melongo melihat pemandangan ini.
"Via, apa aku ada di korea?"
Ciripa! buruan focus! Loe mau lembur?
"Ehehehe, jangan lembur dong. Eh Via, kamu bisa tunjukin wujudmu di dunia virtual ini kan?"
Gue? jangan deh.
"Kenapa?" Karmila bertanya sambil melangkahkan kakinya mengikuti GPS yang ada pada ponselnya.
Wujud gue tuh menakutkan, ntar loe pingsan.
"Nggak mungkin, kan aku udah ada kemampuan bicara sama hewan."
Loe kira gue hewan apaan?! Perhatiin GPS loe.
Karmila takjub melihat apa yang ada dihadapannya, sebuah rumah mungil yang cantik. Rumah yang selama ini menjadi impiannya.
Loe ada kuncinya kan?
"Nggak ada, ini rumah siapa?"
Ini rumah Loe dan kuncinya ada di tangan loe.
"Rumah aku?" Senyum mengembang dari wajahnya.
Ini nggak gratis Ciripa, rumah ini di cicil pake CS loe. Kemarin pendapatan loe 500 CS, rumah ini harganya 50.000 CS. Loe cicil tiap kali selesaiin misi.
Karmila mengangguk setuju, dalam hatinya dia bersyukur mendapat rumah yang layak walaupun hanya di dunia maya. Karmila melangkah maju membuka pintu rumah barunya itu, nuansa violet memanjakan matanya. Semua perabotan berwarna putih, sangat pas dengan seleranya.
Karmila menuju kamar tidurnya, dekoran di dalam kamarnya pun sama. Semua serba violet dan putih. Karmila yang merasa lelah itu merebahkan dirinya di atas kasur itu. Tangannya mengusap-usap kasur empuk yang tidak pernah di milikinya itu.
Perlahan matanya terpejam, udara yang keluar dari pendingin ruangan membiusnya. Karmila pun terlelap.
Manik hitam itu menatap lekat ke arah Karmila yang sedang tertidur, tanpa sadar ia menopang kepalanya dengan sebelah tangannya.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya seorang lelaki lainnya.
"Dia masih tidak menyerah, apakah dia dibutakan oleh uang?" gumamnya.
"Kamulah yang sedang dibutakan oleh cinta."
"Cinta? Cih! aku tidak pernah merasakan cinta seumur hidupku." Si Bos memalingkan wajahnya dan tersenyum pahit.
"Hhh ... semoga dia dapat memuaskan rasa ingin tahumu dan mengisi kekosongan hatimu."
"Keluar sendiri atau aku yang akan mengusirmu?" ucap si Bos kepada temannya yang bernama Elvan Arka.
Elvan pun keluar ruangan dengan suka rela, ia tidak ingin bosnya menunjukkan wajah marahnya yang buruk.
Karmila menggeliat meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, Ia mengerjapkan matanya mendengar kicauan burung. Matanya terbuka saat tangannya terentang ke udara melemaskan ototnya, tapi sedetik kemudian ia melongo.
"Ap,apa?! bagaimana bisa?!" teriak Karmila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Ryoka2
😂😂
2022-05-23
1
Ryoka2
Saya hadir lagi Thor 👍
2022-05-23
1